
Setelah berbincang-bincang cukup lama, pada akhirnya Hana dan juga Sarah menyerah dan melambaikan tangan di depan kamera. pertanda bahwa dua wanita itu, sama sekali tidak sanggup lagi untuk melawan kehendak dari yang mulia ratu.
Tentunya hal itu membuat Mikaila yang melihatnya, merasa sangat bahagia. karena memang selama ini, yang menemani hampir setiap hari adalah mereka berdua. maklum saja, karena Mikaila adalah anak tunggal. dan orang yang diajak diskusi hanyalah kedua sahabat dan juga saudara sepupunya itu.
"kalian harus tidur di kamar aku!"putus wanita yang tengah hamil itu tanpa mendengar komentar apapun dari keduanya.
Membuat Hana dan juga Sarah, pada akhirnya memutuskan untuk menuruti permintaan dari wanita itu.
"kalian mau makan cemilan apa saja, tinggal pilih."ucap wanita itu Seraya menunjuk ke arah almari yang berisi dengan cemilan ringan yang memang sengaja disediakan olehnya untuk menyambut kedatangan kedua sahabatnya.
"kamu makan cemilan ini?"tanya Hana dan juga Sarah hampir bersamaan dengan ekspresi wajah sedikit terkejut.
Mikaila yang mengetahui apa yang dimaksud oleh sahabat-sahabatnya itu, seketika menggelengkan kepalanya.
"itu baru saja disiapkan oleh Mama dan juga Papa. karena kalian akan menginap di sini."jawabnya dengan senyuman yang begitu tulus.
Hana langsung berhambur memeluk ke arah sahabatnya itu, dengan perasaan haru. disusul oleh Sarah yang juga ikut memeluknya.
"Makasih ya. kamu memang benar-benar satu-satunya orang yang kamu punya."ucap Sarah dengan lelehan air mata. dan hal itu sukses membuat Hana dan juga Mikaila yang melihatnya, juga ikut menitikan air mata.
Di antara mereka bertiga, hanya Mikaila yang memiliki keluarga yang sangat utuh dan juga harmonis. karena Hana dan juga Sarah, adalah dua gadis yang sebatang kara. mereka dapat membeli mobil dan juga apartemen, itu semua berkat kemurahan hati keluarga Mikaila.
Karena sahabatnya itu meminta izin kepada sang Papa untuk memperkerjakan para sahabatnya dengan alasan kemanusiaan. tentunya Winarto tidak akan pernah membiarkan orang-orang yang sudah dianggap saudara oleh putrinya, bernasib mengenaskan.
"sudah sudah lebih baik kita makan saja!"ucap Mikaila Seraya mau lepaskan pelukan dari kedua sahabatnya itu.
"nggak boleh kamu nggak boleh makan yang banyak micinnya seperti ini. kamu itu, sedang hamil Mikaila."peringat Sarah dengan sedikit melotot.
Membuat Mikaila yang mendengar itu, seketika mengerucutkan bibirnya. karena jujur saja, semenjak dirinya hamil tidak ada orang-orang yang mengizinkannya untuk mengonsumsi makanan-makanan yang mengandung komposisi seperti itu.
__ADS_1
Terutama Ibu mertuanya. wanita paruh baya itu benar-benar sangat protektif terhadapnya. beliau akan selalu membuatkan makanan apapun yang diinginkan oleh menantunya ini. memikirkan hal itu saja, membuat Mikaila mendadak merindukannya.
Namun, dengan cepat pemikiran itu ia tepis. saat mengingat ucapan dari kedua orang tuanya mengenai hati dari Arthur.
"aku tidak ingin menjadi orang bodoh. walaupun mereka sangat baik, semua itu akan sia-sia Jika hati suamiku masih berada di tempat masa lalunya."ucapnya dalam hati Seraya menghirup udara sebanyak mungkin. dan setelah itu, menghembuskannya secara perlahan.
"kamu baik-baik saja?"tanya Sarah saat menyadari tingkah laku aneh dari wanita hamil itu.
"aku baik!"jawabnya Seraya tersenyum simpul.
Tak lama berselang, ada seseorang yang mengetuk pintunya dari luar. dan setelahnya, seorang pelayan masuk dengan membawa pesanan dari Mikaila.
"kalian makan cemilan itu, aku makan cemilan khusus untuk ibu hamil."ucapnya Seraya memberikan kode kepada pelayan itu untuk membawa nampan yang ada di tangannya. dan menaruhnya di atas nakas.
Kedua sahabat itu hanya menganggukkan kepala. kemudian mereka mulai menikmati makanan di tangan masing-masing.
"gimana kalau nonton film?"usul Sarah pada kedua sahabatnya itu.
"eh kamu nggak usah. biar aku aja."ucapnya Seraya menarik Mikaila kembali untuk duduk.
"mau film apa?"tanyanya Seraya menoleh ke arah Mikaila dan juga Sarah.
"film tentang ibu dan juga anak!"ucap Mikaila dan juga Sarah secara bersamaan. tentunya Hal itu membuat dua wanita itu menoleh secara bersamaan dan tersenyum simpul.
"baiklah."setelah memasukkan satu buah DVD ke arah televisi itu, Hana segera bergabung bersama dengan kedua sahabatnya itu.
Mereka bertiga menonton dengan ekspresi wajah yang begitu serius. hingga tak sadar, ada seseorang yang telah masuk ke dalam kamar itu dan menatap ketiganya itu dengan ekspresi yang sulit terbaca.
Beberapa saat kemudian...
__ADS_1
Mikaila mengusap ujung matanya yang terasa basah oleh cairan bening yang keluar dari sana.
"gila endingnya sangat memuaskan."gumam Sarah dengan mata memerah siap untuk menumpahkan air hujan setelahnya.
"iya aku pikir ceritanya seperti cerita kebanyakan. tapi ternyata, ceritanya benar-benar beda dari yang lain."sahud Hana ikut mengusap matanya yang terasa perih.
"kalian mau membaca versi novelnya?"mereka bertiga seketika terkesiap kaget saat mendengar pertanyaan dari seseorang.
Dengan gerakan perlahan, ketiga wanita itu menoleh ke arah sumber suara. dan mereka bertiga, sama-sama terkejut. karena mereka bertiga, mendapati Aditya berdiri di ambang pintu dengan tatapan lurus ke depan. jangan lupakan pula, raut wajah laki-laki itu yang begitu menakutkan.
Mendadak, Sarah dan juga Hana sedikit gemetar karena tatapan itu. apalagi saat Aditya menatap ke arah kedua wanita itu dengan tatapan yang sangat intens.
"kenapa kalian ngebohongin gue? kalian bilang, kalian tidak mengetahui Di mana keberadaan Mikaila. tapi ini, merupakan bukti yang cukup konkrit, bukan?"tanya laki-laki itu Seraya melirik sinis. ke arah kedua sahabat dari sepupunya itu.
"gue juga nggak tahu awalnya. ini aja kita baru ketemu kok."Sarah berkilah.
"bohong!"
Ketiga wanita itu seketika terkesiap paket saat mendengar suara tinggi dari Aditya. mereka bertiga, seketika tidak berani untuk membantah laki-laki itu.
"gue kangen sama lu!"ucap Aditya setelah berhasil memeluk sepupunya itu dengan sangat erat.
Mikaila yang masih mematung di tempatnya, hanya terdiam. matanya sesekali akan mengerjap perlahan.
"lu tahu, nenek juga merasa khawatir sama lu. karena sudah hampir berbulan-bulan, Lo nggak berkunjung ke sana. dan Hal itu membuat gue terpaksa untuk berbohong."ucapnya dengan mengusap ujung mata yang terasa berair.
"maafin gue Dit. gue nggak tahu kalau semua orang, mengkhawatirkan gue."ucapnya lirih setelah berhasil menguasai dirinya sendiri.
"Ck, Lo pikir itu hidup sendirian apa? kenapa malah berpikir kalau tidak ada orang yang mengkhawatirkan Lo?"Aditya berdecak kesal saat mendengar penuturan dari sepupunya itu.
__ADS_1
"mulai sekarang, jangan pernah menyembunyikan semua masalah lu seorang diri. karena kita semua, akan siap membantu apapun itu."ucap Aditya Seraya mengusap kepala sepupunya itu dengan begitu lembut dan penuh kasih sayang.
Hingga membuat seseorang yang juga berada dalam kamar itu, yang tiba-tiba saja, mengangkat kedua sudut bibirnya membentuk sebuah senyuman.