
Hari ketiga puluh satu Nayla bekerja, mulai menata kehidupannya yang mungkin tidak seindah dulu, hatinya kian membeku terpancar dari sikap dan perilaku Nayla yang kian dingin pada siapapun termasuk sesama karyawan Laundry.
Tidak banyak bicara, hanya bekerja dan bicara untuk urusan yang penting saja. Berniat mengumpulkan uang untuk hidup yang lebih baik.
Uang gaji pertama di tangannya saat ini, senyum simpul tampak terkembang. Ia mengingat keempat keponakannya yang sudah lama tidak bertemu karena ia sibuk bekerja sampai pulang malam dibulan pertama ia bekerja di usaha Laundry kakak sahabatnya Lia.
Nayla menerima gaji lebih dari yang lain oleh karena pekerjaannya yang lebih berat dan waktu kerja yang lama selama sebulan. Uang ini ia niatkan untuk menyambung hidup selama sebulan ke depan begitu pula seterusnya.
Uang itu pula Nayla gunakan untuk membeli mainan dan aneka makanan ringan yang akan ia bawa untuk menjenguk keempat keponakannya yang sudah ia rindukan.
Senyuman di wajahnya kian berseri saat menapaki jalan dimana rumah mendiang kakaknya Juna yang kini ditempati oleh orangtua Dewi yang mengambil alih untuk mengasuh cucu-cucu mereka yang telah menjadi yatim piatu di usia yang sangat dini.
Setelah menyempatkan diri berziarah ke makam ibu dan kakaknya, kebetulan hari ini Nayla libur bekerja.
Cukup lama ia menekan bell di pagar besar rumah mendiang kakaknya, namun belum ada satupun yang membukanya. Nayla melihat-lihat melalui celah pagar, tampak sepi.
"Kemana mereka? Bukankah ini masih pagi untuk keluar?" gumam Nayla yang hingung karena cukup lama berdiri di sana belum juga mendapat sambutan.
Tidak henti bell ia bunyikan, namun nihil. Tidak ada yang membuka pagar.
Sampai pada seseorang menghampirinya.
"Nak Nayla."
__ADS_1
Nayla menoleh, ia tersenyum lalu segera menyambut tangan seorang perempuan paruh baya itu yang telah lama saling mengenal sebagai tetangga kakaknya. Nayla menyalami perempuan itu dengan santun.
"Bibi masih mengingatku?"
"Tentu saja bibi ingat, kenapa kau baru kemari? Kemana saja kau nak Nayla?"
"Aku bekerja bi, aku baru sempat kemari karena sudah sangat rindu mereka. Bibi tahu mereka kemana? Sudah lima belas menit belum juga pagar ini dibuka."
Perempuan itu tampak murung mendengarnya.
"Kau tidak tahu sama sekali?" tanya perempuan itu.
Nayla menggeleng, "Tidak tahu soal apa bi?"
"Nayla, bibi rasa mereka benar-benar tidak memberi tahu padamu."
"Mereka sudah pindah dari sini, rumah ini sudah dijual. Pemilik baru rumah ini sedang keluar kota, tidak heran kau tidak dibukakan pagar sejak tadi."
"Apa? Pindah? Pindah kemana? Kenapa Shanti tidak memberitahu soal ini?"
"Nak Shanti dan ibunya membawa dan menyerahkan keempat keponakan mu untuk diasuh oleh pihak panti asuhan. Mereka sudah kembali ke rumah lama."
"Apa?" Nayla tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya.
__ADS_1
"Bibi jangan bercanda."
Nayla mulai serius saat wanita itu mengangguk yakin.
"Mereka menjual rumah ini, anak-anak malang itu diserahkan ke panti asuhan tidak tahu alasan mereka apa, yang jelas mereka telah kembali ke rumah lama. Dan sekarang Shanti dan ibunya sedang jalan-jalan keluar negeri."
"Apa?" Nayla hampir terhuyung dari berdiri karena merasa lemas pada kakinya.
"Bibi turut sedih apa yang menimpa keluarga mu, bibi bertetangga baik dengan kakakmu. Bukan sebentar bibi mengasuh mereka Nay, bibi juga sedih anak-anak Juna diserahkan ke panti asuhan, mereka mengambil semua uang penjualan rumah dan asuransi kakakmu yang sudah dicairkan."
"Nayla, mereka mengambil semua hak keponakan-keponakan mu, uang itu pula yang sekarang mereka habiskan dengan jalan-jalan keluar negeri, membuka usaha baru, membeli barang dan mobil baru. Uang itu banyak Nay, cukup untuk membesarkan mereka berempat hingga kuliah, nenek mereka benar-benar jahat."
"Bibi tahu semuanya, mereka memanfaatkan anak-anak Juna yang masih dibawah umur hingga hak ahli waris diserahkan pada ibunya Dewi. Mereka jahat Nay, mereka tidak memperlakukan keponakan mu dengan baik selama tinggal di sini," lanjut bibi itu.
Nayla menelan ludah, ia bahkan tidak pernah berpikir sejauh itu sebelumnya. Tubuhnya merasa lemas seketika, apa yang telah Nayla lewatkan hampir dua bulan ini pikirnya.
Nayla menangis tergugu dalam pelukan wanita paruh baya yang pernah menjadi pengasuh ke empat keponakannya hingga tidak heran wanita itu tahu semua yang terjadi pada keluarga Nayla.
Kantong berisi aneka makanan ringan yang ia bawa tadi terlepas begitu saja dari tangannya, pun beberapa mainan yang telah ia beli dengan gaji pertamanya sebagai oleh-oleh ikut jatuh pula ke tanah. Nayla benar-benar kehilangan semuanya, harta, orangtua, kakak satu-satunya bahkan Nayla seolah tidak punya masa depan yang telah ia hancurkan sendiri karena telah salah mengenal lelaki, dan sekarang harus pula mendengar berita buruk seperti ini.
"Panti asuhan mana bi? Biar ku jemput mereka," ucap Nayla disela isak tangisnya yang membuat dadanya kian nyeri.
"Aku sudah melewati banyak hal akhir-akhir ini bi, kesalahan-kesalahan itu tidak akan ku ulangi lagi, terlalu berharga hidup untuk disia-siakan. Pria itu benar, setiap nyawa berharga di dunia ini," ucap Nayla seraya terbayang Ariq yang pernah memberinya nasehat saat di rumah sakit dulu.
__ADS_1
"Empat keponakan ku terlalu berharga untuk disia-siakan. Aku akan menjemput mereka bi, aku adik kandung ayahnya, akulah pengganti ibu dan ayah mereka sekarang. Mereka anak-anak ku juga, kasihan Zaza masih sangat kecil bi" kata Nayla yakin, tidak lama kemudian ia menangis lagi bahkan lebih pilu saat mengingat wajah Zaza yang masih berumur dua tahun.
Wanita itu tersenyum, "Bibi setuju padamu, ayo Nay kau tidak sendiri bibi akan bersiap sebentar, akan bibi tunjukkan dimana panti asuhan tempat mereka sekarang."