
Setelah melewati beberapa bab drama di rumah sakit, saat ini Ariq tengah mengemudi membelah jalanan menuju alamat yang diberikan oleh perempuan yang membuat pria ini kewalahan sudah dua hari, sangat sulit bicara apalagi membujuk Nayla untuk mengatakan siapa ia sebenarnya.
Namun hari ini terasa usahanya tidak sia-sia, Ariq tidak menolong orang jika setengah hati, karena hampir menabrak Nayla waktu itu maka ia akan bertanggung jawab sampai wanita itu pulang ke rumah dengan baik.
Sesekali Ariq mencuri pandang Nayla yang hanya diam sejak mereka keluar dari rumah sakit. Gadis itu hanya terlihat menatap keluar jendela mobil masih dengan mata yang sama, mata berkaca-kaca menatap jalanan yang mereka lewati, mata sayu dan lelah yang menghiasi wajah cantik Nayla.
Ariq menjadi kasihan saat mengetahui alasan kenapa gadis itu ingin bunuh diri. Meski ia tidak tahu secara pasti namun dengan pengakuan Nayla tentang sengaja ingin bunuh diri malam itu sudah cukup menjelaskan bahwa keadaan gadis itu yang memang sedang tidak baik-baik saja.
"Apa kau lapar?" tanya Ariq sedikit sungkan.
Nayla menggeleng.
"Huh, susah sekali bicara padamu."
"Kau bisa turunkan aku di jalan itu, rumah kecil bercat warna biru," tunjuk Nayla saat mereka sudah mau sampai.
"Jadi kau tinggal disini?" tanya Ariq lagi saat mereka sudah sampai pada halaman rumah kontrakan yang ditinggali Nayla selama ini.
Nayla hanya mengangguk, lalu ia turun lebih dulu dengan langkah gontai mengingat ia harus segera pindah beberapa hari lagi.
Ariq menyusul keluar mobil, tidak lama berselang datang mobil yang lain yang mana tampak Lia keluar dari sana dan berlari menuju Nayla memeluknya sambil menangis.
Nayla hampir terhuyung saat mendapat pelukan.
"Nayla, kau membuatku gila. Kemana saja kau? Kenapa menghilang begitu saja? Apa yang terjadi Nay, lihat dirimu kau tidak seperti terakhir kali bertemu," cerca gadis itu sambil menggoyangkan tubuh Nayla dengan kesal.
"Maafkan aku," jawab Nayla juga ikut menangis.
Ariq menatap keduanya dengan heran.
"Cerita padaku, kau kenapa?" desak Lia yang belum menyadari ada pria lain berada diantara mereka.
Nayla melirik arah Ariq berdiri, barulah Lia sadar. Karena cukup terkejut, ia segera menghapus air matanya.
"Mas Ariq?"
"Iya Lia, ini aku."
"Mas Ariq kenapa kemari?"
"Aku mengantar Nayla pulang, sepertinya kalian berteman."
Lia menatap keduanya bergantian.
"Aku bisa menjelaskan ini nanti, kau kenal pria ini?" sahut Nayla.
"Nayla, ini mas Ariq kakak mas Aziz, iparku."
Nayla mengangguk mengerti.
"Oh aku baru ingat, mas Ariq juga temannya kak Juna kakakmu."
Mendengar itu baik Nayla maupun Ariq, mereka saling menoleh.
"Apa maksudmu Lia?" tanya Ariq penasaran.
Lia mengangguk.
__ADS_1
"Iya mas Ariq, ini sahabatku Nayla adiknya kak Juna. Maksudku Juna yang belum lama ini meninggal, kita pernah bertemu saat melayat," jelas Lia lagi.
Ariq mulai mengerti, terpikir olehnya gadis lemah seperti Nayla yang baru dua hari lalu ingin bunuh diri, ia mulai paham arah keadaan gadis itu sekarang, kehilangan ibu dan kakak hanya berselang waktu sebulan.
"Aku mengerti, baiklah Lia.... Sepertinya kalian harus bicara, aku hanya mengantar pulang saja. Satu hal sebaiknya nasehati dia tentang bahaya dan berdosanya ketika ingin bunuh diri."
"Apa?" Lia hampir menjatuhkan rahangnya karena terkejut.
"Bunuh diri? Nayla?" lirih Lia menatap Nayla penuh tanya.
Nayla hanya membalas dengan tatapan lelahnya.
"Aku harus pergi sekarang, ada urusan lain. Karena kau sudah bersama Lia sekarang, aku jadi lega," kata Ariq pada Nayla.
Nayla tidak menjawab, membuat Ariq menjadi kesal sendiri.
Pria itu pamit pada Lia sebelum meninggalkan mereka berdua.
"Terimakasih, mas Ariq."
Langkah Ariq menjadi terhenti saat mendapati Nayla bersuara yang entah kenapa suara itu menjadi sangat menarik pada pendengarannya saat ini sekaligus rasa puas jika gadis itu bisa menjawab ataupun membalas ucapannya.
Senyum ia kembangkan seraya berbalik badan.
"Aku suka panggilan itu," ucap Ariq tersenyum.
Lia menaikkan satu alis matanya saat mendapati senyum manis dari Ariq. Setelah memastikan Ariq telah menghilang bersama mobilnya di kelokan jalan barulah Lia dan Nayla masuk ke rumah yang mana Lia siap untuk memberi banyak pertanyaan pada sahabatnya itu.
Lia terdiam saat mendengar semua pengakuan Nayla, selain ikut menangis Lia hanya bisa memberikan pelukan menenangkan bagi Nayla yang benar-benar tampak terpukul.
Nayla hanya diam tanpa menjawab.
"Untuk solusi tempat tinggal, aku setuju kita bisa cari kontrakan baru, soal biaya jangan sungkan akan ku bantu sepenuhnya asal kau tidak terpuruk lagi seperti ini," sambung Lia memberi semangat.
"Tapi, kau sudah banyak membantu selama ini. Aku malu padamu," jawab Nayla enggan.
"Kau ini bicara apa, kau sudah seperti saudara bagiku. Diam dan menurut saja, dan tentang kuliah akan ku bicarakan pada kak Aqilla nanti agar kau dapat dispensasi ujian susulan, soal biaya semester akan kita ajukan beasiswa."
"Akan sulit Lia, aku tidak punya prestasi apa-apa untuk mengajukan beasiswa. Biaya semester kita terlalu besar dan tidak imbang dengan biaya hidupku meski aku bisa bekerja paruh waktu. Aku rasa berhenti kuliah lebih baik untukku saat ini," jawab Nayla seraya menunduk sedih.
"Tidak itu bukan solusi Nay, baiklah untuk semester genap nanti biaya akan ku bantu sepenuhnya, jangan khawatir soal itu kau bisa tetap kuliah," cetus Lia pantang menyerah.
Nayla menggeleng, "Itu juga bukan solusi, aku tidak mau merepotkan kau lagi, semester kita masih panjang, berhutang pun aku tidak akan sanggup bayar. Aku akan fokus bekerja saja demi hidup yang lebih baik lagi, aku rasa butuh waktu lama untuk menata kembali kehidupan ku yang telah hancur ini. Aku sudah tidak ingin kuliah, aku akan bekerja saja. Itupun jika diterima oleh kakakmu."
Lia terdiam sejenak, meski ia ingin sekali menolong agar Nayla tetap bisa melanjutkan kuliah namun memaksa juga tidak akan baik.
"Baiklah jika itu keputusan mu, lagi pula kuliah bisa kapan saja. Kau bisa lanjut kuliah jika sudah sukses nanti, soal pekerjaan kau tenang saja usaha Laundry kak Aqilla memang sedang butuh tenaga saat ini, kau pasti akan diterima."
Nayla mengangguk, ia mengakui pertemuannya dengan Lia hari ini cukup membawa arti baginya, entah kenapa Nayla menjadi terbuka pikirannya untuk melanjutkan hidup terlebih saat mengingat kalimat demi kalimat yang Ariq berikan selama di rumah sakit.
"Terimakasih Lia."
Nayla menggenggam tangan Lia dengan erat, seolah menunjukkan betapa ia butuh bantuan saat ini.
Dua minggu berlalu.
Nayla tampak memakai kaos polo berwarna kuning dipadu celana berwarna putih, rambutnya ia kuncir kuda dengan pita berwarna merah, seragam dengan bordir nama usaha Laundry milik kakak dari sahabatnya Lia.
__ADS_1
Nayla bertugas menerima pakaian yang akan di cuci dari para pelanggan, ia bekerja tanpa banyak bicara, entah kenapa sikap dan perilakunya menjadi dingin sejak kejadian bunuh diri yang gagal malam itu.
Sampai pada suatu hari ada seorang pria masuk ke ruko dimana Nayla bekerja.
Pria itu tidak membawa apa-apa, pria itu berhenti melangkah saat menatap gadis yang yang menunduk hormat padanya.
Nayla menunduk hormat seperti pada pelanggan lain yang datang dengan pakaian yang akan dilaundry, namun pria ini tidak membawa apa-apa.
"Kau?"
Nayla menatap sekilas lalu ia kembali pada wajah datarnya yang tidak tersentuh.
"Mas Ariq kau sudah datang?"
Suara dari Aqilla yang muncul dari lain arah langsung membuyarkan pandangan Ariq pada sosok Nayla yang diam saja tanpa menyapanya padahal mereka telah saling mengenal.
"Iya, mana kuncinya?" tanya Ariq tanpa basa basi pada adik iparnya itu.
Aqilla tampak menyerahkan sebuah kunci mobil pada Ariq.
"Dia bekerja di sini?"
Aqilla menoleh pada Nayla, karena hanya Nayla yang berada di sana selain mereka berdua.
"Mas Ariq kenal Nayla?"
Ariq belum menjawab, ia menatap lagi Nayla yang menyibukkan diri dengan membereskan meja.
"Hei apa kau lupa padaku? Tidakkah kau ingin menyapaku?" tanya Ariq sedikit berteriak karena kesal pada gadis yang mengabaikannya sejak tadi.
Nayla masih diam terkesan tidak acuh.
"Mas Ariq? Ini Nayla dia karyawan baru di sini, apa mas Ariq mengenalnya?" tanya Aqilla lagi.
"Ckkkkk kenapa kau punya karyawan sombong sekali, apa ini..... Siapa dia hingga aku yang lebih dulu menyapanya, kau lihat dia bahkan tidak mengatakan apa-apa sejak tadi, bukankah pekerjamu harus ramah pada semua pelanggan?"
Aqilla menjadi bingung sendiri.
"Maaf kak Aqilla, aku izin mau bantu ke belakang dulu," cetus Nayla tiba-tiba.
Karena masih bingung Aqilla hanya mengangguk saja, benar saja Nayla pergi begitu saja menghilang dari sana tanpa membalas Ariq sedikit pun.
"Aqilla?"
"Mas Ariq aku tidak mengerti, apa kalian saling mengenal? Maafkan Nayla jika begitu, kasihan dia banyak melewati hal buruk akhir-akhir ini. Mungkin dia lupa padamu."
Mendengar itu menjadikan Ariq bertambah kesal.
"Lupa bagaimana, aku rasa baru dua minggu, pecat saja gadis tidak tahu berterima kasih itu."
"Mas Ariq?"
"Huh, baiklah terserah kau saja. Aku pergi sekarang kau dan dia sama-sama menyebalkan."
Ariq pergi dari sana dengan perasaan kesal.
"Aku? Menyebalkan? Apa maksudnya?" tunjuk Aqilla pada dadanya dengan raut bingung.
__ADS_1