
"Jadi ini yang namanya Nayla," ujar umi Angga sambil menyuguhkan minum dan cemilan di atas meja.
Nayla tersenyum canggung, Angga dan orangtuanya cukup lama memandang gadis itu sejak datang tadi.
"Iya umi, Nayla ini dulu murid abi saat di pesantren, tidak sangka dia sudah dewasa sekarang. Abi saja sampai lupa," kekeh pria paruh baya yang merupakan ayah dari Angga itu.
Mereka menyambut Nayla dengan senang hati, Nayla pun cukup pandai membawa diri, ia ikut umi Angga ke dapur untuk membawa gelas bekas minum tehnya, ia tidak ingin merepotkan umi Angga yang juga sedang mengurus Gita yang kebetulan menginap di sana. Anak kecil teman sekelas Denia itu terus merengek minta beli es krim.
Setelah bujukan Angga, akhirnya Gita pergi dengan pamannya itu membeli es krim. Nayla diajak mengobrol di meja makan oleh umi Angga, setelah gadis itu mencuci gelas tadi.
"Kemari nak, duduklah kita bisa mengobrol disini, Abi baru kedatangan tamu."
Nayla mengangguk, ia mendudukkan dirinya pada sebuah kursi makan berbahan kayu jati itu tepat di samping umi Angga.
"Angga banyak cerita tentangmu," cetus umi Angga membuka percakapan.
"Iya umi, kami sudah kenal lama saat di pesantren dulu, aku adik kelasnya."
"Bagaimana menurutmu putra umi?"
"Mas Angga baik padaku umi."
Umi tampak menarik napas dalam-dalam. Ia meraih tangan Nayla lalu menggenggamnya.
"Nayla, kau tahu Angga baru bercerai bukan?"
__ADS_1
Nayla mengangguk, "Iya umi," jawabnya singkat.
"Sungguh malang pernikahannya selama dua tahu sia-sia, umi cukup terluka atas apa yang terjadi padanya. Maksud umi, tidak ada salahnya jika saling mengenal dulu. Belajarlah dari pengalaman, dia gagal karena salah pilih pasangan, kami tidak pernah memaksanya untuk menikah dengan siapa. Semua pilihannya sendiri, begitupun dia membawamu kemari."
Nayla mendengar dengan baik setiap perkataan umi Angga.
"Jangan terburu-buru, saling mengenal saja dulu. Putra umi bukan pria kaya, dia hanya seorang dosen dan guru ngaji, dia juga tidak punya harta banyak yang akan menjanjikan hidup mewah, dia juga tidak sebaik yang terlihat. Sisi negatif dan positif seseorang tidak bisa kita nilai hanya satu sisi saja, karena setiap manusia punya kedua sisi tersebut. Jika kau keberatan dengan status Angga seorang duda atau masalah finansialnya yang biasa saja, umi mohon jangan memberinya harapan berlebih."
"Kau tahu Nayla, Angga mengatakan jika dia sudah menyukaimu sejak dari pesantren dulu, namun kini kalian bertemu disaat sama-sama dewasa namun dalam keadaan takdir yang lain. Dia seorang duda, apa lagi baru saja resmi bercerai dari istrinya yang lebih memilih menyeleweng. Umi sedikit trauma jadinya."
"Umi, maafkan aku..... Aku memang belum terlalu mengenal mas Angga, tapi aku tahu dia orang yang baik. Jika urusan pekerjaan dan finansial aku pun bukan dari kalangan berada yang menginginkan kehidupan mewah setelah menikah. Aku sama sekali tidak melihat itu, hanya saja masalahnya ada padaku umi."
"Apa maksudmu sayang?"
"Umi."
"Iya Nayla, bicaralah umi akan mendengarmu."
"Aku bukan gadis seperti gadis lain umi, aku begitu banyak kekurangan. Baik dalam hal keluarga yang tidak mendukung, maupun dari diriku sendiri. Aku rasa karena kita sesama wanita perlu pula aku harus jujur tentang masa lalu yang selalu menjadi sisi negatif ku yang dipandang orang lain."
"Ini mungkin juga akan menjadi pertimbangan umi dalam mengambil menantu, ketahuilah umi aku bukanlah seorang gadis lagi. Aku sudah ternoda, aku pernah melakukan hal yang hina di masa lalu, aku pernah hamil tanpa menikah lalu keguguran."
"Aku tidak pantas untuk mas Angga, aku tahu mungkin setelah bicara seperti ini umi dan abi akan melarangku berdekatan dengan mas Angga, itu tidak masalah bagiku umi, aku sudah berusaha jujur sedari sekarang sebelum umi mendengar dari orang lain tentu akan lebih sakit dan merasa ditipu oleh aku yang tidak tahu diri ini. Terlebih keluarga mas Angga bukanlah orang sembarangan, kalian keluarga terpandang dalam hal adat dan agama, sungguhlah aku tidak pantas untuk putra umi."
"Aku telah ternoda umi, aku bukan gadis lagi, aku gadis buruk di masa lalu. Sekarang aku jujur bukan untuk mencari simpati, aku jujur untuk menjadi pertimbangan keluarga jika memang mas Angga menginginkanku nanti."
__ADS_1
"Agar tidak ada hal yang akan disesali nanti, aku berusaha memperbaiki diri dari kesalahan satu dan kesalahan lainnya, jika hal ini memang membuat ku tidak pantas untuk diterima, maka jangan dipaksakan meski mas Angga menerima ku juga masa laluku, aku hanya tidak ingin penyesalan membuatku sakit untuk kesekian kalinya umi."
"Lebih baik tidak dari sekarang daripada nanti diungkit-ungkit ketika sedang benci. Inilah aku umi, aku dan kekuranganku, segala kepahitan sudah pernah ku lalui, sekarang sisanya aku berserah diri saja pada yang maha segalanya."
"Siapapun jodohku nanti, aku memanglah seorang rendahan, seorang gadis murahan tapi percayalah aku terus memperbaiki diri dari hari ke hari, dari pengalaman ini ke pengalaman yang itu. Dan aku menyesali perbuatanku dulu, sangat menyesal andai waktu dapat ku putar."
"Aku yakin Allah akan memberikan yang terbaik untukku nanti."
Umi Angga melepas genggaman tangannya, Nayla pikir perempuan berwajah teduh itu akan langsung menolaknya malam ini juga, namun diluar dugaan umi Angga melepas genggaman tangannya untuk menghapus airmata Nayla yang sudah berderai sejak tadi.
Wajah teduh itu tersenyum, lalu memeluk Nayla dengan sayang.
"Berserah dan yakin pada Allah bukanlah semata ingin dikabulkan semua keinginan, melainkan yakin pada Allah adalah meletakkan keredhaan pada ketentuan-ketentuannya, menjalani hidupmu dengan bahagia meski terasa sulit dan perit, airmata mu yang menetes ini akan terasa bernilai untuk menyiram api neraka Nayla."
Umi Angga mengelap airmata Nayla dengan penuh kasih.
"Umi bangga padamu Nayla, kau mau jujur dan mengatakan ini semua agar tidak adalah salah pemahaman tentang mu nanti di masa yang akan datang jika hal ini diungkapkan oleh orang lain. Umi paham maksudmu, terimakasih mau jujur pada tahap berkenalan ini."
"Ketahuilah sayang, umi dan abi berpikiran terbuka jika soal jodoh dan wanita. Jangan kira ini akan menjadi penghalang, pantas tidaknya biarlah Angga yang tentukan, jika dia menerima mu kenapa tidak? Umi tidak akan melarang hanya karena gadis atau tidak gadis, umi percaya pada pilihan Angga, karena dia akan memilih dengan hati setelah apa yang terjadi padanya hingga bercerai."
"Umi sangat menghargai kejujuran mu Nayla, sangat menghargai. Selebihnya biar urusan kau dan Angga apa merasa cocok atau tidak nantinya, jika boleh jujur umi suka padamu."
Umi Angga memeluk Nayla lagi.
Perasaan hangat menjalari Nayla, ia merasa sangat dihargai saat ini.
__ADS_1