Purnama Merindu

Purnama Merindu
Tak lekang oleh waktu


__ADS_3

Seminggu sebelumnya.


Aish bangun lebih dulu, ia tersenyum melihat prianya yang masih terpejam dibawah selimut yang sama.


Aish membelai wajah Aldric, membuat pria itu menggeliat dan kembali meraih tubuh Aish untuk ia dekap kembali.


"Sayang bangun...." Aish mengecup gemas seluruh wajah Aldric agar suaminya membuka mata.


"Hmmm...." hanya itu yang terdengar dari Aldric, tampak sekali ia masih lelap karena begadang semalam.


"Ayo bangun, aku ingin ke kamar mandi....kau harus bertanggung jawab, aku tidak bisa jalan karena ulahmu, ayo gendong aku" rengek Aish sambil memainkan hidungnya pada wajah Aldric.


Lelaki itu mendengarnya, ia mengerjapkan mata kemudian ia menatap Aish dengan senyuman.


"Aku mencintaimu" kata pertama keluar dari bibir Aldric pagi ini, ia membuka mata lebar dan memberi kecupan di kening istrinya.


Kemudian ia bangkit dan segera menggendong Aish menuju kamar mandi, Aish mengecup rahang suaminya dengan lembut.


"Aku juga mencintaimu."


*****


Berendam bersama dalam busa melimpah, tangan Aldric terus memainkan dada istrinya, mereka kembali bercinta secara singkat sebelum benar-benar mandi.


"Sayang....kau tidak boleh ke kantor" ucap Aish yang masih dalam pangkuan suaminya setelah lelaki itu membantunya mengeringkan rambut.


Aldric mengernyit heran.


"Memangnya kenapa? Aku harus bekerja Aish."


"Kau milikku hari ini"


"Memangnya kau tidak ke rumah sakit?" tanya Aldric.


"Aku akan masuk jadwal malam, malam nanti, jadi aku free seharian ini" jawab Aish bermanja-manja di leher Aldric.


"Huh.....tapi bagaimana pekerjaanku masih banyak" sesal Aldric.


"Tetap saja kau akan ku kurung disini" jawab istrinya enteng.

__ADS_1


"Ayolah aku janji akan pulang dengan cepat"


"Tidak ya tidak....kita ini pengantin baru, seharusnya memang masih mengurung diri di dalam kamar bukan?" jawab Aish sambil menggigit rahang suaminya seraya menggoda.


Aldric ingin tertawa dibuatnya, Aish memang pandai membuat pria ini tidak berkutik.


"Kau benar, kehidupan pernikahan kita baru saja dimulai hari ini, baiklah....aku akan menghubungi Anara" jawab Aldric yang ingin mengambil ponselnya diatas nakas.


Dengan cepat Aish menghentikannya dan melirik tajam pada pria itu.


"Enak saja....tidak boleh, hubungi yang lain saja, aku mau kau pecat saja Anara, aku tidak menyukainya....aku cemburu" cebik Aish kesal.


Aldric mengecup gemas bibir itu.


"Oh sayang kau sungguh posesif, dia hanya pegawaiku tidak lebih...tidak mungkin juga tiba-tiba aku pecat dia, Anara sudah bekerja lama di sana"


"Baiklah....kau pindahkan saja dia ke bagian lain, tetap saja aku cemburu jika dia masih menjadi sekretarismu, cari gantinya pria saja kau tidak boleh punya sekretaris perempuan lagi titik"


Aldric tidak bisa berkata-kata lagi, ia meraih wajah istrinya menempelkan kening mereka.


"Kau tidak percaya padaku?"


"Oke baiklah....apapun untukmu istriku, nanti ku carikan gantinya sesuai keinginanmu seorang sekretaris pria"


"Bagus....." Aish menatap Aldric dengan senyum puas.


"Mau kemana kita hari ini? Berkencan?" tanya Aldric yang masih memeluk istrinya.


"Tidak....kita akan berada dikamar saja" goda Aish sambil mengerlingkan sebelah matanya.


"Astaga.....sekarang saja jalanmu belum sempurna, jangan memaksa sayang....aku tidak akan lari"


Aish terkekeh.


"Aku mencintaimu Mas Aldric...." Aish meraih bibir suaminya, mereka kembali berciuman bahkan sampai sekarang masih sama-sama memakai handuk.


"Kau tidak boleh tidur sendiri malam nanti, pulanglah ke rumah Bunda."


"Memangnya kenapa jika aku tidur sendiri?" tanya Aldric heran.

__ADS_1


"Ya tidak boleh saja, aku kan di rumah sakit, bagaimana jika Anara itu menggodamu? Aku tidak mau, jika aku berjaga malam kau harus menginap di rumah Bunda Nayla saja"


"Aish, begitunya kau mencintaiku?"


"Tentu saja....kau hanya milikku" tegas Aishwa.


"Baiklah, lagi pula aku ingin melihat perkembangan persiapan pernikahannya Faiz, sayang ayo berpakaian....kita sarapan" ajak Aldric namum masih belum melepas pelukan.


"Nanti saja, sekarang aku ingin memakanmu terlebih dahulu" seringai Aish sambil melepaskan lilitan handuk di pinggang suaminya.


Aldric tidak bisa menolaknya, mereka kembali ke atas ranjang meneruskan niat mengurung diri di dalam kamar saja.


Di sela permainan mereka, Aish yang tengah di posisi women on top leluasa membelai dan menguasai suaminya.


"Kau ingin punya anak berapa?" tanya Aishwa.


"Memang kau sudah siap memiliki anak?"


"Tentu saja siap sayang, semua wanita menginginkannya......tapi untuk beberapa bulan bagaimana jika aku memakai kontrasepsi saja?"


Aldric mengernyit heran.


"Aku ingin kita pacaran dulu sebelum memiliki bayi, sebenarnya Bunda melarangku hamil supaya kita punya waktu berdua lebih banyak lagi, jangan terburu-buru."


"Hmmm Bunda ada benarnya juga, kau sibuk di rumah sakit aku juga tidak ingin terjadi apa-apa padamu nantinya" jawab Aldric serius, ia menjadi takut ketika mendengar cerita buruk dari Aish tentang masa lalu Bunda nya yang pernah keguguran.


"Tapi kita tidak boleh menolak rejeki bukan jika dikasih kesempatan sekarang, aku ingin hamil....itu menyenangkan, aku akan berhati-hati nantinya, apa kau siap menjadi seorang daddy?"


"Aku berharap yang terbaik untuk kita kedepannya, aku mencintaimu Aish....aku akan membuatmu bahagia bersama keturunan kita kelak"


Aish tersenyum, ia membelai bibir suaminya dengan sayang.


*******


Setelah puas hanya mengurung diri dikamar saja, Aish akhirnya menyerah juga, ia tidak mau terlihat lelah ketika harus berjaga di rumah sakit nanti malam.


Mereka mengisi hari ini dengan memindahkan seluruh barang dan pakaian Aldric ke kamar Aish, makan bersama, mencuci piring bersama, mencuci pakaian dan menjemur baju pun berdua, sungguh tampak harmonis dan romantis bagi yang melihatnya.


Aldric bahagia bagaimana mulai hari ini ia akan menjadi suami yang sesungguhnya, membangun rumah tangga yang bahagia seperti impian keduanya.

__ADS_1


Perempuan ini tidak ingin bayang masa lalu nya bersama Romi yang pernah gagal dengan ikut menghantui. Pun Aldric meski ia seorang pendiam namun jauh daripada itu ia ingin berumah tangga bersama Aish selamanya seperti romansa orangtuanya yang tak lekang oleh waktu hingga mereka menua nanti.


__ADS_2