
Nayla berpelukan dengan haru, menangis untuk kesekian kalinya sejak pria yang menjadi cinta pertamanya itu keluar dan menghirup udara bebas. Entah kenapa hari ini begitu cerah padahal sudah beberapa hari turun hujan.
Secerah hati dan perasaan Nayla yang bahagia bukan main saat ayahnya kembali pada kehidupan nyata, kehidupan normal seorang manusia.
Mendadak kontrakannya menjadi ramai oleh teriakan dan gelak tawa para keponakannya yang juga tidak bisa menyembunyikan kebahagiaan saat bertemu kembali dengan kakek mereka.
Nayla bahagia ayahnya pulang, apapun itu ia sudah lebih siap untuk menghadapi proses kehidupan yang menantang di hadapan, bersama ayahnya Nayla sungguh lapang hatinya selama ini.
Hari-hari berikutnya pun dimulai, dimulai dengan bertemunya Nayla dengan seorang perempuan sebaya dengan ayahnya, bibi Rena.
"Kita tidak akan menyia-nyiakan waktu untuk menangisi apa yang sudah terjadi, kita harus bangkit Nayla," seru ayah Faisal saat mereka akan memasuki sebuah tempat yang bergaya minimalis modern itu.
Nayla mengangguk semangat, mereka menggunting pita sebagai simbol telah resmi dibukanya sebuah kedai sederhana, kedai yang menyerupai sebuah kafe kecil yang terdapat berbagai menu sebagai sajiannya.
Ternyata semua itu sudah dipersiapkan oleh bibi Rena, semua sudah siap pakai, hanya berselang dua hari setelah keluar penjara ayah Faisal kini resmi menjadi seorang wirausaha dibidang Food and Beverage.
Nayla salut dengan bibi Rena, wanita itu tampak bersemangat sekali membantu mereka yang memang sedang membutuhkan pekerjaan untuk menyambung hidup.
Hari ini Lia juga hadir di sana memberi dukungan penuh pada sahabatnya yang akan memulai bisnis baru bersama sang ayah.
"Nay....."
"Hmmm," Sahut Nayla seraya merapikan kursi dan mengelap meja.
"Coba kau lihat ayahmu, tidakkah mereka serasi?"
Nayla menoleh pada ayah Faisal yang sedang menyajikan makanan buatannya pada bibi Rena yang tidak kehilangan senyum sejak tadi, kedai itu belum beroperasi, hari ini mereka membukanya untuk sekedar merapikan lagi dan menata letak perabot yang mempercantik ruangan yang didesain untuk para anak muda nongkrong di sana.
Nayla tersenyum masam, "Entahlah, aku rasa kedekatan mereka bukan hanya sebagai sahabat, aku merasa ayahku melupakan ibuku dengan cepat."
"Nay..... Ayah Faisal tidak mungkin menunggu ibumu kembali, lihatlah ayahmu masih segar dan tampan jadi wajar jika ada wanita yang menyukainya meski tidak muda lagi, tapi setidaknya kau harus senang jika mereka menikah bukankah ada yang mengurus ayahmu?"
"Aku bisa mengurus ayahku sendiri," tukas Nayla cepat.
"Kau juga punya kehidupan pribadi Nay, kau juga akan menikah nanti lalu siapa yang akan mengurus ayahmu, jangan menutup kemungkinan. Kau dan ayahmu berhak bahagia," balas Lia lagi, gadis ini terus mengulum senyum saat matanya enggan beralih menatap dua orang yang sudah tidak muda lagi itu berinteraksi. Manis sekali menurut Lia.
Nayla melirik lagi ayahnya dan bibi Rena yang meladeni Zaza bicara, benar saja hatinya kian berkata-kata bahwa wanita paruh baya yang masih sangat awet muda itu tampak memberikan perhatiannya pada ayah Faisal. Bukan perhatian sebagai seorang teman melainkan lebih dari itu, Nayla sudah cukup dewasa dalam menilai sikap.
Bernapas kasar Nayla memajukan bibirnya ke depan, "Sepertinya aku kalah dari ayahku, dia akan dapat jodoh secepat ini."
Lia tertawa mendengar celoteh kesal dari Nayla.
"Ayah, ini sudah waktunya Denia pulang sekolah. Aku juga akan menjemput Arinda dan Zandi, aku akan membawa mereka kemari."
Nayla menghampiri ayahnya dan bibi Rena.
"Berhati-hatilah Nayla, kami akan menunggumu disini," sahut bibi Rena sambil mengusap lengan Nayla dengan penuh kasih.
Nayla tertegun sesaat, ia mengangguk lalu pamit bersama Lia meninggalkan Zaza bersama kakeknya.
Dalam perjalanan Lia mengajak Nayla mampir sebentar ke rumah Laundry milik kakaknya Aqilla, ada sesuatu yang ingin ia ambil dari sana.
"Mau masuk atau di mobil saja?"
"Aku di sini saja, masuklah....." jawab Nayla pelan.
"Ayolah Nay, jangan muram seperti itu kau jelek kalau diam."
"Ckkk.... Jelek tapi cantik," balas Nayla tertawa manis.
"Cantik jika tertawa seperti ini, aku akan masuk aku janji tidak akan lama."
Nayla mengangguk, ia enggan sekali masuk. Entah kenapa rasa malas mengusainya saat ini, ia asyik bermenung menatap ke luar jendela mobil.
Lalu matanya mengarah pada seekor kucing dengan bulu yang cantik bermain di tepi jalan di hadapan mobil Lia. Lucu sekali, namun Nayla segera keluar mobil saat menyadari kucing tersebut terancam ditabrak oleh mobil yang tiba-tiba berhenti di sana.
"Oh sayang, kau membuatku cemas.... Pus pus pus, Nayla mengusap kepala anak kucing itu dengan gemas. Lalu ia melepaskan saat kucing itu hendak lari dari tangannya.
Gadis itu tidak menyadari siapa yang hampir menabrak kucing itu, setelah ia ingin beranjak barulah ia tersadar seorang pria memperhatikannya sejak keluar mobil.
__ADS_1
Nayla terkejut, "Mas Ariq?" desis Nayla pelan.
"Maaf, aku tidak melihat ada kucing tadi," jawab Ariq canggung.
"Tidak masalah, yang penting kucingnya selamat bahkan sudah kabur," balas Nayla tersenyum kecil seraya menatap anak kucing itu yang berlarian tidak jauh dari mereka.
"Kenapa kau kemari? Mmmmm..... Maksudku kenapa kau ada disini?"
"Aku sedang menunggu Lia, dia masuk ada keperluan."
"Kenapa tidak ikut masuk? Di luar panas."
Nayla menggeleng, "Aku menunggu di mobil saja, kata Lia tidak akan lama."
Ariq melihat jam di pergelangan tangannya.
"Bukankah ini waktunya Denia pulang?"
"Iya, aku memang hendak menjemput anak itu."
"Ayo ku antar kau ke sekolah Denia sekarang! Kasihan dia jika menunggu lama," cetus Ariq meraih tangan Nayla dan mengajaknya masuk ke mobilnya.
Nayla menahan ajakan itu.
"Bagaimana dengan Lia, mungkin sebentar lagi dia akan keluar," cegah Nayla lagi.
"Itu terlalu lama, ayo!"
Nayla melihat pada pintu masuk rumah laundry namun benar Lia belum muncul juga.
"Tapi mas Ariq."
Pria itu tidak menggubris, melainkan memaksa Nayla masuk pada pintu mobil yang sudah ia bukakan untuk gadis itu.
Nayla terpaksa ikut meski hati kecilnya merasa senang pada pertemuan ini. Nayla tersenyum dengan sikap lelaki itu seolah mereka kembali seperti dulu. Lelaki pemaksa yang kini sedang mengemudi membawanya ke sekolah Denia.
"Nay....."
"Maaf, aku lama tidak menemuimu."
"Bukan masalah besar, aku mengerti perasaanmu mas Ariq. Permintaan maaf mungkin tidak bisa memperbaiki hubungan baik kita."
"Aku hanya ingin menyangkal semua itu."
"Tapi semua itu kenyataan, kenyataan yang begitu sulit aku lewati. Kau tahu kenapa aku bunuh diri waktu itu? Bukan hanya ditinggal mati oleh ibu dan kakakku, tapi juga mengalami keguguran dan ditinggal kawin oleh pria yang tidak bertanggung jawab. Semua ku lewati sendiri mas Ariq, semua sudah ku lalui hanya seorang diri."
"Jika rasa kecewa membuatmu berpaling dariku, itu juga hal sulit yang harus aku anggap biasa agar aku tidak terpuruk lagi hanya karena soal cinta."
"Karena cinta manusia akan ada batasnya, seperti kau yang mencintaiku hanya sebatas suka semata, suka pada fisikku tapi tidak termasuk kehidupan ku."
Nayla mulai menangis saat mengatakan hal ini, hal yang tertahan sejak lama. Ariq menghentikan mobilnya.
"Maafkan aku Nayla...."
"Aku mengerti mas Ariq, sangat mengerti. Bukankah sudah ku katakan bahwa aku bukan gadis baik yang pantas untukmu, aku terhina. Aku adalah aku, aku juga tidak bisa menghapus noda masa lalu. Noda itu terukir permanen seumur hidup, tidak ada yang bisa merubahnya. Kau pantas mendapatkan wanita lain, yang jauh lebih baik dan berharga dariku. Aku mengerti mas Ariq, aku bahkan sudah mengira bahwa akan berakhir seperti ini."
"Aku bukan janda, tapi aku bukan seorang gadis lagi."
"Berhenti katakan itu Nay."
"Itulah kenyataannya, kenyataan pula yang membuatmu jauh dariku, bersikap dingin tanpa memberi kepastian penantianku, kau yang memulai dan memaksaku untuk mencintai seseorang lagi, tapi kau pula yang berlagak tidak peduli saat ini."
"Aku meragukanmu bahkan sejak awal kita bertemu, terimakasih atas semua kebaikanmu mas Ariq, aku rasa ini terakhir kalinya kita bertemu, jika bertemu di lain kesempatan percayalah hatiku sudah lebih baik dari sekarang, aku sudah menyampaikan apa yang terpendam dari perasaan ku."
"Aku lega telah mengatakan semua ini, sekali lagi terimakasih atas tumpangan ini. Aku akan turun."
Ariq menangkap tangan Nayla saat gadis itu hendak keluar dari mobil.
"Tidak boleh!"
__ADS_1
"Kenapa tidak boleh? Jangan memaksa pada hal yang tidak kau sukai."
"Aku tidak bilang begitu."
"Kau sudah tidak suka denganku mas Ariq."
"Aku suka."
"Bohong."
"Tidak."
"Jika suka, jika cinta kau tidak akan bersikap seperti ini. Kenapa tidak berusaha bicara baik-baik dengan ku? Kenapa dingin seperti salju? Setidaknya berilah aku kepastian hubungan."
"Maafkan aku."
"Aku tahu kau tidak akan menerima masa laluku, jadi lebih baik kita berakhir sampai di sini, aku mengerti mas Ariq, sangat mengerti. Aku akan menata hati lagi, menata hidupku yang kian merasa lebih baik sekarang."
"Nayla," lirih Ariq yang tidak melepas genggamannya.
"Apa?" Nayla mulai jengah.
"Aku mencintaimu."
"Bohong."
"Benar."
"Cinta sabun mandi," ketus Nayla ingin keluar dari mobil.
Namun Ariq menahannya lagi, bukan hanya menahan tapi meraih wajah Nayla dengan gerakan pasti. Cup, Ariq mengecup bibir Nayla tanpa ba bi bu lagi.
Sejenak perasaan menjalari keduanya. Perasaan terdalam yang masih mereka rasakan.
Nayla mendorong Ariq sekuat tenaga, lalu menampar pria itu dengan keras. Dadanya naik turun seakan ingin marah.
"Kau jahat mas Ariq, aku memang bukan wanita yang baik, aku terhina dan penuh noda, sikapmu yang ini membuat aku berpikir kau memang menganggap ku gadis murahan, tidakkah kau menghargai penutup kepala yang ku pakai sekarang? Aku ingin jadi lebih baik mas Ariq, tapi kau tidak menghargai usahaku."
"Nayla, tidak bukan itu maksudku."
"Kau jahat," ketus Nayla lagi, ia turun dari mobil setelah melepaskan tangan Ariq dengan paksa.
"Nay, ah sial......" Ariq memukul stir mobil dengan geram.
Ia keluar dari mobil menyusul Nayla yang menjauh.
Saat Nayla ingin menaiki angkutan umum yang melintas dengan tujuan sekolah Denia, bersamaan pula dengan Ariq yang menangkap tubuh Nayla dan mengangkatnya menjauh.
"Mas Ariq, apa kau gila. Ini tempat umum." Bentak Nayla meronta dalam gendongan pria itu.
"Berhenti mengoceh, jika kau tidak ingin ku cium lagi. Jangan coba-coba kabur," ucap Ariq seraya memasukkan Nayla ke dalam mobil lagi.
Ariq memasang sabuk pengaman Nayla yang tidak berkutik, pria itu mengemudikan lagi mobilnya dengan senyum yang merekah.
"Mas Ariq, aku...."
Ariq menutup mulut Nayla dengan tangannya yang bebas, meski pelan namun Nayla tidak bisa mengeluarkan kata-kata karenanya.
"Berhenti mengoceh, atau ku cium lagi nanti."
Diam, Nayla berhasil terdiam.
"Aku mencintaimu Nayla, tidak berubah sedikitpun."
"Lalu kenapa kau seperti itu?"
"Ada hal lain yang mengganggu ku sekarang."
"Apa itu?"
__ADS_1
"Keluarga ku."
"Jangan diteruskan, aku bahkan sudah bisa menebak lanjutannya!" ujar Nayla sambil menatap keluar lagi.