Purnama Merindu

Purnama Merindu
Bukan power rangers


__ADS_3

"Ayahku menikah lagi."


Ariq cukup terkejut mendengarnya.


"Benarkah?"


"Iya, itulah alasan kenapa lebih sibuk beberapa hari ini, aku senang ayahku ada yang mengurus setelah semua yang terjadi tidaklah mudah dilewati. Istrinya orang yang baik, aku suka."


Ariq menggenggam tangan Nayla seolah menguatkan.


"Lantas bagaimana kau dan anak-anak?"


"Kami akan tetap tinggal disini, aku tidak ingin merepotkan istrinya jika harus pula ikut mereka. Istri ayahku punya dua anak, mereka orang berada, aku hanya tidak ingin merusak suasana, aku sudah senang dan bersyukur mereka menerima ayahku dengan baik. Semoga ayahku bahagia diusianya yang sudah tidak muda ini."


Ariq tertegun mendengar tuturan yang sangat dewasa pikiran Nayla.


"Aku akan mendoakan hal yang sama," balas Ariq pelan, ia memandang pada anak-anak baik itu yang sedang bermain ular tangga tanpa mengganggu Ariq dan Nayla yang sedang bicara.


"Kita akan membesarkan mereka bersama-sama nanti, jangan takutkan masa depan mereka, lihatlah mereka anak-anak baik yang tidak nakal sama sekali, aku akan menjamin hidupmu dan anak-anak setelah kita menikah nanti."


Ariq mencium tangan Nayla.


"Menikah? Entahlah, aku ragu akan hal itu," cetus Nayla merasa murung sendiri mengingat siapa dia dan siapa saingannya.


"Percaya padaku Nayla."


"Mas Ariq bicara seperti ini karena belum bertemu calon mu itu, bagaimana jika sudah bertemu nanti? Misalnya dia wanita yang cantik, sholeha dan berbudi pekerti yang baik, sempurna disegala arah, apa kau juga akan menutup hati? Aku ragu, aku saja yang penuh kekurangan ini saja mampu membuatmu move on dari nona Andira, bagaimana jika kau bertemu wanita istimewa itu nanti. Kau akan jatuh cinta padanya, aku yakin itu."


"Tidak, aku tidak memandang fisik atau kesempurnaan seperti yang kau sebutkan itu Nayla, aku mencintaimu karena kau..."


"Aku apa?"


"Kau seorang bidadari, tidak ada yang sempurna melebihi bidadari meski Cinderella sekalipun."


Nayla tersenyum mendengarnya.


"Lantas jika kau berubah nanti setelah bertemu dengannya? Sudah menjadi sifatnya manusia suka berubah-ubah mas Ariq, janganlah merasa yakin pada hal yang belum menjadi ketetapan pasti."


"Aku bukan power rangers yang suka berubah."


Nayla tertawa juga akhirnya.


"Tidak mudah bagiku untuk jatuh hati Nayla, kau adalah perempuan kedua setelah Andira. Aku yakin pada hatiku, aku tidak pula harus meyakinkan siapapun tentang kita, karena hidupku adalah hakku sepenuhnya, orang tuaku hanya ingin yang terbaik untukku, dan aku tahu kaulah pilihan hatiku."


"Ck.... Gombal."

__ADS_1


Mereka saling melempar senyuman, Nayla selalu merasa hangat jika berhadapan dengan pria itu. Ariq selalu bisa menarik lengkungan bibirnya membentuk senyuman terus menerus ketika sedang bersama.


"Tentang malam nanti, apa kau mau jujur padaku?" tanya Nayla hati-hati.


"Kau tahu?"


Nayla mengangguk, "Vano yang memberi tahu."


"Ck.... Mulut pria itu bocor sekali," rutuk Ariq kesal.


"Mengaku saja."


Ariq terdiam sejenak.


"Iya, nanti malam pertemuan dengan keluarga gadis itu. Percayalah ini hanya sekedar pertemuan biasa, bukan mutlak harus berjodoh dengannya."


"Aku mengerti."


"Nayla, aku bisa cancel jika kau keberatan."


"Jangan, hargailah orangtuamu yang jauh datang untuk hal ini."


"Aku akan menjaga hatiku untukmu, aku ikut karena alasan orangtuaku, aku menghargai mereka yang sudah mengatur pertemuan ini sejak lama."


"Aku mengerti mas Ariq, tenanglah..."


Gelak tawa, canda dan bahagia menghiasi rumah kontrakan sederhana bersama Nayla, Ariq bahagia jika gadis itu tertawa. Pemandangan yang jarang sekali ia lihat, gadis rapuh meski dibalut kekuatan sedemikian rupa, Nayla tetaplah seorang perempuan berhati lembut, mudah goyah apalagi patah.


"Aku mencintaimu," bisik Ariq disela permainan mereka.


"Iya."


"Iya apa?"


"Iya, aku mendengarnya mas Ariq," ucap Nayla membalas dengan senyum terbaiknya.


*****


Sejak kapan Cinderella punya ayah tiri?


Rahayu, bak seorang Cinderella muslimah yang menjelma menjadi putri sangat cantik dengan dandanan tidak berlebihan, pakaian yang elegan membuatnya sangat menawan.


Malam ini, pertemuan yang akan membawanya pada pemandangan indah yang ia impikan selama rencana perjodohan itu dimulai sejak pertengahan tahun lalu namun malam inilah yang menjadi puncak penantiannya.


Rahayu gugup luar biasa, namun juga merasa tidak sabar ingin bertemu Ariq yang ia damba hanya lewat foto selama ini.

__ADS_1


Orangtua pria itu adalah teman lama mamanya. Mereka mulai bicara perjodohan saat pria itu patah hati dari gadis bernama Andira, tidak membuka hati untuk wanita lain dalam waktu lama membuat orang tuanya berinisiatif mengenalkan pada Rahayu yang masih kuliah, namun terhalang beberapa bulan karena orangtua si pria belum dapat pulang ke tanah air.


Tapi malam ini, adalah hal yang sangat istimewa rasanya, Rahayu yang kebetulan baru diwisuda pagi tadi bukankah momen yang tepat untuk merayakan kebahagiaan gadis itu.


Terlebih sang ibunda Rena Anindita, juga baru saja menikah. Semua menjadi kebetulan, ibunya Rena ingin mengenalkan putri sekaligus suami barunya pada keluarga Alif dan Humairah. Keluarga terpandang dan kaya raya di sudut kota.


Ayah Faisal dan ibu Rena menunggu Nayla datang, ia memaksa gadis itu untuk ikut mendampingi Rahayu malam ini, semua keluarga kecil itu harus hadir untuk malam yang membahagiakan bagi Rahayu.


Termasuk sang kakak Dirga, pria itu membatalkan banyak janji demi adiknya malam ini.


Nayla datang bersama Zaza. Membuat kakek empat cucu itu heran.


"Mana yang lain nak?"


"Aku rasa tidak perlu membawa mereka semuanya ayah, tidak enak juga merepotkan. Kak Dewi ingin menjaganya, lagi pula aku tidak akan lama. Jadi aku bawa Zaza saja."


Nayla datang tepat waktu.


"Nayla, ibu sama sekali tidak merasa direpotkan dengan anak-anak, mereka cucu-cucu ku juga sekarang, jangan lupa itu. Lain kali mereka harus pula hadir disetiap acara keluarga ibu, kita keluarga Nayla.....Ibu menerima mu dan anak-anaknya mendiang Juna, sekali lagi jangan merasa sungkan oke."


Ibu Rena mengusap lengan Nayla dengan sayang, padahal ia berharap akan mengenalkan cucu-cucu barunya pada keluarga calon besannya. Ibu Rena suka anak-anak. Ia benar-benar menerima suaminya serta keluarganya juga tanpa terkecuali.


Nayla tersentuh dibuatnya, ia mengangguk.


"Kau dengar itu nak?"


"Terimakasih banyak bu, aku bahagia mendengarnya, lain kali akan ku bawa mereka."


"Mana Rahayu?"


"Nayla, aku di sini!" Seru Rahayu sambil melambai tangan pada Nayla yang juga tak kalah cantik dengan dress sederhana namun tampak sangat cocok pada penampilannya malam ini yang sangat feminim.


Nayla tersenyum, lalu segera menghampiri Rahayu yang berada di dekat mobil kakaknya.


"Mari kita berangkat," ujar ayah Faisal setelah menghampiri putri kandung dan putri sambungnya itu.


Mereka pergi, membelah jalanan menuju sebuah restoran hotel mewah tempat pertemuan. Nayla diculik Dirga untuk menemaninya di mobilnya sendiri.


Seperti biasa musim penghujan masih berlangsung hingga akhir tahun. Gerimis berpetir mewarnai langit kelam yang kian mencekam.


Namun bagi orang kaya hal itu bukanlah penghalang jika ingin bepergian. Ada mobil mewah yang melindungi mereka dari hujan yang kian mengguyuri setiap sudut kota di malam panjang ini.


"Nayla...."


"Hmmmm, ada apa?" Tanya Nayla pada Dirga yang masih mengemudi.

__ADS_1


Gadis itu tampak memeluk Zaza dengan gemas.


"Kau sudah punya pacar?"


__ADS_2