Purnama Merindu

Purnama Merindu
Namanya Ariq Gunawan Pratama


__ADS_3

Nayla menatap serangkaian bunga Lily kiriman dari Vano. Ia tidak membuangnya melainkan menaruhnya di dalam vas keramik berbentuk bulat dengan tinggi sekitar dua puluh sentimeter.


Ia letakkan sebagai pemanis ruangan restoran mini ayahnya yang sudah dibuka tiga hari lalu. Lama ia memandang bunga pelebur rajuknya ketika berselisih pendapat ketika masih bersama Vano dulu.


Bunga Lily adalah bunga musim panas dengan nama latin marganya (genus) adalah Lilium. Bunga yang tumbuh dari umbi ini memiliki ciri-ciri kelopak bunga yang lebar seperti terompet, memiliki putik yang tumbuh seperti korek api, daunnya hijau terang dan ditopang oleh tangkai yang ramping memanjang.


Bunga yang berasal dari Asia Barat dan Mediterania ini tumbuh dengan sangat indah dan memiliki bermacam-macam warna yang menarik, jadi jangan heran jika orang akan betah memandangnya bahkan dalam waktu yang lama. Selain dari bentuknya yang indah, bunga lily rata-rata juga menebarkan aroma wangi yang semerbak.


Oleh karena itu, bunga lily dijuluki sebagai ratu taman oleh para pecinta bunga. Kecantikan bunga lily ini sudah terkenal diberbagai pelosok negara. Bahkan di zaman Yunani kono, disebutkan dalam legenda Yunani bahwa bunga Lily berasal dari susu yang ditumpahkan Dewi Hera.


Konon katanya, pada saat Dewi Hera menyusui putranya, Hercules, ia secara tidak sengaja menumpahkan air susunya ke bumi. Dan itulah awal tumbuhnya bunga lily di bumi.


Nayla tahu semua itu dari artikel yang ia dapatkan dari internet, yang pasti bunga Lily adalah bunga kesukaannya dari sekian bunga.


Dari artikel lain juga menyebutkan bunga lily melambangkan kesucian dan kemurnian.


Kini, bunga itu terasa hampa. Kosong tiada bermakna, semua cerita telah usai. Satu cerita pahit telah berlalu, namun kini Nayla kembali berhadapan dengan cerita menyakitkan yang lain.


Kenapa kisah cintanya tak pernah simpel seperti pasangan Dewi dan bang Jhon, entahlah Nayla hanya membesarkan hatinya dengan mengira jika ia adalah gadis istimewa karena mendapatkan beberapa ujian sedemikian rupa.


Lamunannya buyar saat sang ayah menegurnya.


"Sayang, apa yang kau pikirkan?" tanya Ayah Faisal seraya merapikan tata letak beberapa lukisan dinding.


Nayla menoleh, ia tersenyum simpul.


"Aku memikirkan betapa senangnya bisa punya usaha seperti ini, melayani orang yang datang makan siang atau hanya sekedar minum kopi membuat hidupku terasa menjadi baru. Ini adalah hal baru yang terjadi dalam hidup kita ayah. Aku suka menjadi pelayan disini."


Nayla terkekeh sendiri mengingat betapa ia kewalahan sendiri saat melayani banyak pelanggan baru yang datang ke kedai mereka sejak dibuka karena Nayla belum terbiasa. Terlebih ia harus meladeni para teman sekelasnya dulu yang selalu datang ke sana untuk makan, Nayla bersyukur sejak dibuka mereka tidak pernah sepi.


Tidak heran jika ramai, Nayla punya koneksi teman-teman kuliahnya dulu, Lia juga mengajak temannya yang lain untuk mampir makan di sana, belum lagi Lia mengajak kakak dan kakak iparnya juga berlangganan di sana, Aziz tentu juga mengajak teman sesama dosennya untuk makan di kedai milik ayah mantan mahasiswinya itu.


"Jika terus ramai hingga minggu depan, ayah pertimbangkan untuk merekrut satu pelayan baru yang bisa membantumu."


"Aku setuju, aku juga malu saat terlalu sibuk hingga kurang fokus, ada beberapa pesanan yang ku salah antar," kekeh Nayla geli sendiri mengingat hal itu kemarin.

__ADS_1


Mereka saling bercerita tentang kejadian unik selama mereka membuka kedai makan itu. Tawa mereka pecah saat ada kejadian lucu kemarin. Nayla dan ayahnya bahagia untuk saat ini.


Sampai pada sebuah salam menghentikan tawa mereka.


"Waalaikumsalam," jawab Ayah Faisal dan Nayla berbarengan, lalu mereka menoleh pada dua perempuan yang baru saja memberi salam ketika hendak masuk.


Nayla mengernyitkan dahi, saat menoleh pada satu perempuan muda di samping bibi Rena.


"Nayla?"


"Rahayu?"


Mereka saling menghampiri dalam keheranan.


"Kalian saling mengenal?" tanya bibi Rena penasaran.


Kedua gadis itu mengangguk.


"Kami adalah teman," jawab Rahayu segera.


"Nay, ini adalah putri bibi..... Rahayu, oh bibi senang sekali jika kalian sudah saling mengenal."


"Tentu saja, siapa yang tidak mengenal Rahayu jika di kampus. Gadis idaman, pintar, baik, cantik luar dalam," puji Nayla tersenyum.


"Kau pandai memuji Nayla, kau juga tidak kalah cantik. Cantik sekali malahan."


Mereka saling melempar tawa. Ayah Faisal dan bibi Rena tampak senang saat melihat anak-anak mereka akrab seperti sudah kenal lama.


Nayla dan Rahayu saling membantu saat membersihkan meja dan menyusun kursi karena kedai akan dibuka satu jam lagi.


"Kapan hari wisuda mu?" tanya Nayla sambil merapikan kertas menu.


"Tanggal 24 nanti Nay.... Maaf baru sempat kemari, aku sibuk urusan wisuda. Insya Allah jika tidak menggangu waktumu aku mengundangmu juga untuk hadir dihari besarku nanti Nay...."


Nayla mengangguk semangat.

__ADS_1


"Tentu saja aku ada waktu, aku akan sempatkan datang memberi selamat nanti. Semoga acara itu lancar dan bahagia."


"Aku senang kau mau datang Nay...."


"Hmmmm, lalu tentang akan bertemu calon suamimu?" Entah kenapa Nayla menjadi penasaran saja dibuatnya.


"Kau membuatku malu Nay..... Kemarilah, ayo ku tunjukkan sesuatu padamu. Agar kau tidak penasaran lagi nanti," kekeh gadis itu seraya mengajak Nayla ke sudut ruangan yang tasnya berada di sana.


Nayla menurut saja, ia melirik ayah dan ibunya Rahayu juga sedang bicara sambil merapikan alat di pantry yang siap digunakan untuk memasak menu pesanan nanti, bibi Rena tampak menyiapkan semua keperluan bahan makanan dimulai dari menaruh di kulkas hingga menyiapkan bumbu-bumbu masakan yang siap pakai agar ayahnya mudah menjangkau.


Sejenak Nayla berpikir tentang ucapan Lia tempo hari, bahwa mereka tampak serasi sebagai pasangan.


Ayah Faisal butuh seseorang yang mengurusnya, dan Nayla melihat bibi Rena memberi perhatian pada pria setengah baya itu dengan baik, seperti sekarang bibi Rena sedang memakaikan apron dan mengikat bagian belakangnya dengan penuh kasih sayang. Sesekali mereka tampak tertawa lepas entah apa yang mereka bicarakan.


Nayla tahu dari tatapan dan riak wajah dua orang yang sudah tidak muda lagi itu, riak wajah yang menyiratkan makna yang cukup dalam dari sekedar persahabatan. Nayla mulai memikirkan kemungkinan ayahnya menikah lagi.


"Nayla, ayo kemarilah. Tugas kita sudah beres. Saatnya kita bergosip," kekeh Rahayu memanggil Nayla lagi.


Nayla mendekat, ia duduk menyusul Rahayu yang telah duduk di atas karpet di sudut ruangan tempat Nayla dan ayahnya beristirahat yang dibatasi sekat pembatas, tempat yang disulap sebagai mushola mini untuk Nayla dan ayahnya melaksanakan ibadah sholat jika berada di kedai.


"Memangnya kau suka bergosip juga? Oh aku baru tahu sekarang."


"Iya, bergosip tentang pria tampan sesekali tidak ada salahnya kan?" ujar Rahayu sambil tertawa pelan.


"Baiklah, mana pria tampan mu itu?"


Rahayu mulai membuka ponselnya.


"Kami sudah berkenalan lewat pesan, hanya saja menunggu pertemuan dua keluarga mungkin satu hari setelah aku wisuda nanti. Menunggu ayah dan ibunya datang dari Amerika, orangtuanya tinggal di sana. Mas ku itu tinggal bersama bibi dan Oma nya jika di sini," jelas Rahayu yang masih mencari sebuah gambar yang ia dapatkan dari ibunya saat tahu akan dijodohkan dengan siapa.


Deg. Nayla merasa lain pada jantungnya saat mendengar negara Amerika serta kata-kata tinggal bersama bibi dan Oma nya. Ia langsung teringat pada Ariq.


"Kenapa galeri foto ku penuh sekali, tunggu tunggu..... Ini dia!"


Rahayu menunjukkan sebuah gambar pada Nayla, gambar seorang pria tampan dengan balutan jasnya. Pria berhidung mancung dengan bulu-bulu halus tumbuh di sekitar rahangnya, mata hitamnya yang tegas seorang menusuk jantung bagi siapa yang melihat foto itu.

__ADS_1


"Namanya Ariq, Ariq Gunawan Pratama."


__ADS_2