Purnama Merindu

Purnama Merindu
Meminang


__ADS_3

"Aku gagal romantis, Dira benar aku tidak pernah bisa romantis."


Nayla tersenyum lagi, "Lalu mau diapakan cincin ini?"


"Untuk kau jual, tentu untuk dipasangkan ke jari manismu sebagai tanda keseriusan ku ingin mengajak mu menikah, bukan hanya sekedar ucapan belaka."


Ariq memasangkan cincin tersebut ke jari manis tangan Nayla. Gadis itu tidak berhenti tersenyum sejak tadi. Ia sungguh bahagia mendapatkan kejutan seperti ini.


Nayla memandang jari manis tangan kirinya cukup lama, ia terus saja tersenyum. Entahlah inikah rasanya dilamar orang yang kita cintai?


Mereka menghabiskan waktu bicara berdua sambil berjalan keliling pantai, percakapan yang lebih didominasi perdebatan kecil yang membuat mereka tampak mesra.


Nayla tertidur karena mengantuk saat menempuh perjalanan yang macet menuju rumah sakit.


Musik radio berputar, menemani Ariq yang menyetir tanpa teman bicara itu, sesekali ia usap lembut wajah Nayla yang bersandar di bangku samping kemudi itu, kepalanya ia miringkan ke arah Ariq.


"Aku mencintaimu sayang," bisik Ariq pelan sambil mencium kening Nayla yang masih terlelap. Jalanan benar-benar macet arah rumah sakit hingga mereka menghabiskan waktu tidak kurang dari satu jam berada dalam mobil agar bisa melewati macet.


Sebuah lagu mulai bernyanyi.


Menatap indahnya senyuman di wajahmu


membuatku terdiam dan terpaku


mengerti akan hadirnya cinta terindah


saat kau peluk mesra tubuhku, oohh


banyak kata yang tak mampu ku ungkapkan


kepada dirimu


aku ingin engkau selalu


hadir dan temani aku


di setiap langkah yang meyakiniku


kau tercipta untukku


meski waktu akan mampu


memanggil seluruh ragaku


ku ingin kau tahu


ku selalu milikmu


yang mencintaimu


sepanjang hidupku


sungguh hanya lah dirimu


yang aku cintai


dan sungguh ku kan di sisimu


hingga ku mati


Sebuah lagu dari band Ungu berjudul Tercipta untukku, makna yang sangat pas dengan situasi Ariq dan Nayla saat ini. Seperti lagu itu, Ariq memanglah ingin segera memiliki Nayla seutuhnya dalam ikatan pernikahan jika tidak ada halangan dalam keluarganya.


Setidaknya orangtuanya tidak pernah memaksa Ariq ingin menikah dengan siapa. Meski diminta juga untuk memberi pertimbangan pada Rahayu namun pilihan Ariq tetap pada gadis yang tertidur pulas itu. Pilihannya tetap jatuh pada Nayla juga.


Nayla Purnama, gadis kedua yang membuatnya merasakan jatuh cinta, namun dengan Nayla sungguh berbeda, ia bahkan bukan hanya jatuh cinta namun juga seperti menggilai perempuan yang menggemaskan itu.


Sampai rumah sakit, Ariq membangunkan Nayla.


"Sayang."


"Sayang, kita sudah sampai. Kau mendengar ku?"


Nayla membetulkan posisi duduknya, lalu menatap ke luar, lalu ia menatap Ariq lagi seraya mengumpulkan kesadaran.


"Apa kita sudah sampai?"


"Iya, ayo." Ajak Ariq, ia keluar lebih dulu lalu membuka pintu mobil untuk Nayla yang berusaha merapikan penampilannya.


"Apa tidak mengganggu, datang pada jam seperti ini?"


"Tidak, tenanglah, ruangan Oma bebas akses kapanpun untuk dijenguk keluarga."

__ADS_1


"Tapi aku bukan keluarga."


"Akan menjadi keluarga juga nantinya," sahut lelaki itu.


Nayla terdiam, ia tiba-tiba mengingat Angga.


"Kenapa?" tanya Ariq saat melihat Nayla murung.


"Aku kurang yakin, entahlah mas Ariq. Aku takut pada keluarga mu."


"Sayang kau ini bicara apa, keluarga ku tidak seburuk yang kau pikirkan. Aku ini anak lelaki sulung pula, jadi tidak akan ada yang bisa memaksaku dalam hal masa depanku. Jangan terlalu dipikirkan."


Mereka terus bergandengan menuju ruangan Super Vip tempat Oma Rika dirawat.


"Apa ada orangtuamu?"


Ariq mengangguk, "Ada, paket lengkap malah."


"Maksudmu?"


"Ada juga adik-adikku dengan istrinya."


"Apa?" Nayla menghentikan langkah.


"Kenapa? Kau keberatan?"


"Mas Ariq, tapi kau tidak bilang akan bertemu keluarga besarmu juga."


"Kejutan yang kedua untukmu, yang tadi gagal yang ini tidak gagal. Kau akan bertemu dengan calon ipar-ipar mu."


Nayla mendadak gugup luar biasa, tangannya langsung berkeringat, ia tidak mengira malam ini Ariq mengajaknya kemari bukan hanya untuk menjenguk Oma yang sedang sakit namun juga untuk bertemu saudaranya yang lain.


"Mas Ariq, ayo antar aku pulang. Aku tidak siap."


"Tidak boleh, enak saja. Aku susah payah mengumpulkan mereka yang sibuk untuk kemari malam ini. Kau akan ku kenalkan sebagai calon istri pilihanku, aku serius pada perasaanku Nayla. Aku tidak pernah bermain-main dengan mu selama ini. Memang betul bibi Arina dan Annisa belum menyukaimu karena mereka belum mengenalmu."


"Jangan anggap hal besar mereka berdua, itu bukanlah penghalang bagi kita. Setiap orang tua ingin yang terbaik untuk anaknya, dan kau adalah pilihanku yang paling baik dari pilihan manapun. Jadi mulai malam ini, jangan sungkan. Keluargaku akan melamarmu dalam waktu dekat saat Oma sudah sehat nanti."


"Apa?" Nayla benar-benar terkejut sekarang.


"Mas Ariq?" rengek Nayla gusar sendiri.


Ariq menarik lagi tangan Nayla membawanya pada sebuah ruangan dengan fasilitas terbaik dan lengkap rumah sakit itu.


"Mas Ariq," lirih Nayla lagi. Ia terus mengambil napas dalam-dalam lalu menghembuskannya perlahan agar hatinya lebih tenang.


Ariq tidak menjawab, ia terus melangkah menarik pelan tangan Nayla perlahan membuka pintu.


"Assalamualaikum," ucap Ariq saat masuk.


Nayla merasa lemas kakinya, ia tidak siap sekarang, dan benar saja saat Nayla melangkahkan kaki perlahan masuk mengikuti langkah Ariq yang tidak melepas genggaman tangan gadis itu.


Semua mata memandang Nayla dengan berbagai ekspresi. Terkejut, terkesima, tidak menyangka, tidak tahu harus bicara apa saat menoleh pada gadis cantik berhijab senada dengan gaunnya yang sederhana dan elegan, mata bening yang indah, hidung mancung yang kokoh, alis mata yang tidak terlalu tebal namun rapi bak semut beriring, satu hal yang menambah manis gadis itu pada saat mengembangkan senyumnya. Tampak satu giginya yang gingsul. Sungguh manis, siapapun yang memandangnya sekarang pastilah ikut tersenyum pula.


Hening.


Sampai Nayla mengeluarkan suara memberi salam, mereka serentak menjawab salam itu.


"Waalaikumsalam," jawab mereka yang berada di sana.


"Nayla?" Ucap Aqilla dan suaminya Aziz secara bersamaan, mereka hampir ternganga saat melihat itu adalah gadis mantan mahasiswa mereka yang pernah kuliah di kampus dimana pasangan suami istri itu mengajar sebagai dosen.


Mereka sontak berdiri dari duduknya.


"Nayla, kemarilah. Ayo masuk jangan malu," tiba-tiba mama Humairah meraih tangan Nayla dan melepas paksa tangan putranya yang tidak mau melepaskan gadis itu.


"Ariq, lepaskan dia," ujar mama Humairah lagi.


"Iya baiklah," sahut Ariq seraya melepaskan tangan Nayla dengan pasrah.


"Dia bisa juga posesif rupanya," ejek Ammar yang bicara pada Aziz yang masih tidak bisa menyembunyikan raut terkejutnya bersama Aqilla.


"Ck, ini memalukan. Kenapa kau bisa jatuh cinta pada anak kecil, Nayla ini mahasiswi ku ma, temannya Lia adik Aqilla," jelas Aziz tidak bisa menahan tawa, ia tidak menyangka Ariq bisa jatuh cinta dan tergila-gila pada gadis yang Aziz anggap adik itu seperti ia menganggap Lia karena mereka berteman akrab. Dimana ada Nayla disitu ada Lia jika di. kampus waktu itu.


"Jadi ini alasan mas Ariq sering datang ke rumah Laundry waktu itu?" tiba-tiba Aqilla ikut menimpali atas analisanya dalam diam ternyata bu dosen itu sedang menganalisa beberapa kejadian di rumah laundry beberapa bulan lalu.


Nayla memerah wajahnya karena malu oleh godaan-godaan Aqilla dan suaminya.


"Sudah, berhenti menggodanya, kasihan Nayla, dia malu sekarang," ujar papa Alif yang ikut berdiri menghampiri istrinya yang merangkul pundak Nayla.


Nayla bahkan tidak tahu harus bersikap seperti apa sekarang. Satu hal yang pasti, pikiran Nayla yang semula takut pada keluarga itu kini terpatahkan oleh sikap semua anggota keluarga yang hadir di sana hingga suasana menjadi hangat dan riuh saat menyambut kedatangannya.

__ADS_1


Tidak ada bibi Arina atau Annisa di sana. Nayla lega setidaknya tidak ada yang menatapnya tajam malam ini.


"Ayo Nayla, duduklah. Maafkan putra-putraku yang nakal ini. Mereka senang kau datang kemari, hingga rasa penasaran mereka terpecahkan sekarang tentang siapa yang membuat si sulung kami ini menggila."


Papa Alif berkata dengan nada santai, ia tahu raut tegang Nayla saat masuk tadi. Ketiga putranya memanglah nakal, suka bicara seenaknya.


"Terimakasih paman, bibi."


Nayla mengikuti mama Humairah yang mengajaknya duduk di sofa tamu, Nayla berbasa basi bertanya soal Oma Rika, namun mama Humairah mengatakan Oma sedang tidur di ranjang pasien yang tertutup gorden pembatas antara pasien dan keluarga.


"Nayla, terlepas apapun yang membuatmu bisa menerima pria ini, aku salut padamu. Kaulah satu-satunya gadis yang diajak menghadap keluarga kami, tapi kami heran apa yang membuatmu mau dengan mas Ariq, dia pria kaku, tidak romantis, tidak punya mantan." Kata Aziz dengan nada bercanda.


"Punya satu mantan, cuma Andira," cetus Ammar terkekeh geli, ia datang seorang diri tanpa istrinya.


Mereka tertawa lagi, membuat Ariq melemparkan sebuah bantal sofa pada Aziz.


"Sialan, kalian membuatku malu bertubi-tubi, kalian menjatuhkan harga diriku," rutuk Ariq menahan malu.


Nayla melihat mereka dengan perasaan yang menghangat, adik beradik yang akur dalam pandangannya, hingga ia ikut tersenyum saat mereka bercanda. Ia tahu Aziz dan Aqilla adalah orang yang sangat baik, tapi setelah bertemu pula dengan Ammar yang ternyata juga adik Ariq itu, barulah Nayla mengerti mereka saudara yang akur satu sama lain.


"Nay, jangan sungkan, kau akan baik-baik saja. Kami tidak akan memakanmu, santai sayang," bisik Aqilla yang telah duduk di samping Nayla.


Gadis itu hanya bisa tersenyum malu.


"Nayla, bicaralah, jangan membuat kami mengira kau takut berada disini," cetus mama Humairah lagi.


"Maafkan aku bi, aku sungguh malu rasanya. Aku tidak tahu akan diajak kemari, jadi aku benar-benar gugup saat ini."


Mama Humairah menoleh pada suaminya.


"Ariq benar-benar nakal, jadi dia tidak bilang akan membawamu kemari malam ini?"


Nayla menggeleng.


"Huh maafkan putra bibi Nay.... Percayalah dia juga gugup sekarang, lihatlah jika bertemu mereka bertiga pasti tidak bisa diam. Selalu menggoda satu sama lain. Sekali lagi selamat datang Nayla, jangan sungkan dan maaf juga mengajakmu bertemu di rumah sakit seperti ini. Karena Oma yang memintanya, dia tidak sabar bertemu dengan Humairah kw ini jika harus menunggu beliau pulang."


Nayla mendengar Humairah kw membuatnya tersenyum lebar, ia ingat betul saat Oma menganggapnya Humairah masih muda.


"Aku senang bisa menjenguk Oma, maaf baru bisa datang sekarang bi."


"Ariq."


"Iya, ma!"


"Kau ingin mengatakan sesuatu?" tanya Humairah pada putranya.


"Baiklah, aku datang kemari membawa Nayla bertemu papa dan mama selain untuk menjenguk Oma, juga untuk...."


"Untuk apa?" desak papa Alif tersenyum penuh arti.


"Untuk mengenalkan Nayla sebagai wanita pilihan ku, maksudku sebagai...."


"Sebagai apa? Bicara yang jelas, ini menyangkut masa depan mantan mahasiswa ku, Nayla ini masih dibawah umur aku mengenalnya dengan baik," cetus Aziz terkekeh, ia menggoda Ariq lagi.


"Bisa diam tidak." Ariq menendang kaki Aziz hingga mengaduh.


"Sayang berhenti menggodanya, biar mas Ariq bicara dulu," cegah Aqilla menatap suaminya dengan kesal.


"Apa dia memang di bawah umur?" tanya Ammar lagi, membuat mamanya menatapnya tajam.


"Oke baiklah, aku hanya bercanda, tapi memang mirip anak remaja menurutku," ucap Ammar tertawa lagi.


Nayla tidak bisa menyembunyikan wajahnya yang kian memerah. Suasana menjadi sangat ramai dan riuh hanya karena tiga beradik itu yang bercanda tidak ada habis-habisnya.


"Aku ingin melamar Nayla di depan mama dan papa dan kedua adik tidak tahu diri ini, aku serius pada gadis ini, aku tidak akan bicara panjang lebar bagaimana bisa aku mengenalnya, bagaimana proses itu ada, yang pasti apapun gadis ini, baik itu masa lalunya, bahkan semua kehidupannya, aku jatuh cinta padanya, ini bukan obsesi seperti yang papa bayangkan, aku yakin dengan pilihan ku, apapun nanti aku tidak akan menyesalinya."


"Lalu?" tanya papa Alif.


"Aku ingin papa dan mama melamar Nayla untukku pada ayahnya, dalam waktu dekat. Sekian dan terimakasih."


"Kau pikir ini pidato?" cetus Aziz yang terkekeh lagi disusul tawa Ammar.


"Aku serius bodoh," Ariq menendang kaki Ammar lagi.


"Baiklah Nayla, kau sudah dengar niat baik putraku bukan, nanti jika pulang dari sini bicaralah pada ayahmu untuk mengatur waktu yang tepat untuk kami datang meminang mu," seru papa Alif tersenyum pada Nayla yang ingin sekali tenggelam dalam rasa malu.


Mama Humairah merangkul Nayla dengan sayang, ia mengusap lengan gadi itu bersamaan dengan Aqilla yang turut bahagia, ia mengenal baik pribadi Nayla yang memang sudah berteman akrab dengan adiknya Lia, sunggu Aqilla suka jika gadis ini berjodoh dengan kakak iparnya dibanding Rahayu yang menurutnya punya pribadi ambisius karena kepintarannya.


"Aku bahagia mendengarnya Nayla, aku rasa Lia akan melompat-lompat jika tahu hal ini, kau pandai berahasia sekarang, hingga adikku tidak tahu kau menjalin hubungan dengan mas Ariq selama ini."


"Maafkan aku kak Aqilla, aku cukup tahu diri untuk tidak mengaku-ngaku. Aku benar-benar malu sekarang."

__ADS_1


__ADS_2