
Ternyata kata-kata Nayla didengar oleh seseorang yang hendak mengetuk pintu kamar namun tidak jadi saat mendengar suara Nayla yang mulai menangis sambil bicara tentang fakta tiga belas malam pernikahan mereka.
Seseorang tersebut malah tersenyum, ia tidak jadi mengetuk pintu karena tentu akan mengganggu, ia semula berpikir Ariq belum kembali hingga ingin bicara pada Nayla sebelum tidur.
Pagi menjelang, setelah sarapan Ariq kembali ke kamar untuk bersiap ke kantor.
"Aku janji akan pulang cepat, aku akan menjemput mu di restoran nanti. Kita akan pulang bersama," ucap Ariq pada istrinya yang sedang memasang dasinya dengan raut dingin.
Nayla menahan airmata, ia sungguh kecewa suaminya tidak membalas bahkan tidak menyinggung soal kata-katanya semalam. Pria itu bangun tidur seperti biasa, sekarang hendak ke kantor pun dengan wajah biasa tanpa rasa bersalah sedikitpun.
Nayla diam, ia malas ingin menjawab. Semua kata-kata yang muncul dari bibirnya seakan tidak berarti lagi sekarang.
"Sayang?"
"Hmmmmm."
"Aku akan pulang cepat, soal semalam kita akan bicarakan nanti. Percayalah tidak seperti yang kau pikirkan."
Nayla diam lagi.
"Nayla!" seru Ariq lagi.
"Sudah selesai, berhati-hatilah mengemudi."
Nayla menepuk dasi yang sudah terpasang itu beberapa kali, lalu ia beranjak ke kamar mandi.
Ariq melihat itu hanya bisa bergumam, "Ya Allah, aku sudah tidak tahan."
Pria itu memilih pergi setelah ia melihat jam di pergelangan tangannya.
Nayla keluar kamar mandi dengan wajah kembali kecewa, ia merasa Ariq memanglah berubah.
Ia tidak ingin berlama, iapun bersiap pergi ke restoran, hanya ke restoran yang bisa mengobati kesepiannya, melayani pelanggan yang selalu ramai, menjemput anak-anak sekolah dan bermain dengan Zaza. Hanya keluarganya lah yang mampu mengobati apa yang terasa sakit di hati Nayla saat ini.
Hingga hari-harinya menjadi lebih baik dari pada terus memikirkan Ariq jika di rumah saja.
Menjelang siang, Nayla yang baru saja dari mengantar pesanan di salah satu meja menemui ayahnya di dapur.
"Sayangnya bunda lagi main apa?" tanya Nayla yang melihat Zaza dan Denia sedang bermain dengan pengasuh baru anak itu, seorang perempuan yang cukup umur yang dipekerjakan oleh ibu Rena dipercaya mengasuh Zaza dan satu pengasuh lagi untuk mengurus semua keperluan empat anak itu.
Nayla senang pengasuh itu tampak ramah dan penyayang, ia meladeni dan menjaga Zaza dengan baik. Ibunya tidak salah memilih pengasuh pikir Nayla. Dua beradik itu sedang bermain lompat tali.
"Sayang, bukankah kau ingin berziarah siang ini?" tegur ibu Rena pada Nayla yang ikut bermain dengan Zaza dan Denia.
"Iya, bu..... Aku akan pergi sebentar lagi."
"Sudah pamit pada ayahmu?"
"Belum."
Mereka bicara banyak hal termasuk anak-anak selama Nayla tidak melihat perkembangan mereka secara langsung.
Juga membicarakan tentang Rahayu, yang kini tengah dekat dengan seorang pria.
"Benarkah?" Nayla tersenyum bahagia mendengar perkataan ibu Rena.
"Iya, tapi sayang dia masih malu untuk mengenalkan pria itu pada kita."
"Aku mengerti, mungkin lambat atau cepat kita akan tahu juga jika Rahayu sudah lebih siap, mungkin benar dia masih malu," balas Nayla.
Melihat jam di pergelangan tangannya.
"Bu, sepertinya aku akan pergi sekarang. Pulang dari pemakaman aku akan menjemput Arinda dan Zandi."
Ibu Rena mengangguk, "Pamit pada ayah mu dulu. Oke!"
"Ini kunci mobil ibu."
"Tidak, hari ini aku ingin naik bis saja. Sudah lama tidak naik bis. Nanti biar aku jalan kaki ke halte tidak jauh dari sini."
"Nay.... Haltenya cukup jauh, kau bisa kelelahan nanti."
"Tidak masalah bu, aku sudah biasa. Lagi pula ini masih jam 10 belum terlalu panas untuk berjalan kaki di bawah matahari, aku rindu naik bis. Ya sedikit bernostalgia mengingat pernah menjadi mahasiswa dulu."
Nayla terkekeh mengingat kenangan itu.
"Baiklah, kau harus berhati-hati oke!"
__ADS_1
Nayla tersenyum lalu bilang iya setelah itu segera ke belakang untuk pamit pada ayahnya.
Setelah pamit, Nayla mulai berjalan kaki meninggalkan restoran yang sudah berkembang cukup baik itu, bangunan yang diperbesar untuk menambah kapasitas meja kursi untuk pelanggan, kebetulan di daerah itu belum ada restoran hingga para mahasiswa dan pekerja kantor-kantor yang ada di sekeliling itu banyak yang sudah berlangganan di sana.
Ayah Faisal dan ibu Rena benar-benar fokus menggeluti bidang ini diusia mereka yang tidak muda lagi itu, mereka ingin menghabiskan waktu tanpa berpikir keras saat bekerja di kantor seperti dulu. Sudah lima karyawan yang bekerja di sana membantu memasak ataupun menjadi pelayan.
Nayla bersyukur, dengan restoran itu ayahnya jadi punya penghasilan untuk menafkahi ibu Rena meski tidak akan mencukupi kebutuhan kemewahan yang sudah biasa ibu Rena nikmati selama ini. Setidaknya dengan itu akan lebih baik daripada ayahnya jadi pengangguran.
Berjalan kaki dibawah mentari yang mulai merangkak naik, menyusuri trotoar di bawah pohon-pohon pelindung hingga tidak akan kepanasan, halte yang tidak jauh dari kampusnya dulu sudah tampak di depan mata.
Nayla jadi rindu Lia jika melihat mahasiswa-mahasiswa yang menunggu bis di halte. Sahabatnya itu mulai sibuk magang, mereka sudah jarang bertemu karena Lia sibuk magang dan Nayla sibuk membantu ayahnya di restoran.
Dua jam sebelumnya.
Di kantor Ariq tampak kelimpungan saat sang Oma baru saja menelepon. Ia berlari keluar ruangan sambil menenteng jasnya seperti orang sedang cemas.
Ariq bahkan tidak menghiraukan beberapa sapaan dari bawahannya. Ia terus berlari menuju lift.
"Ariq, kau kenapa?" tanya kakek Imran saat bertepatan dengan cucunya itu di depan lift.
"Aku harus pulang sekarang kek, terjadi sesuatu pada istriku!"
Ariq bernapas cukup sulit sekarang, lift cukup lama terbuka. Hingga ia terlihat bertambah gusar.
"Terjadi sesuatu bagaimana?"
"Ahhhh kenapa lama sekali," rutuk Ariq pada lift yang masih belum terbuka karena di jam seperti ini banyak pekerja yang menggunakan tangga canggih itu.
"Ariq, ada apa?" ulang kakek dari ibunya lagi.
"Istriku pergi dari rumah, aku harus pulang sekarang!"
Ariq hanya menoleh sekilas lalu menekan lagi tombol lift.
Setelah terbuka, ia pamit dengan tergesa-gesa pada kakek Imran lalu menutup lift. Ayah dari mama Humairah itu menjadi bingung, ada apa sebenarnya dengan Nayla hingga Ariq seperti kebakaran jenggot sekarang.
Ariq mengemudi kencang menuju rumah Oma ia sudah menghubungi Nayla namun Oma yang menerima hingga dipastikan ponsel istrinya itu tertinggal di rumah.
Sampai di sana ia berlari lagi ke kamarnya. Kebetulan ada Oma dan Dewi di sana.
"Oma jangan membuatku cemas!"
"Kau lihat ini, ini sepertinya surat dari istrimu."
Ariq menerima sebuah kertas kecil, bertulis tangan berisi tentang Nayla yang pamit pergi dalam kekecewaan, disana juga tertulis tentang ponsel yang sengaja ditinggalkan karena tidak ingin membawa apa-apa dari kehidupan pria itu karena terlalu kecewa.
Ariq mengusap wajahnya kasar, ia bertolak pinggang sambil menengadah ke atas.
"Kenapa jadi seserius ini?" gumam Ariq lesu.
"Nayla juga membawa semua barang dan pakaiannya!"
"Apa?" Ariq segera menuju ruang wardrobe membuka lemari yang menjadi tempat khusus penyimpanan barang dan pakaian Nayla, benar saja semuanya kosong.
Ariq kembali ke Oma dan Dewi.
"Apa yang terjadi diantara kalian? Oma benar-benar sedih, kau pasti menyakiti Nayla hingga dia memilih pergi sekarang? Memangnya apa yang terjadi Ariq?" desak Oma yang kembali menangis.
"Aku, aku.... Aku tidak menyakitinya Oma, ini hanya salah paham," jawab Ariq teringat perkataan Nayla semalam. Ia benar-benar bingung sekaligus kalut saat ini. Ia memegang ponsel Nayla dengan raut wajah bersalah. Ia tidak mengira ucapan istrinya semalam bisa berakibat seperti sekarang.
"Apa yang akan kau lakukan sekarang?" tanya Oma disela tangisnya.
Ariq bergegas lagi tanpa banyak bicara.
"Ariq kau mau kemana?"
"Kemana saja yang penting bertemu istriku."
Ariq berjalan mundur seraya berkata pada Oma Rika yang terus bertanya.
"Memangnya kau tahu dia kemana?"
"Aku rasa ke restoran lebih baik sekarang, mungkin ayah Faisal tahu soal ini."
Oma Rika mengangguk.
"Iya sebaiknya kau bertemu mertuamu, mudah-mudahan kau tidak ditolak karena sudah menyakiti putrinya."
__ADS_1
"Oma jangan membuatku takut."
"Sudah pergi sana, kau membuatku kesal," balas Oma sambil mengelap airmatanya.
Ariq pergi berlari keluar kamar berniat langsung ingin menyusul Nayla jika saja istrinya pulang ke ayah Faisal, ia terus memegang ponsel Nayla dengan perasaan tidak menentu.
Oma menatap Dewi sambil tersenyum puas.
"Oma, aku rasa ini terlalu berlebihan," lirih Dewi menggigit bibir bawahnya.
"Salah siapa dia mengerjai Nayla hingga sejauh ini?"
Dewi terdiam.
"Iya, mas Ariq keterlaluan mengabaikan Nayla hanya karena kejutan ulang tahun nanti malam. Kasihan, Nayla tidak baik-baik saja. Aku tahu sekali itu."
"Kau tahu itu? Nayla cerita padamu?"
Dewi mengangguk, "Tidak terlalu detail Oma, hanya cerita sebuah kekecewaan saja, Nayla mengira mas Ariq tidak benar-benar menerimanya setelah menikah."
Oma manggut-manggut saja.
"Iya, bukan masalah kejutan ulang tahun yang membuat Oma kesal, tapi mereka menunda malam pertama karena hal ini, apa itu... Oma heran kenapa Ariq bisa tahan selama dua minggu, apa dia normal atau tidak?"
Dewi ingin tertawa.
"Oma darimana tahu mereka belum melewati malam pertama?"
"Oma tidak sengaja mendengar perkataan Nayla semalam, oh Oma malu sekali mendengarnya. Kau harus tutup mulut, jangan sampai ada yang tahu mereka belum melewati malam pertama! Ahhhh ini memalukan."
Oma mengurut dada.
"Tenangkan diri Oma, ini hanya masalah anak muda."
"Memang kau pikir Oma tidak pernah muda?"
Dewi hanya bisa menyengir saja.
"Sudahlah, biar pria itu tahu rasa mencari Nayla dalam hati yang gusar. Oma doakan Nayla sedang tidak di restoran sekarang, biar dia kesusahan."
Dewi membayangkan bagaimana keadaan restoran jika Ariq datang ke sana sambil berlari mencari Nayla pasti akan membuat heboh. Istri bang Jhon ini menjadi tertawa sendiri dibuat kelakuan majikan mereka itu.
"Oma tahu semua kejutan ini?" tanya Dewi yang terus penasaran tentang kejutan ulang tahun Nayla yang disiapkan Ariq.
"Tentu saja, semua tahu tentang itu."
"Benarkah?" Dewi terheran. Itu artinya semua anggota keluarga mengerjai Nayla.
"Apa karena itu mas Ariq pulang malam terus?"
Oma mengangguk, "Kau tidak diberitahu Jhon?"
Dewi menggeleng.
"Huh, semua urusan pengerjaan rumah baru mereka ada di tangan suamimu. Kita akan merayakan di sana nanti malam.... Hmmmm Oma rasa Ariq ingin melewati malam pertama di rumah baru, apa seperti itu alasannya? Ah Oma benar-benar malu membayangkannya, kenapa cucu Oma jadi seromantis itu?"
Oma bersemu merah sekarang, ia tersenyum geli saat terbayang cucunya itu. Dewi terkejut mendengar suaminya ikut terlibat.
"Apa bang Jhon yang Oma maksud?"
"Iya, memangnya siapa lagi?"
"Huh, dia benar-benar pandai menipuku sekarang, apa ini alasan dia terus pergi bersama seseorang setiap hari dan pulang malam, apa mas Ariq seseorang yang dimaksud?" Dewi tampak berpikir, ia mulai kesal pada suaminya sekarang.
"Sepertinya Jhon benar-benar menutup rapat mulutnya bahkan padamu juga."
Dewi terdiam, ia tidak tahan ingin bicara pada suaminya tentang hal ini.
"Dewi."
"Iya Oma."
"Keluarkan lagi pakaian Nayla, taruh di tempat semula! Setelah itu kau susul ke kamarku, bawa teh hangat agar kepalaku tidak terus pusing."
"Baik Oma."
Oma berjalan keluar kamar meninggalkan Dewi seraya bergumam, "Rumah baru, malam pertama di hari ulang tahun istrinya. Tidakkah itu terlalu romantis jika dibayangkan."
__ADS_1
Namun langkah pelan Oma Rika kembali berhenti lalu menatap Dewi lagi.
"Ya ampun Dewi, apa kita akan menggagalkan rencana Ariq itu? Pasti jika bertemu Ariq akan mengakui semuanya karena terlalu cemas kehilangan Nayla, oh kenapa Oma tidak memikirkan hal itu?" Oma menepuk keningnya.