Purnama Merindu

Purnama Merindu
Hening


__ADS_3

"Mas Ariq."


"Hmmmm?" sahut Ariq sambil mendongak menghadap wajah istrinya. Tangannya tidak beralih dari perut Nayla yang belum tampak membesar.


"Apa kau sering bertemu nona Andira?"


"Tidak, sudah lama sekali kami tidak bertemu."


Nayla terdiam, ia mengingat soal panggilan semalam. Benarkah suaminya sudah lama tidak bertemu mantan kekasihnya itu? Melihat dari gelagat Ariq tidak ada yang membuatnya curiga.


"Kau kenapa tiba-tiba bertanya soal Dira? Apa dia menelepon lagi dan kau yang menerima?"


Nayla mengangguk.


"Apa yang kalian bicarakan?"


Nayla menggeleng saja.


"Huh, baiklah jika kau tidak ingin bercerita. Aku harap kalian tidak menjelekkan ku di belakang," kekeh Ariq tanpa curiga.


"Kau tidak tahu soal kehidupan rumah tangganya?" tanya Nayla hati-hati.


"Itu bukan urusanku sayang..... Kami sudah kehidupan pernikahan masing-masing," jawab Ariq menggigit dagu istrinya yang sedang berpikir keras.


"Percaya padaku," cetus Ariq lagi saat menyadari Nayla terdiam dan menatap ke arah lain.


Perempuan itu akhirnya tersenyum, "Aku ingin pulang."


"Yakin ingin pulang?"


Nayla mengangguk.


"Baiklah, ayo ku antar!"


"Tidak perlu, aku bisa pulang dengan mas Anto, dia ada di bawah, lagi pula aku akan mampir ke restoran ayah sebelum pulang."


"Tidak, biar ku antar!" sanggah Ariq seraya menuntun istrinya berdiri.


"Mas Ariq, kau banyak pekerjaan. Biar aku pulang dengan mas Anto saja," cegah Nayla tidak ingin merepotkan suaminya.


Enggan berdebat, Ariq mengalah lagi pula memang pekerjaannya agak menumpuk siang ini.


Setelah ciuman perpisahan, Ariq kembali fokus dengan urusan pekerjaannya dan membiarkan sang istri pulang dengan sopir keluarganya yang telah menunggu.


Ponselnya berdering, Ariq menoleh pada layar ponsel di atas meja.


"Dira?" gumam Ariq sambil mengusap layar menerima panggilan tanpa berpikir panjang.


Lama ia mematung, mendengar suara tangis di seberang sana.


Di lain sisi, Nayla yang hendak masuk mobil memeriksa tasnya, ia mencari benda canggih miliknya yang tidak ada di sana.


"Maaf mas Anto, bisa kau menunggu sebentar? Sepertinya ponselku tertinggal di ruangan mas Ariq."


"Tentu nona, aku akan menunggu," sahut sang sopir yang setia menunggu sejak tadi.


Nayla kembali masuk ke dalam gedung, namun saat menuju ke lift, tampak suaminya keluar dari sana berjalan terkesan terburu-buru hingga setengah berlari menuju keluar gedung kantor tanpa menyadari Nayla tidak jauh darinya.


"Mas Ariq?" gumam Nayla terheran.


Ia mengejar dan memanggil namun Ariq tidak mendengar, pria itu tergesa-gesa sekali, Nayla mengikutinya hingga ke parkiran berniat menyusul dan memanggil namun Ariq lebih dulu masuk mobil dan perlahan menjalankan mobil.


"Kemana dia? Kenapa terburu-buru sekali? Apa terjadi sesuatu?"


Nayla tahu suaminya tidak baik-baik saja jika dilihat dari air mukanya yang tampak merah padam.

__ADS_1


Nayla tidak ingin terus penasaran, ia langsung pula menuju mobil yang terdapat mas Anto di dalamnya.


"Mas Anto, bisakah kau pulang dengan taksi?" ucap Nayla setelah berada di dekat mobilnya.


"Maksud nona?"


"Iya, kau bisa pulang dengan taksi. Aku akan mengejar suamiku sebelum dia jauh, aku akan menyetir sendiri. Ini ongkosmu, aku mohon jangan bertanya lagi. Aku harus pergi sekarang!"


Nayla memberi perintah dengan napas yang tersengal, ia yakin sekali terjadi sesuatu pada suaminya. Jika hal biasa tidak mungkin Ariq seperti tadi bahkan tidak mendengar panggilan dari Nayla yang berlari mengejarnya.


Anto bingung, namun tidak berani membantah maka ia segera keluar dari mobil.


Nayla masuk dan mulai menjalankan mobil meninggalkan area parkir, ia tidak tahu kemana arah Ariq pergi namun beruntung saat keluar kebetulan banyak mobil yang antri melewati pintu parkir, mobil Ariq ikut mengantri hingga Nayla bisa melihat dari arah beberapa mobil di belakang Ariq saat ini.


"Huh, mau kemana kau mas Ariq? Kenapa terburu-buru sekali, apa yang terjadi sebenarnya? Bukankah dia memberitahu akan ada pertemuan di kantor ini satu jam lagi? Lalu hendak kemana dia sekarang? Kenapa aku jadi curiga seperti ini. Ya Allah."


Nayla terus menggumam, ia bingung melihat sikap suaminya seperti telah terjadi sesuatu. Ia terus mengemudi membuntuti mobil Ariq yang perlahan menjauh namun masih bisa Nayla lihat.


Semula Nayla berpikir telah terjadi sesuatu di rumah, mana tahu terjadi sesuatu pada Oma Rika hingga Ariq menjadi cemas namun mobil suaminya bukan pergi arah pulang, melainkan arah lain.


Nayla heran saat mobilnya mengikuti Ariq yang telah masuk sebuah gedung apartemen.


"Apartemen? Mas Ariq kemari? Untuk apa?" Nayla terus bertanya-tanya dalam hati. Ia memarkirkan mobilnya, lalu keluar berjalan perlahan, ia tidak lagi mengejar ingin memanggil Ariq melainkan akan melihat apa yang Ariq akan lakukan sekarang, Nayla ingin tahu hal ini jadi ia mengikuti langkah suaminya diam-diam.


Sampai pada sebuah unit apartemen di lantai dua. Kecurigaan Nayla semakin menjadi, ia mulai berpikir bahwa suaminya hendak menemui seseorang.


Ariq menekan bell, namun karena tidak sabar ia sampai menggedor pintu apartemen seperti orang marah, apartemen yang Nayla tidak tahu siapa pemiliknya.


Sampai pada pintu terbuka, Ariq masuk. Nayla yang kian penasaran berniat ingin masuk namun urung saat mendengar langsung suara gaduh dari dalam, akhirnya ia memutuskan untuk mengintip saja dari balik pintu yang tidak tertutup sempurna.


Namun beberapa saat kemudian, Nayla segera beralih bersembunyi di balik sebuah tembok pembatas, ia melihat suaminya keluar dari sana sambil menggandeng tangan seorang wanita.


Nayla terdiam, ia mematung di tempat. Matanya belum rabun, ia masih mengenali wanita itu. Andira. Iya Nayla tahu betul itu adalah perempuan mantan kekasih Ariq.


Lalu disusul pula seorang lelaki lain yang menakutkan.


"Apa kau merasa seperti seorang penyelamat?" kata lelaki itu pada Ariq.


"Cih, aku tidak suka ada lelaki pengecut yang menyakiti fisik wanita terlebih adalah istrimu sendiri."


"Apa pedulimu? Dia istriku, mau ku pukul, mau ku bunuh itu bukan urusanmu! Atau kau ingin mengatakan bahwa kalian masih ada hubungan? Berselingkuh di belakangku begitu?"


Lelaki itu tampak marah pada Dira yang ketakutan, ia hanya bisa bersembunyi dibalik punggung Ariq.


"Kau gila, aku hanya ingin bercerai, kau bisa bebas bermain perempuan."


"Jangan harap kau bisa bebas Dira sayang, apa kau masih berharap kembali pada pria ini?"


"Cukup!" sergah Ariq langsung mencengkram leher lelaki itu hingga terdesak ke dinding. Suara mereka cukup jelas terdengar di telinga Nayla karena gema di koridor apartemen. Sepi tidak ada orang selain mereka di sana.


"Jangan sesekali kau menyakiti Dira lagi, aku bisa membunuh mu jika aku mau!"


Lelaki itu hanya terkekeh, ia tidak melawan sama sekali.


Nayla menutup mulutnya dengan tangan, demi apa Ariq membela Dira sedemikian dalamnya hingga rela menyusul kemari dan turut campur urusan rumah tangga wanita itu.


Nayla menelan ludah, ia mulai berkaca-kaca.


Ariq melepaskan lelaki itu setelah memberi ultimatum agar tidak berbuat kasar lagi pada Dira, jika tidak ingin berurusan dengannya. Setelah mengatakan itu Ariq menarik lagi tangan Dira dan berlalu dari sana meninggalkan pria yang menatap mereka dengan amarah yang tertahan.


Nayla juga pergi dari sana dengan langkah lesu, ia tidak tahu harus mengekspresikan perasaannya seperti apa setelah baru saja ia saksikan beberapa adegan yang membuat hatinya tidak baik-baik saja sekarang.


Sampai ke parkiran, ia melihat mobil Ariq pergi lebih dulu, ia tidak ingin menduga setengah-setengah hingga ia pun memutuskan kembali mengikuti mobil suaminya yang membawa Dira entah kemana.


Selama perjalanan, Nayla tidak berhenti menangis. Ia tidak bisa membayangkan bahwa sang suami saat ini sedang berada di mobil berdua dengan mantan kekasihnya.

__ADS_1


Suasana hati Nayla benar-benar buruk dan tidak menentu saat ini, kenapa rasanya sakit sekali saat mengingat betapa Ariq peduli pada Dira saat di apartemen tadi, menggenggam tangan wanita lain di depan matanya.


Ia mengernyitkan dahi saat sadar bahwa ia telah mengikuti mobil suaminya hingga ke kantor seorang pengacara. Ia tahu ini kantor saudara tirinya, Dirga.


"Untuk apa mas Ariq kemari?" gumam Nayla lagi, ia segera membuka sabuk pengaman lalu keluar mobil tidak ingin kehilangan jejak Ariq dan Dira.


Sampai pada suatu ruangan, sepertinya ruangan tunggu.


Nayla masih bersembunyi dibalik tembok, tidak jauh dari mereka saat ini.


"Maaf aku hanya mengantar mu sampai disini saja," cetus Ariq saat Dira telah duduk di sofa tunggu.


Wanita itu mengangguk.


"Terimakasih, aku tidak tahu jika bukan kau yang membawaku lari dari sana. Aku dikurung selama berbulan-bulan, dia pria pencemburu sekali. Tapi dia suka bermain perempuan di luar sana, dia posesif padaku hingga melarang siapapun berhubungan denganku bahkan keluarga ku sendiri."


Dira menangis.


"Tenanglah, kau sudah di tempat aman sekarang, kau hanya perlu mengumpulkan keberanian untuk mengungkapkan semuanya pada pengacara hebat ini nanti, aku yakin dia bisa membantu mu lepas dari psikopat gila itu."


"Aku sudah menghubunginya, dia sedang menuju kemari, dia saudara iparku."


Dira mengangguk lagi.


"Terimakasih banyak Ariq, maaf merepotkan mu, aku hanya hafal nomor mu saja hingga hanya bisa meminta tolong padamu."


"Jangan sungkan, kau sudah ku anggap seperti teman."


"Sampaikan maafku pada istrimu jika panggilan ku tengah malam mengganggu kalian, aku benar-benar frustasi. Aku benar-benar lega telah keluar dari sana."


"Bernapaslah dengan tenang, semua masalah mu bisa diselesaikan dengan hukum. Kita tinggal di negara hukum, tenang saja, kau akan dilindungi."


"Aku akan menghubungi orangtua mu bahwa kau di sini. Maaf aku tidak bisa berlama-lama."


"Apa kau akan beritahu istrimu? Bagaimana jika dia mengira yang tidak-tidak?" kata Dira lagi.


"Aku akan memberinya pengertian, juga aku akan membawanya bertemu denganmu, sepertinya dia cukup salah paham tentang panggilan mu di tengah malam. Dia sedang hamil muda, tentu perasaannya sangat sensitif. Jadi aku kira bertemu langsung dengan mu itu lebih baik biar dia tanyakan padamu apa yang mengganjal di hatinya."


"Aku mengerti, aku juga ingin sekali bertemu dengannya. Aku bahagia kau menemukan kebahagiaan mu Ariq, setelah semua ini hanya kata terima kasih bisa ku ucapkan. Jangan berteman dengan mantan, aku akan menjadi janda. Aku mengerti perasaan istrimu. Jika semua lancar nanti, aku berniat pindah dari kota ini, aku tidak akan menggangu kau dan Nayla lagi."


"Bagus jika begitu," sahut Ariq terkekeh.


Lalu Dirga muncul dari arah berbeda, mereka bertegur sapa lalu berkenalan dengan Dira. Kemudian dilanjutkan percakapan di ruangan kerja saudara tiri Nayla itu. Ariq pamit pergi setelah Dira dan Dirga masuk ruangan.


Nayla terenyuh, apa ia telah salah sangka beberapa saat lalu? Ariq tidak berbuat hal yang berlebihan, pria itu hanya menolong orang yang kesulitan, kebetulan saja orang itu adalah mantan kekasihnya.


Ah, Nayla menjadi mual dan pusing sekarang. Melihat Ariq telah menghilang, ia pun segera menyusul berniat menghampiri namun kalah langkah, suaminya telah menjauh dengan mobilnya.


Nayla tersenyum meski kesal, hatinya lega ternyata kecurigaan dan kekecewaannya tadi hanyalah sebuah perasaan takut kehilangan saja, seharusnya ia percaya pada Ariq apapun itu. Sekarang ia menjadi lelah sendiri setelah menyadari ia telah mengikuti Ariq cukup lama.


Saat ia hendak membuka pintu mobil berniat pulang, tanpa ia sadari seorang pria tersenyum iblis di belakangnya.


"Kau mengambil istriku, tidak ada salahnya aku juga mengambil istrimu Ariq Gunawan Pratama."


Nayla berbalik badan saat menyadari ada yang mengikutinya di belakang.


"Kau?" Nayla terkejut.


Selebihnya hanya suara dari mulut yang dibekap seolah meminta tolong. Beberapa detik kemudian hening, Nayla jatuh tidak sadarkan diri dalam pelukan lelaki itu.


Entah ia dibawa kemana setelahnya. Tidak ada yang tahu.


...END...


...****************...

__ADS_1


__ADS_2