
"Aku tidak tahu apa yang menyebabkan paman dan bibiku menyukaimu, menerima kau sebagai menantu tanpa berpikir panjang, tapi ketahuilah Nayla ...... Biarpun begitu aku ucapkan selamat datang di keluargaku, aku hanya berharap satu hal bahwa mas Ariq memang tidak salah memilih calon pendamping hidup."
Annisa bicara dengan nada dingin menatap Nayla yang duduk di hadapannya.
"Terimakasih nona, kau juga harus tahu bahwa aku tidak memiliki maksud apa-apa pada keluarga ini, semua murni oleh perasaan bukan sebuah obsesi pada suatu hal tertentu apalagi berniat mengacaukan rumah tanggamu, aku dan Vano sudah lama berakhir. Alhamdulillah sekarang suamimu sudah lebih mengerti bahwa kau adalah wanita yang mendampinginya saat ini."
Menarik napas dalam lalu Nayla melanjutkan, "Jika kau bersabar sebentar lagi mungkin kalian akan menjadi pasangan yang berbahagia nona Annisa, percayalah aku mendoakan yang terbaik untuk kau dan Vano, aku sudah mengikhlaskan semua yang terjadi padaku dimasa lalu."
"Bicara memang mudah Nayla."
"Setidaknya jangan patah semangat akan hal yang menjanjikan di masa depan, Vano hanya butuh waktu dan kau lakukan saja yang terbaik, rumah tangga mu masih bisa diselamatkan. Aku yakin itu."
"Ck.... Entahlah."
"Tidak ada cinta sebesar dan sebaik cinta istri sendiri, Vano akan menyadarinya lambat laun."
Annisa menoleh Nayla.
"Percaya padaku, aku memang tidak pantas masuk ke keluarga ini, akupun malu, hanya saja inilah takdir ku, aku menerimanya karena aku percaya ini yang terbaik untuk semuanya."
"Aku mencintai kakakmu, jadi jangan ada pikiran bahwa aku akan melirik Vano lagi, kami sudah saling mengikhlaskan satu sama lain, berbahagialah...... Vano milikmu."
Annisa diam, pandangannya mulai buram oleh airmata yang menggenang.
"Aku pergi dulu," jawab perempuan itu meninggalkan Nayla yang kembali ke ranjang Oma Rika.
Perempuan yang sudah senja itu tertidur lelap setelah meminum obat dari tangan Nayla, sungguh Oma menyambut bahgia pernikahan cucu sulungnya dengan gadis penakluk penyakitnya yang sering kambuh saat itu. Pernikahan yang akan berlangsung esok hari. Terkesan terburu namun Ariq memang tidak ingin menunda lagi.
Nayla duduk di tepi ranjang Oma, ia raih dan genggaman tangan yang sudah tampak keriput itu.
"Terimakasih Oma," gumam gadis itu pada oma yang terlelap.
Nayla tersenyum, ia bahagia Oma dalam keadaan sehat, mereka baru saja bercengkrama saling berbagi cerita tentang masa lalu.
Nayla tidak tahu harus berkata apa, semua keluarga menyambut baik dirinya kecuali bibi Arina yang masih tampak dingin, berbeda dengan paman Hendra suaminya yang ramah dan tidak dingin sama sekali, jauh dari sikap istrinya yang arogan.
Entahlah, Nayla bahkan bingung mengartikan kebahagiaannya saat ini. Ada pula rasa bersalah pada Angga. Namun semua sudah lebih baik saat ia bertemu dengan orangtua pria itu guna meminta maaf dan meminta pengertian. Sungguh mereka memang orang baik, Abi dan Umi Angga sama sekali tidak marah apalagi dendam, mereka menyerahkan semua pilihan pada Nayla karena memang sejatinya Nayla lah segala tonggak keputusan ini.
__ADS_1
"Nay," panggil seseorang.
"Mas Ariq?"
"Oma sudah tidur?"
Nayla mengangguk, pria itu mendekatinya, ia raih tangan Nayla untuk berlalu dari sana.
"Mau kemana?"
"Bukankah kau mengajakku berziarah ke makam ibu dan Juna?"
Nayla tertegun sejenak.
"Iya, baiklah..... Biarkan Oma beristirahat."
Ariq mengangguk, mereka pergi dari kamar Oma Rika, namun satu hal Nayla merasa lain. Ariq tidak banyak bicara bahkan sejak kemarin.
Di dalam mobil.
"Mas Ariq."
"Apa kau memikirkan sesuatu?"
"Tidak."
"Tapi kau aneh, kau diam sejak kemarin."
"Aku sedang banyak pekerjaan saja di kantor."
"Begitukah."
Nayla kembali murung, Ariq tidak seperti biasanya.
"Jangan pikir yang macam-macam, aku hanya gugup menghadapi saat akad besok," ucap Ariq meraih tangan Nayla lalu menggenggamnya.
Nayla tersenyum, ia mengelus lembut Ariq dalam genggamannya.
__ADS_1
"Kau sudah hafal namaku?"
"Nayla Purnama binti Faisal Hakim."
Nayla terkekeh saat Ariq meliriknya dengan tatapan penuh arti.
"Semoga dilancarkan semuanya besok."
"Amin," jawab Ariq sambil mengecup punggung tangan calon istrinya.
Semua persiapan pernikahan hanya dilakukan secara instan dalam waktu satu minggu, karena uang semua bisa dilakukan dengan cepat.
Akad akan dilangsungkan beberapa menit lagi, Nayla duduk menghadap cermin didampingi Lia sahabatnya yang dibuat terkejut akhir-akhir ini.
Tidak ada Rahayu di sana, Nayla sedih jika saudarinya itu lebih memilih mengurus pekerjaannya yang tidak bisa ditinggal pagi ini, namun Rahayu berjanji akan datang malam nanti di acara resepsi.
Lia dan Aqilla, kakak beradik itu terus menggenggam tangannya selama prosesi akad nikah dimulai hingga semua terasa berubah saat saksi mengatakan sah diakhir ijab qabul.
Nayla berkeringat dingin tangannya, masih terasa seperti mimpi, namun begitu nyata, inikah yang ia inginkan? Menjadi sah sebagai seorang istri dari pria yang ia cintai, Ariq Gunawan Pratama.
Semua anggota keluarga dari pria itu hadir tanpa kecuali, namun Nayla sedih kakek dan nenek dari ayahnya tidak hadir meski telah diundang, apa sedalam itu mereka membenci ayahnya hingga Nayla juga ikut dibenci hingga memilih tidak hadir dihari bahagia cucu mereka, paman Doni dan bibi Maya serta Pingkan pun tak nampak batang hidungnya.
"Selamat Nayla sayang, ya ampun aku tidak percaya ini," seloroh Lia yang memeluk Nayla dengan gemas.
"Lia hentikan, nanti dandanan Nayla rusak kau buat begitu," cegah Aqilla pada adiknya yang tidak berhenti memeluk Nayla dengan gemas.
Nayla tersenyum sambil memperbaiki mahkota kecil di kepalanya yang bergeser karena ulah Lia.
"Nay.... Aku turut bahagia untukmu, oh apa aku harus memanggilmu kakak ipar mulai sekarang? Itu canggung sekali, kau jauh muda dariku tapi kenapa kau yang jadi kakak sekarang."
Nayla dan Lia tertawa melihat wajah kesal Aqilla.
Mereka tertawa tapi Nayla hanya tersenyum canggung saja, entahlah hatinya bukan lega melainkan bertambah gugup. Menjadi seorang istri bukanlah mudah, tanggung jawabnya cukup besar apalagi istri dari seorang lelaki tampan, sukses dalam pekerjaan, menjadi menantu orang kaya terpandang, bukankah semua itu tidaklah mudah pikir Nayla.
Ia takut tidak bisa menjadi istri idaman, bagaimana jika Ariq malu punya istri tidak berpendidikan tinggi seperti Nayla, hanya seorang yang membantu ayahnya di restoran. Belum lagi ia membawa empat keponakannya nanti apa itu tidak memberatkan? Kenapa semua itu baru terpikirkan sekarang.
Nayla gugup, gugup menghadapi apa yang akan terjadi di hadapan, awal baru kehidupannya lagi. Satu hal yang Nayla beratkan hatinya yaitu bagaimana jika Ariq tidak menerima masa lalunya setelah menikah. Bukankah itu akan berbeda, ia bukanlah seorang gadis perawan yang diimpikan setiap lelaki dimalam pertama pernikahan. Nayla takut sekali akan hal itu.
__ADS_1
"Nay.... Kau baik-baik saja?"
Aqilla menggenggam tangannya lagi saat melihat wajah Nayla yang berubah murung.