
Sampai pada hari ketiga setelah menikah, Aish yang bangun lebih dulu menyiapkan segala sesuatu di meja makan.
Ini hari ketiga ia menjadi seorang istri tentara gagah berwajah manis itu, karena akhir pekan bebas dari tugas dinasnya Romi masih belum beranjak dari ranjang hangat pengantin baru itu.
Aish membawakan sarapan neneknya, dilanjutkan dengan perawatan hingga mandi sang nenek ia jalankan, perempuan ini sungguh telaten merawat Nenek Dijah sepenuh hati sebelum suaminya bangun.
Romi menatap Aish yang tidak kehilangan senyum menyambutnya dengan hangat, perempuan itu mengulurkan tangan dan menuntun Romi hingga duduk di meja makan.
"Kenapa melihatku seperti itu?" tanya Aish dengan senyum malunya.
Romi membelai rambut istrinya lalu mengecup puncak kepala Aish dengan sayang.
"Ada apa?" tanya Aish lagi dengan heran.
"Aku ingin mengatakan sesuatu padamu, tapi sebelum itu ayo kita sarapan dulu!" ucap Romi tersenyum.
Aish menangkap raut berbeda dari suaminya pagi ini, karena tidak ingin menerka ia mengangguk saja menuruti perkataan Romi, hingga mereka sarapan dalam keheningan.
Aish merasa tidak nyaman dalam suasana dingin seperti ini, Romi bukan tipe lelaki pendiam dan dingin namun pagi ini seolah lelaki itu tidak menampilkan sosok hangat seperti biasanya.
Aish bahkan tidak menghabiskan sarapannya.
"Mas Romi?" tegur Aish menyentuh tangan suaminya.
Romi menoleh seolah tahu apa yang sedang Aish pikirkan.
"Aish, sebenarnya aku tidak berniat menyembunyikan ini darimu," kata Romi memulai pembicaraan, ia menggenggam tangan Aish dengan erat.
"Aku harap kita saling terbuka setelah menikah, apapun itu akan ku dengar Mas Romi, bicaralah!" balas Aishwa.
"Aku akan berangkat malam nanti," ucap Romi hati-hati, lalu ia tampak menarik napas panjang sebelum melanjutkan.
"Aku tahu," sahut Aish dengan wajah murung.
Romi terkejut.
"Kau tahu dari mana?"
__ADS_1
"Dari temanmu!" sahut Aish pelan.
Sambil bernapas kasar Romi membelai rambut Aish yang dicepol sembarang.
Lama Romi membujuk Aish, ia tidak ingin istrinya bersedih nanti, siapa yang akan menduga bahwa malam nanti ia diharuskan pergi oleh sebuah tugas negara.
Pria berwajah manis itu akan pergi meninggalkan istri dan ranjang pengantinnya, ia ditugaskan ke suatu daerah yang sedang terjadi konflik bersenjata.
Sejak obrolan di meja makan itu keduanya menjadi saling diam, Aish yang harus rela dimadu negara, Romi harus pula meninggalkan kebahagiaan yang baru saja tercipta.
Aish menyiapkan segala keperluan suaminya, meski berat dan tidak rela namun lagi-lagi keadaan tidak berpihak padanya, Romi tetap harus pergi demi karir dan cita-cita pria itu.
Aish menghampiri Romi yang menunggunya membereskan pakaian.
"Kau bahkan belum mendapatkan hakmu Mas Romi," ucap Aish yang kembali menangis.
Romi menarik istrinya itu ke dalam pelukan, pria itu selalu bisa menenangkan Aish, Romi pria yang terbaik menurutnya.
"Untuk satu itu bukanlah menjadi masalah Aish, meski aku sedikit kecewa. Kenapa lama sekali wanita yang sedang menstruasi?" kekeh Romi.
"Yang salah itu kau yang terlalu cepat pergi Mas Romi, biasanya aku mens hingga enam hari. Maafkan aku," sesal Aish.
"Percaya padaku, kita akan bahagia nanti!" ucap Romi meyakinkan.
"Dengan berjauhan disaat pengantin baru? Dan kau harus sibuk dengan senjata, bagaimana jika kau......." Aish tidak sanggup melanjutkan.
Romi terdiam sejenak.
"Aku akan pulang, ini bukan perang Aish. Ini hanya konflik biasa, aku tidak akan mati di sana," kekeh Romi lagi.
"Tetap saja aku harus mengalah pada negara!"
Romi hanya tersenyum mendengar ocehan Aish.
Sampai pada Aish harus merelakan kepergian sang suami setelah makan malam mereka berakhir, Romi meninggalkannya di rumah dijemput oleh komandannya.
Perempuan itu menatap suaminya yang kian hilang di pelupuk mata. Aish menatap pula kamarnya yang semakin dingin, yang mungkin tidak pernah akan hangat dalam waktu yang lama.
__ADS_1
Sejak saat itu Romi mulai sulit dihubungi.
Sampai pada tiga bulan berlalu, Aish yang hanya dihubungi Romi sesekali tersenyum lebar saat mendapat kabar dari teman kuliahnya dulu bahwa dibutuhkan relawan tenaga kesehatan untuk tugas mulia pada daerah yang baru saja terkena musibah gempa bumi yang menewaskan banyak nyawa.
Dan Aish tahu itu adalah daerah suaminya bertugas.
Aish membulatkan tekad untuk pergi ke sana, selain alasan kemanusiaan, ia juga mengambil kesempatan untuk bertemu sang suami yang jauh di mata.
Aish pamit pada Nenek Dijah setelah semua urusan rumah dan merawat neneknya ia serahkan pada Ratih sang asisten rumah tangga sekaligus teman masa kecilnya yang baru saja bekerja padanya dua bulan lalu.
Aish perlahan meninggalkan kampung, ia bersama teman-teman dokternya yang menjadi relawan telah pula pergi menuju suatu daerah yang menangis duka akibat alam yang sedang tidak bersahabat.
Aish berniat memberi kejutan pada suaminya nanti jika sudah tiba di sana.
Untuk beberapa hari, Aish sibuk dengan tugas kemanusiaan, ia dan teman-temannya menjadi relawan korban gempa dengan sepenuh hati, melayani warga yang membutuhkan pelayanan kesehatan di tenda pengungsian.
Sampai pada suatu hari dimana tugas Aish perlahan ringan karena bantuan mulai berdatangan dan penanganan cepat oleh pemerintah.
Ia berniat menemui Romi yang ia tahu bertugas tidak jauh dari daerah dimana Aish berdiri saat ini. Ia sengaja tidak memberitahu keberadaannya yang satu daerah dengan Romi saat ini.
Hati Aish berbunga, ia membayangkan melepas rindu pada sang suami di sana.
Aish menghubungi salah satu teman Romi yang juga bertugas.
Aish bertemu pria yang satu tugas dengan suaminya, di salah satu pusat pertokoan kota kecil itu.
Pertemuan yang terkesan mendadak dan cukup membuat pria itu terkejut mendapati istri temannya ternyata datang ke daerah tersebut.
Setelah berbasa basi.
"Aish, sebenarnya aku tidak ingin mengatakan apapun tapi aku rasa kau perlu tahu yang sebenarnya," ucap teman Romi yang tidak tega melihat Aish yang bersemangat untuk bertemu suaminya jauh-jauh datang dengan tugas mulia sebagai relawan gempa.
Aish terdiam saat mendengar pengakuan teman Romi, ia bahkan lupa cara bertanya untuk pertanyaan yang tertimbun di hatinya saat ini, mulutnya tiba-tiba terasa bungkam.
Mereka bertemu di salah satu warung makan, percakapan singkat namun sungguh memberi efek mematikan bagi penderita penyakit jantung. Beruntung Aish tidak sakit jantung saat ini, meski nyeri itu sungguh menusuk dada.
Aish tidak bisa percaya begitu saja, Aish tentu tidak akan termakan ucapan pria itu mentah-mentah.
__ADS_1
"Bisakah kau memberi tahu ku dimana Mas Romi sekarang?"