Purnama Merindu

Purnama Merindu
Anara


__ADS_3

Di mobil.


"Benarkah?" tanya Ken cukup terkejut.


Aish mengangguk, "Iya, pertama dia menyelamatkan ku yang hampir tertabrak motor, kedua hampir menabrak ku karena aku melamun di jalan, ketiga Mas Aldric masuk IGD karena kecelakaan sepeda," jelas Aish pada Ken tentang bagaimana Aish bisa kenal saudara kembarnya Aldric.


"Oh aku cemburu," lirih Ken menatap Aish cukup jengkel.


"Kenapa seperti itu? Aku ini seorang dokter jadi wajar jika bertemu pasien lelaki, ada yang tampan seperti Mas Aldric, ada yang manis ada yang tua ada juga yang muda, semua itu hal biasa bagi profesi ku Mas Ken," jelas Aish lagi.


Ken terdiam sejenak, lalu ia menatap lagi wajah Aishwa yang teduh dengan tatapan mata indah yang membuatnya tenang.


"Aku mencintaimu Aishwa," ucap lelaki itu tersenyum.


"Aku bahagia mendengarnya Mas Ken," jawab Aish dengan kerlingan mata manja.


Waktu terus bergulir, Seraya Ken dan Aish mempersiapkan hari bahagia mereka yang tidak akan lama lagi, dua insan yang sedang dimabuk asmara itu harus pula selalu hadir di setiap rangkaian acara pernikahan si sulung Alvaro dan mempelainya Naina.


Pernikahan yang megah, antara dosen dan mahasiswanya sendiri, Naina sang idola di kelasnya. Kisah mereka cukup indah jika dibayangkan, betapa tidak Naina yang bar-bar semula tidak menyukai Al dan sering bolos pada mata kuliah pria itu.


Namun berubah sejak Al dan dirinya sering bertemu tanpa sengaja, Naina mulai jatuh hati pada Pak Dosen tampan yang ramah dan baik hati itu. Mereka semakin dekat saat Al menjadi pembimbing skripsi Naina.


Tidak ada yang tahu seperti apa kisah mereka, namun yang pasti kedekatan antara dosen dan mahasiswa itu berlanjut ke pelaminan seperti sekarang.


Bahagia terukir pada kedua wajah mempelai, pernikahan impian dua orang yang saling mencintai dan menikah tanpa paksaan. Semua menikmati pesta.


Aish dan Ken tidak berhenti tersenyum dan saling menautkan jari, tentu saja karena mereka ikut berbahagia untuk kedua mempelai.


Ken tidak melepaskan Aish barang sebentar, memanjakan perempuan itu dengan kata cinta yang indah, Aish akui Ken memang perayu wanita kelas kakap, tidak heran ia jatuh juga pada pria itu.


Disana hadir pula seorang perempuan cantik lainnya, dia adalah Anara yang Aldric kenalkan sebagai kekasihnya.


Aish sudah beberapa kali bertemu, kesan yang baik diantara keduanya. Anara perempuan yang bekerja di kantor Aldric itu cukup mudah bergaul.


Aish menghampiri Anara yang sedang seorang diri, sedang Ken dan Aldric bertemu teman sekolahnya yang turut menjadi tamu undangan Al hari ini.


"Anara, kau ingin makan sesuatu? Ingin ku ambilkan?" tawar Aish dengan senyum yang ramah. Aish selalu pandai bicara pada siapapun.


Anara melihat Aish yang menghampirinya lebih dulu. Lalu perempuan itu menggeleng.


"Aku bahkan sudah sangat kenyang Aish, terimakasih atas tawaran mu," balas gadis itu tersenyum.


Mereka mengobrol di salah satu meja, obrolan dua perempuan yang memiliki tempat istimewa di keluarga Ariq dan Nayla.


"Tidak lama lagi kau dan Mas Ken yang akan duduk di sana," cetus Anara sambil melihat ke pelaminan.


Aish tersenyum.


"Iya jika sesuai rencana, aku dan Mas Ken hanya berencana tapi semua Tuhan lah yang menentukan," jawab Aish dengan senyum penuh makna.

__ADS_1


Anara tersenyum mendengarnya.


"Kau benar."


"Lalu bagaimana dengan kalian? Apa Mas Aldric ada bicara tentang pernikahan padamu?"


Anara menggeleng.


"Kami tidak seperti yang terlihat Aish, dia masih pria yang kaku. Kami ini bersahabat awalnya aku juga sekretarisnya, karena aku menyatakan suka duluan padanya hingga Mas Aldric hanya menerima saja tanpa tahu seperti apa perasaannya padaku."


"Benarkah?" Aish terkejut, Anara mengangguk lagi.


"Iya, sesimpel itu hubungan kami. Dia tidak bilang mencintaiku, tapi dia tidak menolakku juga, entahlah agak sedikit lucu menurut ku, tapi memang seperti itu Mas Aldric, dia tidak suka berbasa basi. Aku mengenalnya cukup lama."


Aish geleng kepala, benar yang dikatakan Ken bahwa saudara kembar mereka yang ketiga adalah pria yang payah dalam hal wanita.


"Aku melihat kalian sangat serasi Anara, kata Mas Ken dia memang seperti itu, mungkin dia malu mengungkapkan perasaannya."


Anara mengangguk saja.


"Mungkin saja, yang pasti aku bahagia Mas Aldric tidak menolak cintaku, kami terlibat hubungan yang sehat dan insyaallah akan serius ke jenjang pernikahan jika tidak ada halangan."


Anara tersenyum membayangkannya.


"Wah aku senang mendengarnya," ucap Aish mengelus tangan Anara.


"Pria seperti Mas Aldric punya daya magis tersendiri hingga tidak heran setiap wanita yang dekat dengannya begitu dibuat penasaran" tukas Anara seraya menatap Aldric dari kejauhan.


"Kau benar, aku bahkan cukup penasaran kenapa Mas Aldric berbeda dari dua kembarannya yang ajaib dalam hal wanita itu, dia paling manis diantara bertiga, jadi bersemangatlah Anara!"


"Terimakasih Aish."


Mereka saling melempar senyum dalam kebahagiaan hingar-bingar pesta pernikahan Alvaro dan Naina.


Ken mengambil Aish dari Anara, pria itu membawa Aish menjauh ke salah satu sudut ballroom hotel tempat resepsi pernikahan kembarannya yang pertama Alvaro.


"Apa yang kalian bicarakan?" tanya Ken menatap Aish dengan tatapan dalam.


"Hanya pembicaraan sesama perempuan," jawab Aish tersenyum.


"Apa kalian menjelekkan kami?"


"Ck, narsis sekali. Siapa juga yang membicarakan kalian, tidak seperti itu. Aku dan Anara hanya bicara biasa," kekeh Aish setelah mengusap wajah Ken yang menggemaskan.


Mereka larut dalam tawa.


"Aish."


"Iya."

__ADS_1


Mereka masih saling berpegangan tangan dan menatap satu sama lain.


"Kau bahagia?" tanya Ken.


Aish mengangguk.


"Aku bahagia akan menyusul menikah tidak lama lagi, bahkan aku lupa bahwa aku seorang janda yang tidak terkejut lagi pada pernikahan. Tapi tetap saja aku gugup."


Ken tersenyum, ia menatap Aish tidak bosan.


"Aku takut jika tidak kesampaian."


"Apa maksudmu Mas Ken?"


"Entahlah, menatap mu tersenyum seperti ini rasanya terlalu lama harus menunggu, apa sebaiknya kita menikah besok saja?"


"Mas Ken jangan bercanda."


"Aish, aku tidak tahu apa yang ku rasakan saat ini, tapi aku sungguh enggan untuk berjauhan dari mu. Sumpah," kata Ken dengan kilat mata yang menatap Aish kian serius.


Aish terkekeh, "Kau bahkan sudah merayuku untuk kesekian kalinya hari ini, tapi tetap saja aku suka mendengarnya, kita akan menikah Mas Ken, jadi kau tidak akan berjauhan lagi dengan ku setelah itu. Bersabarlah, tiga minggu dari sekarang!"


"Bagaimana jika rencana kita gagal?"


"Kenapa bicara seperti itu? Persiapan kita sudah hampir rampung hanya menunggu waktu dan tanggalnya saja, jangan bicara yang tidak-tidak Mas Ken," sanggah Aish tidak suka.


"Bagaimana aku mati sebelum itu?"


"Mas Ken, kau ini bicara apa!"


"Jawab saja, aku ingin mendengar jawaban mu."


"Tidak, jangan bicara seperti itu."


"Atau bagaimana jika aku menghilang sebelum kita menikah?"


"Kau tahu aku pasti akan sangat terluka," jawab Aish murung.


"Itu tidak akan terjadi sayang."


"Lalu kenapa bicara seperti itu?"


"Aku hanya mengetes mu saja," kekeh Ken tertawa.


Dari kejauhan, Aldric menatap saudara dan calon iparnya itu. Dua wajah yang saling menatap dengan cinta, dengan tangan yang tidak terlepas sejak tadi membuat Aldric hanya bisa bernapas dengan panjang meski sedikit sulit.


"Mas Aldric, aku perhatikan sejak tadi kau tampak memantau Mas Ken dan Aish saja, apa ada yang salah dengan mereka?" tegur Anara yang juga melihat arah pandangan Aldric saat ini.


Aldric diam sejenak, "Entahlah," jawab pria itu ambigu yang tidak berpaling dari wajah perempuan yang tengah tertawa oleh gurauan saudara kembarnya Ken.

__ADS_1


__ADS_2