
"Humairah?" ucap oma Rika lagi.
Ia menangis sambil meraih wajah Nayla dengan kedua tangannya yang sudah tampak gurat ketuaan, selain bingung Nayla juga merasa terkejut mendapat perlakuan oma Rika yang tiba-tiba itu.
"Oma?" lirih Nayla.
"Sayang, semuanya bisa kita bicarakan dengan baik. Mama tidak ingin kau berpisah dengan Alif, kau istri terbaik untuknya, tolong jangan berpisah Humairah, Alif sudah menceraikan wanita gila itu, dia mencintaimu sayang percayalah."
Mendengar itu membuat Nayla bertambah bingung, oma Rika berkata dalam tangisnya dengan nada serius.
Dewi yang langsung menggendong Zaza pun jadi ikut bingung.
"Oma, ini Nayla bukan seperti yang Oma sebutkan tadi, ini pelayan baru Oma, tenanglah....." cetus Dewi sambil menenangkan oma Rika dengan mengusap punggungnya.
"Tidak, Humairah dengarkan mama nak, mama mohon jangan tinggalkan putraku."
Berulang kali oma Rika memohon pada Nayla, tanpa menghiraukan Dewi yang juga sudah berulang kali meluruskan. Sampai pada oma Rika jatuh pingsan tiba-tiba beruntung Nayla menopang tubuh lemah orang tua itu dengan hati-hati.
Dewi panik dan segera memanggil nyonya Arina sebagai majikan kedua di rumah itu.
"Mama, mama, hei kau apakan mamaku kenapa mama bisa pingsan?" tanya nyonya Arina pada Nayla yang gemetar ketakutan.
Ia segera menggeleng, "Tidak nyonya, aku juga tidak tahu. Maaf jika aku bersalah," jawab Nayla menunduk takut saat nyonya besar itu marah padanya.
"Maaf nyonya, ini Nayla pelayan baru yang nyonya suruh masuk bekerja hari ini. Tadi oma Rika memanggil Nayla dengan sebutan Humairah," jelas Dewi yang berdiri di samping Nayla yang menggenggam tangan Zaza yang juga ketakutan.
"Apa?"
Selanjutnya Dewi menjelaskan secara rinci kejadian yang sebenarnya, barulah nyonya Arina tampak melunak.
"Keluarlah jika begitu, aku sudah menghubungi dokter. Dia boleh bekerja sekarang, dan kau Dewi tentang hal ini jangan membuat heboh di belakang," perintah nyonya Arina lagi pada Dewi, lalu ia menatap Nayla dari ujung kaki hingga ujung rambut dengan tatapan cukup lama.
"Baik nyonya," jawab Dewi.
"Kalian boleh keluar sekarang."
Nayla menggendong Zaza mengikuti langkah Dewi keluar dari perpustakaan keluarga, Zaza memeluk lehernya dengan erat.
"Aku takut," cicit Zaza meringkuk pada dekapan adik kandung dari ayahnya itu.
__ADS_1
"Tidak sayang, bunda ada bersamamu. Tidurlah kau pasti mengantuk," balas Nayla sambil mengusap punggung Zaza seraya menenangkan.
"Aku benar-benar bingung kenapa oma seperti itu?" gumam Dewi berpikir keras.
"Memang oma belum pernah mengalami hal ini?"
"Oma memang sedang sakit sekarang, terkadang oma mencari anaknya yang bermain ada pula saat oma memasak untuk suaminya, tapi tidak pernah seperti ini, jika dipikir-pikir diusia oma yang sudah tua mungkin saja oma sudah pikun, sering lupa menaruh sesuatu padahal belum lama. Entahlah, namanya juga orang tua Nay, maafkan oma jika dia membuat mu takut dan terkejut, oma Rika adalah orang paling baik di rumah ini, berbeda sekali dengan nyonya Arina."
Jelas Dewi panjang lebar, banyak pelayan yang melihat mereka bicara seolah sudah akrab, ada yang tidak peduli ada pula yang ingin tahu apa yang mereka bicarakan sambil menidurkan Zaza di kamar ganti yang terdapat kasur di sana hingga para pelayan bisa beristirahat di sana.
"Aku jadi takut pada nyonya Arina, dia membentakku, aku baru bekerja hari ini, sungguh aku merasa gugup pada keluarga ini kak Dewi, terlebih oma pingsan setelah bertemu denganku."
"Tidak jangan merasa sungkan Nayla, keluarga ini sejatinya baik semua, oma Rika punya dua anak nyonya Arina yang bungsu jadi tinggal bersama di sini. Ini adalah rumah utama."
"Lalu anaknya yang lain?"
"Itu dia, tuan Alif dan nyonya Humairah, mereka menetap di Amerika, anaknya ada banyak tidak seperti nyonya Arina yang hanya punya satu, nona Nisa saja. Putra sulungnya tinggal di rumah ini, baru pulang semalam dari Amerika karena adiknya kecelakaan dua minggu lalu, tapi pagi-pagi sudah pergi lagi."
"Aku bingung kenapa kau jadi nyonya Humairah dalam pandangan oma tadi? Apa oma benar-benar pikun hingga merasa kau adalah menantunya. Lalu kenapa menangis mengatakan putranya tidak mau berpisah, apa tuan Alif dan nyonya Humairah pernah berpisah dulu? Hmmmm membuatku penasaran saja," ucap Dewi seraya membayangkan sesuatu.
Nayla tersenyum, "Sepertinya kak Dewi benar-benar hafal seluk beluk keluarga ini," balas Nayla seraya bercanda.
Dewi terkekeh, "Selalu punya daya tarik untuk mengikuti apa yang sering terjadi pada keluarga kaya, karena nasibku tidak bisa kaya setidaknya dengan memantau apa yang terjadi pada orang kaya cukup menyenangkan, ya sedikit merasakan drama-drama mereka," kata. Dewi sambil tertawa pelan.
"Satu lagi, tentang nona Nisa. Ya ampun aku ingin tertawa jika mengingatnya, dia menikahi pria yang tidak mencintainya."
Nayla mengerutkan kening.
"Darimana kau tahu?"
"Dari sikap dan perilaku pria itu, suaminya tampak dingin sejak di pelaminan bahkan hingga sekarang, terlihat sekali pernikahan itu terpaksa, mereka dijodohkan karena hutang budi, huh alasan klise sekali bukan? Zaman sekarang masih saja suka jodohkan anak karena hutang budi, drama lama para orang kaya."
Nayla geleng kepala lagi, ia tidak menyangka Dewi bisa tahu semuanya tentang yang bukan urusan para pelayan seperti mereka.
"Kak Dewi benar-benar tahu semuanya, bahkan dari sikap dan perilaku saja bisa menyimpulkan beberapa hal, aku tidak berani seperti itu," balas Nayla terkekeh.
"Kau tahu Nay, ku dengar gosip suami nona Nisa sudah memiliki kekasih, bahkan Mas Van-----"
Ucapan Dewi menggantung saat salah satu pelayan memasuki kamar ganti.
__ADS_1
"Apa kalian akan bergosip disini selama berjam-jam? Dan Nayla, ayo ikut aku! Akan ku tunjukkan cara kerjamu," ucap pelayan itu lagi dengan nada tidak suka.
Nayla segera berdiri setelah memastikan Zaza tertidur dengan lelap.
"Baik, maafkan aku," ucap Nayla seraya menunduk.
Pelayan itu tidak menjawab, ia melangkah lebih dulu dari dua orang tersebut.
"Jangan tersinggung, dia memang seperti itu selalu tidak ramah pada pelayan baru, ayo jangan pedulikan dia, bekerjalah dengan hati-hati, kau akan mencuci pakaian mahal Nayla, jadi jangan sampai rusak atau kau tidak akan digaji oleh nyonya Arina," ajak Dewi sebelum mengusap lengan gadis yang masih canggung itu.
"Aku mengerti."
Sampai di belakang, pelayan yang bertugas khusus laundry mengajarkan Nayla bagaimana cara mencuci pakaian yang menjadi tanggung jawab Nayla.
"Tugasmu enak tapi berat, hanya satu orang di rumah ini yang tidak mau pakaiannya dicuci oleh mesin hingga harus mencari pelayan khusus cuci tangan, dia cucu sulung oma Rika, pria tampan satu-satunya di rumah ini yang belum menikah, jangan anggap remeh karena sudah sering sekali ganti pelayan karena beberapa tidak tahu cara mencuci pakaian mahal hingga rusak. Awas jika kau melakukan kesalahan juga, kau pasti akan langsung dipecat."
Nayla mengangguk mengerti.
"Ini, hari ini kau akan mencuci cukup banyak karena mas tampan itu baru pulang dari luar negeri, kau tahu luar negeri? Jauh sekali, namanya Amerika," kata pelayan itu seraya mengejek.
Nayla menarik napas dalam agar tidak terpancing emosi. Bukan hanya itu, saat masih berada dulu Nayla bahkan sudah pernah beberapa kali mengunjungi negara paman Sam tersebut saat liburan bersama keluarganya, bukan hanya Amerika namun juga negara lainnya.
Jika bukan karena melatih kesabaran mungkin Nayla sudah mencerca pelayan yang tertawa sinis menatapnya saat ini seolah ia tidak tahu apa-apa tentang luar negeri.
"Apa aku sudah boleh bekerja?"
Pelayan itu menjawab seraya melentingkan satu jari telunjuknya menyuruh Nayla pergi.
"Bagus, dan ingat jangan sok cantik di rumah ini. Meski kau memang cantik, tapi tetaplah seorang pelayan, janda beranak satu pula. Kasihan sekali, pasti kau menikah muda hingga sudah menjadi janda dan punya anak sekarang."
Nayla tidak menjawab, ia segera berlalu dari sana tanpa rasa ingin membalas karena hanya akan sia-sia menanggapi wanita seperti pelayan yang bernama Rini itu pikirnya.
Nayla menghapus airmatanya saat duduk di atas bangku kecil sambil menatap setumpuk pakaian kotor dalam keranjang, ia melirik pula tangannya yang mulus yang mungkin tidak akan semulus ini lagi jika terus mencuci pakai tangan.
Perkataan Rini cukup membuatnya tersinggung, kata janda beranak satu membuatnya menangis sekarang.
"Aku bukan janda, tapi juga bukan gadis lagi."
Nayla geleng kepala, ia hapus airmatanya lalu ia mulai meraih keranjang dan menyentuh semua pakaian lelaki tersebut.
__ADS_1
Lama Nayla terdiam, wangi parfum dari tumpukan pakaian itu mengingatkan Nayla pada seseorang. Ia menciumnya beberapa kali lalu bergumam pelan.
"Kenapa jadi ingat mas Ariq?"