Purnama Merindu

Purnama Merindu
Ternyata orang, bukan hantu


__ADS_3

Nayla membuka pintu saat mendengar teriakan seseorang yang ia yakini adalah pemilik kontrakan.


Dengan wajah pucat Nayla meminta maaf baru membuka pintu dengan alasan sedang berada di kamar mandi. Pemilik kontrakan yang ia kenal baik hati itu menjelaskan sesuatu tentang rumah itu.


"Maafkan bibi Nay, ini harus dikosongkan segera. Rumah ini akan ditinggali putraku yang baru saja menikah, mereka tidak punya tempat tinggal. Sewa mu sudah habis, bibi benar-benar minta maaf soal ini bukan maksud mengusirmu, sebab mereka akan segera pindah kemari minggu depan."


Nayla terdiam, terpaku pada wajah perempuan yang sebaya dengan ibunya.


"Baiklah bi, aku mengerti. Lagipula jika ingin memperpanjang pun aku tidak punya uang sekarang."


Pemilik kontrakan itu sontak merasa iba, ia tahu sekali kehidupan keluarga Nayla sejak tinggal di sana terlebih sekarang gadis itu hanya seorang diri tanpa ibu dan kakaknya.


"Nay, kau bisa bersiap-siap dalam satu minggu. Sebaiknya cari kost yang murah saja, masalah uang nanti bibi bantu untuk satu bulan pertama, bibi kasihan padamu, sebaiknya kau bekerja paruh waktu saja nak, semangatlah Nayla tidak semua wanita bisa seperti mu. Kau akan kuat dengan sendirinya nanti, ayolah berhenti mengurung diri ini bahkan sudah dua minggu. Lihatlah badanmu kurus."


"Terimakasih atas pengertian bibi, aku akan bersiap dalam satu minggu," jawab Nayla lesu.


Setelah percakapan itu, Nayla kembali ke dalam kamar. Berperang dengan pikirannya yang tidak menentu, kemana ia akan pergi dengan uang yang sangat minim untuk bertahan hidup.


Lia sudah banyak membantu, Nayla tidak ingin merepotkan sahabatnya itu lagi untuk hidupnya yang sudah tidak berarti lagi.


Menatap pula pada barang-barang peninggalan ibunya, sungguh teriris hati Nayla atas takdir hidup yang ia hadapi sekarang. Kemana Nayla bisa pergi?


Nayla teringat tentang paman Doni, adik dari ayahnya yang hidup berada, Nayla pikir paman Doni bisa menolongnya saat ini. Namun Nayla kembali urung saat mengingat beberapa waktu lalu.


"Bukankah paman sudah tidak ingin berurusan dengan ayah serta keturunannya? Ayah benar-benar terbuang saat tersandung kasus, tidak mungkin paman mau menolong ku sedang ibu dan kakak meninggal saja dia tidak berkenan hadir walau hanya untuk melayat."


Nayla bergumam, ia berjalan kesana kemari mencari solusi kemana ia akan pergi. Uang ditangannya hanya akan bertahan untuk makan beberapa hari saja.


Nayla kembali duduk di sudut kamar, bayang-bayang kenangan lalu ikut melintas di sana. Nayla tersenyum lalu menangis lagi, meratap lagi kepergian ibu dan kakaknya dalam kesunyian dan kesendirian.


Sudah dua minggu ia mengurung diri, memakan apa yang masih tersedia di dapur, ia menolak semua panggilan dari Lia, Nayla merasa ia terlalu buruk untuk menjadi teman yang terus membebani gadis itu.


Pada malam harinya, udara cukup dingin karena habis hujan. Nayla keluar dengan tanpa memakai jaket.


Langkahnya mengayun membawa gadis itu berjalan-jalan menyusuri trotoar, tidak ada yang tahu ia akan kemana.


Mata menatap kosong ke sembarang arah, ia tidak membawa apa-apa hanya memakai dress berwarna hitam semata kaki berlengan pendek dan memakai sandal jepit, kulitnya yang mulus tersapu angin yang begitu menusuk hingga ke tulang namun Nayla seolah telah mati rasa.


Ia tidak merasa kedinginan sedikit pun, bukan tidak merasa melainkan tidak peduli dengan rasa apapun termasuk sejuknya angin menembus lapisan kulitnya. Rambutnya tergerai sesekali melambai karena tiupan angin yang ikut menerpa wajah cantiknya yang tidak berseri.


Wajahnya yang kian pucat karena tidak makan sejak siang tadi, berjalan dan berjalan tidak tentu arah.

__ADS_1


Sampai pada kakinya berhenti saat melihat seseorang sedang menelepon di depan sebuah gedung hotel berbintang.


"Nayla?" sapa perempuan itu cukup terkejut saat menutup ponselnya, ia malah mendapati Nayla telah berdiri di hadapannya.


"Bibi Maya, bisakah aku meminta uang?" tanya Nayla tanpa basa basi.


Perempuan bernama Maya itu mengerutkan dahi, lalu ia berdecak setelah melihat penampilan keponakan suaminya itu dari atas hingga bawah.


"Ckkkk.... Apa kau mulai mengemis sekarang?"


Nayla tidak menjawab, ia hanya menatap bibi Maya dengan tatapan dalam.


"Kenapa kau bisa kemari?" tanya bibi Maya lagi.


"Kenapa bibi dan paman begitu jahat hingga melayat ibu dan kakakku pun tidak mau?"


Bukannya menjawab Nayla malah kembali bertanya.


"Bukankah sudah paman mu katakan, kami tidak ingin berurusan dengan keluarga koruptor seperti kalian, makan uang rakyat. Memalukan, pamanmu malu punya kakak yang maruk harta yang didapat dari korupsi."


"Itu ayahku, lalu apa salah ibu dan kakakku pada kalian?"


"Hei sayang apa kau tidak ingat? Kakak mu yang memukul suamiku hanya karena tidak menerima dinasehati agar jangan mengikuti jejak ayah kalian, keponakan tidak tahu sopan santun, baiklah maafkan aku karena Juna sudah meninggal anggap saja kita impas."


"Jangan menangis di depanku, aku tidak akan terpengaruh Nayla. Pamanmu sudah memutuskan hubungan dengan kalian, jadi aku hanya menurut saja. Minggirlah aku ingin masuk, aku harus menghadiri undangan penting resepsi pernikahan kolega pamanmu."


Nayla tidak bergeming, membuat bibi Maya menepuk keningnya.


"Oh aku lupa, kau minta uang tadi."


Bibi Maya tersenyum mengejek seraya mengeluarkan beberapa lembar uang dari dalam tasnya.


"Ini ambillah, aku rasa ini cukup banyak untuk keperluan makanmu dalam sebulan," cetus bibi Maya seraya menaruh uang itu di tangan Nayla.


Setelah memberikan itu bibi Maya pergi begitu saja, ia kembali meneruskan niat masuk hotel.


Nayla menatap uang di tangannya yang cukup banyak, masih dengan tatapan kosong. Lalu matanya berpendar ke banyak papan ucapan selamat yang mengelilinginya.


Selamat bahagia Devano dan Annisa, selamat menempuh hidup baru Annisa dan Devano. Begitu kata-kata yang tertulis di papan ucapan, ada banyak hingga memenuhi plataran hotel. Nayla membacanya, ia menyadari tengah berada di mana sekarang.


Resepsi pernikahan Vano dan wanita yang membuatnya keguguran beberapa waktu lalu. Tangannya mengepal kuat menggenggam uang kertas yang diberikan istri pamannya tadi.

__ADS_1


Matanya merah lagi, giginya gemertak seolah amarah tengah menguasainya saat ini. Dengan langkah pasti Nayla mulai mendekati beberapa papan ucapan.


Nayla merusak apa yang ia lihat, ia meraung dan marah-marah. Semua kata umpatan ia keluarkan di sana, tidak peduli pada orang-orang yang datang sebagai tamu menatapnya aneh, ada yang tertawa geli ada pula yang mengejek ulah Nayla.


Ada yang merekam aksi Nayla merusak papan ucapan itu. Sampai pada beberapa petugas keamanan hotel menghentikan tingkah Nayla.


"Pria gila, pria tidak bertanggung jawab. Mana janji manismu Vano? Mana Vano ku yang dulu? Kau telah menghancurkan masa depanku, kau menghancurkan hidupku, kau jahat, kalian semua jahat. Istrimu itu telah membuat aku kehilangan banyak hal secara bersamaan, ibuku, janinku yang tidak bersalah."


Nayla meratap dengan sedihnya, ia memukul dan menghancurkan huruf demi huruf yang membentuk nama Vano di papan ucapan.


"Berhenti, nona anda bisa terkena masalah. Pergilah sebelum masalah ini terlalu besar, jangan membuat keramaian di sini, jika tidak nona bisa ditindak tegas," ucap salah satu satpam yang membawa Nayla menjauh.


"Jika punya dendam pribadi nona bisa bertemu orangnya dilain waktu, jangan mengamuk seperti tadi."


Nayla diam.


"Apa dia gila?" tanya salah satu satpam pada temannya yang lain.


Nayla hanya terkekeh, ia tidak menjawab melainkan langsung beringsut mundur dan pergi dari sana tanpa membantah. Uang yang diberikan bibi Maya sudah hilang entah kemana.


"Iya, aku memang sudah gila," jawab Nayla yang berjalan menjauh.


Rintik hujan kembali turun, bukan gerimis melainkan rintik kasar dan kembali lebat. Nayla tidak peduli, ia tetap berjalan mengikuti kemana arah kakinya melangkah.


Sampai pada jalanan lurus, banyak pengendara yang melakukan mobil mereka dengan kecepatan tinggi, Nayla berdiri tepat di tengah jalan merentangkan tangan tanda siap ditabrak.


"Mungkin mati lebih baik daripada gila," ucapnya di tengah hujan lebat dan jalanan cukup lengang.


Bersamaan dengan senyumnya yang mengembang menatap satu mobil mengarah padanya saat ini.


Sepersekian detik kemudian, terdengar bunyi mobil yang mengerem mendadak hanya berjarak beberapa sentimeter saja dari tubuh Nayla.


Meski hujan lebat tampak pengemudi yang merupakan seorang pria keluar dari mobilnya.


Nayla luruh mulai kehilangan kesadaran, namun matanya masih menangkap bayangan lelaki mengarah padanya, menopang tubuhnya agar tidak membentur jalanan.


Mata sayunya menatap wajah pria itu sejenak sebelum ia benar-benar pingsan.


"Ckkkk.... Ternyata dia benar orang bukan hantu," gumam lelaki itu saat menatap wajah Nayla yang pucat dan basah.


Bersambung.

__ADS_1


#Selamat puasa, jangan lupa tinggalkan jejak ya#


__ADS_2