Purnama Merindu

Purnama Merindu
Ada acara keluarga


__ADS_3

Ariq menghampiri Nayla dan Vano yang berniat mengakhiri pertemuan.


Nayla melihat pria itu mendekat, ia tampak biasa saja.


"Ckkk.... Apa kau tidak malu Vano?" Desis Ariq menatap Vano kesal.


"Aku kemari untuk Nayla bukan untuk bertengkar dengan mas Ariq, aku sudah selesai. Aku akan pergi sekarang."


Nayla mengangguk saat Vano pamit padanya.


Saat Vano ingin melewati Ariq namun pria yang tengah mendidih darahnya itu mencegah dengan mencengkram lengan Vano secara kasar.


"Huh, dasar tidak tahu malu."


Bugh, Ariq memukul hidung Vano hingga berdarah. Nayla melihat itu juga tampak biasa saja bahkan terkesan tidak peduli.


"Mas Ariq, aku sudah mencoba lebih bersabar dengan mu karena aku menghormatimu sebagai saudara Annisa, kita sudah tidak ada urusan, aku sudah menjelaskannya padamu secara rinci tentang aku dan Nayla juga Annisa dalam hubungan semu ini. Kenapa kau masih saja dendam padaku? Padahal aku tidak melakukan apapun, aku hanya berurusan dengan Nayla, asal kau tahu kau bukan suaminya Nayla hingga bisa melarangku kemari."


"Tapi kau suaminya Annisa, adikku!"


"Kami akan bercerai."


Ariq terdiam, tertegun sesaat setelah mendengar kata cerai dari Vano, dadanya kian naik turun.


"Ck, pria tidak tahu malu. Meninggalkan Nayla demi orangtuamu, mempermainkan adikku dalam pernikahan semu, sekarang seenaknya kau katakan ingin bercerai setelah bertemu Nayla lagi. Oh Tuhan, andai membunuh itu tidak berdosa aku pastikan kau lenyap dari muka bumi ini."


Ariq menggeram lalu memukul lagi tulang pipi Vano hingga tampak bengkak dan dipastikan akan membiru tidak lama lagi.


Vano awalnya menahan emosi, namun ikut terpancing saat melihat Ariq kian memukulnya tanpa henti. Dan lagi Nayla hanya diam memperhatikan.


Arinda segera membawa adik-adiknya ke dalam rumah karena takut akan perkelahian itu.


"Cuih, aku sudah bersabar mas Ariq. Kau anggap enteng aku he? Aku tidak melawan karena aku menghargai Nayla, dia tidak suka perkelahian."


"Tapi kau juga tidak bisa memukulku terus dan bicara seolah kau pria yang terbaik untuk Nayla, tidak mas Ariq, kau sama saja dengan ku. Kita buktikan nanti, apa kau memang bisa membuat keluargamu menerima Nayla?"


"Lihatlah, sampai sekarang kau tidak mampu bicara pada keluargamu soal hubungan kalian, bukankah kau sama pengecutnya denganku?"


Ariq menoleh sejenak pada Nayla yang tampak datar menatap ketegangan itu.


Bugh, disaat Ariq lengah Vano membalas memukul dibagian rahang hingga sudut bibir Ariq tampak berdarah.


"Aku juga bisa membuatmu berdarah?!" sergah Vano lalu mendorong tubuh Ariq kasar hingga pria itu terhuyung beberapa langkah sebelum Vano pergi.


Vano pergi dari sana tanpa basa basi lagi, ia tidak ingin melanjutkan perkelahian di depan gadis yang ia cintai. Ariq ingin mengejar dan membalas lagi namun urung saat menatap Nayla yang terlihat dingin.


"Maafkan aku atas keributan ini," lirih Ariq dengan suara pelan.


Nayla tersenyum, ia meraih tangan Ariq lalu mengajaknya masuk.


"Ayo ku obati lukamu!" seru Nayla seraya menarik tangan gagah itu dari halaman rumah.


Nayla memberi kompres hangat pada luka yang tampak memar pada sudut bibir Ariq. Ia melakukannya dengan telaten setelah membersihkan darahnya.


"Pukulannya cukup kuat. Dia pandai membalas juga rupanya."


"Untung gigimu tidak ikut rontok," seloroh Nayla dengan nada kesal.

__ADS_1


"Apa kau mau punya suami ompong nanti?"


Nayla ingin tertawa.


"Kenapa kau diam saja tadi?" tanya Ariq, sesekali ia meringis.


"Apa kau pikir aku akan melerai?"


"Kenapa tidak?"


"Karena itu urusan lelaki, yang berkelahi kalian kenapa aku harus repot nanti yang ada aku ikut jadi korban."


Ariq tersenyum.


"Kau tidak marah?"


"Sedikit, karena kalian membuat anak-anak menjadi takut."


"Oh sayang maafkan aku."


"Aku tidak suka perkelahian," kata Nayla sedikit murung.


"Maafkan aku Nay..." Ariq menghentikan jari cantik itu lalu menggenggamnya dengan erat.


"Kau terlalu cemburu, hal itu membuat kau tidak bisa percaya padaku nanti," ucap Nayla pelan.


"Aku percaya."


"Lalu kenapa main pukul?"


Nayla memutar bola mata dengan malas.


"Apa kau membenci Vano?"


"Benci sekali, dia menghancurkan hidup dua wanita berharga untukku, sayangnya aku tidak bisa apa-apa karena Annisa membelanya terus, adikku mencintainya Nay..... Dan Vano mencintaimu. Aku juga mencintaimu. Lalu kau?"


"Aku mencintai diriku sendiri," jawab Nayla tersenyum tipis.


"Jangan marah padanya, jika Annisa lebih bersabar lagi mungkin Vano akan mencintainya juga, percayalah..... Aku dan Vano sudah berakhir, yang telah berakhir tidak mungkin diulang lagi."


"Ayolah berhenti bahas pria sialan itu," tukas Ariq kesal.


"Kenapa restoran tutup hari ini? Juga kau tampak dari bepergian?" tanya Ariq heran.


"Iya, hari ini adalah hari istimewa nona Cinderella kami."


"Apa maksudmu?"


"Saudaraku wisuda hari ini, aku dan ayahku ikut hadir. Anak-anak bersama kak Dewi, aku hanya sebentar."


"Aku kira kau kemana, kenapa tidak memberi tahu? Kau selalu dingin beberapa hari ini, jarang sekali membalas pesan dan menerima panggilan ku."


"Sudah selesai."


Nayla menghentikan tindakan tangannya dari wajah dan luka Ariq, lalu ketika hendak berdiri Ariq mencegah dan menggenggam tangannya.


"Kenapa?"

__ADS_1


Nayla terduduk lagi. Ia menatap Ariq penuh arti.


"Karena selain sibuk di restoran, aku juga sibuk menata hati."


"Oh sayang, jawabanmu selalu saja ambigu."


Nayla terkekeh.


"Aku serius, aku akan menata ulang hatiku lagi. Aku lelah berharap pada yang tidak pasti, karena aku tahu semua akan sia-sia lagi," ucap Nayla juga membalas genggaman Ariq dengan erat.


"Kau menyindirku?"


"Tidak, baiklah lupakan. Apa ayah ibumu jadi berkunjung kemari?"


"Sudah di tanah air tiga hari lalu, mereka sibuk mengunjungi keluarga yang lain, aku belum bicara pada mereka, tunggulah waktu yang tepat. Bersabarlah," balas Ariq menatap Nayla penuh arti.


Gadis itu mengangguk.


"Lalu kemana kau nanti malam? Bukankah ini malam minggu?" pancing Nayla.


"Ada acara keluarga, tapi bisa ku cancel jika kau ingin kita berkencan?"


Nayla menggeleng.


"Aku juga ada acara keluarga," tukas Nayla.


"Baiklah akan ada malam-malam minggu berikutnya untuk kita nanti, aku mencintaimu Nayla...." Ariq menatap Nayla penuh damba.


Wanita itu hanya membalas lewat sorot mata bening yang indah.


"Mas, Ariq."


"Hmm."


"Biasanya kau selalu mengirim mawar dipagi sabtu. Kenapa hari ini tidak?"


"Ah sayang maafkan aku, aku lupa."


"Kau mulai lupa padaku," ucap Nayla murung saat mengingat rangkaian aneka bunga dari Ariq untuk Rahayu di acara wisuda gadis itu.


Sepertinya Nayla salah mengira, pada kenyataannya Ariq tidak pernah mengirimi Rahayu bunga, melainkan keluarganya lah yang mengirim bunga sebagai permintaan maaf Ariq tidak dapat hadir di acara wisuda Rahayu sebab Ariq selalu menolak pergi meski bibi Arina memaksanya.


Ariq tertawa, "Baiklah, jangan marah nanti ku kirim sekaligus toko bunganya."


Nayla diam.


"Ayolah jangan marah," ucap pria itu lagi seraya meraih wajah Nayla lalu mencium wajah cantik itu dengan gemas.


"Mas Ariq!" bentak Nayla kesal, ia mendorong tubuh Ariq menjauh darinya.


"Selalu saja mencuri kesempatan, aku sedih kau memang tidak menghargai penampilan ku yang sekarang."


"Kau terlalu menggemaskan, sayang sekali jika tidak diapa-apakan," kekeh pria itu dengan santai, ia meraih tangan Nayla lagi tidak ia biarkan lepas kali ini meski gadisnya meronta.


"Mas Ariq, kau jahat sekali," Nayla menatap tajam.


"Sayang aku hanya bercanda."

__ADS_1


__ADS_2