Purnama Merindu

Purnama Merindu
Cincin tanda keseriusan


__ADS_3

"Aku bisa sendiri mas Ariq," kata Nayla saat ia ingin memasukkan barang belanjaannya ke bagasi mobil.


"Ini berat, biar aku saja!"


"Stop, ini barangku. Terimakasih sudah membantu sampai kemari. Silahkan mas Ariq pergi."


Nayla menghentikan Ariq dengan tangannya.


Pria itu masih menatap Nayla dengan senyuman. "Baiklah, jika kau tidak mau dibantu. Angkatlah semua ini sendirian," balas Ariq terkekeh.


Nayla mendengus kesal, ia mulai mengambil barang-barang dari troly yang sudah dimuat ke dalam kardus. Diluar dugaan ternyata semua barang jika digabung menjadi sangat berat bagi Nayla, ia melirik Ariq yang menyilangkan tangan menatapnya remeh.


Meski berat Nayla berusaha mengangkatnya sendiri, tapi apalah daya tenaganya yang tidaklah seberapa menjadi kewalahan juga.


"Kenapa berat sekali?" gumamnya dalam hati.


"Butuh bantuan?" tanya Ariq dengan nada mengejek.


"Huh, kau apakan barang ini kenapa berat?"


"Kenapa menyalahkan orang lain, kau tidak lihat kardusnya besar tentu barangnya pun banyak jadi wajar kalau berat, yang salah itu kau."


"Kenapa aku?"


"Karena kau membuat kita berjemur matahari di sini karena tetap tidak mau ku bantu. Lihatlah wajahmu menjadi penuh keringat," ucap Ariq seraya mengelap keringat Nayla dengan tangannya.


Nayla terdiam sejenak, perlakuan Ariq membuat batinnya merasa tersiksa. Nayla segera menepis tangan pria itu.


"Baiklah, ayo bantu aku memasukkan semua barang ini. Jangan lupa semuanya!" seru Nayla berniat mengerjai.


"Ini mudah, karena yang berat-berat itu memang pekerjaan lelaki, kau saja yang terlalu sombong."


Ariq mulai mengangkat barang-barang dengan enteng membuat Nayla heran.


"Kau pasti punya ilmu," ujar Nayla sambil memperhatikan Ariq menyusun barang dengan rapi.


Pria itu menoleh, lalu mengangguk. "Darimana kau tahu?"


Nayla mengernyitkan dahi, "Benarkah? Kau punya ilmu?" Nayla terkejut.


Ariq menutup bagasi mobil ibu Rena setelah memastikan semua barang telah ia masukkan. Lalu ia beralih menatap Nayla dengan wajah yang berkeringat, siang ini benar-benar terik.


"Aku hanya bercanda kenapa kau serius sekali. Ini biasa dilakukan oleh lelaki, jangankan mengangkat barang, mengangkat kau saja aku bisa."


Ariq mengangkat tubuh Nayla dari sana tanpa permisi, ia bawa menuju pintu mobil bagian depan.


"Mas Ariq, apa-apaan kau ini!" teriak Nayla karena terkejut bukan main, ia tidak menyangka pria itu akan menggendongnya seperti ini. Ia berupaya meronta sambil menggoyangkan kakinya agar lepas, tangannya ia gunakan memukul lengan Ariq dengan geram.


"Diamlah, kau selalu saja marah-marah."


Ariq membuka mobil dan memasukkan Nayla di samping kemudi, ia pasangkan sabuk pengaman meski Nayla belum berhenti marah-marah dengan kata-kata yang membuatnya semakin merasa gemas pada perempuan itu.


"Ck, kau benar-benar gila. Ini tempat umum."


Teriak Nayla lagi pada Ariq yang duduk di kursi kemudi.


"Lalu jika bukan di tempat umum kau mau ku gendong?" goda Ariq lagi sambil menghidupkan mobil dan perlahan melaju meninggalkan parkiran.


"Terserah, kau menyebalkan."


Nayla berpaling ke luar jendela mobil, menatap jalanan berdebu.


"Ayolah jangan marah," bujuk Ariq meraih tangan perempuan itu dengan lembut.


Nayla menepisnya, lalu tangan itu ia silangkan ke dada tanpa ekspresi. Ariq hanya terkekeh melihatnya. Lama hening, barulah Nayla teringat bahwa ia sedang tidak mengemudi.


"Mas Ariq," kejut Nayla tiba-tiba.


"Ada apa?"


"Kenapa kau yang mengemudi?" Nayla menjadi terkejut sendiri.


"Memangnya kenapa?"


"Ini mobil ibuku, kenapa kau yang menyetir? Lalu mobilmu?"


"Bukan masalah, biar dijemput saja nanti." Ariq menjawab enteng, ia masih fokus mengemudi.

__ADS_1


"Ck, selalu saja sesuka hatimu. Berhenti sekarang! Biar aku pulang sendiri, aku akan ke mampir ke tempat lain sebelum, ayo berbalik kau pulang saja dengan mobilmu sendiri," perintah Nayla.


"Tidak."


"Kenapa tidak? Ini mobil ibuku."


"Bukankah itu artinya ini adalah mobil calon mertua ku?"


"Iya, jika kau menikah dengan Rahayu."


"Itu tidak akan terjadi."


"Terserah kau saja, terserah kau mau menikah dengan siapa aku tidak peduli."


"Kenapa begitu?"


"Karena yang mau menikah itu kau, kenapa aku yang repot memikirkannya," sahut Nayla lagi.


"Tentu kau harus bantu berpikir juga, bukankah kau akan jadi mempelai wanitanya?"


Nayla tampak bernapas kasar. Ia diam tidak menjawab.


"Aku tidak mau."


"Kenapa tidak mau? Harus mau, aku tidak menerima penolakan. Oma setuju sekali aku menikahimu, aku sudah katakan tentang kita pada keluargaku, mereka tidak memaksa harus berjodoh dengan Rahayu meski bibi Arina belum setuju, namun aku tidak pula wajib meminta izinnya bukan? Aku memilihmu sayang, akan tetap seperti itu terlepas urusan Rahayu."


Ariq meraih lagi tangan Nayla, kali ini perempuan itu tidak menolak namun ia tidak menjawab.


"Aku tidak bisa melukai Rahayu," akhirnya Nayla menjawab juga setelah sejenak terdiam.


Kini wajah cantiknya tampak murung.


"Tapi kau melukaiku," sahut Ariq pelan, perlahan ia lepaskan tangan Nayla, wajahnya kembali fokus mengemudi.


Hening.


Nayla menoleh, ia tidak tahu kenapa semuanya seolah rumit saat ia bersaudara dengan Rahayu, bayangan ibu Rena yang baik padanya dan ayah Faisal serta keempat keponakannya yang diterima dengan baik dan penuh kasih, sungguh tidak tahu diri sekali jika ia menerima Ariq lagi disaat Rahayu saja bersikap dingin seakan enggan bicara setelah tahu yang sebenarnya.


"Mas Ariq, ayo berbalik! Biar aku pulang sendiri, kau dengan mobilmu saja," cetus Nayla setelah hening lama diantara mereka yang sama-sama mendalami arti dari melukai yang baru saja mereka ungkapkan.


Bukannya menuruti Ariq malah berhenti dan menepikan mobil itu. Kini ia raih lagi tangan Nayla dengan penuh perasaan.


"Ku mohon jangan persulit lagi, cukup bibi Arina saja yang memusingkan pikiran ku, kenapa kau tambah lagi Rahayu? Padahal kami saja tidak berhubungan apapun. Aku tidak peduli Rahayu terluka atau tidak, karena memang aku tidak pernah membuka kesempatan pada gadis itu."


"Apa Rahayu tidak bicara? Kami sudah menyepakati bahwa akan menolak rencana orang tua itu dengan alasan aku sudah punya pilihan sendiri dan itu kau...."


Nayla menggeleng, "Dia bahkan tidak mau bicara padaku lagi setelah malam itu. Jika pun bertemu dia seolah terus menyindirku. Rahayu dingin padaku, entahlah mas Ariq aku bingung."


"Jangan bingung, tinggal bilang iya apa susahnya, percaya padaku."


"Jika cincin belum melingkar di jari manisku, bagaimana aku bisa percaya kau serius tentang kita atau tidak."


Sejenak Ariq terdiam, lalu ia terkejut sekaligus kegirangan.


"Yess!! Oh sayang kata ini yang ku tunggu," ucap Ariq berbinar, lalu ia mengatakan lagi, "Soal cincin itu mudah, kau mau yang seperti apa?"


"Kenapa kau senang sekali?"


"Tentu aku bahagia akan menikah Nayla, menikahimu, aku akan bertemu ayahmu nanti."


Nayla hanya bisa menghela napas, ia bingung sungguh bingung menanggapi pria ini seperti apa. Satu sisi ia bahagia Ariq terlihat serius, satu sisi bayangan wajah dingin Rahayu mengganggu pikirannya. Jika soal percaya, Nayla sungguh percaya Ariq mencintainya.


"Terserah kau saja, sekarang keluarlah. Aku akan mampir ke tempat lain, kau jemput saja mobilmu sendiri."


Ariq terkekeh, ia menjalankan lagi mobil itu tanpa menghiraukan perkataan Nayla.


"Mas Ariq."


"Iya sayang."


"Aku bilang berhenti!"


"Tidak."


"Lalu bagaimana dengan mobilmu?" ucap Nayla setengah berteriak, ia menatap Ariq dengan kesal.


"Itu soal mudah, nanti ku suruh bang Jhon yang jemput, aku akan mengantar calon istriku ini dengan selamat sampai restoran."

__ADS_1


"Oh ya Allah, kau sungguh mengesalkan. Aku akan mampir ke tempat lain dulu. Aku bisa pergi sendiri mas Ariq, kau pasti meninggalkan pekerjaanmu sekarang, lagipula aku bukan anak kecil yang harus diawasi."


Ariq melirik Nayla dengan tatapan cinta, meski Nayla marah-marah namun sungguh membahagiakan berdekatan dengan gadis itu terlebih saat mendapat sinyal bahwa Nayla mau menerimanya lagi.


"Tidak tetap tidak, aku akan mengantarkan mu dulu sebelum kembali ke kantor."


"Huh, selalu saja memaksa," rutuk Nayla akhirnya mengalah juga.


Ariq tertawa pelan, ia meraih ponselnya lalu menghubungi seseorang.


"Bang Jhon, sekarang kau minta kunci mobilku pada mas Anto, lalu jemput di parkiran Swalayan Merpati, sekarang!"


Ariq rupanya menghubungi bang Jhon, namun pria berseragam satpam itu terlihat bingung di seberang telepon. Namun ia ingin bertanya lagi tapi panggilan sudah terputus duluan.


"Mas Ariq."


Ariq menoleh pada gadisnya.


"Ada apa? Mudah bukan jika urusan mobil, biar bang Jhon yang menjemput," kata Ariq seraya menaruh lagi ponselnya.


"Bicaralah dengan sopan jika di telepon, dan beri keterangn yang jelas jangan main tutup saja. Pasti bang Jhon bingung sekarang, setidaknya beritahu alasanmu meninggalkan mobilmu di sana, tidak seperti tadi."


Ariq tersenyum, "Itu terlalu panjang sayang, dia akan mengerti perintah ku dengan cepat."


"Iya, karena kau suka sekali seenaknya."


"Baiklah maafkan aku, jangan marah."


Ariq menautkan tangan mereka sambil mengemudi yang tidak lama lagi akan sampai di restoran. Ponselnya kembali berdering, Ariq menerimanya setelah melepaskan tangan mereka.


"Apa? Oma masuk rumah sakit?" tanya Ariq terkejut. Ia menepikan lagi mobil itu.


Nayla menatap Ariq dengan wajah cemas.


"Mas Ariq ada apa?" tanya Nayla setelah Ariq mematikan ponselnya.


"Sayang maafkan aku, Oma masuk rumah sakit sekarang, mama dan papaku sudah ke sana. Aku diminta kesana karena Oma mencariku, apa kau keberatan aku tidak jadi mengantarmu sampai restoran?"


"Tidak, pergilah... Aku bisa sendiri, lalu bagaimana dengan mobilmu? Ayo kita ke Swalayan lagi."


"Tidak, kita sudah jauh, biar aku naik taksi saja. Pulanglah, aku akan menjemput mobilku sekarang."


"Mas Ariq," panggil Nayla saat melihat Ariq tergesa-gesa menyimpan ponselnya ke saku kemeja, pria itu tampak cemas.


Ariq berhenti ketika hendak turun saat tangan Nayla mencegahnya.


"Ada apa?"


"Berhati-hatilah, aku mendoakan kesembuhan Oma."


Ariq tersenyum lalu mengangguk.


"Aku lupa sesuatu."


Nayla mengernyitkan dahi saat melihat wajah pria itu mendekati wajahnya, seakan sudah paham maka Nayla langsung menutup mulutnya.


"Jika kau ingin menciumku, tidak boleh!"


Nayla mundur. Ariq masih saja mendekat membuat Nayla beringsut. Ia menutup mulutnya dengan tangan sambil geleng kepala. Cup. Nayla terdiam juga.


"Tidak bisa bibir, keningpun jadi."


Ariq mencium kening Nayla sekilas karena bagian itu yang terlihat.


"Mas Ariq," bentak Nayla kesal karena tetap kecolongan.


Ariq terkekeh, lalu ia mengecup lagi bibir Nayla yang sedang marah-marah.


"Itu untuk kau yang mengoceh tanpa menutup mulut."


Nayla kecolongan lagi. Ia menatap Ariq dengan tatapan tajam.


"Mas Ariq bisa-bisanya kau!" teriak Nayla namun langsung bungkam lagi saat bibir pria berwajah tampan itu kembali menciumnya.


"Aku mencintaimu sayang, berhati-hatilah mengemudi."


"Juga harus lapor padaku jika sudah sampai atau belum!"

__ADS_1


Nayla hanya bisa ternganga dibuat pria yang sudah keluar mobilnya saat ini, tampak Ariq menghentikan taksi lalu hilang di tikungan jalan. Nayla yang masih terdiam meraba dadanya yang tidak baik-baik saja sejak pertemuan itu.


"Aku juga mencintaimu mas Ariq, semoga Oma baik-baik saja."


__ADS_2