
"Kau bahagia?" tanya Aldric sambil mengemudi membawa calon pengantin pria menuju sebuah masjid yang tidak jauh dari kediaman mereka.
"Entahlah," jawab Ken yang menatap jalanan lengang seolah tanpa hambatan menuju Masjid guna menunaikan ibadah sholat Jumat sebelum prosesi akad nikahnya berlangsung.
"Kenapa jawab seperti itu?"
"Entahlah, rasanya nano nano."
"Cih, jangan bercanda. Kau sudah latihan dengan lancar tidak?" sahut Alvaro yang duduk di bangku belakang bersama Faiz, entah kenapa empat saudara itu berada dalam satu mobil tanpa sengaja.
Padahal jarang sekali mereka berkumpul dalam satu mobil seperti sekarang, mereka mobil yang ke sekian rombongan mempelai pria yang hendak sholat Jumat hari itu.
"Apapun nanti, ada Aldric!" sahut Ken tanpa sadar.
Alvaro hanya terkekeh, ia tidak pula menanggapi percakapan itu, hingga ia dan Faiz sibuk dengan ponselnya.
Aldric menoleh Ken.
"Kenapa menatapku seperti itu?" tanya Ken terkekeh.
"Kau bilang apa tadi?" tanya Aldric lagi.
"Jika ada apa-apa, kau akan bertanggungjawab atas Aish untuk ku!" jawab Ken dengan ambigu.
"Ck, kenapa jadi aku?"
"Entahlah," jawab Ken sambil melihat ke luar jendela.
Aldric hanya menggeleng sambil tersenyum tipis.
Tiba di Masjid.
"Aku merasa gugup," ucap Ken tiba-tiba.
"Pernikahannya nanti Ken, kenapa gugupnya sekarang? Fokus sholat Jumat dulu!" cetus Alvaro yang mendengar Ken.
Ken terkekeh. Ia mendekati Faiz lalu membenarkan peci adik bungsunya itu.
"Dasar pria manja, kau sudah dewasa tapi memasang peci saja masih miring, dasar anak Bunda!" kata Ken seraya menatap Faiz dengan senyum mengejeknya.
"Aku tidak manja," sahut Faiz.
"Bagus."
Ken mengambil Saf di samping Aldric dan diapit oleh Alvaro, tepat di belakang Ariq ayahnya.
"Aku percaya padamu Aldric, kau akan bertanggungjawab atas Aish ku setelah ini. Aku merasa kau lebih pantas untuknya, kau pria baik yang tidak ada celah, hanya kurang bicara saja! Jaga dia untuk ku!"
Aldric menatap Ken dengan heran.
__ADS_1
"Kau ini bicara apa Ken?"
"Aku hanya bercanda, itu karena kau terlalu serius orangnya! Yang mau menikah itu aku, kenapa kau yang gugup? Dasar pria payah," kekeh Ken menepuk pundak Aldric dengan tawa renyahnya yang pelan.
Aldric hanya menggeleng dengan tingkah Ken yang tidak pernah serius jika sudah berdekatan seperti ini. Sejenak mereka saling memandang, Ken tersenyum lalu hening sampai ibadah itu dimulai.
Dan kematian itu tidak pernah salah. Ken terjatuh setelah sholat selesai, Ken berpulang di tempat terbaik umat muslim melaksanakan ibadah. Rumah Allah.
Ken diam seribu bahasa, mulutnya telah tertutup rapat disaksikan seluruh saudara dan ayahnya.
Aldric memejamkan mata sejenak karena mengingat kejadian beberapa jam lalu.
Aldric meneteskan lagi airmatanya. Ia menatap Aish yang lebih terluka dari siapapun hari ini.
Semua terasa cepat berlalu, betapapun Aish keras menangis semakin jauh pula Ken meninggalkannya ke alam yang berbeda.
Aish masih betah menangis di pusara lelaki yang ia cintai dan harapkan mereka menikah sesuai ekspektasi.
Semua keluarga telah pulang karena hari mulai rintik dan hujan mulai kasar, namun tidak Aish, ia masih belum ingin beranjak dari sana.
Kehilangan yang seperti apa lagi yang harus Aish hadapi, ayah ibunya telah meninggal waktu Aish masih kecil, lalu ditinggalkan pula oleh nenek tercinta karena sakit stroke, nenek yang telah merawat dan membesarkan Aish hingga dewasa dengan gelar dokternya.
Kehilangan pula cinta dan kepercayaannya dari Romi sang suami yang telah memberinya luka karena orang ketiga.
Aish menghadapi perceraian yang menyakitkan, lalu bangkit kala ia membuka hati untuk pria yang sudah dikuburkan itu.
Ken yang menatapnya penuh cinta, Ken yang selalu memberinya kata rayuan yang memabukkan hingga Aish tidak kuasa menolak perasaannya yang mulai mencintai Ken dan move on dari masa lalu.
Ken meninggalkannya dalam balutan busana pengantin yang menyesakkan dada. Aish terpekur menatap nanar sebuah pusara bertuliskan nama calon suaminya.
Bunga yang bertaburan, karangan bunga yang memenuhi pemakaman, menyadarkan Aish akan betapa pahit kisah cintanya. Jika ia dan Romi dipisahkan oleh orang ketiga namun sekarang ia dan Ken dipisahkan oleh maut.
Bahkan Aish merasa mati berkali-kali sekarang. Ia sungguh terluka atas takdir yang tidak memberinya kebahagiaan.
Aldric hanya diam, menunggu dan setia untuk cinta yang Ken berikan padanya. Keputusannya menikahi Aish karena ia yakin ucapan Ken waktu di Masjid itu bukanlah sebuah gurauan semata.
Aldric kian menyadari bahwa Ken ingin ia yang melindungi Aish setelah ini. Dengan menikahi Aish maka ia akan tunaikan permintaan Ken meski terkesan bercanda waktu itu untuk bertanggungjawab atas Aish sepenuhnya.
Tentu karena Ken terlalu mencintai Aish hingga takut Aish dimiliki oleh orang lain, dimiliki oleh orang yang salah, hingga keputusan menikahi Aish tiba-tiba Aldric lakukan tanpa berpikir panjang.
Kini, perempuan itu resmi miliknya, resmi menjadi istrinya yang akan ia jaga sepenuh hati seperti makna yang tersirat dari candaan Ken beberapa jam lalu sebelum berpulang.
Aldric tidak merasa dingin meski bajunya telah basah semua, ia setia menunggu Aish puas menumpahkan sedih dan tangisnya di makam Ken.
Pria itu merasa sudah cukup lama mereka berada di bawah hujan yang deras, ia takut jika Aish akan sakit nanti. Maka darinya ia menyentuh pundak Aish.
"Aish, ayo pulang. Kau bisa sakit nanti."
Aish menoleh dengan tatapan luka, tatapan mata sayu yang bengkak karena tangis.
__ADS_1
"Aku bahkan sudah sakit berkali-kali," jawab Aish lalu berpaling lagi ke makam Ken.
Aldric terdiam, ia kembali ke posisinya, ia kembali menunggu dengan setia.
Sampai pada hujan mulai mereda. Aish berdiri lalu berjalan meninggalkan pusara Ken dan Aldric yang masih berdiri mematung menatapnya.
Aish pergi tanpa menghiraukan Aldric di sana. Pria itu segera menyusul langkah lunglai Aish menuju mobil.
Dalam mobil.
Aish diam bersandar di bangkunya, menatap jalanan basah dengan perasaan hancur berkeping-keping.
Aldric sesekali menoleh hanya sekedar memastikan Aish baik-baik saja.
"Kenapa kau menikahiku?" tanya Aish tanpa menoleh.
"Karena aku ingin melindungi dan bertanggungjawab atasmu sepenuhnya!" jawab Aldric pelan.
Aish tersenyum miring.
"Melindungi aku dari apa? Huh, aku bukan anak kecil yang kau bisa permainkan Mas Aldric, jangan pula kau mempermainkan pernikahan sedang kita dalam keadaan duka yang mendalam, sungguh jahat kau menikahi perempuan yang kehilangan calon suaminya tanpa memberitahu lebih dulu."
"Maafkan aku," lirih Aldric.
Aish tidak menyangka hal ini terjadi padanya. Bisa-bisanya Aldric melakukan ijab qobul menggantikan Ken yang bahkan telah meninggal sebelum acara dimulai.
"Pernikahan yang akan membuat kita berdua semakin terluka, aku tidak mencintaimu Mas Aldric, aku mencintai Ken. Aku berniat menikah dengannya bukan dengan mu!"
"Keputusan yang gila dan tidak masuk akal, jika aku tidak berjodoh dengan Mas Ken, bukan berarti aku mau menikah dengan mu! Kau benar-benar gila, aku tidak suka seperti ini, aku tidak mau!" ucap Aish kembali menangis.
Aldric hanya diam, ia tidak akan membantah.
Mereka sampai rumah kembali. Tidak ada yang membahas pernikahan Aldric dan Aish. Semua anggota keluarga sibuk dengan kesedihan masing-masing, menata hati agar lebih kuat dan tabah menerima musibah ini.
Diratapi sedemikian rupa pun orang yang telah meninggal tidak akan kembali bernyawa, hanya berharap Tuhan segera mengganti hati menyedihkan ini dengan hati yang lebih lapang dan menerima dari setiap takdir yang telah ditentukan.
Pun Aish, meski ia merasa sangat sedih dan kehilangan namun tidak pula ia menjadi lupa diri dan menyangkal apa yang sudah Allah gariskan untuknya dan Ken yang memang tidak berjodoh di dunia ini meski mereka saling mencintai sekali pun.
Kini Aish dihadapkan dengan masalah baru, masalah pernikahannya yang mendadak digantikan oleh sosok Aldric.
Mereka telah resmi menikah itu masalahnya. Dan Aish sudah hampir seminggu tidak ingin bicara pada Aldric karena kecewa yang mendalam atas keputusan sepihak pria itu yang berani menikahinya menggantikan Ken.
Aish keluar kamar yang berbeda dari Aldric, mereka tidak sengaja bertemu.
"Aish," sapa Aldric canggung.
"Maaf aku duluan," sahut Aish segera turun dari lantai dua rumah mertuanya itu.
Aldric diam saja, ia sudah tidak heran Aish memang masih marah padanya, ia membiarkan Aish menumpahkan seluruh kekesalan perempuan itu padanya tanpa membantah.
__ADS_1
Ia sudah menyiapkan stok kesabaran yang luas sejak keputusan itu ia ambil demi Ken, demi Aishwa nya Ken yang tidak boleh dimiliki lelaki lain.