Purnama Merindu

Purnama Merindu
Hanya teman


__ADS_3

Aish tersenyum, ia menjatuhkan lagi kepalanya di lengan Aldric. Perasaan nyaman itu muncul lagi, Aish tidak peduli lagi tentang perasaannya, yang terpenting matanya mengantuk mau tidur di lengan sang suami.


Sampai mereka tiba di sebuah kota kecil, kota yang akan Aldric tinjau sebuah proyek pembangunan jalan tol di sana.


Aldric membawa Aish ke sebuah hotel tempat mereka menginap.


Aish tersenyum saat Aldric menghampirinya setelah dari meja resepsionis hotel.


Terdapat tim kantor Aldric juga disana, mereka terkejut ternyata bos mereka membawa serta istrinya.


"Pak Aldric," sapa salah satu karyawannya yang baru saja keluar berniat untuk jalan-jalan sore bersama tim sebelum memulai pekerjaan besok.


Aldric hanya tersenyum lalu berbasa basi sebentar, ia menolak halus saat ditawari untuk ikut bersama mereka. Aish melihat interaksi suaminya dg tim itu cukup berpikir bahwa Aldric tampak santai jika dengan anak buahnya.


"Apa mereka tidak takut padamu?" tanya Aish seraya ikut langkah Aldric menuju kamar.


"Kenapa mereka harus takut? Aku bukan hantu."


Aish terkekeh.


"Kau cukup humble sebagai seorang atasan, aku suka caramu berkomunikasi. Santai namun tegas."


Aldric melirik Aish lalu tersenyum saja.


"Huh, susah sekali mengajakmu bicara," rutuk Aish memajukan bibirnya ke depan.


"Ini kunci kamar mu, istirahatlah habis sholat ashar nanti ku ajak kau makan, kau pasti lapar."


Aish melihat kunci kamar yang diberikan Aldric. Ternyata Aldric tidak mau sekamar dengannya.


"Kenapa harus beda kamar?" tanya Aish.


Aldric bingung.


"Jadi aku harus apa? Kau tentu tidak mau tidur dengan ku kan?" tanya Aldric berbalik pada Aish.


Perempuan itu tersenyum.


"Kita satu kamar saja, selain hemat tentu kau bisa malu jika tim mu tahu kita pisah kamar."


Lama Aldric berpikir, benar juga apa kata Aish. Apa kata timnya nanti jika ketahuan mereka pisah kamar.


"Baiklah, kita satu kamar saja."


Mereka menginap di hotel biasa, karena kota kecil tentu tidak ada hotel mewah di sana.


Aish tersenyum, ia geleng kepala dengan Aldric yang benar-benar polos.


Aish mandi setelah Aldric, ia mandi dengan rasa senang, ia membayangkan akan betapa menyenangkan berjalan-jalan sore di tengah hamparan sawah tidak jauh dari penginapan mereka.


Ia tersenyum terus saat mengingat ekspresi Aldric saat ia menyatakan mau ikut kemari tadi, raut wajah suaminya yang malu-malu saat Aish mengatakan mereka cukup satu kamar saja.


"Dia benar-benar polos," gumam Aish terkekeh sendiri.

__ADS_1


"Mas Aldric! Mas Aldric!" teriak Aish dari kamar mandi.


Pria yang baru selesai sholat itu terkejut, ia segera menghampiri Aish ke kamar mandi.


"Aish kau kenapa?" tanya Aldric mengetuk pintu kamar mandi.


"Mas Aldric, tolong!"


"Aish kau kenapa? Ayo buka pintunya!" teriak Aldric lagi.


"Pintunya tidak di kunci, cepat tolong aku!"


Aldric memberanikan diri membuka kenop pintu lalu melihat ke dalam dengan hati-hati.


"Aish kau kenapa?" tanya Aldric terkejut melihat istrinya berdiri di atas closet duduk menggunakan handuk.


"Angkat aku keluar, aku geli disana ada cacing!" tunjuk Aish pada lantai.


Aldric melihat ke mana arah telunjuk Aish, ia terkekeh ternyata cacing yang Aish kira hanyalah sebuah karet gelang yang sudah putus.


"Ini hanya karet gelang Aish, bukan cacing!"


"Benarkah?" Aish melihat benda itu di tangan Aldric lalu pria itu membuangnya di tong sampah.


Namun tidak juga ia bergerak dari atas closet.


"Sudah ku buang, kau bisa turun!" kata Aldric setelah mencuci tangannya, lalu mengulurkan tangan untuk membantu Aish turun.


"Tidak mau!"


"Tetap saja aku masih geli."


"Lalu kau mau terus di situ?"


"Ayo angkat aku keluar, aku masih geli mau berpijak di lantai."


Aldric geleng-geleng kepala.


"Ayo kemari!"


Aldric langsung mengangkat tubuh wangi istrinya dari sana, Aish tersenyum melihat wajah malu Aldric saat bersentuhan dengannya dalam keadaan hanya memakai handuk.


Aldric yang menggemaskan.


"Maaf jika kau tidak nyaman, berpakaianlah aku akan menunggu di luar!" ucap Aldric saat melepaskan Aish dengan wajah merahnya.


Aish lagi-lagi tersenyum.


"Jangan-jangan dia tidak suka wanita," kekeh Aish saat melihat suaminya segera keluar kamar.


Aish tidak tahu mengapa ia terlalu berani di depan Aldric, ia pikir apa yang ia lakukan bukanlah hal berbuat dosa, biar bagaimanapun mereka suami istri yang sah, Aish tidak akan berdosa jika memperlihatkan auratnya di depan sang suami.


Ia tidak mau bersikap canggung, ia akan berpenampilan yang membuatnya nyaman jika di kamar seperti ia masih sendiri.

__ADS_1


Aish berpakaian dan berwudhu kemudian melaksanakan ibadah sholat ashar, lalu keluar mencari Aldric, ternyata pria itu sedang menelepon. Lama Aish menunggu suami yang tidak menyadari bahwa istrinya sedang menguping di belakang pria itu.


"Aish?" Aldric terkejut saat melihat ke samping ternyata Aish sudah berada di sana.


"Kenapa kau terkejut?"


"Karena kau muncul tiba-tiba."


"Kau menelepon siapa?"


"Oh ini, aku baru saja menghubungi rekan kerja ku di sini."


"Aku tidak percaya."


"Iya, aku tidak bohong."


"Aku mendengar kau memanggil dengan sebutan sayang tadi."


Aldric mengerutkan dahi.


"Tidak, aku tidak bilang begitu. Kau salah dengar Aish."


"Aku yakin, kau memanggilnya dengan sayang beberapa kali. Aku belum tuli Mas Aldric."


"Oh ya Allah Aish, tidak kau salah dengar. Aku tidak mengatakan apa yang kau sebutkan, aku menelepon temanku dia lelaki bukan perempuan apalagi pakai sayang sayang. Kau salah dengar," jelas Aldric serius.


Melihat raut Aldric, pecahlah tawa Aish.


"Suamiku ini benar-benar pria polos, aku hanya bercanda," kekeh perempuan itu dengan senyum yang lebar menampilkan giginya yang berderet rapi.


Aldric terdiam, demi apa Aish tertawa lepas di hadapannya saat ini.


"Aish."


"Mas Aldric, aku hanya bercanda. Kenapa kau tegang sekali? Ayo jangan stress oke, kau banyak pekerjaan di sini."


"Kau membuatku bingung," balas Aldric bernapas panjang.


"Aku lapar, kita makan?" cetus Aish setelah puas tertawa mengerjai suaminya.


Aldric mengangguk. Mereka berjalan bersama menuju restoran hotel.


Restoran hotel yang menghadap hamparan sawah hijau yang subur. Udara segar dengan pemandangan yang memanjakan mata.


Aish dan Aldric duduk berhadapan. Namun ketika makanan mereka datang, Aish beralih duduk di samping suaminya.


Membuat Aldric kian malu.


"Apa kau grogi?"


"Tentu saja," jawab Aldric cepat.


"Bukankah kita adalah teman, aku mohon kau tidak boleh canggung lagi Mas Aldric. Kau harus terbiasa mulai sekarang."

__ADS_1


"Iya, kita hanya teman," ulang Aldric menahan kecewa.


__ADS_2