
Aish berdiri di balkon kamar mereka. Menatap indahnya malam yang mulai semakin malam.
Ia melirik ke dalam, tampak Aldric sibuk dengan laptopnya. Aish tersenyum, entah mengapa ia menjadi suka wajah serius Aldric akhir-akhir ini, wajah lelah yang berpikir keras soal pekerjaan.
Aish masuk lalu menutup pintu menuju balkon. Aldric menoleh lalu tersenyum.
"Jika mengantuk tidurlah dulu."
Aish menggeleng, ia telah pula duduk di samping Aldric saat ini bahkan sangat dekat. Membuat pria itu semakin gugup.
"Kenapa?"
"Kau membuatku tidak bisa berkonsentrasi," jawab Aldric.
Aish tertawa pelan.
"Apa pekerjaan mu masih lama?"
"Sebentar lagi selesai."
"Aku akan menunggu mu."
Aldric menoleh istrinya yang tersenyum menatapnya yang kian salah tingkah.
"Aish, sebaiknya kau tidur lebih dulu."
"Aku akan menunggu mu."
Aldric menarik napas dalam-dalam. Ia menutup laptopnya.
"Baiklah, silahkan kau tidur. Aku sudah selesai, ini sudah larut, kau butuh istirahat."
"Yang butuh istirahat itu kau Mas Aldric, aku kemari untuk jalan-jalan, sedang kau harus memikirkan pekerjaan, tentu kau yang lebih lelah dariku."
Aldric tersenyum.
"Baiklah, aku juga akan tidur. Kau tidur di ranjang, aku akan tidur di sini saja."
Aldric meletakkan laptop ke atas meja. Lalu ia beranjak mengambil bantal dan selimut kemudian kembali ke sofa yang mana istrinya masih melihatnya dengan geleng kepala.
"Ayo, kembali lah ke ranjang. Aku akan tidur di sini." ulang Aldric seolah menyuruh Aish untuk beranjak dari sofa.
"Tidak mau."
"Aish."
"Jika kau tidur di sofa, aku juga akan tidur di sini."
"Apa? Aish jangan bercanda, ini sudah larut."
"Aku tidak sedang bercanda!"
"Aish." lirih Aldric sambil menaruh bantal dan selimutnya di samping Aish.
"Kenapa tidak tidur di ranjang saja?" tanya Aish.
"Tentu kau tidak mau seranjang dengan ku, ingat?"
__ADS_1
Aish tersenyum.
"Itu dulu, saat aku masih marah padamu."
Aldric menatap Aish dengan rasa tidak percaya.
"Ayo, tidur di ranjang lebih baik. Kau lelah, harus tidur di tempat yang empuk dan nyaman, biar istirahat mu berkualitas dan bangunnya kau menjadi segar serta siap untuk pekerjaan yang berat besok."
Aish mengambil selimut dan bantal dari Aldric lalu membawanya ke ranjang. Aldric mengikuti istrinya itu hingga ke ranjang dengan wajah menatap Aish penuh arti.
"Aish, aku hanya tidak mau kau tidak nyaman karena ini, biarlah seperti biasa saja, aku di sofa dan kau di ranjang."
Aish menarik tangan Aldric.
"Kita bisa tidur di ranjang yang sama mulai sekarang, ranjang ini juga milikmu. Meski aku belum siap, tapi tidak pula aku akan membiarkan mu tidur di sofa selamanya."
"Aish apa maksudmu?"
"Iya, kau boleh tidur di ranjang yang sama denganku, kita batasi pakai guling. Ayo tidur."
Aish menata ranjang dengan baik, lalu menepuk bantal agar Aldric berbaring di sana.
"Ayo!"
Bagai tersihir, Aldric hanya menurut saja. Aish terkekeh melihat pria itu kian malu, entah mengapa Aish suka sekali mengerjai Aldric seperti itu.
Aish pun berbaring, ia menghadap Aldric dengan senyum cantiknya, rambutnya yang semula dicepol kini ia gerai agar tidurnya menjadi nyaman.
Aldric terpana, begini kah wajah Aish saat di ranjang? Selama ini Aldric tidak berani mendekati ranjang Aish, lalu kini ia harus pula tidur dengan gadis itu. Membuat jiwa kelelakiannya muncul ke permukaan.
"Selamat tidur Mas Aldric," ucap Aish dengan senyum terbaiknya.
Dia lelaki normal, dihadapkan dengan perempuan cantik yang menggoda iman, istri sahnya pula. Lalu apa yang ia harus lakukan sekarang.
Ah, Aldric mulai berpikir kemana-mana, ada hasrat yang muncul, namun lagi-lagi ia tahan karena tidak akan menyakiti Aish hanya karena nafsu sesaat.
Pria itu menggeleng berulang kali, namun berulang kali pula ia menatap dan menginginkan Aish jika seperti itu.
"Kau memandangku?" tanya Aish tiba-tiba terbuka matanya.
Aldric terkejut.
"Aish, kau belum tidur."
"Bagaimana aku bisa tidur sedang suamiku saja gelisah seperti itu."
"Aish maafkan aku, aku akan tidur di sofa saja!"
Aish menahan tangan Aldric.
"Tidak boleh."
"Aish, kau salah sudah mengajakku seranjang seperti ini, aku ini lelaki normal kau tahu itu!"
"Aku ingin melihat kenormalan mu!" tantang Aish.
"Apa?" Aldric bersemu merah, demi apa ia sungguh malu sekarang.
__ADS_1
"Apa kau tegang sekarang?" tanya Aish dengan nada bercanda, ia terkekeh melihat wajah suaminya yang malu-malu.
"Aish aku tidak bercanda."
"Ayo tidur, besok kau banyak kegiatan tentu harus beristirahat," Aish menarik suaminya lagi lalu mendorong Aldric agar kembali berbaring.
Bahkan Aish memeluknya layak guling.
"Aish jangan seperti ini, ya Allah aku bisa gila!" ucap Aldric menghindar.
Aish tersenyum saja. Lama mereka berdebat soal tidur di ranjang, yang pada akhirnya mereka duduk di balkon.
Aish menjatuhkan kepalanya di pundak Aldric, ia menggenggam tangan suaminya yang dingin. Aldric hanya bisa diam, diam dengan perasaannya yang kian membuncah.
Pun Aish, ia hanya diam, diam dalam rasa nyaman yang tercipta di bahu suaminya. Aish menikmati setiap proses pendekatannya dengan Aldric.
Pria itu memang pemalu, namun Aish tidak. Ia mulai mencintai Aldric, Aish tidak menyangkalnya lagi, ia suka mengerjai pria itu hingga Aldric tidak berdaya melawannya.
Seperti perdebatan ini, Aldric mengalah lalu berakhir menemani Aish duduk di balkon menatap malam yang kian tenggelam dalam larut.
Pasangan suami istri itu hanya diam seribu bahasa, hanya berkelana dengan perasaan masing-masing. Aish dengan perasaan yang mulai menerima takdirnya berjodoh dengan Aldric.
Sedang Aldric dengan perasaan bingungnya, bingung cara menghadapi Aish yang semakin berani namun ia yang pengecut, pengecut tidak berani bilang suka, tidak berani bilang mencintai Aish bahkan sejak awal mereka menikah.
Aldric tidak siap untuk penolakan yang kesekian kalinya ia dengar, Aish tidak menyukainya, Aish masih mencintai Ken bukan dirinya.
Pria itu menoleh pada Aish yang sedang memandangi wajahnya.
"Kenapa menatapku seperti itu?"
"Aku suka, memangnya tidak boleh?"
"Jangan membuat ku salah tingkah Aish."
"Aku suka jika kau salah tingkah."
"Aish, jangan membuatku malu."
"Aku bahkan suka wajahmu yang malu-malu."
"Aish, jangan seperti ini. Kau membuatku bingung."
"Bingung kenapa?"
"Aku bahkan bingung ingin menjelaskan nya," Jawab Aldric berpaling ke lain arah.
Aish tersenyum lagi.
"Aish, jangan seperti ini."
"Suara mu membuatku candu Mas Aldric. Aku suka itu!"
Aish semakin mengeratkan genggaman tangannya, memeluk lengan Aldric dengan perasaan dalam.
"Jangan lupa, kau bilang kita hanya teman Aish."
"Iya, teman."
__ADS_1
"Teman hidup, maksud ku," lanjut Aish dalam hati.