
Dewi masuk ke kamar Nayla mengantarkan makanan cemilan yang ia buat sendiri di rumah, ketika masih di kontrakan Nayla suka jika ia membagikan makanan kecil itu, mereka sering memakannya bersama.
Dewi mengetuk pintu, ia dipersilahkan masuk oleh Nayla. Sejak menikah hanya Dewi yang menjadi temannya di rumah ini. Kebetulan Nayla belum ke restoran hingga mereka masih sempat bertemu.
"Nay ....."
Nayla menoleh.
"Kau baik-baik saja?"
Sejatinya Nayla hanya seorang perempuan biasa, jika sedang bersedih seperti ini ia butuh seorang teman. Nayla memeluk Dewi lalu menangis tersedu.
Nayla tidak bicara namun hanya mencurahkan airmata yang sejak tadi ia tahan.
"Nayla...... Kau kenapa?"
Nayla menggeleng pelan, ia masih memeluk Dewi dengan erat. Ia sudah menganggap Dewi seperti saudaranya sendiri. Ia tidak malu terlihat cengeng di depan istri dari bang Jhon tersebut.
"Nay, ayo kita duduk dulu. Kau boleh bercerita jika merasa perlu untuk diceritakan."
Nayla menurut saja, mereka duduk di sofa sudut kamar, Nayla masih diam dan tidak bicara. Hanya sebuah tangis yang menandakan memanglah ia sedang bersedih saat ini.
"Nayla, jangan seperti ini."
Dewi menegur lagi dengan mengusap punggung gadis itu.
Menarik napas dalam ia mencoba mengumpulkan tenaga dan hatinya untuk bersuara.
"Sepertinya mas Ariq belum benar-benar menerimaku sebagai istri yang sesungguhnya," ucap Nayla mulai bersuara.
Dewi tertegun sejenak, "Maksudmu?"
"Kau tahu maksudku kak Dewi, aku dan mas Ariq tidak seperti yang terlihat di luar, kami tidak seperti pasangan menikah lainnya. Aku tak ubahnya Annisa dan Vano."
Diam Dewi terdiam, karena Nayla menyebutkan nama putri majikannya dan Vano barulah ia mulai menangkap maksud dari kata-kata Nayla itu.
"Nay, jangan bercanda!"
"Aku tidak sedang bergurau, mas Ariq tidak seperti yang aku bayangkan ketika belum menikah, dia berbeda. Aku rasa dia banyak rahasia di belakang ku. Entahlah, aku mulai lelah kak Dewi."
Nayla menunduk dengan raut sedih.
"Nay, mungkin ini hanya perasaanmu saja, mas Ariq mencintaimu semua tahu itu."
"Tidak melulu urusan cinta jika sudah menikah kak Dewi, ini menyangkut hal yang lebih sensitif bagi setiap wanita. Aku benar-benar menyedihkan."
"Cinta itu seolah tidak bermakna sekarang, aku rasanya ingin menyerah saja. Aku tidak tahu apa aku sanggup seperti Annisa yang menunggu hingga satu tahun baru bisa dianggap sebagai istri? Aku bukan Annisa, aku tidak pula sesanggup itu, aku wanita biasa, aku lemah, ada kala aku merasa jenuh, aku lelah, aku ingin pulang saja."
Nayla menangis lagi.
"Nay, sadarkah apa yang kau bicarakan ini. Pernikahan mu baru dua minggu Nayla."
"Entahlah."
"Nayla, sebaiknya kau bicara dengan suamimu dari hati ke hati. Bicarakan semua apa yang kau rasakan ini, bicarakan hal menyangkut kalian berdua dalam hati dan keadaan yang baik, jangan seperti ini Nayla.... Aku yakin kau hanya sedang berburuk sangka saja. Terkadang apa yang kita pikirkan belum tentu itu kenyataan," sanggah Dewi lagi.
"Iya, aku akan bicara bahkan sudah sejak kemarin-kemarin ingin bicara namun mas Ariq tidak pernah bisa punya waktu untukku sekarang, dia sibuk entah kemana, aku tidak tahu sampai kapan aku bisa memendam ini sendirian."
"Aku sadar sekarang, dalam posisi seperti ini tidaklah mudah, apa yang Annisa rasakan selama ini begitu menyakitkan, tapi dia bertahan, dia mampu melewati banyak hal yang menyakitkan dari pernikahan mereka, sedang aku tidak, ini baru dua minggu tidak ada apa-apanya jika dibanding penantian Annisa selama ini, rupanya Annisa jauh lebih baik dariku, hingga pantaslah dia mendapatkan pria sebaik Vano."
Dewi terdiam sejenak.
"Iya, aku bisa melihatnya mereka sudah jauh lebih baik dari sebelum ini. Aku melihat mereka sudah saling menerima Nay, mas Vano selalu menemani nona Annisa jika kemari, mereka tampak mulai mesra sekarang."
"Mereka ada di bawah sekarang, nona Annisa dan mas Vano sedang bicara pada Oma dan nyonya Arina."
Nayla mengangguk.
"Dan aku belum tentu bisa seperti Annisa, aku merasa dua minggu seperti menanti dua tahun untuk bicara pada suamiku sendiri, semua tidak sama seperti dalam bayangan, menikah dengan orang yang kita cintai tidak melulu menjanjikan kebahagiaan seperti yang diharapkan."
__ADS_1
Dewi terdiam.
"Aku harap ini semua hanya perasaanmu saja Nayla, sungguh aku dapat melihat betapa mas Ariq mencintaimu. Aku rasa ini hanya masalah waktu saja yang belum memihak, seharusnya kau berpikir positif, mana tahu mas Ariq sibuk sekarang karena sedang menyiapkan cuti lagi untuk berbulan madu, kita mana tahu Nay....."
"Entahlah, aku bahkan meragukan diriku sendiri sekarang, entah aku sanggup atau tidak bisa tetap diam dan menerima semua perlakuan mas Ariq, tidak ada cinta yang seperti ini," balas Nayla lagi.
"Dan dia tidak menyentuhku hingga dua minggu pernikahan, apa ini yang disebut cinta? Aku rasa bukan," gumam Nayla dalam hati.
Setelah bertemu Dewi, Nayla merasa sedikit beban dadanya berkurang, mungkin ia hanya butuh teman saja agar menjadi lebih baik.
Ia dan Dewi memutuskan untuk turun, ia bertemu Vano.
"Hai," sapa Vano. Pria itu tampak canggung.
"Hai Vano, aku senang kau kemari."
Vano mengangguk saja, "Aku hanya menemani istriku."
Nayla tersenyum dibuat kata istri yang keluar dari mulut mantan kekasihnya itu.
"Aku salah bicara?"
"Tidak, aku hanya bahagia mendengar bahwa kalian baik-baik saja sekarang, sayang sekali kau menyadarinya sudah sangat terlambat. Ini bahkan terlalu lama," sahut Nayla terkekeh.
"Lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali bukan?" kata Vano ikut tertawa juga.
"Aku turut bahagia Vano."
"Kau pun harus bahagia Nayla," balas Vano menatap Nayla dengan perasaan dalam, ia mengatakan itu dari hati, ia benar-benar tulus ingin perempuan yang pernah ia sakiti itu bahagia juga seperti dirinya dan Annisa sekarang yang sudah membuka lembaran baru meski pernikahan mereka sudah lama.
Nayla terdiam sejenak, lalu ia mengangguk.
"Sayang," panggil Annisa yang muncul dari belakang Vano.
"Oh, Nayla." sapa perempuan itu lagi.
"Hai Nisa, aku hanya bertegur sapa dengan Vano. Jangan curiga dulu."
"Kalian ingin pulang?"
"Iya, kami hanya mampir sebentar, kami akan kembali ke kantor. Kau ingin pergi?"
Annisa melihat Nayla sudah menyandangkan tas seperti ingin pergi.
"Iya, aku akan ke restoran ayahku."
"Kau masih membantu di sana?" tanya Vano.
Nayla mengangguk, "Iya, aku tidak punya kegiatan lain, aku senang bisa menghabiskan waktu dengan melayani pelanggan di restoran, daripada manyun di rumah itu membosankan."
"Kenapa kau tidak kuliah lagi saja? Setelah lulus kau bisa bekerja di kantor mas Ariq bukan? Kau tidak akan bosan Nayla jika sudah masuk ke dunia pekerjaan dan banyak bertemu rekan serta memperluas pengalaman," kata Annisa.
Nayla menggeleng pelan, "Sepertinya aku tidak ditakdirkan untuk bersekolah tinggi, cukup melihat kalian bekerja saja aku sudah senang. Biarlah aku berkarir di restoran ayahku saja," sahut Nayla tersenyum lagi.
"Baiklah, itu pilihan mu..... Semua wanita hebat di dunia ini, baik sekolah maupun tidak," imbuh Vano tidak ingin Nayla tersinggung nantinya.
"Aku setuju," balas Annisa menatap suaminya dengan manja.
"Senang bertemu kau Nayla."
"Iya, aku harap kalian sering kemari."
"Kau ke restoran diantar atau?"
"Aku akan naik taksi saja, bang Jhon sedang ada pekerjaan lain, mas Anto juga akan mengantar Oma dan bibi ke rumah teman lama Oma."
"Ikutlah dengan kami, biar ku antar kau ke restoran," tawar Vano.
Nayla melihat Annisa.
__ADS_1
"Ayolah, aku tidak akan marah Nayla..... Ayo!" ajak Annisa menggandeng tangan Nayla.
Selama perjalanan Nayla merasa ikut bahagia melihat Vano memperlakukan istrinya layak istri yang dicintai, Annisa dan Vano benar-benar sudah saling membuka diri dan menerima.
Dalam hati Nayla tersenyum getir, mengingat ia dan Ariq tidak seperti pasangan di depannya ini. Seolah kata cinta dan kemesraan selama ini Ariq berikan itu tidaklah berarti apa-apa jika sampai dua minggu seperti sekarang pria itu tidak menjadikannya istri dalam arti sesungguhnya.
Waktu terus bergulir, Ariq sibuk entah apa yang dikerjakannya. Sedang Nayla kembali pulang dari restoran hampir malam, ia masuk ke kamar menatap sepi di seluruh penjuru ruangan.
Setelah makan malam, Nayla kembali ke kamar tanpa banyak bicara menunggu suaminya pulang.
Pukul 10 malam, benar saja Ariq baru pulang.
Nayla yang belum bisa tidur hanya memandang ke luar jendela, memandang bulan purnama yang bersinar terang ditemani banyak bintang yang bertabur sejauh mata memandang.
Malam ke 13 bulan Maret.
Tepat tiga belas hari pernikahan mereka. Sebuah perasaan menjalar betapa menyedihkannya Nayla jika harus melewati purnama-purnama berikutnya dalam kesabaran menanti Ariq siap menerima segala kekurangannya, noda hidup yang tidak pernah bisa ia hapus.
Jika memang sebuah keperawanan yang menjadikan Ariq tidak siap menyentuhnya hingga sekarang, lalu ia bisa apa.
Ariq memeluknya dari belakang.
"Sayang, kau belum tidur?"
Pria itu mencium pipi hingga leher Nayla dengan mesra.
Nayla masih diam.
"Apa kau menungguku? Maaf, aku janji ini malam terakhir aku pulang malam. Semua pekerjaan ku sudah rampung."
Nayla menarik napas, lalu ia berbalik badan dan menatap Ariq dengan perasaan yang dalam.
"Aku ingin bertanya sesuatu padamu?"
"Apa itu?" Ariq mulai heran melihat raut istrinya yang murung.
"Coba kau selami lagi hatimu, dimanakah letak aku sebenarnya? Aku ada di sana atau hanya sebuah penggugah selera? Atau hanya sebuah pelampiasan saja dari kisah lalu yang tidak membuatmu bahagia."
"Ini malam ke 13 pernikahan kita, kau bahkan belum menyentuhku sebagai istri yang sesungguhnya. Beritahu aku sampai kapan aku harus menyiapkan hati untuk menunggu? "
Nayla mulai menjatuhkan airmata yang ia tahan sejak tadi namun tumpah juga.
"Kau sangat tahu aku memanglah sudah ternoda, aku tidak akan bisa memberikan apa yang diharapkan setiap lelaki dimalam pertama pernikahan."
"Jika memang keperawanan yang membuatmu tidak siap menyentuhku, kau boleh cari gadis perawan, nikahi dia yang bisa memberikan sesuatu yang sangat berharga dari setiap perempuan, aku tidak akan pernah bisa seperti itu, dengan itu setidaknya aku tidak menduga-duga lagi atas sikapmu padaku setelah menikah."
"Percayalah mas Ariq, aku akan ikhlas jika memang hal itu bisa membuatmu menoleh padaku, menjadikan aku istri yang sebenarnya, bukan hanya sebagai teman tidur. Lalu jika kau tidak siap dengan semua tadi, kau boleh pilih salah satu, menerima gadis yang sudah tidak gadis ini atau menikahi gadis lain dan melepaskan ku biar tidak ada yang tersakiti."
"Aku menunggumu hingga tiga belas malam, kau lihat purnama yang mulai mengembang itu? Dia seakan menertawakan ku sekarang."
"Tidakkah aku seperti purnama yang sedang merindu?"
Ariq terdiam, pria itu menatap Nayla tidak berkedip.
"Nayla kenapa kau bicara seperti ini?"
"Mandilah, aku senang kau sudah pulang. Bukankah tadi pagi kau menyuruhku tidur lebih dulu? Aku akan tidur sekarang!" ucap Nayla dengan raut dingin.
Nayla melepaskan Ariq, lalu ia naik ke ranjang. Menarik selimut lalu mematikan lampu hingga hanya sebuah cahaya temaram sebagai lampu tidurnya.
Ariq tersenyum sambil geleng kepala, ia menutup dan mengunci jendela lalu berjalan ke kamar mandi.
Nayla mengelap sisa airmatanya, lalu mulai memejamkan mata tanpa peduli Ariq yang sedang berada di kamar mandi.
Selang beberapa belas menit kemudian, Nayla merasa tubuhnya dipeluk dari belakang, seperti biasa Ariq tetap memeluknya dengan erat.
Nayla tidak bergerak sedikitpun, ia diam saja. Pun Ariq, pria itu memeluk Nayla dalam kebisuan malam yang semakin malam.
Airmata itu jatuh lagi.
__ADS_1
*****