
Mentari hangat menyentuh kulit, Nayla membuka jendela kamar. Sinar matahari masuk dicelah gorden, sedikit menyilaukan matanya yang tampak sembab.
Ia baru saja selesai membuat sarapan anak-anaknya yang hendak sekolah. Tampak Arinda dan adik-adiknya sarapan dengan tenang, meski penasaran namun si sulung Arinda tidak berani bertanya pada bundanya itu tentang mata yang sembab milik Nayla.
Rutinitas seperti biasa, setelah mengantar tiga beradik itu sekolah nanti, Nayla hendak pula segera ke restoran, hari ini akan dibuka seperti biasa dimana ayahnya telah ke sana terlebih dahulu.
Nayla melamun sambil menunggu Zandi memasang sepatu. Zaza sibuk memainkan tangan sang bibi.
"Nayla," panggil Dewi yang muncul dari rumahnya.
"Oh kak Dewi, apa kau mau berangkat bekerja?" tanya Nayla berbasa basi.
"Iya, aku akan pergi bekerja. Nay...."
"Iya?"
"Aku mengerti perasaanmu, di rumah Oma juga sudah tahu tentang mas Ariq yang...."
Dewi berhenti saat merasa kurang enak membicarakan hal ini.
"Dijodohkan dan sudah bertemu semalam?" sahut Nayla dengan wajah datar.
"Kau tahu?"
Nayla mengangguk, "Kau tahu siapa gadis itu kak Dewi?"
Dewi mendekat, ia penasaran jika dilihat dari raut Nayla, gadis itu tampak serius saat ini.
"Gadis itu adalah Rahayu, saudari tiriku sekarang. Putrinya ibu Rena istri ayahku."
"Apa?" Dewi hampir menjatuhkan rahang oleh kata-kata Nayla tadi.
"Nayla jangan bercanda?"
Nayla menggeleng, "Iya, mas Ariq akan menikah dengan Rahayu, saudariku, gadis itu beruntung sekali. Semua yang melekat padanya adalah kebaikan, hingga takdir semanis ini pun jatuh padanya juga. Sempurna sekali."
Nayla bicara begitu saja, matanya memandang ke arah lain, ia mengerjapkan matanya seolah menolak butiran bening yang ingin sekali keluar dari muara indah matanya yang sembab.
Ia mengingat tentang semalam, kejadian di toilet yang membuatnya takut. Ariq menciumnya dengan paksa, lalu meninggalkannya pula di sana seorang diri. Hingga semua orang mencari mereka dalam keheranan.
Mengingat pula bahwa sekarang mereka telah benar-benar berakhir.
"Maksudmu gadis yang pernah kemari itu?"
Nayla mengangguk lagi.
"Oh ya Allah, Nayla......."
Dewi memeluk gadis itu dengan penuh kasih.
"Aku memang tidak tahu apa yang terjadi Nayla, tapi kau harus bersabar atas semua ini. Mungkin memang belum berjodoh, kuatlah demi anak-anak, kau jatuh bukan sekali ini saja, bahkan sudah mati rasa dengan yang namanya kecewa, sakit atau marah. Sekarang anggap saja ini hal biasa, agar hatimu ikut menjadi biasa. Aku sayang padamu, jangan karena putus cinta lagi kau akan terpuruk lagi."
Nayla menggeleng.
"Aku tidak akan gila hanya karena ini kak Dewi, jangan berlebihan," kekeh Nayla.
"Aku senang mendengarnya. Perbanyak teman, perbanyak pengalaman. Berani ambil resiko maka kau akan terus menaklukkan dunia. Dunia percintaan maksudku," canda Dewi.
__ADS_1
Nayla terkekeh lagi, "Memangnya resiko apa yang harus ku ambil?"
"Resiko.... Hmmm seperti mencintai pria lain lagi, berani mencintai pria kaya lagi misalnya..... Bukankah mencintai orang kaya penuh resiko? Benar tidak?"
"Iya, kau benar juga. Sepertinya aku harus mencari orang kaya lainnya setelah ini," sahut Nayla tertawa pelan.
"Nayla, aku hampir lupa. Kemarin Oma mencarimu."
"Benarkah? Apa Oma kambuh lagi?"
Dewi menggeleng.
"Tidak, dia jarang kambuh sejak orangtua mas Ariq kemari. Jika kambuh bukankah Humairah yang asli sudah berada di sana. Oma mencarimu karena tidak tahu bahwa kau sudah tidak bekerja lagi. Oma bilang dia merindukanmu."
Nayla menghangat saat mendengar hal itu. Ia membayangkan wajah teduh ibunda dari Ariq semalam, pertemuan pertama yang sangat mengesankan. Orangtua Ariq tampak menerima dengan tangan terbuka meski tahu ia hanyalah putri sambung ibu Rena, mereka menghormati semua yang hadir di acara dinner tadi malam.
Wajar saja jika Oma Rika takut sekali kehilangan menantu terbaiknya itu, perempuan yang telah melahirkan Ariq ke dunia. Cantik parasnya, baik sikapnya lagi ramah.
"Aku pun merindukannya kak Dewi, sayang sekali aku tidak bisa lagi menjenguk Oma."
"Oma belum tahu apa-apa tentang kau dan mas Ariq, nyonya Arina melarang siapapun memberitahu Oma soal kalian, mungkin nyonya jutek itu takut jika Oma akan membelamu, aku yakin."
"Jangan berburuk sangka, mungkin karena Oma belum sehat betul hingga nyonya Arina tidak ingin membuat Oma kepikiran masalah ini."
"Yap, kau benar juga," cengir Dewi.
Mereka berhenti bicara saat Arinda dan Zandi mengingatkan bahwa jam sudah menunjukkan mereka harus segera berangkat sekolah.
Nayla dan Dewi berpisah arah, Nayla ke sekolah anak-anaknya dan Dewi pergi bekerja seperti biasa.
Sampai pada saat mengantar Denia, tidak sengaja pula Nayla bertemu Angga di sana yang kebetulan mengantarkan Gita teman sekelas Denia.
Sapa pria itu tersenyum.
"Hai juga mas Angga, wah kita bertemu lagi."
"Iya Nay..... Aku kebetulan mengantarkan Gita hari ini, dia menginap di rumahku."
Nayla mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Baiklah mas Angga, karena anak-anak sudah masuk aku pamit pergi lebih dulu. Aku harus ke restoran karena ayahku sudah menunggu di sana."
Nayla menggendong Zaza lagi, ia pamit namun Angga mencegahnya.
"Nay..... Bukankah restoran mu di dekat kampus? Kita satu arah Nay, jika tidak keberatan ikutlah denganku. Atau kau kemari bersama seseorang?"
"Tidak mas Angga, aku kemari berjalan kaki, tempat tinggal kami tidak jauh dari sini."
"Kebetulan sekali Nay, ayo ikutlah denganku kita satu arah. Aku juga belum sempat mampir ke restoran ayahmu kemarin, bagaimana jika pagi ini aku mampir?"
Nayla berpikir sejenak. Bukankah ini tumpangan gratis pikirnya, ia bisa berhemat jika uang ongkos tidak jadi ia keluarkan.
"Apa tidak merepotkan?"
"Tentu saja tidak, aku senang bisa memberimu tumpangan."
Nayla tersenyum lalu menerima ajakan Angga tanpa berpikir lama lagi.
__ADS_1
Tanpa Nayla sadari, Ariq mengetatkan rahangnya melihat Nayla bertemu bahkan menerima tawaran Angga untuk pergi bersama dari sekolah Denia.
Ariq, bahwasanya pria mengikuti Nayla dari kejauhan bahkan sejak Nayla berjalan kaki. Entah kenapa ia melakukan hal itu, yang pasti ia belum benar-benar menerima akan akhir hubungannya dengan gadis itu semalam.
Rasa penasaran, rasa cemburu buta yang menguasainya hingga ke pagi ini membuat Ariq tidak bisa melepaskan Nayla begitu saja, setidaknya dengan mengikuti gadis itu dari kejauhan saja.
Di dalam mobil.
"Aku senang kau akan menikah," kata Angga membuka percakapan.
"Menikah? Siapa yang bilang aku akan menikah?" tanya Nayla heran.
"Bukankah kemarin itu calon suamimu, itu artinya kau akan menikah, iya tidak?"
Nayla tampak menghela napas panjang.
"Tidak jadi," jawab Nayla singkat.
Angga terdiam.
"Maaf jika aku membuatmu tersinggung."
Nayla menggeleng, "Bukan masalah besar, namanya juga baru rencana tapi Tuhanlah yang tentukan."
Angga mengangguk-anggukkan kepala, "Sama seperti ku Nay...." ucap Angga murung.
"Apa maksudmu?"
"Pernikahan ku tidak seperti yang ada pada bayangan," sambung Angga, ia tampak menarik napas berat.
Nayla masih diam dan menunggu.
"Kami berada diambang perceraian."
"Apa?"
"Iya, istriku ingin berpisah dan memilih lelaki lain, dia tidak suka pekerjaanku yang hanya sebagai dosen dan guru ngaji, dia suka pria kaya. Dia wanita karir yang sukses."
"Mas Angga, aku turut sedih mendengarnya."
"Aku juga bingung. Nasibku tidak semanis dunia."
Nayla diam.
"Kenapa kau bisa menikah dengan istrimu jika tahu sejak awal dia suka pria kaya?"
"Tidak itu tidak terlihat di awal, kami dikenalkan oleh teman. Karena aku tidak ingin berpacaran lama hingga aku melamarnya segera. Namun sayang sekali, sifatnya terlihat setelah menikah."
Nayla merasa berat hatinya saat mendengar kenyataan Angga.
"Mungkin karena kalian belum mengenal lebih jauh, perkenalan singkat membuat kita terkadang terkecoh. Ini hanya pendapatku."
"Iya kau benar, pentingnya saling mengenal sebelum menikah. Ada baiknya Allah belum memberi kami keturunan, jika tidak anak pasti akan selalu menjadi korban."
"Iya, aku sangat sedih mendengar cerita mu."
"Hei sepertinya kita senasib, belum beruntung mendapatkan pasangan yang baik."
__ADS_1
Angga terkekeh, ia melirik Nayla dari samping. Gadis pertama yang ia sukai, masih sama bahkan lebih cantik saat dewasa. Siapa yang tidak bergetar berada di dekat seorang Nayla. Nayla Purnama, seindah bulan purnama.