Purnama Merindu

Purnama Merindu
Kotak kenangan


__ADS_3

Di kamar.


Nayla hanya diam seribu bahasa, ia duduk di pinggir ranjang menunggu Ariq menyusulnya. Pria itu sedang bicara dengan papa dan dua saudara lelakinya, entah sedang membahas apa.


Matanya berpendar, ini adalah kamar Ariq sewaktu bujangan, namun disulap seperti kamar pengantin oleh mama Humairah, terdapat kelopak mawar juga di atas ranjang yang ia duduki sekarang, kamar yang dulunya bernuansa maskulin kini berubah lebih lembut dengan warna pastel yang dihiasi beberapa pot bunga berisi bunga Lily. Wangi.


Sesekali Nayla mengembangkan senyum saat menatap bunga lily yang selalu saja membuat moodnya membaik, ia beranjak dari sana menuju jendela. Menatap alam luar yang luas sejauh mata memandang, pemandangan rumah-rumah warga yang berada di luar tembok besar rumah oma Rika.


Kawasan yang elit dihuni para orang-orang kaya saja, tampak ada taman tidak jauh dari sana. Lalu matanya melihat ke bawah, tampak kolam renang yang jernih dan besar, sepi tidak ada yang berenang hanya tampak satu orang pelayan yang membersihkan rumput di sekitar kolam renang.


Lamunannya buyar saat mendengar suara pintu terbuka dan derap langkah masuk dari arah luar, Nayla menoleh senyumnya terkembang saat Ariq berjalan mendekatinya.


"Kau bosan?" tanya Ariq saat meraih tubuh Nayla masuk dalam dekapannya.


"Sedikit, berada dalam kamar seorang diri seakan waktu terasa ingin berhenti, jam terasa begitu lama berputar. Aku terbiasa menghabiskan hari dengan sibuk mengantar anak-anak sekolah dan menjemput mereka pulang, lalu membantu ayah di restoran, hari begitu cepat berlalu, tapi sekarang bahkan belum juga jam 10 pagi."


Nayla memainkan kerah baju suaminya sambil menggigit bibir bawahnya.


"Baiklah, kau mau kemana?" tawar Ariq.


"Tidak ingin kemana-mana."


"Katanya bosan, ayo kita keluar jika begitu."


"Kau tidak ada urusan pekerjaan?" tanya Nayla dengan senyum sambil menatap mata hitam milik suaminya.


"Kau lupa, aku sedang cuti. Aku bebas kemanapun kau mau!"


Nayla terdiam, memang benar Ariq mengajukan cuti satu minggu setelah menikah, namun tidak ada tanda-tanda lelaki itu mengajaknya berbulan madu seperti kebanyakan pasangan, bukankah seharusnya seperti itu pikir Nayla.


"Baiklah, jika begitu ayo kita berkencan halal. Pasti itu menyenangkan," ajak Nayla dengan perasaan berbinar.


Ariq mengangguk setuju.


"Bersiaplah, aku akan menemui mama dulu."


"Siap, aku tidak akan lama," jawab Nayla tersenyum lagi.


Nayla melepaskan pelukan mereka, ia mulai berjalan ke arah ruang ganti yang khusus untuk berpakaian yang terdapat di sudut kamar, ruangan kecil dengan segala fasilitas lengkap wardrobe di sana.


Ariq menatap punggung istrinya dengan senyum yang penuh makna, lalu ia menyusul dan melihat Nayla mulai kebingungan memilih pakaian.


Nayla terpejam saat mendapati suaminya memeluknya lagi dari arah belakang, seperti kebiasaan baru bagi Nayla harus selalu terkejut oleh sikap Ariq yang seperti ini.


"Aku mencintaimu sayang," lirih Ariq seraya berbisik yang terus membuat Nayla merinding mendengarnya, sentuhan bibir yang suka sekali menempel di lehernya jika dalam posisi seperti ini.


Nayla tersenyum lalu berbalik badan, ia raih bibir suaminya hingga mereka terlibat ciuman panjang yang sejenak sama-sama membuat mereka terlena.


Hingga Nayla menyudahi, ia menatap penuh cinta lalu menggoda, "Jadi keluar atau mengurung diri saja di kamar?"


Ariq terkekeh, "Berdandan jangan berlebihan, juga jangan terlalu cantik, aku bisa cemburu jika kau banyak yang memperhatikan nanti, aku tidak suka."


Nayla melebarkan senyumnya, "Wah ternyata suamiku masih pria posesif itu."


"Aku akan ke bawah dulu."


Nayla hanya bisa mengangguk perlahan, lalu Ariq mengecup bibir istrinya lagi dengan lembut sebelum meninggalkan Nayla di sana.


Perempuan itu melihat punggung Ariq yang menjauh, perasaannya kembali gusar saat Ariq lebih memilih keluar daripada berdua di dalam kamar pengantin itu.


Matanya beralih lagi pada lemari pakaian yang baru beberapa saat lalu ia bereskan pakaiannya di sana, tidak terlalu banyak namun cukup untuk Nayla selama tinggal di rumah Oma.


Matanya melirik pada suatu pemandangan di sudut lemari, sebuah kotak kecil menarik perhatiannya. Nayla semula berpikir akan lancang jika ia berani membuka, namun Ariq sudah menegaskan bahwa seisi kamar boleh ia akses apapun itu, suaminya tidak melarang Nayla membuka apapun meski itu barang pribadi Ariq sendiri.


Mengingat itu, Nayla memberanikan diri mengambil kotak kecil berwarna putih tersebut lalu membukanya karena penasaran.


"Apa ini?" gumam Nayla setelah membukanya.


Ada sebuah kotak cincin di sana, ada pula beberapa lembar foto box tampak Ariq dan seorang wanita. Nayla menajamkan matanya, rasanya ia pernah bertemu perempuan ini.


"Bukankah ini pacarnya mas Ariq yang dulu."

__ADS_1


"Oh iya ini bukankah nona Andira."


Nayla bergumam sambil memperhatikan dengan seksama, ia pikir mungkin ini adalah kenangan terakhir sebelum Ariq dan Andira berpisah, sebab di sana ada sebuah kartu ucapan ulang tahun dengan kata-kata yang biasa bukan kata-kata romantis para pasangan kekasih, Nayla menjadi tersenyum sendiri, apa sekaku ini suaminya pada perempuan? Kata-kata yang ditulis tangan itu terlalu formal jika untuk seorang perempuan terlebih pacar.


Sedang asyik tersenyum sendiri membayangkan Ariq yang kaku jika melihat dari kartu ucapan ulang tahun itu, ia dibuat terkejut saat benda itu diraih oleh pria pemilik kotak kenangan tersebut.


"Kenapa kau tertawa?"


"Aku hanya tidak menyangka, kau menulis ucapan selamat ulang tahun dengan kata-kata formal untuk pacar sendiri," kekeh Nayla geli sendiri.


"Maaf, aku lupa membuangnya," kilah Ariq seraya mendekati tong sampah.


"Mas Ariq kau mau apa?"


"Sudah seharusnya dibuang bukan?"


"Tidak perlu dibuang, ini hanyalah sebuah kenangan. Tidak baik membuang foto apalagi cincin itu, sayang sekali itu dibeli dengan uang."


Nayla mencegah suaminya yang hendak membuang benda itu ke tong sampah.


"Nayla, ini hanya benda yang sudah tidak berarti apa-apa bagiku, jangan pula karena ini kau menjadi tidak nyaman dan berpikir aku masih menyimpannya karena belum bisa move on."


"Aku tidak berpikir begitu, kau menikahi ku tentu saja kau sudah move on. Aku percaya padamu, tidak perlu membuangnya, mari kita taruh di tampat semula, maaf aku lancang membukanya tadi."


Nayla meraih kotak itu lagi lalu menaruh pada tempat dimana ia temukan tadi. Ariq meraih tangannya lalu memeluk istrinya itu dengan erat.


"Maafkan aku, percayalah aku benar-benar lupa membuangnya."


"Kenapa kau tidak memberikan kartu dan hadiah ulang tahun itu pada nona Andira saat itu? Kenapa malah terjebak di lemari ini?" tanya Nayla yang masih dalam dekapan suaminya.


"Aku tidak harus mengungkit hal itu padamu, lagi pula aku sudah lupa kenapa," jawab Ariq dengan nada malas.


Nayla terkekeh lagi, "Ayolah jangan marah, baiklah lupakan tentang ini."


Ariq melepas pelukannya.


"Sayang maafkan aku jika kau harus kecewa sekarang, apa kau marah jika kita tidak jadi keluar?"


"Memangnya kenapa?"


"Aku ada urusan mendadak, apa kau marah?"


"Hei, kenapa harus marah. Tapi, bukankah kau sedang cuti kenapa masih ada urusan pekerjaan?"


"Bukan pekerjaan, tapi teman..... Teman yang butuh bantuan ku."


Nayla terdiam sejenak, ia cukup memendam kekecewaannya sendiri, ia tidak harus egois untuk keluar hari ini, bukankah hari-hari berikutnya masih bisa.


"Baiklah, tidak masalah kau tidak lihat aku bahkan belum bersiap apa-apa jadi tidak masalah jika tidak jadi."


"Maafkan aku sayang, sungguh ini diluar dugaan. Kita bisa keluar malam nanti saja, kita makan diluar dan nonton bioskop bagaimana?"


Nayla mengangguk saja, ia tidak tahu harus bagaimana sekarang. Ia baru tahu Ariq sesibuk ini bahkan setelah menikah baru satu hari.


"Baiklah, aku akan menunggumu. Pergilah, bukankah membantu teman juga hal yang baik, aku tidak akan melarang kau berbuat kebaikan."


"Terimakasih Nay..... Aku mencintaimu, aku akan pergi sekarang."


Ariq memeluk lagi istrinya, lalu mengecup bibir Nayla cukup lama.


Sejenak mereka saling memandang dan melempar senyum, lagi Ariq memeluk Nayla dengan erat.


"Aku mencintaimu Nayla, percaya padaku."


"Iya, aku percaya padamu. Jangan lupa beri aku kabar!"


Ariq mengangguk, lalu ia pergi setelah mendekap Nayla lagi dan lagi.


Nayla menatap Ariq dengan perasaan kecewa, apa sepenting itukah urusan teman?


Tidak ingin larut dalam kekecewaan, Nayla memutuskan untuk turun menemui mama Humairah, ia pasangkan lagi kerudung menutupi kepala dan keluar dari kamar.

__ADS_1


Bercengkrama dengan mama Humairah di perpustakaan, dimana mama mertuanya memperlihatkan sebuah album foto masa kecil Ariq dan adik-adiknya, membuat Nayla kagum dan terlarut mendengar berbagai cerita masa kecil suaminya dari mulut sang mama mertua.


"Inilah suamimu Nayla, jadi jangan heran jika dia suka memukul siapapun yang membuatnya marah, dia memang begitu sejak kecil, tidak banyak bicara namun jika sudah tersinggung langsung main pukul, kau tahu nak.... Mama sudah tidak bisa menghitung berapa kali suamimu membuat ulah di sekolah, mama dan papa sampai malu sendiri terus dipanggil kepala sekolah karena Ariq hampir setiap minggu membuat kepala temannya berdarah."


"Benarkah? Aku tidak tahu hal ini mama, rupanya dia memang suka main pukul sejak kecil." Nayla terheran sendiri.


"Dari tiga beradik ini, Ariq paling tidak banyak bicara tapi paling banyak memukul orang, jika Ammar banyak bicara dan suka tebar pesona juga banyak mantan pacarnya, lain hal dengan Aziz, dia satu-satunya anak lelaki mama yang baik dan tidak sombong, dia ramah dan suka menolong, tiga karakter ini yang mama hadapi."


"Memiliki tiga anak lelaki ini tidaklah mudah Nayla, Ariq yang suka buat onar dan berkelahi, Aziz yang tidak banyak tingkah, lalu Ammar yang punya pacar banyak saat remaja. Huh, tapi itulah kebahagiaan mama dan papa sebagai orang tua, bisa mendidik mereka hingga menjadi anak yang berguna saat dewasa sekarang. Lihatlah mereka bisa membawa diri dan sukses dalam pekerjaan, dan semuanya sudah menikah sekarang."


Mama Humairah tersenyum lalu meraih tangan Nayla, "Percaya pada mama, memang benar Ariq suka memukul orang tapi dia tidak pernah berbuat kasar pada wanita manapun, jadi jangan takut dia tidak akan main tangan padamu Nayla, kau wanita pilihan hatinya, dia tidak punya wanita lain selain Andira di masa lalu, dia sedikit tertutup jika soal perempuan, tidak banyak wanita yang bisa dekat dengannya meski hanya berteman, dia bukan pria tebar pesona seperti Ammar, mama harap kalian berbahagia selalu nak."


Nayla sungguh menghangat jika berada di hadapan mama mertuanya ini, perempuan hebat yang melahirkan lima anak sukses dan berbakti pada orang tua.


"Aku bahagia bersama mas Ariq ma, aku akan menjadi istri yang baik seperti harapan semua keluarga."


"Mama bahagia mendengarnya Nay, sayang sekali kebersamaan kita tidak bisa lama karena mama dan papa harus pulang minggu depan, jadi kita bisa manfaatkan waktu yang sebentar ini untuk saling berbagi kebahagiaan."


"Mama harap kau segera mengandung nak, jangan berkb, umur suamimu sudah seharusnya punya anak sekarang. Beri mama kabar bahagia itu sayang, Ammar dan Aziz belum mendapat keturunan, mungkin karena istri-istri mereka sibuk bekerja, karena kau akan menjadi ibu rumah tangga mama harap kau bisa segera hamil dan menjadikan mama ini nenek muda yang bahagia." kekeh Humairah dengan nada bercanda.


"Juga punya anak yang banyak, jadi bisa mama minta satu untuk mama bawa kesana biar menghabiskan hari-hari dengan cucu yang lucu dan cantik darimu.... Fatimah dan Maryam sangat mendambakan punya keponakan perempuan."


Nayla tertawa dibuatnya, mama mertuanya tampak sangat menikmati perbincangan mereka, Nayla hanya mengamini dalam hati, sungguh ia mau mengandung banyak keturunan untuk suaminya, tergantung Ariq mau menyentuhnya atau tidak, mengingat itu Nayla kembali kecewa.


Setelah menghabiskan satu hari dengan mertua serta Oma Rika, membuat Nayla kembali menunggu suaminya pulang. Ia di kamar seorang diri setelah makan malam, seperti janji Ariq akan mengajaknya makan malam diluar dan nonton bioskop malam ini namun sepertinya itu tidak akan terjadi, sebab ini sudah hampir jam 9 malam namun Ariq belum juga kembali.


Ponsel pria itu tidak bisa dihubungi, hingga ia hanya bisa menanti dengan hati yang gusar.


Karena lelah menunggu, akhirnya Nayla mengantuk sendiri. Ia tampak meringkuk di atas ranjang tanpa selimut, semula ia berniat menggoda suaminya jika pulang nanti dengan pakaian seksi yang menampilkan lekuk tubuh dan mulusnya kulit yang memakai lingerie seksi dan terbuka.


Tanpa ia sadari Ariq telah kembali, mengelus pipi dan rambutnya yang tergerai, beberapa kali pria itu melayangkan kecupan bibir namun Nayla tidak juga terbangun, Ariq menaikkan selimut agar istrinya tidak kedinginan.


Lalu ia raih tangan Nayla dan menciumnya dengan cinta, "Maafkan aku Nay, aku tidak menepati janji malam ini," gumam Ariq menatap wajah tidur Nayla yang tetap cantik di matanya.


Nayla menggeliat saat mendapat kecupan lagi di bibirnya, ia menggeliat lalu perlahan membuka mata.


Nayla terkejut dan terduduk. Ia tidak mimpi suaminya telah pulang sekarang.


"Mas Ariq kau sudah pulang?"


"Iya, maaf aku mengganggu tidurmu."


Nayla meraba wajah suaminya saat kesadarannya sudah penuh.


"Sayang, kau terluka?" Tanya Nayla meraba sudut bibir suaminya yang tampak terluka dan berdarah, lalu ia beralih pada tulang pipi yang sedikit lebam dan membiru, kening lelaki itu juga tampak berdarah dari luka kecil di sana.


"Mas Ariq kau kenapa?" tanya Nayla cemas.


"Ini hal biasa."


"Kau berkelahi?"


"Sedikit."


"Mas Ariq kau kenapa? Aku menunggu mu pulang, dan kau pulang dalam keadaan seperti ini."


Ariq diam.


"Dan kau sebut ini hal biasa?"


"Tenanglah, ini hanya luka biasa."


"Memangnya apa yang menyebabkan kau berkelahi?"


"Urusan lelaki, maaf membuatmu menunggu. Aku akan mandi sebentar."


Ariq meraih wajah cemas Nayla lalu mencium seluruhnya dan berakhir pada bibir lagi, hanya mengecup namun lama.


"Jangan khawatir, aku baik-baik saja," ucap Ariq sebelum beranjak dari ranjang meninggalkan Nayla menuju kamar mandi.


Dan benar pula bahwa malam ini terlewati begitu saja tanpa adegan ranjang yang dibayangkan dan ditunggu-tunggu pemirsa. Ariq mengajak Nayla tidur setelah mandi.

__ADS_1


Huh kecewa lagi. Wkwkwwkkk


__ADS_2