Purnama Merindu

Purnama Merindu
Aishwa dan Indah


__ADS_3

Ini hari ke tujuh Aish bekerja.


Perempuan itu mengelap keringat di dahinya menggunakan tisu setelah mencuci tangan di wastafel.


Hari yang cukup melelahkan, sebab hari ini semua petugas IGD dibuat kewalahan menangani korban kecelakaan beruntun, Aish salah satu dokter jaga sore ini.


Ia tersenyum, sudah satu minggu ia bekerja dengan baik, melepas rindu menangani pasien-pasien yang berdatangan, berkenalan dan mulai berbaur dengan sesama dokter maupun petugas IGD yang lain.


Jam sudah menunjukkan pukul empat sore, IGD tampak sepi karena pasien kecelakaan sudah dibawa ke ruangan rawat inap, ada beberapa pasien biasa yang sedang ditangani.


Aish bergantian istirahat sholat dengan dokter Melani yang juga berjaga sore ini. Aish berwudhu lalu menunaikan kewajibannya di ruangan khusus dokter jaga IGD.


Habis sholat ia membuka kotak bekal dari Ratih, Aish tersenyum melihat kue manis khas masakan kampung halaman mereka di sana.


"Kuenya manis, yang tidak manis itu hidupku," kekeh Aish sambil menikmati kue buatan Ratih.


Ponselnya berdering. Aish melihat ada nomor baru di layar miliknya itu.


Aish menerima telepon, mengatakan bahwa ia sedang beristirahat sebentar di ruangan dokter. Lalu telepon itu berakhir dengan gelengan kepala, Aish tersenyum ternyata yang menghubunginya adalah teman kuliahnya dulu sesama dokter.


Tok tok tok, bunyi pintu membuat Aish berdiri lalu membukanya sambil tersenyum lebar. Perempuan itu tampak saling berpelukan dengan seseorang yang meneleponnya tadi.


"Ya ampun Aish..... Kau membuat ku kesal, untung ku temukan nomor mu di grup kelas kita, jika tidak aku tidak tahu kau ternyata pindah dan bekerja di sini!!!" seru seorang gadis hampir berteriak memeluk Nayla dengan gemas.


"Ceritanya panjang, ayo masuk!" ajak Nayla setelah mereka saling berpelukan lama.


Mereka saling bertukar kabar, teman akrab sewaktu kuliah dulu kini tengah bertemu dan mengobrol dengan asyik.


Aish tidak menduga ternyata temannya ini juga bekerja di rumah sakit yang sama.


"Kau tahu sendiri, aku mana boleh bekerja di rumah sakit lain," kekeh gadis itu.

__ADS_1


Indah Safitri, putri direktur Rumah Sakit Husada, sahabat Aish saat kuliah. Bekerja sebagai dokter umum di Ruang Rawat Jalan, gadis manis itu akan melanjutkan pendidikan dokter spesialis sebentar lagi.


Setelah meraih gelar dokter, mereka berpisah saat Aish memilih kembali pulang kampung dan mengabdi di sana.


"Oh sayang aku sama sekali tidak tahu apa yang terjadi padamu setelah lulus, kau pulang kampung seperti hilang ditelan bumi, mengganti nomor telepon seenaknya, dan sekarang kau muncul dengan kabar kurang enak, sungguh menyebalkan!" cerca Indah saat mengetahui jika Aish sudah menjadi seorang janda.


Aish terkekeh, Indah memang suka mengomel sejak dulu bahkan gadis paling cerewet di kelasnya, berbeda dengan Aishwa. Ia seorang pendiam saat kuliah, namun karena berteman dengan Indah sejak awal mereka menjadi mahasiswa kedokteran, Aish jadi pandai bergaul dan tidak pemalu lagi.


Aish menceritakan tentang banyak hal, kehidupannya di desa dan kematian sang nenek beberapa waktu lalu. Karena keasyikan mengobrol Aish sampai lupa bahwa ia sedang bertugas sekarang.


Perempuan itu kembali merapikan jilbabnya, memakai kembali jas putih yang tergantung pengenal nama di sana. Ia bergegas kembali ke IGD dan berjanji akan bertemu Indah lain waktu nanti.


"Maafkan aku, kita bisa mengobrol lain waktu!" ujar Aish saat mereka berpelukan lagi sebelum berpisah.


"Baiklah sayang, bekerja dengan baik oke!!! Jangan hiraukan Kak Oji, dia memang suka genit. Itu biasa, semua wanita di IGD ini pun dijahili nya."


Aish mengangguk, "Aku senang bisa bekerja dengan beliau, hingga tidak terasa lelah yang ada hanya mulut ku yang kering karena tertawa terus," sahut Aish menanggapi Oji, seorang perawat lelaki yang suka tebar pesona pada petugas IGD, padahal ia sudah beristri dan punya anak.


Indah mengangguk, "Baiklah Aish ku sayang, kembali lah bertugas, kau bisa lupa waktu lagi jika kita bicara tentang Kak Oji," ucap Indah sambil merapikan jilbab Aish dengan terkekeh.


Aish menepuk keningnya lagi, dan mereka berpisah setelah saling berpelukan.


Indah terkekeh melihat Aish berjalan dengan terburu ke IGD.


"Aish... Aish.... Masih saja sama, suka lupa waktu," gumam Indah yang berniat kembali ke mobilnya yang parkir tidak jauh dari IGD.


Persahabatan mereka kembali terjalin sejak hari itu. Karena bekerja di tempat yang sama membuat Aish dan Indah kembali merasa seperti waktu kuliah dulu saat bertemu dan bercerita banyak tentang pasien-pasien yang mereka tangani dari hari ke hari.


...****************...


"Ken!"

__ADS_1


"Iya Bunda," sahut Ken lesu.


Betapa tidak sudah satu bulan pula ia kehilangan jejak Aish. Dalam satu bulan ini sudah tiga kali Ken kembali ke desa itu hanya berharap Aish mana tahu pulang ke sana.


Meski dari telepon ia mendapat informasi dari Aldi bahwa Aishwa dan Ratih belum juga memberi kabar apapun, namun Ken tetap saja berkunjung ke desa hanya sekedar berharap mana tahu Aishwa atau Ratih pulang setelah dua bulan pindah.


Namun satu bulan sudah, Aish dan Ratih benar-benar menghilang namun tidak juga menghilang dari ingatan Ken. Bahkan Ken semakin terngiang wajah teduh Aish, mata basah Aish yang menangis saat mengatakan status jandanya pada Ken ketika itu.


Ah Ken sungguh bukan tipe pria yang cengeng seperti ini. Namun entah kenapa gairah hidupnya menjadi berkurang saat tidak juga mendapat kabar baik dari Aldi yang ia harap memberi informasi Aishwa pulang ke sana.


Namun nihil hingga hari ini. Tidak ada jejak apapun atas Aish ataupun Ratih.


"Ken!"


"Iya Bunda ku sayang, ada apa?" tanya Ken saat mendapati ibunya menatap tajam padanya karena merasa diabaikan sejak tadi.


"Ck, kau tidak mendengar Bunda dari tadi?"


Ken menggeleng, berakhir dengan tepukan keras di lengannya.


Bunda Nayla kembali mencerca Ken dengan bahasa kasihnya.


"Sudah satu bulan Bunda memberi mu waktu untuk membawa perempuan itu kemari, tapi sepertinya putraku akan menyerah hari ini. Ingat janji mu?"


Ken mengangguk dengan malas.


"Janji apa?" pancing Bunda Nayla lagi.


"Baiklah, aku mau." Ken menjawab dengan senyum yang dipaksakan.


Bunda Nayla terkekeh, ia senang bukan main.

__ADS_1


__ADS_2