
"Maaf tuan, aku orangnya," ucap Nayla seraya menundukkan wajahnya.
Deg. Mendadak Ariq seperti ingin mati berdiri. Meski menunduk, ia paham betul bahwa perempuan itu adalah gadis yang ia cari selama beberapa hari ini.
Nayla, tentu saja Ariq mengenal suara maupun wajah Nayla meski dibalut pakain pelayan sekalipun. Ia terkejut bukan main, wanita yang ingin sekali ia temui saat ini sekarang ada di hadapannya, yang mencengangkan adalah Nayla berubah jadi pelayan yang ingin ia pecat saat ini karena telah dianggap menjadi penyebab oma Rika kambuh.
Pacu jantung pria itu mendadak seperti habis berlari maraton, lidahnya bahkan bingung ingin melanjutkan kalimat berikutnya. Untuk sejenak mereka semua hening.
"Nayla," lirih Ariq pelan yang hanya didengar oleh telinganya sendiri.
Nayla masih menunduk, gadis ini juga tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya akan siapa Ariq saat ini, pria yang mengaku pria biasa, seorang karyawan sebuah perusahaan yang ditugaskan keluar kota.
Nayla jadi tahu sekarang, Ariq berbohong. Ariq seorang ningrat, cucu dari keluarga kaya raya, rumah besar nan megah yang menjadi tempat Nayla mencari nafkah dengan menjadi pembantu khusus cuci pakaian pakai tangan saat ini adalah tempat tinggal pria baik yang membuatnya mulai tersenyum lagi beberapa waktu lalu.
Nayla menyadari pula ia bekerja khusus untuk mencuci pakaian Ariq. Itu artinya semua pakaian yang ia cuci kemarin betul adalah kepunyaan Ariq, pantas saja Nayla mencium wangi parfum pria itu di sana.
Oma Rika ikut berdiri namun ia tampak limbung sambil memegangi kepalanya.
Ariq melirik oma bergantian dengan Nayla yang masih tidak bergeming dari tempatnya berdiri.
"Mama," panggil nyonya Arina yang langsung mendekati oma Rika dan membantu menopang tubuh sang ibunda.
Ariq terlihat bingung sendiri, ia ingin maju mendekati Nayla namun urung saat melihat oma Rika tampak tidak baik-baik saja.
"Kepala mama sakit sekali," jawab oma Rika yang tampak meringis.
"Ariq, hentikan kegaduhan ini. Oma sakit mendengar kau berteriak, kita bisa bicara lagi nanti soal nasib pekerjaan gadis itu, ayo bantu bawa Oma ke kamar," ucap paman Hendra menengahi.
Nyonya Arina segera menuntun mamanya pergi dari dapur namun terhenti saat melihat Ariq masih diam.
"Ariq," bentak sang bibi.
"Kalian boleh lanjutkan pekerjaan, untukmu Nayla kau boleh menghadapku lagi nanti," ucap nyonya Arina dengan suara lantang pada pelayan-pelayan yang kebetulan hadir di sana.
"Baik nyonya," jawab Nayla kembali menundukkan wajahnya takut.
Semua pelayan pun mengangguk mengerti, namun segera heboh setelah para majikan mereka pergi dari dapur. Ada yang bertanya-tanya ada apa dengan oma Rika setelah melihat Nayla dekat dengan majikan nomor satu mereka, lalu bertambah bingung saat cucu pertama perempuan itu dengan lantang ingin memecat Nayla dari pekerjaannya.
Ariq tampak tergagap sendiri, menatap Nayla sejenak lalu dengan perasaan bercampur aduk ia pun menyusul langkah bibi dan pamannya yang sudah menuntun oma Rika meninggalkan dapur.
Semua pelayan sudah bubar, tinggallah Nayla yang perlahan menjauh dari dapur, saat berkedip jatuhlah butiran bening yang menggenang sejak tadi.
Bukan hanya karena takut pada nyonya Arina soal akan dipecat, namun juga karena merasa sangat gugup pada Ariq yang ternyata adalah seorang majikan di rumah itu.
Setelah memastikan oma Rika beristirahat sesudah minum obat, sarapan di dalam kamar yang dilayani oleh pelayan seperti sebelumnya. Nyonya Arina tampak memarahi Ariq terkait kejadian di meja makan, pria itu diam saja tidak membantah seperti biasa mereka berdebat antara bibi dan keponakan.
Ariq bahkan tidak fokus sama sekali pada ocehan sang bibi, pikirannya teringat Nayla, gadis yang baru saja ia marahi dan hampir ia pecat.
"Ariq," panggil sang bibi.
Ariq masih diam.
"Ariq."
"Iya bi," sahutnya singkat.
Nyonya Arina tampak geleng kepala seraya bernapas kasar.
"Percuma bicara padamu, kau tampak aneh setelah melihat gadis itu. Apa kau mengenalnya?"
Ariq tersenyum pada bibinya.
"Bibi sebaiknya jaga Oma, biar aku yang mengurus gadis itu."
"Apa?"
Ariq tidak menunggu tanggapan bibinya lagi, ia peluk bibi Arina sejenak lalu ia keluar dari kamar oma Rika dengan jalan tergesa, tentu saja meninggalkan raut tanya dari nyonya besar itu.
Ariq berjalan ke dapur, ia mencari Nayla kesana kemari.
"Dimana Nayla?" tanya Ariq pada salah satu pelayan yang ia temui.
"Maaf tuan, pelayan Nayla sudah di belakang," jawab pelayan itu sopan.
"Jangan panggil Nayla dengan sebutan pelayan, awas jika ada yang berani memanggilnya begitu setelah ini."
__ADS_1
Pelayan tersebut menelan ludah saat merasa suara majikannya itu meninggi memarahinya perihal Nayla.
Ariq berlalu begitu saja menuju area khusus laundry yang ia yakini tempat kerja Nayla.
Benar saja, tampak gadis yang mulai memenuhi otaknya itu berdiri menghadap sekeranjang pakaian kotor yang siap untuk dicuci, gadis itu tampak melamun dengan tatapan kosong.
Ariq gugup bukan main saat melangkah mendekati Nayla berdiri.
"Nay...."
Nayla tahu itu suara Ariq, ia menoleh pada pria yang berjalan mendekat. Siapa sangka Nayla menunduk hormat pada pria majikannya itu.
"Tuan kemari, maaf ada yang bisa aku bantu?"
"Nayla, lihat aku."
Nayla mengangkat wajahnya, ia tersenyum saja namun kosong tidak memiliki arti apa-apa.
"Nay, maafkan aku, aku aku aku----" Ariq gagap sendiri, kikuk sendiri.
"Jangan sungkan, aku senang mas Ariq pulang selamat dan baik-baik saja."
"Maafkan aku, aku tidak bermaksud berbohong tentang-----" kembali Ariq menggantungkan kalimatnya karena sebuah gangguan yang ia rasakan dari dalam dadanya.
"Tentang kau adalah majikanku sekarang, tentang kau yang pergi ke Amerika bukan hanya keluar kota, seharusnya aku sudah bisa mengira sebelumnya bahwa kau bukanlah lelaki biasa."
"Nay," lirih Ariq canggung sendiri.
"Aku paham, mungkin dengan menyembunyikan identitas aslimu kau bisa terhindar dari perempuan matre."
"Bukan seperti itu, oke baiklah aku salah. Maafkan aku, sungguh aku mencarimu beberapa hari ini, kau tidak menghubungi ku, ponsel mu juga tidak aktif, aku bahkan ingin gila rasanya, tapi malah kau datang sendiri ke rumah ini. Aku rasa kita memang berjodoh."
"Tapi kau baru saja memecatku."
"Oh tidak, tentu saja tidak. Maksudku tidak jadi. Aku senang kau disini," jawab Ariq mengusap lehernya karena malu.
Nayla tersenyum tipis.
"Aku banyak berhutang padamu, ponsel itu ku jual karena butuh uang yang banyak. Ceritanya panjang, aku akan mengembalikan ponsel itu dalam bentuk uang saat aku bisa menabung nanti."
Nayla hanya diam saja.
"Kau tidak merindukan ku?"
"Mana berani aku merindukan majikanku sendiri," balas Nayla pelan.
"Berhenti bicara majikan."
"Memang benar bukan?"
"Tapi aku menyukaimu," ucap Ariq lagi.
"Iya, tapi hanya di cerita dongeng yang terjadi percintaan antara pelayan dengan seorang pangeran. Aku bahkan hanya pantas menjadi tukang cuci pakaian mu saja, berhenti menyukaiku. Aku akan tahu batas mulai sekarang, kau majikan dan aku pelayan. Aku hanya datang untuk mencuci pakaianmu, setelah selesai aku langsung pulang begitu seterusnya. Itupun jika aku tidak jadi dipecat dari pekerjaan ini."
Ariq terdiam.
"Nayla."
"Aku rasa mas Ariq mendengarnya dengan jelas, jangan buat nyonya Arina lebih marah padaku karena mas Ariq mengenalku, bersikaplah seperti biasa mas Ariq pada pelayan lain. Aku rasa ini jawabanku atas pertanyaan mu dua minggu lalu."
Ariq terdiam.
"Kau menolakku?"
"Maaf, aku harus bekerja sekarang," sahut Nayla yang langsung bergerak mengangkat keranjang berisi pakaian kotor itu dari meja.
"Berhenti," cegah Ariq menahan tangan Nayla.
"Maaf, mas Ariq boleh pergi sekarang sebelum ada yang melihat."
"Beraninya kau mengusirku?"
Nayla hanya menghembus napas kasar, ia tidak menjawab melainkan menghindar.
"Nayla, lihat aku."
__ADS_1
Nayla tidak menghiraukan.
"Nayla," lirih Ariq lagi.
"Maafkan aku mas Ariq," jawab Nayla berkaca-kaca.
"Aku menyukaimu."
"Kau pantas untuk wanita lain, aku tidak seperti yang kau lihat. Aku bukan seperti wanita lain, aku pelayanmu di sini, aku hanya pantas mencuci pakaian mu saja."
"Bisa tidak berhenti bicara soal pelayan dan majikan," tukas Ariq kesal.
"Memang kenyataannya seperti itu. Kau hampir memecatku, kau marah soal Oma Rika yang sakit saat melihatku, aku membawa pengaruh buruk padamu. Maafkan aku, pergilah... Aku harus bekerja."
"Nayla," cegah Ariq lagi, pria ini sungguh tidak terima sikap dingin Nayla.
"Kau majikanku, biarkan aku bekerja dengan baik. Jangan buang waktu bicara pada pelayan ini."
"Kau menyebalkan Nayla," kesal Ariq yang masih mencegah pergerakan gadis itu.
Nayla tidak menanggapi, ia terus menghindar namun ia menjadi terkejut saat Ariq merebut keranjang dari tangannya secara paksa.
"Nayla, lihat aku!" ucap Ariq seraya menghempas keranjang dan membuangnya sembarang hingga pakaiannya menjadi tercecer.
"Mas Ariq?" Nayla menatap Ariq sejenak dengan perasaan kesal, lalu tanpa berpikir lagi gadis itu langsung saja memungut pakaian kotor Ariq yang tercecer.
Ariq menarik tangan Nayla mencegah gadis itu memungut pakaiannya yang tampak terbuyar di lantai.
"Nayla."
"Apa? Aku mohon jangan buat aku kesulitan, berhenti mendekatiku, jangan sampai aku dimarahi nyonya Arina soal ini, mengertilah mas Ariq, kau majikanku sekarang. Hanya satu hal yang kuharapkan darimu, aku membutuhkan pekerjaan ini, tolong jangan pecat aku, pekerjaan ini cocok untuk kondisi ku saat ini."
Ariq menatap Nayla dengan tatapan dalam.
"Nayla," ucap Ariq lagi dan lagi.
"Maaf pergilah, aku harus menyelesaikan pekerjaan ku." Nayla mengelak lagi, ia berpaling dan kembali ingin memungut pakaian kotor itu.
"Nayla," cegah Ariq kembali meraih tangan Nayla.
"Lihatlah, aku hanya pelayan rendahan yang hanya bisa memungut pakaian kotormu saja, mencucinya dengan hati-hati agar pakaian mahal ini tidak rusak, sebaiknya berhenti menyukaiku. Aku hanya orang rendahan, aku pelayan di rumah ini, aku-----"
Ucapan Nayla menggantung saat matanya membesar sempurna ketika terkejut mendapati Ariq meraih wajahnya, saat bibirnya bertemu bibir lelaki itu dalam waktu beberapa detik saja tanpa bisa mengelak, karena Ariq melakukannya tiba-tiba.
Sejenak hening, hanya suara detak jantung yang saling bersahutan, Nayla mulai tidak bisa bernapas dengan baik, ia ingin bersuara namun tidak bisa karena Ariq menekan bibirnya dengan kuat, hanya berupa kecupan namun sangat lama.
Nayla mulai merasa paru-parunya tidak bisa mengembang dengan sempurna, ia benar-benar kehilangan oksigen sekarang. Ia mendorong tubuh Alif sekuat tenaga, tapi pria itu tidak bergerak seincipun.
Seakan tahu Nayla mulai kesulitan bernapas, Ariq melepas tautan bibir mereka. Ia tersenyum melihat wajah pucat Nayla saat ini. Gadis itu menatapnya dengan mata merah dan dada kembang kempis.
"Aku tidak peduli," ucap Ariq tersenyum penuh arti, ia mengusap bibir Nayla dengan ibu jarinya.
"Terpenting bagiku saat ini, aku sudah tahu keberadaan mu yang ternyata hanya berjarak seinci saja dariku, aku mencarimu kemana-mana, aku jatuh cinta padamu Nayla, aku tidak bermain-main dengan perasaanku, aku tidak peduli kau gadis labil, pelayan atau bukan yang pasti kau adalah gadis yang bisa membuatku melupakan Dira dengan cepat."
"Bukankah sudah ku katakan dua minggu lalu, aku tidak suka penolakan, aku tidak menerima penolakan mu, kau milikku sekarang."
"Mas Ariq?"
Cup, Ariq menyahut lewat kecupan lagi dan lagi membuat Nayla bertambah nyeri dadanya menatap wajah tampan Alif yang telah melingkari kedua tangannya pada tubuh kecil Nayla hingga tidak bisa bergerak.
"Aku tidak menerima penolakan, tidak bisa ditawar. Kau kekasihku mulai saat ini."
"Mas Ariq," lirih Nayla yang tidak mampu bicara lebih banyak saat ini.
"Ayolah, panggil aku lebih mesra lagi."
Merah, pipi Nayla memerah. Mata mereka masih menatap satu sama lain.
"Bundnay...." suara Zaza memecah aksi tatap saling tatap antara Ariq dan Nayla.
Mereka menoleh pada Zaza yang matanya ditutup oleh Dewi. Perempuan yang menjadi teman baru Nayla itu cukup tercengang, bahkan hampir menjatuhkan rahang saat mendapati Nayla tengah berada dalam dekapan sang majikan tampan satu-satunya yang masih lajang dirumah itu.
Bahkan Dewi menyaksikan aksi ciuman dua insan berbeda gender itu.
#2 episode digabung ya, jangan lupa jejak ya gaesss. Kita mau lebaran ni 😍😍😍
__ADS_1