Purnama Merindu

Purnama Merindu
Poor Vano


__ADS_3

"Mama," sapa seorang perempuan yang menghampiri nyonya Arina.


"Annisa? Kau kemari nak, kenapa tidak menghubungi dulu? Kau tidak ke kantor?" tanya sang mama saat mereka berpelukan.


"Aku hanya mampir sebentar, kebetulan mau meeting di hotel dekat dari sini. Mana Oma?"


"Huh, kau selalu saja sibuk bekerja, apa tidak seharusnya kau serahkan semuanya pada suamimu? Kau fokuslah dengan dirimu sendiri, kapan mama akan menimang cucu jika kau saja sibuk bekerja, tentu aktivitas akan mempengaruhi kesuburanmu."


Perempuan cantik itu hanya bisa menghela napas, bukan kali ini saja namun setiap bertemu selalu saja urusan cucu yang belum bisa ia kandung, padahal sudah hampir lima bulan menikah namun belum ada tanda-tanda kehamilan yang didamba ibunya.


"Mama ayolah, kita sudah bicarakan ini berkali-kali. Aku mau bertemu Oma," jawab sang wanita dengan nada dibuat santai.


"Huh, baiklah sayang. Kesehatanmu yang utama, jangan terlalu lelah nanti kau bisa sakit. Papa dan Vano tidak ikut meeting?"


"Suamiku ada urusan lain, kalau papa sedang bertemu tamu penting. Kami punya pekerjaan masing-masing," kekeh perempuan bernama Annisa itu.


"Oh sayang, kalian pekerja keras," sahut nyonya Arina dengan senyum bangga.


"Oma sedang sakit, beruntung ada pelayan itu, Oma selalu tenang jika pelayan itu di dekatnya, bisa patuh minum obat dan istirahat. Kau bisa melihat ke kamarnya."


Annisa menangguk, "Aku akan melihat Oma dulu, aku penasaran dengan gadis itu, seperti apa hebatnya seorang pelayan yang mampu menaklukkan Oma ku."


Setelah mencicipi sarapan sang mama, ia berjalan pula menuju kamar Oma Rika.


Krek, suara pintu terbuka. Annisa tersenyum saat melihat seorang perempuan yang membelakanginya tampak sedang memberi Oma Rika minum dengan telaten.


"Oma," sapa perempuan yang akrab dipanggil Nisa itu seraya melangkah mendekat.


Oma Rika dan Nayla menoleh pada sumber suara. Dan Nayla terjingkat dari duduknya yang semula di pinggir ranjang. Berbeda dengan Oma yang memang telah dalam pengaruh obat, tanpa banyak berkata ia pun telah pula tertidur lagi.


Alangkah terkejutnya Nayla saat beradu tatap dengan sosok wanita yang kini berdiri menatapnya dengan tatapan sama terkejutnya.


Hati Nayla bergetar, dadanya terasa sesak. Wajah cantik yang pernah berdebat hebat dengannya hingga ia keguguran karena pertengkaran hari itu, kini memori pahit saat kehilangan ibunya pula tiba-tiba menyeruak mengiris hati.


Perempuan ini yang datang sebagai tunangan Vano waktu itu, mengatakan semua yang tidak seharusnya dikatakan oleh sesama wanita yang tengah berada diantara satu lelaki.


Annisa, iya Nayla ingat betul wajah ini. Namanya Annisa.


"Jadi kau?" lirih Annisa dengan suara tersendat, ia pun tidak menyangka bertemu Nayla saat ini di rumah orangtuanya pula.


Ia mengedarkan pandangannya ke seluruh sudut kamar, jika ada orang lain yang dimaksudkan mamanya soal gadis yang selalu bisa menenangkan sang nenek dari kambuhnya penyakit pikun yang kerap dialami oleh Oma Rika.

__ADS_1


"Kenapa kau bisa ada disini?" tanya Annisa lagi.


"Karena aku bekerja pada keluarga ini," jawab Nayla dingin, tatapannya tidak beralih dari wajah cantik namun arogan itu dari matanya.


"Oh, jadi kau gadis yang disebut-sebut Oma adalah bibi Humairah masih muda? Ckkkk.... Ini benar-benar membingungkan, aku mencarimu selama ini ternyata kau begitu dekat denganku, kau bekerja di rumah orangtuaku."


Sejenak Annisa menatap Nayla seksama, matanya tertuju pada perut.


"Katanya kau hamil, mana? Apa sudah melahirkan? Atau hanya pura-pura hamil agar Vano tidak meninggalkan mu waktu itu? Kau tahu Nayla, karena kau..... Karena kau suamiku tidak pernah menerima pernikahan ini bahkan hingga sekarang," kata Annisa dengan airmata yang menggenang, lalu tumpah tanpa permisi.


Nayla terdiam ia tidak menjawab perihal kehamilan yang telah sirna, ia terpaku saat mendengarnya. Itu artinya benar apa yang Vano katakan tempo hari ketika bertemu dengannya.


"Aku orang yang tidak suka mengungkit masa lalu, karena Vano sudah menjadi milikku, baiklah mari kita lupakan. Terimakasih banyak sudah membantu Oma, kau boleh keluar sekarang!" perintah Annisa lagi.


Nayla hanya bisa mengangguk, ia melirik Oma yang masih tertidur, lalu ia keluar dari sana tanpa membantah.


Lama Annisa menatap punggung Nayla yang menjauh meski telah hilang dibalik pintu namun tatapannya masih saja tidak beralih, kesakitannya muncul ke permukaan saat mengingat nasib pernikahannya dengan Vano yang mana pria itu masih saja terjebak kenangan masa lalu bersama Nayla hingga tidak bisa menerimanya sebagai istri yang sesungguhnya.


Annisa menangis dalam diam, sungguh ia belum bisa memenangkan hati Vano dari gadis bernama Nayla.


"Sayang kenapa kau menangis?" tanya nyonya Arina yang datang menyusul anaknya ke kamar Oma Rika.


Annisa memeluk mamanya tanpa menjawab.


Annisa menggeleng pelan, "Aku ingin mama memberhentikan Nayla dari pekerjaannya. Aku tidak ingin dia kemari lagi."


"Nisa? Apa yang kau bicarakan?"


Sang mama mengajak putrinya keluar dari kamar Oma Rika agar tidak menggangu. Nyonya Arina menjadi serius oleh kenyataan ini.


"Kita harus bicara Nisa, mama tahu terjadi sesuatu di sini."


"Mama ingat perempuan yang menjadi kekasih suamiku sebelum menikah yang ku ceritakan dulu?"


Nyonya Arina mengangguk.


"Nayla, gadis itu orangnya!!!"


"Apa?"


"Aku tidak ingin Vano bertemu dengannya, aku tidak bisa sakit lebih dari ini ma..... Suamiku mencintai wanita lain, Vano mencintai Nayla," ucap Nisa yang kembali memeluk mamanya.

__ADS_1


Nyonya Arina terdiam, sekarang ia mulai tahu permasalahan rumah tangga anak tunggalnya itu, matanya ikut basah namun ada kilatan amarah di sana terlebih mengingat pula keponakannya yang juga terlibat main hati dengan perempuan bernama Nayla.


"Nayla, kau benar-benar menarik perhatian semua orang," desis nyonya Arina pelan.


*****


Malam kelam tertutup mendung yang kelabu, hujan siap menimpa bumi pertiwi, angin bertiup kencang, gerimis mulai mengundang.


"Vano?"


Nayla terkejut saat mendapati Vano yang berdiri di hadapannya saat ini. Dari mana pria itu tahu alamatnya pikir Nayla.


"Nay...." Lirih Vano dengan tatapan dalam, ia bertamu di jam 9 malam. Nayla terpaksa membuka pintu saat terus diketuk oleh seseorang dari luar, ternyata Vano.


"Kenapa kau datang kemari?" tanya Nayla dingin.


"Aku berhasil tahu alamat mu."


"Apa maksudmu datang kemari?" ulang Nayla dengan nada malas.


"Tidakkah kau mengajakku masuk dulu?"


"Maaf, ini sudah malam. Lagipula rumah ini sempit, anak-anak ku sudah tidur semua," elak Nayla.


"Nay, aku ingin bicara padamu."


Vano tidak bergeming, ia menatap Nayla dengan wajah lelah, pakaian yang kusut, mata merah yang sayu. Menyedihkan, pria itu mabuk setiap malam.


"Nayla....."


"Kau mabuk Vano. Pergilah, aku akan menutup pintu."


Vano diam, ia tidak menjawab namun tidak juga pergi dari sana meski pintu sudah tertutup lagi.


Ponsel Nayla terus berdering tanda panggilan masuk, nama 'My Darling' terus saja menggetarkan ponselnya. Namun Nayla tidak fokus hingga memilih mengabaikan bunyi ponsel yang terus memanggil minta dijawab, matanya masih tertuju pada seseorang yang tampak dari jendela rumah kontrakannya.


Vano berdiri di tengah hujan yang mulai melanda, Vano menunggu Nayla keluar tanpa sepatah kata, Vano hanya berdiri bersandar di badan mobilnya menunggu keajaiban dari belas kasihan Nayla yang ingin menemuinya.


Poor Vano.


Di kamar sebuah rumah yang lain, pria itu mulai kehilangan akal saat Nayla tidak menjawab panggilan ponselnya bahkan ini yang kesekian kalinya sejak siang tadi.

__ADS_1


Ia menyambar kunci mobilnya dan berniat ke kontrakan Nayla karena satu hari penuh sang kekasih tidak memberi kabar dan bertemu dengannya, Nayla mengabaikan Ariq hari ini, pria ini tidak bisa tanpa satu hari pun dari gadis itu, setidaknya berkabar lewat pesan namun entah kenapa hari ini Nayla benar-benar dingin.


__ADS_2