Purnama Merindu

Purnama Merindu
Tidak fokus


__ADS_3

"Kau ingin pergi bekerja?" sapa Anara dengan ramah.


"Bagaimana aku bisa pergi bekerja sedang suamiku sedang sakit di rumah!" sahut Aish dengan nada datar.


Anara tersenyum miring.


"Kau lupa kau sedang memakai jas dokter sekarang," balas Anara tahu kemana arah Aish menyindir.


Aish terdiam, melihat Anara datang pagi-pagi buta seperti ini membuat ia lupa bahwa ia sedang menunggu taksinya datang, Anara benar ia telah memakai jas dokter sekarang.


Ponsel Aish berdering yang ia yakini adalah sopir taksi yang mungkin sudah sampai. Aish tidak hiraukan sama sekali panggilan itu.


"Ponselmu berdering, angkatlah! Aku akan masuk dan melihat keadaan Mas Aldric."


Perkataan Anara mampu membuat Aish menahan lengan Anara yang hendak melangkah lebih dulu.


"Aku rasa kau telah keliru Anara!" kata Aish menatap gadis itu dengan raut tenang.


"Apa maksudmu aku keliru Aish? Aku datang menjenguk Mas Aldric, apa itu salah?"


"Kau lupa sedang bicara dengan siapa Anara? Aku istri Mas Aldric."


"Iya, istri yang tidak menerima Mas Aldric sebagai suaminya, istri yang hanya merasa terjebak oleh sebuah keadaan, jangan kira aku tidak tahu tentang kalian, aku tahu sekali Mas Aldric seperti apa, aku mengenalnya jauh daripada kau Aish."


Menarik napas dalam lalu Anara melanjutkan.


"Kau lupa Aish, karena kau kami tidak jadi menikah!"


Aish terdiam.


"Itu artinya Mas Aldric bukan jodohmu!" sahut Aish masih menatap Anara dengan mata tajam seolah menusuk jantung.


"Lalu jodohmu begitu?" Anara tampak berdecak.


"Kau mencintai Mas Ken, Mas Aldric menikahimu karena kasihan, kau telah melukai banyak hati Aish."


Aish masih diam.


"Aku terluka, aku merasa kau merebut Mas Aldric dariku. Sekarang setelah semua yang kau lakukan padanya, kau tidak juga membuka hati untuknya sampai sekarang bukan? Lalu kenapa kau peduli jika aku mendekatinya lagi?"


"Aku mencintai Mas Aldric, dia tidak pantas menunggu selama itu. Dia orang yang baik Aish, aku tidak ingin Mas Aldric terluka jika terjebak pernikahan lama dengan mu!"


"Kau tidak malu mencintai suami orang?"


"Lalu aku harus apa Aish? Kau yang menjadi penghalang kami bersatu, jangan lupa itu!"


"Mas Aldric menikahi ku, itu artinya dia memilih ku," sanggah Aish setelah diam cukup lama.


"Kenapa kau egois sekali Aish, aku dan Mas Aldric sudah berteman sangat lama, jadi meski dia sudah menjadi suami mu tetap saja aku harus tahu keadaannya baik atau tidak sekarang."


"Kau perlu tahu arti pertemanan sebelum dan setelah menikah Anara, ku akui kalian memang berteman bahkan menjadi kekasih yang hendak menikah, tapi kau harus pula tahu bahwa setelah menikah tidak ada lagi hal seperti itu."


"Apa maksudmu?"


"Mas Aldric sudah beristri, dia tidak boleh lagi punya teman wanita dengan alasan apapun, dan perlu kau ketahui lagi tentang seperti apa hubungan kami setelah menikah, biarlah itu menjadi privasi kami berdua. Jangan suka menebak pada hal yang belum tentu benar."


Anara berdecak atas pembelaan dari Aish.


"Percuma bicara padamu Aish, aku akan masuk sekarang. Mungkin saja Mas Aldric butuh sesuatu."


Anara ingin pergi, Aish menahannya lagi.


"Tidak bisa."


Anara menepis tangan Aish.

__ADS_1


"Aish, jangan membuat hubungan kita menjadi tidak baik. Aku mengenalmu dengan baik, pun kau mengenal ku dengan baik. Aku hanya ingin menjenguk Mas Aldric tidak ada maksud lain!" bantah Anara mulai kesal.


"Tidak boleh, mulai sekarang kau tidak bisa menemui suamiku seenaknya. Kau tidak bisa seperti ini terus Anara, terima takdir bahwa Mas Aldric sudah menjadi suami wanita lain."


"Mas Aldric adalah suamiku, dia milikku!!!" tegas Aish sebelum meninggalkan Anara berdiri mematung di sana.


Aish berbalik kembali ke unit apartemen milik suaminya itu. Ia tidak jadi berangkat bekerja, ia juga mengabaikan panggilan dari sopir taksi yang menunggunya hingga taksi online itu membatalkan karena telah lama menunggu namun Aish tidak muncul juga.


Anara menangis melihat punggung Aish yang menjauh, ia terluka. Ia tahu bahwa Aish mulai mencintai Aldric saat ini, ia tahu dari cara Aish bicara tentang Aldric, dari ekspresi wajah perempuan itu saat menekankan kata suami dari bibirnya.


Anara kecewa lagi, Aldric tidak cinta sendirian. Aish juga mencintai pria itu, takdirnya begitu pahit, ibunya jatuh sakit bersamaan dengan Aldric menikahi Aish waktu itu.


Aldric telah menjadi milik wanita lain, wanita yang seharusnya menjadi iparnya jika mereka berada pada rencana awal masing-masing. Ken dan Aish, Aldric dan Anda.


Namun lagi-lagi manusia hanya pandai menyusun rencana, tapi pemilik Kuasa yang bisa merubah segalanya.


Anara menghapus air matanya menyadari Aish telah membalas perasaan Aldric yang bertepuk sebelah tangan. Aish bahkan tidak jadi ke rumah sakit karena tidak suka Anara datang, ia menghalangi Anara bertemu dengan Aldric.


"Aish? Kau belum pergi? Apa ada yang tertinggal?"


Pertanyaan Aldric membuat Aish menoleh dengan tajam.


"Apa aku salah?"


"Awas jika kau bukakan pintu!!!!! Aku tidak jadi berangkat, aku mau tidur lagi."


Aldric mengerutkan dahinya.


Belum juga ia bertanya lagi, Aish telah masuk ke kamarnya. Membuat Aldric bertanya-tanya dalam hati.


"Aish," panggil Aldric yang memberanikan diri masuk ke kamarnya yang dulu.


Aish tampak menangis, Aldric segera mendekat.


"Aish, kau kenapa?" Tanya Aldric yang telah duduk di tepi ranjang.


"Aku tidak tahu."


"Aish?"


"Aku tidak tahu kenapa aku jadi seperti ini, aku juga bingung," sahut Aish kesal sendiri saat mengingat kata-kata Anara di bawah tadi.


Aldric mengelus lengan Aish dengan sayang, pria itu menenangkan Aish dengan kata-kata sopan.


Aish melirik suaminya merasa gemas.


"Ayo ajak aku jalan-jalan!"


"Aish aku baru saja sembuh, badanku juga masih sakit-sakit semua. Memangnya kau mau jalan kemana?"


"Terserah, aku mau kau menemaniku jalan-jalan!" paksa Aish.


Aldric tersenyum.


"Baiklah apapun untuk mu, sebut saja kau mau kemana? Ini masih pagi."


"Aku mau kita berkunjung ke rumah orang tua mu!" kata Aish berharap.


Aldric tersenyum lalu mengangguk. Aish menghapus airmatanya lalu memeluk Aldric dengan perasaan antara kesal dan gemas, bahasa tubuh pria itu sungguh sangat polos.


Justru raut wajah seperti itu yang membuat Aish mau gila rasanya, sikap datar Aldric yang selalu membuatnya gemas ingin memeluk pria itu lebih erat dari apapun.


Aish tidak suka ada perempuan lain di antara mereka meski atas nama pertemanan sekalipun, Aish tidak mau terulang lagi, cukup Romi yang memberi luka akibat orang ketiga dalam hubungan mereka di masa lalu.


Tidak dengan hubungan pernikahannya dengan Aldric, ia tidak mau pria itu jatuh pada pesona perempuan lain. Masa lalu mengajarkan banyak hal pada perempuan itu.

__ADS_1


Di rumah Bunda Nayla. Aldric merindukan kamar lamanya.


Ia tidak bisa berbohong atas kejadian yang ia alami tadi malam hingga membuat bekas luka di bagian dagu serta memar di bagian bahu.


Bunda Nayla cemas luar biasa, ia tidak mau terjadi sesuatu pada semua putranya apalagi Aldric, ia tahu sekali Aldric tidak akan membalas jika dipukul, perempuan hampir paruh baya itu sedih mendengar cerita Aish.


Namun Aldric pandai menenangkan ibunya dengan baik. Hingga mereka bicara yang bahagia-bahagia saja.


"Aku mau berenang, mungkin dengan berenang otot ku tidak kaku dan sakit lagi. Aku butuh mendinginkan otakku saat ini," cetus Aldric saat memberitahu Aish niatnya.


Aish tersenyum, yang perlu mendinginkan otak itu adalah dirinya yang galau luar biasa saat terbayang Anara bilang masih mencintai Aldric tadi pagi.


"Apa dia menyindir ku?" gumam Aish melirik punggung suaminya yang menjauh. Perempuan itu segera menyusul langkah Aldric menuju kolam renang.


"Kemana Aish?" gumam Naina yang datang dengan membawa dua buah gelas jus, berniat mengobrol berdua dengan banyak cerita yang akan Naina ungkapkan seputar kehamilannya yang membawa kebahagiaan pada semua orang.


Di kolam renang.


Aish termenung, ia tidak fokus pada apapun sejak percakapan nya dengan Anara tadi pagi. Ia masih saja memikirkan bagaimana wajah Anara ketika mengatakan mencintai suaminya.


Aish tidak suka pria nya disukai wanita lain, apapun alasannya, Aldric suaminya Aldric adalah suaminya, Aish kembali menegaskan dalam hati bahwa ia tidak akan membiarkan perempuan manapun merusak rumah tangganya.


Perempuan itu menemani Aldric yang sedang melepaskan penat, penat oleh pekerjaan, penat oleh pikiran atas kejadian pemukulan yang terjadi padanya semalam.


Ia melirik Aish, istrinya sedang asyik bermenung, istri yang sangat moody akhir-akhir ini. Aldric tersenyum berniat mengerjai.


"Aish, Aish!" teriak Aldric memanggil istrinya dengan melambai tangan.


Karena sedang banyak pikiran membuat Aish menoleh pada suaminya yang seperti sedang tenggelam.


Aish terkejut, ia segera berdiri memanggil Aldric dengan cemas. Pria itu berpura tenggelam.


"Mas Aldric!" teriak Aish sebelum ikut menceburkan diri ke kolam renang.


Aish menyelamatkan Aldric dengan susah payah membawa badan besar pria itu keluar kolam. Aldric pandai bersandiwara, ia diam saja seolah pingsan padahal ia ingin sekali tertawa.


Sampai pada Aish seperti kehilangan akal, ia memberi kompresi dada tanpa memeriksa Aldric terlebih dahulu.


Aldric tidak sanggup lagi menahan tawa. Hingga pecahlah tawanya saat mendapati Aish menyelamatkan nyawanya seolah ingin mati saat itu juga.


"Aish, kau sedang banyak pikiran? Aku hanya mengerjaimu, ku lihat kau hanya sibuk bermenung dari tadi."


Aish mengatur napasnya yang tersengal karena panik luar biasa. Ia menatap wajah Aldric yang masih sesekali tertawa.


"Aish, aku pandai berenang, dan kau melihatnya tadi, aku berenang dan tidak mungkin tenggelam, kau tahu itu!"


"Aku rasa kau benar-benar sedang tidak fokus," kekeh Aldric lagi.


Aish yang merasa cemas melihat suaminya tenggelam, kini menangis dan marah.


"Kau pikir kematian bisa kau buat bercanda? Kau pikir aku akan diam saja melihat suamiku tenggelam dan bisa saja mati di sana?" teriak Aish marah, ia memukul dada Aldric dengan tangis yang semakin jadi.


Aldric terdiam, ia tidak mengira ekspresi Aish akan seperti itu.


"Aish."


"Kau jahat Mas Aldric, jangan buat aku cemas, aku tidak mau kehilangan lagi, aku tidak mau!" ucap Aish kian sedih.


Aldric menyesal, ia telah keterlaluan dalam bercanda.


"Aish? Maafkan aku, sungguh aku hanya bercanda, aku hanya ingin mengetes jika kau memang sedang tidak fokus."


Aldric menyesal. Aish memeluk suaminya dengan erat. Aish takut terjadi sesuatu pada Aldric, apalagi jika itu membahayakan suaminya, Aish tidak sanggup menghadapi kehilangan untuk kesekian kalinya.


"Jangan seperti ini lagi Mas Aldric, aku mohon!" ucap Aish dengan nada dalam. Ia masih memeluk suaminya dengan erat.

__ADS_1


Aldric terdiam, ia hanya mengangguk lalu kembali meminta maaf.


__ADS_2