
Ken menghampiri Aish setelah menyuruh Ali untuk pergi bermain, dengan jalan terpincang bersama tongkatnya Ken ikut duduk di samping Aish saat ini.
"Hai," sapa Ken sambil merebut bungkus kacang rebus dari tangan Aish.
Perempuan itu terkejut mendapati Ken sudah berada di sampingnya saat ini secara mendadak.
"Oh Tuan Ken, kau membuat ku terkejut," sahut Aish seraya bergeser sambil tangannya memegang dadanya.
Ken terkekeh.
"Jadi ini pria yang kau tolong tempo hari?" tanya seorang perempuan yang duduk di sebelah Aishwa sambil berbisik.
Aish tersenyum lalu mengangguk.
"Kenalkan ini temanku namanya Lilis" ucap Aish mengenalkan temannya pada Ken.
Ken tersenyum sambil mengulurkan tangan, "Salam kenal Lilis, aku Kenzo!" seru Ken mengenalkan diri.
"Salam kenal juga Tuan Ken, aku tahu cerita mu dari Aishwa. Semoga cepat sembuh dan bisa pulang ke keluarga mu," sambut Lilis dengan tangan yang berjabat.
Mereka berbasa basi sambil menonton pertandingan bola anak-anak, Ken baru tahu jika lapangan bola ini sudah menjadi hiburan bagi warga setempat jika sore hari, melihat anak-anak bermain Ken menjadi tersenyum.
Banyak muda mudi yang nongkrong hanya untuk minum es dan makan kacang rebus di sana. Sesekali Ken mencuri pandang perempuan yang berada di sampingnya itu.
Sikap Aish tampak normal saja pikir Ken, ia tidak tahu apa yang sedang Aish hadapi dalam rumah tangganya hingga ia mendapat kabar bahwa suami Aish tidak pernah kembali sejak pergi di hari ketiga setelah perkawinan mereka.
__ADS_1
Setidaknya itu yang Ken ketahui dari cerita Aldi kemarin malam.
"Oh iya Tuan Ken, apa kau sudah menemui Pak Rahmat?" tanya Aish tiba-tiba.
Ken berpikir sejenak mengingat nama Rahmat.
"Belum," jawabnya singkat.
"Kemarin aku bertemu dengan Pak Rahmat, katanya dia akan ke kota besok ada yang menyewa mobilnya, aku pikir kau bisa menumpang jika kau mau," ucap Aish memberitahu.
"Apa kau mengusirku dari kampung ini?"
Aish tergelak dibuatnya.
Ken terdiam, benar yang dikatakan Aish. Aldi juga sudah menyarankan untuk menemui Pak Rahmat jika ingin menyewa mobilnya untuk mengantar kembali ke kota. Namun entah kenapa Ken belum ingin kembali padahal perkara mudah jika hanya menyewa mobil pak Rahmat.
Ken juga memikirkan tentu orangtuanya kehilangan dirinya yang menghilang tanpa kabar.
"Jika kau pulang dengan cepat, cepat pula kau mendapat penanganan yang lebih baik. Di kota kau bisa melanjutkan dengan berbagai terapi agar bisa cepat berjalan kembali dengan normal, jika seperti ini akan lambat Tuan Ken. Aku hanya kasihan padamu," ucap Aish lagi.
Lilis mengangguk setuju.
Ken tersenyum, "Aku masih betah di sini, aku akan pulang diwaktu yang tepat."
Aishwa hanya bisa tersenyum lalu mengangguk mendengar jawaban Ken. Ia tidak pula berhak memaksa.
__ADS_1
Pada malam harinya, Ken dan Aldi sedang berbincang di teras rumah kecil itu sambil merokok.
"Kenapa kau begitu penasaran dengan Aishwa?" tanya Aldi setelah mereka saling bicara sejak tadi.
"Entahlah," jawab Ken memandang jauh ke halaman rumah.
Aldi terkekeh mendengarnya, "Jangan jatuh cinta pada istri orang," gurau Aldi sambil terus mengepulkan asap rokoknya.
Ken mendengar itu menoleh pada Aldi. Ia berpikir sejenak, benarkah ia jatuh cinta pada Aish? tanya Ken dalam hati.
Baru beberapa hari mengenal Aish namun sungguh perempuan itu memikat hati dan pikirannya.
Ken seorang playboy, memikirkan satu wanita bukanlah dirinya, ia tidak pernah serius dengan satu wanita meski umurnya akan menginjak 28 tahun bulan depan.
Menjadi rebutan wanita sudah menjadi hal yang lumrah baginya yang tampan dan berada. Namun Aish, dokter cantik itu sudah bersuami namun Ken tidak bisa berhenti memikirkannya walau mereka baru mengenal dalam hitungan hari.
"Ah, memikirkannya saja aku jadi pusing!" tukas Ken kesal sendiri.
Aldi tertawa lagi, "Aishwa memang perempuan idaman, hingga kami para lelaki di kampung ini tidak berani untuk jatuh hati padanya, dia terlalu sempurna untuk lelaki rendahan, tapi hingga kini suaminya tidak pulang-pulang, entah kenapa Aishwa juga tidak pernah menyinggung perihal suaminya sejauh ini," kata Aldi sebelum berpikir sejenak.
Aldi dan Ken saling memandang.
"Atau jangan-jangan, suaminya gugur dalam tugas!!!" cetus Aldi tiba-tiba.
"Apa?"
__ADS_1