
Aish perlahan meninggalkan padang ilalang disaat Helikopter yang membawa Ken pergi telah menghilang di pelupuk matanya.
Bau tanah yang basah, Aish suka itu, begitu menenangkan hidungnya. Perempuan ini berhenti saat melewati lapangan bola, ia tersenyum saat mengingat Ken di sana.
Aishwa pulang, ia merapikan semua pakaiannya di lemari, lalu berlanjut pada dokumen-dokumen pribadi miliknya, termasuk ijazah semua sekolahnya.
Aish mulai berpikir, kemana ia setelah pindah nanti, uang di tabungannya cukup untuk makan dan membayar gaji Ratih untuk beberapa bulan saja. Tentu Aish tidak bisa terus terpuruk seperti ini, ia harus pula mengambil keputusan untuk hidup dan masa depannya setelah tidak punya apa-apa lagi.
Lama ia menatap ijazah terakhirnya, terlintas untuk mencari pekerjaan diluar kampung. Selama ini memanglah niatnya sungguh mulia untuk mengabdi dan melayani masyarakat dengan ilmunya pada orang tidak mampu sebagai dedikasi terhadap cita-cita Nenek Dijah semasa hidup.
Namun kebun sebagai sumber keuangannya sekarang telah pula terjual demi menambah pelunasan hutang. Aish mengangguk pasti, ia mengelap airmata nya dengan pasti.
"Iya, aku tentu tidak bisa seperti ini terus, tidak ada satupun lagi yang bisa ku andalkan di sini, semua habis. Hidupku harus tetap berlanjut, aku harus pula melihat masa depan, ayo Aish move on dari keadaan seperti ini!!!" ucap Aishwa menyemangati dirinya di depan cermin.
Ia sudah mendapatkan keputusan akan kemana langkahnya setelah semua ini. Aish membereskan semua barang pribadi dan pakaiannya, lalu ia menemui Ratih yang sedang membereskan dapur.
Lama mereka bicara sambil minum teh, bicara antar sahabat bukan sebagai majikan dan pembantu.
"Aku setuju Aish, aku mendukung keputusan mu! Kau harus pula memikirkan dirimu sendiri Aish, apa yang kau perbuat tentu masyarakat tidak akan melupakan mu, tapi ini menyangkut kehidupan pribadi mu, kau berhak pula untuk mencari kebahagiaan mu disini atau pun di luar sana," ucap Ratih sambil menggenggam tangan Aish.
Aish mengangguk haru, ia hanya punya Ratih yang ia anggap sebagai keluarga sendiri, gadis itu sudah lama bekerja pada Nenek Dijah sejak mereka lulus sekolah, Aishwa melanjutkan pendidikan di kota namun Ratih tidak, ia bekerja sebagai pembantu Nenek Dijah sejak saat itu.
"Aish," lirih Ratih saat mereka mulai membereskan semua alat medis dan obat yang terdapat di ruangan praktek Aish.
Aish menoleh.
"Iya Ratih."
"Bisakah aku ikut denganmu ke kota? Aku bisa bekerja apa saja," ucap Ratih setelah berpikir keras.
__ADS_1
Aishwa berhenti dari aktivitasnya.
"Ratih, kau punya orang tua disini. Kau juga akan menikah," sanggah Aish serius.
Ratih menggeleng.
"Aku tidak mau menikah, aku bebas menentukan kemana hidupku kan Aish? Aku tidak harus menuruti perjodohan orangtua ku, aku mau ikut dengan mu saja," ucap Ratih serius.
Aishwa tampak bernapas panjang setelah Ratih menjelaskan permasalahan yang sedang dihadapi gadis itu.
"Kau lihat aku pandai bekerja rumah tangga, aku akan menjadi pembantu atau apapun itu yang pasti aku akan ikut denganmu keluar dari kampung ini," ucap Ratih yakin.
"Bagaimana orangtua mu?"
"Aku sudah bicara dengan ibuku, aku boleh ikut dengan mu dengan syarat mengirimi mereka uang jika sudah bekerja nanti, kau tahu sendiri yang dipikirkan ibuku hanya uang dan uang saja," jawab Ratih meyakinkan Aish.
Aish mengangguk, mereka berpelukan seolah saling menguatkan.
"Baiklah, kita akan berangkat lusa nanti. Bawa barang seperlunya, untuk ongkos biar menjadi urusanku, kau masih tanggung jawab ku Ratih, jangan lupa kau bahkan belum gajian bulan ini, aku akan memberikan gajimu nanti," ucap Aishwa dengan senyum lembut nan tenang.
Wanita itu selalu tenang dalam bersikap dan mengambil keputusan, ia bukanlah wanita yang terburu dan tidak berpikir panjang, tentu ini keputusan terbaik baginya untuk segera memikirkan langkah hidupnya setelah semua tiada.
Aish dan Ratih kembali berberes rumah yang akan segera ditempati penghuni baru. Aish sudah mengikhlaskan apa yang sudah terjadi, selanjutnya biarlah Tuhan menentukan takdirnya nanti.
Di sisi kehidupan berbeda.
Ken merasakan sentuhan di pundaknya, perlahan ia membuka mata seraya berbalik badan dari posisi tidurnya yang tengkurap tanpa memakai baju.
Perlahan pula matanya memandang seorang perempuan yang sudah duduk di sisi ranjangnya.
__ADS_1
"Bunda?" lirih Ken pelan sambil mengumpulkan nyawa.
Perempuan awet muda itu tersenyum.
"Bunda rasa sudah cukup tidurnya, lihatlah matahari sudah tinggi!" tunjuk perempuan itu dengan ekor matanya mengarah pada gorden yang telah terbuka menampilkan siluet matahari yang menyilaukan.
Ken tersenyum sambil bangkit. Lalu pria itu memeluk sang ibunda dengan manja.
"Baiklah, aku juga bosan istirahat di rumah. Aku mau ke kantor siang ini," sahut Ken dengan suara khas bangun tidur.
"Jika begitu segera bangun, mandi dan makan. Bunda akan menunggu mu di bawah," ucap perempuan yang mirip dengan Ken itu.
Ken mengangguk setelah melepaskan sang ibunda yang perlahan beranjak meninggalkannya keluar kamar. Ken melirik lagi ke arah jendela, jantungnya kembali berdegup lebih cepat dari biasanya saat teringat wajah teduh Aishwa.
Bernapas kasar lalu Ken beranjak dari ranjang menuju kamar mandi, cukup lama ia berada di bawah guyuran shower yang menyala. Air hangat menimpa tubuhnya yang kekar dan berotot.
Ken memejamkan mata, mengingat wajah-wajah yang ia tinggalkan di kampung yang menahannya berminggu-minggu itu. Entah kenapa wajah Aish yang tersenyum sulit sekali ia lupakan.
Ken masih sangat penasaran dengan sosok Aish bahkan hingga saat ini, ia belum bisa banyak bicara pada perempuan itu soal status dan arah perasaannya yang tercipta selama di sana. Ah Ken frustasi jika mengingat semuanya, Aish bukan wanita sembarangan, bukan pula mudah ia dekati.
Andai kampung itu tidak terpencil, mungkin sudah setiap hari ia menemui Aish saat ini.
Ken telah rapi, ia menuruni anak tangga lalu menghampiri perempuan yang telah melahirkannya, sang ibunda pemilik cinta pertama seorang anak lelaki.
Nayla menoleh pada salah satu putra kembarnya itu, Kenzo yang kini hampir berusia dua puluh delapan tahun, ia tersenyum melihat Ken sudah rapi.
Perempuan paruh baya yang memiliki empat anak lelaki, berharap punya menantu dengan segera mengingat usia ketiga putra kembarnya ini sudahlah matang untuk berumah tangga.
Namun Ken berbeda, pria ini seorang playboy yang banyak pacar, hingga Nayla berniat menjodohkan Ken pada wanita pilihannya, wanita baik-baik dari keluarga baik-baik, Nayla hanya menunggu waktu untuk bicara pada putranya ini.
__ADS_1