Purnama Merindu

Purnama Merindu
Tidak pernah pulang terlambat


__ADS_3

Ariq mulai masuk bekerja, meski selalu mesra namun belum ada percakapan yang mengarah pada niat untuk pindah dari rumah Oma Rika.


Nayla terus melebarkan sayap kesabarannya, ia merasa benar-benar diuji dengan pernikahan yang masih seperti mimpi baginya namun sungguh jauh dari bayangannya itu, ia mulai bertanya-tanya kapan Ariq akan siap menjadikannya istri dalam arti yang sebenar.


Ini sudah sembilan hari namun belum juga pria itu menidurinya sebagai suami istri, Nayla sudah mencoba bersikap menggoda namun nihil, Ariq pandai berkilah terlebih sudah beberapa malam selalu pulang larut. Entah apa yang dikerjakannya diluar rumah padahal ia sedang cuti bekerja.


Nayla merasa ada yang disembunyikan oleh suaminya itu, jika bukan karena Oma Rika yang selalu mengajaknya berinteraksi mungkin Nayla sudah merasa terisolasi saat ini, berada di rumah besar yang penghuninya sibuk masing-masing, bibi Arina yang tetap dingin padanya, mertua yang telah kembali ke Amerika, sepi Nayla merasa kesepian meski dalam rumah besar itu terdapat banyak pelayan.


Nayla baru pulang dari membantu ayah Faisal di restoran, ia masuk ke kamarnya. Kamar sepi tanpa suaminya yang belum pulang dari kantor padahal hari sudah senja.


Menatap ranjang yang hanya mereka gunakan untuk tidur, sampai kapan seperti ini pikir Nayla. Sepuluh hari? Satu bulan? Atau ia harus menunggu satu tahun agar Ariq siap menyentuh tubuhnya. Bukankah melayani suami di ranjang juga sebagian dari ibadahnya sebagai istri, tapi hingga kini ia belum menjalankan kewajibannya sebagai penghangat ranjang mereka.


Entahlah, Nayla mulai jenuh. Jenuh memikirkan bahwa pernikahan ini seperti sebuah kisah semu, hanya sebuah obsesi Ariq semata atau hanya sebuah pelampiasan saja.


Entahlah, Nayla pusing jika terus seperti itu akan dibawa kemana pernikahan ini? Sejatinya setelah menikah, ia membayangkan membangun keluarga bahagia dan mendapatkan keturunan bersama pria yang menjadi pilihan hatinya. Tapi jika tidak menyatu di atas ranjang mana bisa memiliki keturunan, lalu sampai kapan ini akan berlangsung?


Nayla mengguyuri tubuhnya dengan air dingin, setelah mandi ia melaksanakan ibadah magrib, lalu ia turun ikut makan malam bersama Oma Rika serta paman Hendra dan bibi Arina.


"Suamimu belum pulang?" tanya Oma saat melihat Nayla turun seorang diri.


"Belum Oma, mas Ariq masih ada pekerjaan di luar kantor katanya," jawab Nayla masih dengan senyum yang terpaksa namun dalam hati ia juga bertanya seperti Oma, kemana suaminya belum pulang, bahkan ini sudah beberapa hari kejadian yang sama.


"Kau harus tahu, selama bujangan Ariq tidak pernah belum pulang sebelum magrib, ini bahkan sudah beberapa hari. Dia pria yang tidak suka meeting diluar jam pekerjaan, dia selalu pulang sebelum magrib, tidakkah kau mencurigai sesuatu?" kata bibi Arina menatap Nayla dengan raut penuh arti.


Nayla terdiam, benarkah demikian? Ia tidak tahu soal Ariq yang tidak pernah pulang malam dari kantornya. Dadanya bergetar, ada perasaan lain saat menatap wajah bibi Arina yang dingin.

__ADS_1


"Itu benar Nayla, kau tidak tahu?" tanya Oma Rika lagi.


Nayla hanya menggeleng pelan, ia bingung harus menjawab apa. Perasaannya tidak baik-baik saja sekarang.


"Jangan berpikir yang tidak-tidak, percaya saja pada suamimu. Oma yakin dia tidak akan berbuat hal yang diluar dugaan, mungkin prinsipnya mulai berubah sejak menikahi mu mana tahu dia lebih giat dan bersemangat mencari uang untuk istrinya ini. Dari yang tidak pernah pulang malam dari kantor kini jadi pulang lebih lambat karena semua pekerjaan dia tangani sendiri."


Oma Rika menenangkan Nayla dengan genggaman tangannya.


Lagi Nayla hanya bisa menghela napas dan berusaha terus tersenyum agar Oma tenang.


"Benar Nayla, paman melihat sendiri suamimu sibuk di kantor, semua pekerjaan dia tangani semuanya terlebih dia baru masuk bekerja setelah satu minggu cuti. Memang dia beberapa hari ini selalu keluar kantor lebih awal dari jam pulang, dia bilang ada urusan yang lebih penting dari semua hal."


"Tapi paman rasa bukan hal yang macam-macam, paman cukup paham dengan karakter lelaki itu. Paman tahu semua kesehariannya jika di kantor, jadi kau tenang saja. Jangan ikut bibimu yang curiga ini."


"Dan kau Nayla..... Kau harus tahu semua pergaulan suamimu, siapa saja temannya, kebiasaannya jika diluar rumah. Bisa saja dia sedang ada acara dengan teman-temannya, kita mana tahu bukan? Jangan jadi perempuan bodoh, apa gunanya alat komunikasi, tapi kau masih saja terlihat kebingungan, yang membuat kami curiga bahwa pernikahan kalian tidak seperti yang kami bayangkan."


Nayla hanya diam, tidak berani menjawab apapun, mereka makan malam dengan tenang setelah Oma Rika meminta agar bibi Arina tidak terus menerus membuat Nayla berpikir keras.


Setelah menemani Oma di kamarnya, bercerita tentang masa kecil suaminya yang membuat senyumnya kembali terbit. Oma pandai membuat mood Nayla membaik, mereka semakin akrab dari hari ke hari.


Nayla kembali ke kamarnya.


Setelah melepas mukena habis sholat isya ia memeriksa ponsel jika saja Ariq memberi kabar, namun nihil. Nayla menghubungi namun kembali nihil sebab ponsel suaminya sedang tidak aktif.


Dan Nayla menunggu hingga pukul 9 malam. Nayla mulai mengantuk, ia masuk kamar mandi karena perutnya yang mulas, juga berniat membersihkan kaki dan tangannya sebelum tidur.

__ADS_1


Namun saat keluar kamar mandi, ia dibuat terkejut oleh Ariq yang sudah berada di atas ranjang tertidur dengan posisi tengkurap dan membuat Nayla heran suaminya itu tampak masih berpakaian lengkap seperti pagi tadi, bahkan masih memakai sepatu.


Nayla mendekat, tidak ada respon saat ia membangunkan Ariq.


"Apa dia benar-benar tertidur?" gumam Nayla memperhatikan wajah suaminya.


Benar saja, Ariq hanya menggeliat kecil saat Nayla memperbaiki posisi tidurnya, membuka sepatu pria itu lalu menaruh ke tempat yang seharusnya. Nayla melihat jelas wajah Ariq yang tampak tertidur dalam kelelahan. Sepertinya pria itu benar-benar lelah bekerja hari ini.


Saat Nayla hendak beranjak suaminya malah menahan dan tiba-tiba meraih pinggang dan menyembunyikan wajahnya di pangkuan Nayla. Ia meringkuk nyaman di sana tanpa bicara, ia hanya membuka mata yang sipit lalu tertidur lagi dalam pangkuan istrinya.


Nayla mengusap kepala Ariq dengan sayang, ia tidak tahu apa yang membuat Ariq bisa selelah ini.


"Mas Ariq."


Hening.


"Mas Ariq." ulang Nayla.


"Apa yang menyebabkanmu bisa selelah ini?"


Hening. Masih tidak ada jawaban.


Nayla memeriksa ponsel suaminya, ia memberanikan diri karena ia pikir Ariq sudah memberinya izin akan hal itu. Nayla menarik napas dalam sebelum membuka ponsel mahal milik Ariq, ia tidak bisa terus berprasangka buruk jika terus memendam rasa penasarannya, jika menyangkut pekerjaan tentu akan ada bukti di ponsel itu pikir Nayla atau apapun itu setidaknya akan ada jejak yang bisa Nayla analisa nantinya.


Dan ternyata........

__ADS_1


__ADS_2