
"Tapi mereka juga tahu mana yang paling baik untuk mu."
Ariq terdiam sejenak.
"Aku akan bicara pada papa dan mamaku nanti, kau harus tahu Nay..... Orangtuaku modern dalam berpikir, mereka tidak akan memaksaku aku yakin itu. Soal bibi Arina, jangan kau ambil hati, dia memang seperti itu adanya. Aku minta maaf soal bibiku yang tidak suka padamu."
"Tidak ada salahnya mencoba, jika kau merasa sulit jangan dipaksakan, turutlah dengan orang tua maka Tuhan akan ikut campur dalam hal itu."
"Jangan memaksa dan mengikuti keinginan manusiawi saja, bisa saja itu bukan yang terbaik untuk kita, jika tetap juga memaksa seolah melawan takdir, maka jangan heran Allah juga akan berlepas tangan dari kita. Hingga tidak sedikit orang yang memilih jalan buntu, kawin lari dan akhirnya bercerai juga nanti."
"Ketahuilah mas Ariq, satu tahun lebih aku dan ayahku mengalami hal tersulit dalam hidup, kami baru akan bangkit lagi, kami tidak sempurna. Aku tidak ingin ada yang merendahkan aku dan ayahku lagi, kami sudah sangat berat beberapa waktu terakhir. Aku tidak ingin hanya karena cinta keluarga ku jadi bahan cekcok keluarga mu nanti."
"Jika bisa aku ingin menikah sekali saja seumur hidup, aku dan ayahku tidak sempurna tapi aku ingin kehidupan pernikahan yang sempurna dibalik segala kekuranganku nanti. Aku terus memperbaiki diri saat ini agar mendapatkan jodoh yang baik pula."
Ariq menatap Nayla tidak berkedip.
"Mas Ariq?" tegur Nayla.
"Iya."
"Kau kenapa?"
"Aku hanya sedang mengagumi betapa Agungnya sang pencipta, keindahan telaga matamu yang bening, gigimu yang putih berderat indah dengan satu yang gingsul membuat amat manis senyum dibalik bibirmu yang tipis, hidungmu yang mancung, wajahmu bulat telur, bulu mata lentik dan alis yang terukir indah. Sempurna, kau sempurna Nayla..... Allah maha besar menciptakan keindahan dalam paket lengkap calon istriku ini."
Nayla akhirnya tergelak juga setelah serius cukup lama.
"Apa itu sedang menyindir atau memang kau pandai memuji?"
"Aku serius, siapa yang bilang kau tidak sempurna? Jika ada kata lebih tinggi dari itu aku akan mengatakannya, kau sempurna luar dalam Nayla."
"Aku mencintaimu lahir batin."
"Ck..... Gombal lagi, aku sudah bicara serius sepanjang jalan kenangan, ternyata dibalas seperti ini." gumam Nayla sambil geleng kepala.
"Kau lihat Denia sampai bingung mendengar mu bicara," sambung Nayla.
"Aku berkata benar. Aku sedang memuji keindahan ciptaan Tuhan, keindahan yang hakiki."
"Berhenti bercanda, ini sudah waktunya Arinda dan Zandi pulang, aku akan menjemput mereka. Jika kau masih ada urusan kita bisa berpisah di sini, aku dan Denia akan naik angkutan umum saja."
Nayla melihat jam di pergelangan tangannya.
"Tidak, tidak ada yang lebih penting sekarang. Aku bahkan enggan berpisah darimu mulai sekarang. Aku akan mendampingimu dalam suka dan duka."
Ariq menatap Nayla dengan mata yang mendamba serta senyum nakalnya.
"Ck.... Dia mulai lagi," desis Nayla memutar bola matanya dengan malas.
__ADS_1
"Aku serius."
"Gombal saja terus, ayo cepat nanti anak-anak menunggu lama. Kasihan mereka pasti lapar."
"Kita bungkus untuk mereka?"
Nayla mengangguk. "Tunggulah sebentar," Ariq segera ke kasir dan memesan dua bungkus makan siang untuk Zandi dan kakaknya.
"Jika bisa tentu saja aku mau berjodoh denganmu mas Ariq," gumam Nayla yang menatap lelaki itu dari samping.
Dalam mobil lagi.
"Sayang."
"Hmmmm."
"Menikah denganku."
"Iya, aku mau."
"Nayla aku serius."
"Aku mau mas Ariq, aku juga tidak bercanda. Masalahnya kau sudah ada jodoh lain," goda Nayla dengan senyumnya.
"Kita menikah siri saja dulu."
"Tidak masalah bukan? Yang penting halal, kita bisa saling memiliki sepenuhnya."
"Lalu kau menikah lagi dengan jodoh pilihan orang tua mu, aku istri pertama yang akan diabaikan karena kau sibuk dengan keluarga mu nanti, ah itu ada di sinetron. Aku tidak mau."
"Iya kau benar juga."
"Mas Ariq!" rengek Nayla kesal.
Pria itu terkekeh.
"Itu tidak ada bedanya dengan opsi yang tadi, menjadi istri kedua Vano atau Angga, jahat sekali."
"Kenapa bawa-bawa mereka? Jangan sebut nama mereka lagi!"
"Vano dan mas Angga."
"Naylaaaaa...."
"Apa salahnya hanya sebut nama."
"Mereka itu pria pengecut!"
__ADS_1
"Vano si pengecut itu adalah iparmu, kalau mas Angga jangan bicara seperti itu. Dia baik, baik sekali."
"Kenapa kau jadi memujinya?" Ariq kesal lagi.
"Hanya memuji apa salahnya."
"Tidak boleh."
"Dasar pria posesif."
"Itu karena kau mencintaimu!"
"Aku tidak percaya."
"Sayang?" lirih Ariq menatap sekilas lalu kembali fokus ke depan.
"Jika kau benar cinta dan menerimaku apa adanya, kau harus buktikan dengan menjelaskan pada keluarga mu tentang wanita pilihan mu."
Ariq terdiam.
"Berat bukan?" goda Nayla lagi.
Diam, Ariq diam.
"Aku akan bicara pada mereka nanti, aku pastikan itu."
Nayla tersenyum kecut.
"Aku yang tidak yakin," ucap Nayla menunduk.
"Makanya menikah saja dulu, jika kita menikah mereka tidak akan bisa memisahkan kita."
"Andai kenyataan semudah apa yang kau ucapkan mas Ariq. Aku tidak berharap lebih padamu, aku takut menggantung harap pada manusia. Manusia bisa berubah kapan saja."
"Sayang?" lirih Ariq meraih tangan Nayla.
"Kita ikuti alur takdir saja mas Ariq, jika berjodoh Alhamdulillah.... Jika tidak juga tidak mengapa, kau akan menjadi kenangan terindah bagiku. Aku mendoakan yang terbaik untuk kita masing-masing. Masa depan tidak ada yang bisa menebak."
"Aku mencintaimu Nayla, aku mencintaimu...."
Nayla tidak membalas, ia hanya menatap keluar jendela mobil dengan perasaan berderai. Entahlah Nayla menjadi kurang yakin dengan kisah mereka.
"Aku hanya tidak ingin terluka lebih dalam lagi mas Ariq. Aku sudah cukup lelah dengan drama hidupku yang sekarang, aku lelah sekali. Lelah dengan ketidakpastian, lelah dengan cemoohan, jika bisa aku ingin hidup dengan tenang, jauh dari drama sinetron orang kaya yang selalu merendahkan."
"Hidup normal sebagai perempuan dalam suatu pernikahan yang bahagia meski sederhana. Bahagia lahir batin, apa salahnya jika aku bermimpi seperti itu?"
"Aku akan memenuhinya." Ariq menggenggam tangan Nayla dengan erat.
__ADS_1
"Andai takdir semudah ucapan mu mas Ariq."