Purnama Merindu

Purnama Merindu
Aku mencintaimu


__ADS_3

"Zaza," gumam Nayla segera melepaskan diri dari Ariq yang memeluknya.


Ariq menatap gadis kecil itu heran, lalu menatap kekasih barunya lagi.


"Bukankah dia anak Juna?"


Nayla mengangguk saja, gadis itu berjalan cepat menuju Zaza dan Dewi berdiri.


"Sayang, kau sudah bangun?" tanya Nayla pada bocah yang menatapnya lalu beralih menatap Ariq dengan raut bingung.


"Bundnay lagi apa?"


Deg, jantung Nayla berpacu lagi mendapat pertanyaan apa yang sedang ia lakukan bersama Ariq beberapa saat lalu. Gadis ini menoleh pada Ariq yang mendekat.


"Bunda sedang bekerja sayang, apa kau lapar? Ingin makan? Atau ingin----?"


"Maaf Nayla, aku tidak tahu kau sedang bersama mas Ariq, tenanglah soal Zaza sudah ku urus semuanya, anak ini sudah makan," potong Dewi yang masih menatap Nayla penuh tanya.


"Oke Dewi, bagus jika kau sudah mengenal Nayla. Gadis ini milikku, kau harus tahu itu." Ariq merangkul pundak Nayla seraya mencium gemas pipi perempuan bernama lengkap Nayla Purnama.


"Mas Ariq," lirih Nayla menghindar.


Dewi kembali dibuat terkejut, salah satu majikannya itu tampak memuja Nayla di depan matanya tanpa malu-malu.


"Aku bisa melihatnya mas Ariq," jawab Dewi tersenyum.


"Jangan dengarkan dia kak Dewi, maaf atas apa yang kau lihat tadi. Itu hanya salah paham," ucap Nayla berusaha menjelaskan.

__ADS_1


"Salah paham apa maksudmu? Tidak tidak, yang tadi itu benar adanya, kami berciuman," ucap Ariq enteng.


"Mas Ariq, kau tidak lihat ada anak kecil disini?" bentak Nayla kesal.


Ariq malah terkekeh sambil meraih lagi pinggang gadis itu.


"Kau berhutang cerita soal gadis kecil Juna yang juga ada disini, nanti kita bicara lagi. Aku harus bertemu bibiku dulu," balas Ariq sambil mengusap kepala Zaza dengan gemas.


Lalu pria itu mencium pipi Nayla lagi seraya berbisik, "Aku mencintaimu."


Lalu Ariq pergi begitu saja dari sana melewati Dewi yang kembali ternganga oleh pemandangan itu.


Merah, pipi Nayla memerah.


"Nay," panggil Dewi menyadarkan Nayla yang melamun.


"Nay, aku paham meski tidak kau jelaskan sekalipun. Mas Ariq adalah kekasihmu, sayang sekali aku baru tahu hari ini. Kau ini seharusnya cerita padaku jika kalian punya hubungan, huh jantungku hampir jatuh ketika melihat aksi kalian tadi," ucap Dewi terkekeh geli sambil memainkan kedua tangannya menampilkan isyarat ciuman.


"Aku harap kak Dewi tidak membesarkan tentang kejadian tadi, aku malu. Bagaimana jika seisi rumah ini tahu aku wanita murahan yang berani mendekati majikan kita, maafkan aku tapi kau perlu tahu aku sama sekali tidak mengetahui bahwa mas Ariq adalah cucu Oma Rika."


"Sayang tenanglah, aku tidak seember yang kau kira. Aku akan tutup mulut dari bergosip tentang kalian tadi, aku senang kau tersenyum Nayla. Aku tidak akan ikut campur soal asmara mu, aku peduli pada kau dan anak-anak mu semoga dengan mas Ariq kau bisa memperbaiki kehidupanmu, aku yakin mas Ariq bisa membantu."


"Huh, entahlah."


"Bersemangat Nayla, kau calon nona muda di keluarga ini."


"Aku bahkan tidak mau bermimpi soal itu, aku takut kak Dewi. Terlalu takut pada kehidupan sempurna para orang kaya. Aku tidak mau membayangkannya."

__ADS_1


"Bundnay," lirih Zaza merengek minta gendong sang bibi.


Nayla meraihnya, "Sayang, kita akan pulang setelah pekerjaan bunda selesai, sekarang kau boleh melihat bunda bekerja. Kau duduk di sana saja." Tunjuk Nayla pada sebuah kursi. Ia berjalan mendekati kursi lalu mendudukkan Zaza di sana. Gadis kecil itu menurut saja.


"Kak Dewi, aku akan mulai bekerja."


Dewi mengangguk, "Ingin ku bantu?" tawarnya.


"Tidak perlu, aku akan terbiasa dengan pekerjaan ini. Meski menyebalkan mencuci pakaian dengan hati-hati agar tidak rusak, aku terbiasa mencuci dengan asal."


Nayla merutuk sambil memungut pakaian yang tercecer, ia tampak kesal saat melihat ada banyak noda pada pakaian yang terjatuh tadi itu artinya ia akan bekerja lebih keras pagi ini. Belum lagi menetralisir perasaan yang sungguh Nayla geleng kepala oleh sikap Ariq yang membuat jantungnya nyeri sekaligus ingin lepas dari tempatnya.


Dewi tersenyum. "Baiklah, aku juga akan melanjutkan pekerjaanku. Ingat kau berhutang cerita padaku bagaimana bisa kau dan mas Ariq punya hubungan!" Goda Dewi seraya mencium pipi Zaza sebelum pergi dari sana.


Nayla hanya bisa geleng kepala, ia menarik napas dalam lalu mengeluarkan dengan perlahan agar dadanya merasa lebih baik.


"Bundnay."


"Iya sayang, tunggulah sebentar bunda bekerja setelah ini kita pulang dan jemput kak Denia, oke!"


Zaza mengangguk, gadis kecil itu duduk diam di kursi menunggu Nayla yang mulai bekerja.


Dan lagi, Nayla melamun sebelum mengerjakan tugasnya. Menatap pakaian itu lagi namun pikirannya teringat adegan ciuman tadi. Berhembus napas kasar, ia tidak ingin itu terulang lagi, sungguh Nayla tidak berani membalas perasaan Ariq jika mengingat kembali masa lalunya dengan Vano.


Terlebih Ariq bukanlah orang biasa, mana bisa ia bergantung harap pada pria yang berasal dari keluarga terpandang, tentu ada banyak anggota keluarga yang tidak akan menerimanya sebagai wanita yang tengah dekat dengan pria itu saat ini, bukan hanya wanita rendahan sebagai pelayan namun juga wanita murahan yang sudah hancur oleh noda masa lalu.


Ariq mencintainya karena belum mengenal Nayla yang dulu, belum mengenal luar dalam dirinya yang telah hancur berkeping-keping. Jika suatu saat Nayla jujur, mungkin Ariq akan mencampakkannya seperti kebanyakan lelaki yang tentu menginginkan wanita baik-baik. Tentu saja, Ariq tentu tidak akan bisa menerima keadaannya pikir Nayla.

__ADS_1


__ADS_2