
"Berikan padaku!" pinta Ammar pada Ariq yang sedang menggendong salah satu kembar.
Nayla terkekeh saja, ia bahagia melihat semua keluarga menyayangi putra-putranya sejak lahir. Kini usia bocah mungil menggemaskan semua orang itu sudah menginjak dua bulan.
Sesekali pandai tersenyum jika diajak bicara oleh orang yang menggedongnya.
"Padahal sudah tiga, tapi kenapa masih berebutan juga?" cetus Nayla heran, putra-putranya sejak tadi dimanja dan digendong dari tangan ke tangan, hanya saat menyusui saja barulah mereka berada dalam pangkuan sang ibunda, selebihnya hanya di pegang oleh orang-orang yang tidak bisa menyembunyikan kebahagiaan dari hadirnya jagoan kecil itu untuk pertama kali dalam keluarga Alif Humairah maupun ayah Faisal dan ibu Rena.
Hampir setiap hari dikunjungi, apalagi Ariq dan Nayla tinggal di rumah Oma untuk sementara waktu.
Clarissa berkaca-kaca melihat suaminya begitu antusias ingin menggendong bayi milik Nayla.
"Nayla, setelah mereka cukup umur. Kau harus hamil lagi melahirkan anak yang banyak, biar satu ku pinta hidup dengan kami. Jangan pelit anak, berikan dua untukku juga boleh, tiga masih kurang, lihat saja masih berebutan seperti ini," ucap Ammar dengan nada bercanda.
"Ck, memangnya aku mesin pencetak anak?" balas Nayla kesal. Clarissa tertawa sumbang, raut wajahnya tidak seperti senyumnya yang mengembang.
"Sepertinya kau harus lebih giat membuatnya biar cepat jadi, jangan menggendong anakku terus!" kata Ariq sambil memberikan bayinya pada Ammar.
Tiba-tiba lelaki pandai bicara itu terdiam. Ia mencium gemas pipi keponakannya itu.
"Sepertinya kami tidak akan punya anak," lirih Ammar pelan.
Nayla yang duduk di sebelah Clarissa itu menjadi heran. Ia menoleh pada iparnya itu, Clarissa hanya mengangguk sedih.
"Apa maksudnya?" tanya Nayla heran.
"Aku punya masalah dengan ovarium, tidak mungkin hamil dengan kelainan yang ku derita, aku tidak bisa punya anak," jawab Clarissa sedih, ia menunduk.
"Benarkah?"
Clarissa mengangguk, ia memberikan pada Nayla salah satu kembar saat bayi itu menangis mau menyusu, Nayla tidak menyangka Ammar dan istrinya diuji seberat itu, Clarissa tidak bisa hamil karena sebuah kelainan pada ovariumnya.
Baru kemarin Aqilla juga mengeluh belum ada tanda-tanda kehamilan padanya meski mereka sama-sama subur saat pemeriksaan dokter. Mereka cukup iri melihat Nayla yang hanya seorang wanita rumahan tapi bisa melahirkan tiga bayi kembar yang membuat keluarga terlebih suami mereka kesenangan bukan main mendapatkan keponakan.
Aqilla dan Clarissa tidak jauh berbeda, karir cemerlang di tangannya, kehidupan yang lebih tinggi dari kata lebih, kemewahan berada dalam genggaman, tapi satu hal sudah hampir dua tahun mereka belum mendapatkan keturunan.
Ammar diam saja, dia menjauh membawa bayi itu keluar kamar untuk menetralisir perasaannya. Ariq menyusul, ia tahu Clarissa butuh ruang berdua dengan Nayla.
"Jangan bersedih, semua tidak bisa kita tentukan hanya dengan pemeriksaan saja, jika Tuhan berkehendak kau pasti bisa hamil, ayolah, jangan bersedih. Bukankah tiga bayi ini anak-anakmu juga. Kau bibinya, kau juga ibunya," ucap Nayla pada Clarissa yang menunduk, akhirnya perempuan itu menatap Nayla lalu tersenyum, hatinya menghangat, Nayla selalu menyambutnya dengan hangat setiap berkunjung.
"Benarkah?"
Nayla mengangguk.
"Kalau begitu mereka tidak boleh memanggil ku bibi, mereka harus memanggilku Mami."
"Iya, baiklah Mami Icha," sahut Nayla memberikan lagi putranya pada Clarissa yang tampak meneteskan air matanya.
"Kau pantas bahagia Nayla, tidak mudah mengalami keguguran dua kali, tapi lihatlah Tuhan menggantinya tunai dengan tiga bocah ini, aku bangga padamu! Dua untuk kehilangan, ditambah satu bonusnya," kata Clarissa sambil menggenggam tangan Nayla dengan erat.
"Iya, takdir Allah begitu baik padaku. Kesakitan yang lalu kini tergantikan, betapa aku susah payah hamil, mengalami hal-hal yang membuat cemas, tapi semua itu berlalu sudah bahkan aku lupa bagaimana sakitnya keguguran dan kehilangan dua kali, hamil kembar yang berisiko, sakit itu kini berubah bahagia yang tidak terhingga."
...****************...
Sampai pada tahun ke lima.
__ADS_1
"Mas Ariq, mas Ariq......" teriak Nayla pada suaminya dari arah taman rumah mereka.
Tidak lama Ariq keluar menatap istrinya dengan heran.
"Ada apa?" Ariq menyusul ke taman sambil diikuti salah satu putranya yang memakai handuk seperti ayahnya.
Mereka dari kamar mandi, tergesa-gesa keluar saat mendengar teriakan Nayla.
"Bunda kenapa?" tanya si Aldric, bungsu yang selalu membuntuti Ariq jika di rumah, masih suka mandi dengan dengan ayahnya.
"Sayang kau kenapa?" ulang Ariq seraya mendekat.
"Kau lihat itu, Kenzo bermain anak ular!" tunjuk Nayla pada kembar yang nomor dua bernama Kenzo.
Ariq menoleh, Kenzo tertawa sambil menggoda bundanya yang ketakutan.
"Ken, ayo lepaskan ular itu! Kenapa kau suka sekali bermain binatang yang berbahaya? Ayo Ayah bilang lepaskan! Bundamu jadi takut." tegas Ariq seraya mendekat.
"Aku hanya bercanda, bunda terlalu serius, ini hanya anak ular, kecil dia tidak akan bisa memakanku!"
"Tapi induk ular itu akan balas dendam padamu Ken," cetus si sulung yang badannya lebih besar dari dua adiknya. Alvaro.
"Bilang saja kau takut!" sahut Ken yang tidak jadi melepaskan anak ular itu, malah mengejar Al dan menakutinya dengan ular hijau kecil yang sudah lemas dalam genggaman tangannya.
Mereka kejar-kejaran, membuat Ariq dan Nayla saling menoleh. Menghembuskan napas kasar, Nayla menatap Ariq tajam, ini sudah sering terjadi, putranya nomor dua lebih nakal dari dua saudaranya.
Kemarin, Nayla dibuat jantungan karena bocah itu bermain dengan kalajengking, hari ini anak ular.
"Besok kau harus bermain dengan laba-laba Ken, biar jadi Spiderman! Lebih keren daripada jadi Nagin," teriak Al mengejek adiknya sambil terus berlari.
"Kalian sudah mau punya adik, kenapa nakal terus?" ucap Nayla kesal.
Mereka semua terdiam, lalu menoleh pada perut buncit bundanya yang telah hamil besar.
"Kalian dengar itu? Ayo lepaskan anak ular itu Ken, jangan membuat bunda takut, apa kau mau bunda melahirkan di rumah?" kata Ariq lagi.
"Iya, iya...... Maaf!" sahut Ken mengalah.
"Ayah, lihat kepalaku masih ada sisa shampo!" cetus Aldric menunjuk pada kepalanya yang masih berbusa.
Nayla terduduk di kursi taman.
"Oh aku akan jadi ibu dari empat anak lelaki, inikah rasanya? Ini baru tiga, bagaimana empat nanti?" desis Nayla yang hanya bisa pasrah melihat dua anaknya yang sedang berulah lagi, Al dan Ken telah pula bermain air dari keran taman. Menyirami ikan-ikan koi yang terdapat di sudut taman dalam kolam kecil sebagai penghias taman keluarga itu.
Ariq ikut duduk di samping istrinya, mengecup perut lalu mencium kening Nayla dengan mesra. Istrinya hanya bisa menyandarkan kepala di bahu Ariq yang terbuka, pria itu hanya mengenakan handuk saja dengan sisa busa sabun di punggungnya.
"Mas, Ariq!"
"Hhmmmm."
"Kau bahagia?"
"Lebih dari itu!"
"Mereka nakal-nakal."
__ADS_1
"Karena mereka lelaki!"
Nayla menatap tiga putranya yang bermain air, Aldric bahkan mengganggu ikan-ikan itu dengan sapu taman. Ken menghidupkan air kencang-kencang lalu menyiram ikan-ikan koi sambil berteriak dia sedang menjadi petugas pemadam kebakaran.
Alvaro menggoda Aldric dengan menarik handuk adiknya itu hingga terlepas, mereka tertawa dan main kejar-kejaran.
Nayla melihat mereka antara bahagia dan kesal, bersyukur sudah pasti, ia menatap perutnya yang hamil memasuki usia sembilan bulan. Putra ke empatnya akan segera lahir minggu depan setelah ditentukan oleh dokter kandungan kapan ia harus menjalani operasi sesar untuk yang kedua kalinya.
"Apa kesulitan-kesulitan kita akan berakhir?"
Ariq menggeleng, ia kecup lagi puncak kepala istrinya sambil satu tangan mengelus lembut perut Nayla.
"Mungkin baru saja dimulai. Lihatlah, mereka memang nakal, tapi mereka itu adalah kebahagiaan. Kebahagiaan hidupku, seperti kau, kalian adalah hidupku."
Mereka saling menatap dalam perasaan cinta yang besar lalu berciuman singkat. Nayla tersenyum, ia tidak pernah menyesal memilih hidup bersama Ariq. Suami yang mencintainya, mendampingi tanpa mengeluh, semua yang terjadi padanya, baik maupun takdir yang buruk, Ariq lah satu-satunya pria yang bertahan di sampingnya hingga menjemput kebahagiaan.
Nayla bahagia, lebih dari apapun.
...****************...
TAMAT
Otor receh ini mau bilang makasih banget ya sama readers yang setia sampai episode akhir ini. Love sekebon buat kalian, semoga suka sama endingnya.
Alhamdulillah, kisah Ariq dan Nayla berakhir sampai di sini ya. Jika selama On Going ada kata dan bahasa yang kurang berkenan mohon dimaafkan, maklum masih otor amatiran.
Yang ngasih vote dan hadiah makasih banyak ya, pokoknya the best semua deh readers setia Purnama Merindu ini, komentar yang bikin otor semangat buat nulis, komentar kocak, praduga meski ada juga yang mengkritik, semua otor baca satu-satu, karena emang komentarnya sedikit 😅😅 jadi kebaca semua.
Saya bukan otor femes yang sudah banyak pembaca, jadi saya harus tetap semangat berkarya dan semangat pula untuk terus promosi kalo-kalo ada yang masih mau baca karya sy yang lain.
Sy akan fokus pada novel "Ranjang Pelakor 1 Milyar" akan update setiap hari jika tidak ada halangan.
Yang mau mampir hayuk, sy akan sangat bahagia sekali.
Kalo pun hanya mau sampai disini saja juga ga apa, mana tau berkenan dengan karya sy yang lainnya.
Yuk baca juga karya ku yang lain.
"Bidadari tak bersayap" karya pertama yang tulisannya belum baik, tapi jamin ceritanya bagus kok 😅😅 tetap.
"Ku Lepas Kau dengan Ikhlas" karya kedua yang sedih-sedih gemes gitu ya.
"Bodyguard ku suamiku" karya ketiga yang ga kalah seru.
"Berbagi Cinta: 1 hati dua Aisyah" karya yang merupakan pendahulu dari Purnama Merindu ini, juga bagus loh😘😘
Hanya saja ada satu yang ngegantung sampai sekarang.
"Duda lebih menggoda" gantung karena malas levelnya paling rendah.
Oke gaessss, aku cus ke "Ranjang Pelakor 1 Milyar" yah, jangan lupa jalin silaturahmi dengan otor receh ini di sana.
😘😘😘😘 love buat semua yang mampir dan baca novel ini sampe tamat. 👏👏
Sekian.
__ADS_1