
Nayla mengira akan berakhir pula percakapan itu namun tidak. Ariq menarik tangkuknya, mencium bibirnya dengan rakus, pria itu memaksa berciuman padahal Nayla sudah merasa sesak tidak bisa bernapas bahkan ingin meronta terasa sia-sia karena Ariq menguasainya dengan kuat.
Betapapun Nayla mendorong namun tidak bergerak sedikitpun, tubuhnya hilang dalam dekapan pria itu.
Nayla menangis, hanya bisa menangis atas sikap Ariq yang terkesan memaksa saat ini, ia memukul bahu pria itu hingga lemas sendiri.
Lalu Ariq melepas tautan bibir itu, ia mengelap sisa liurnya di sudut bibir Nayla sambil tersenyum sungging yang menakutkan.
"Kau gila mas Ariq," lirih Nayla seakan kehilangan tenaga, tangisnya mulai terisak lagi.
"Iya, kau yang membuatku gila!" teriak Ariq marah sebelum meninju dinding lagi. Pria itu keluar dari sana, meninggalkan Nayla yang luruh ke lantai menangis tergugu seorang diri.
Cukup lama gadis itu menangis dan mengurung diri dalam toilet, hingga pada ia menatap jam di pergelangan tangannya bahwa ia sudah terlalu lama berada di sana.
Nayla keluar dengan wajah lesu, ia hanya menunduk saja agar wajahnya tidak terlalu terlihat. Ekor matanya melirik kursi dimana Ariq duduk tadi, tapi kosong. Tidak ada pria itu di sana.
"Maaf, menunggu lama," Nayla meminta maaf pada para orangtua yang tampak menatapnya heran. Riak wajah mereka tampak serius.
"Nay, kenapa kau lama sekali?" tanya ayahnya cemas. Zaza yang melihat Nayla pun langsung beralih pada pelukan gadis itu. Gadis kecil itu mencarinya sejak tadi. Ayah Faisal menjadi terkedu hatinya saat melihat jelas dari dekat bahwa mata Nayla cukup memberi kesan bahwa gadis itu habis menangis.
"Ada apa ini? Nayla kau darimana nak? Kenapa kau lama sekali ke toilet, lalu Ariq mana? Tidak juga kembali hingga sekarang, Rahayu.... Bagaimana kau bisa berpisah dari Ariq?" Pertanyaan yang bertubi datang dari bibir mama Humairah.
Nayla dilanda gugup, ia melirik pula Rahayu yang telah duduk di kursinya semula.
"Maaf bi, mas Ariq memberitahu bahwa ada urusan mendadak hingga pergi dan katanya tidak kemari lagi," jawab Rahayu.
Nayla tampak bernapas berat, seberat beban hatinya saat ini. Bagaimana ia akan bersembunyi dari kenyataan agar Rahayu tidak terluka jika mengetahui hubungan pernah terajut bersama Ariq.
Papa Alif tampak berpikir sambil menghubungi putranya yang pergi tanpa pamit. Jika hal penting pasti Ariq akan memberitahu jika hendak pergi, namun ini tidak. Pria itu menghilang begitu saja tanpa pamit pada para orangtua.
Dan hal itu dinilai tidak sopan oleh papanya sendiri, terlebih saat mereka sedang makan malam sebagai pertemuan yang menjadi awal rencana perjodohan.
Nayla menunduk takut ketika bertatap mata pada nyonya Arina yang tersenyum seolah mengejek.
"Aku rasa terjadi sesuatu pada Ariq hingga dia memilih pergi dari sini. Sesuatu yang tidak bisa dijelaskan mungkin?" sindir nyonya Arina dengan lantang.
"Apa maksudmu Arina?" tanya mama Humairah.
__ADS_1
"Kau seperti tidak tahu putramu saja Humairah, Dia suka seenaknya."
Paman Hendra menggeleng seraya menyentuh tangan istrinya seolah mencegah untuk berkata lebih lanjut.
Mama Humairah tidak membantah, memang sebenarnya Ariq mempunyai sifat seperti itu, jika ia suka ia lakukan, jika tidak suka ia tidak akan peduli apapun itu. Perempuan itu menatap suaminya, ia mulai berpikir apakah Ariq tidak suka dengan pertemuan ini? Tapi bukankah beberapa saat lalu putra sulungnya itu mengajak Rahayu keluar seolah menerima dengan wajah tersenyum.
Humairah menatap lagi Rahayu yang tampak murung, ia tidak enak hati jadinya. Lalu matanya melirik pula Nayla yang diam dan menunduk saja dengan wajah yang pucat sambil meladeni Zaza namun terlihat lesu.
"Ada apa ini?" gumam Humairah dalam hati.
"Rena, maafkan putraku...... Jangan tersinggung, aku akan bicara padanya nanti. Huh kenapa jadi berubah seperti ini?"
Mama Humairah menatap ibu Rena dengan wajah sedih.
"Tenanglah Humairah, mungkin memang benar putramu sedang ada urusan mendadak, jangan dipermasalahkan hal ini. Ayolah bukankah kita masih ada hidangan penutup?"
Ibu Rena mencairkan suasana meski hatinya juga tidak baik-baik saja memikirkan alasan Ariq yang pergi tanpa pamit pada mereka, bukankah itu terkesan tidak menghormati pikirnya.
"Sayang," panggil ibu Rena pada Rahayu dengan sentuhan penuh kasih.
"Aku baik bu, bukan masalah besar...... "
Ibu Rena mengangguk, lalu matanya kembali melirik Nayla yang tampak murung sekali, berbeda ketika baru datang tadi. Hatinya mulai berkata-kata. Kenapa Nayla dan Ariq sama-sama menghilang dalam waktu yang cukup lama, namun Nayla kembali pada mereka sedang Ariq tidak. Pria itu pergi entah kemana.
Dirga, pria itu cukup menangkap keanehan dari acara makan malam itu sejak Nayla pergi ke toilet, ia sempat menyusul gadis itu ke sana namun urung saat melihat Ariq yang melewatinya dengan wajah merah padam seperti habis marah, dan pria itu berjalan dari arah toilet berada, tanpa menyapanya sedikitpun.
Bukankah Nayla juga ada di toilet waktu itu? Dirga tidak ingin berprasangka. Entahlah.
Ia tidak ingin memperkeruh suasana, hingga Dirga memilih diam.
*****
Drama pertemuan rencana perjodohan Ariq dan Rahayu terkesan jauh dari rasa hangat, semua berubah saat Nayla dan Ariq menghilang bersamaan dalam waktu cukup lama.
Kedua keluarga saling meminta maaf, namun akan dibicarakan ulang pada anak mereka masing-masing tentang kelanjutan niat itu. Kembali lagi bahwa pertemuan itu bukanlah pemaksaan pada rencana yang telah terniat lama. Semua orangtua berpikir terbuka baik Rena maupun Humairah dan suaminya.
Mereka sama sekali tidak memaksakan kehendak jika memang anak-anak itu tidak menerima. Hanya saja pertemuan itu diharapkan menjadi awal Ariq mengenal Rahayu. Bukankah ada pepatah tak kenal maka tak sayang, jika sudah kenal dan dekat maka tidak menutup kemungkinan mereka akan saling jatuh hati dan berakhir sebagai jodoh dan menikah.
__ADS_1
Itulah harapan orangtua, tentu mereka ingin yang terbaik untuk anaknya hingga mereka merasa bertanggung jawab memilih pasangan yang paling baik untuk diikatkan dalam pernikahan.
Humairah mengingat dua putranya yakni adik-adik dari Ariq yang telah menikah, mereka punya pilihan sendiri, wanita yang mereka cintai dan layak dijadikan istri hingga tidak memakan waktu lama mereka pun memilih untuk segera berumah tangga.
Sedang Ariq, umurnya sudah tiga puluh tahun namun belum juga mendapat seorang gadis yang ingin ia jadikan istri, Andira bahkan gadis itu mundur dan memilih menikah dengan pria lain karena Ariq tidak juga melamarnya meski telah berpacaran lama.
Hanya Andira yang pernah masuk dalam kehidupan percintaan Ariq sejak dewasa, setelah berpisah pria itu bahkan lebih dingin pada wanita dari sebelum-sebelumnya.
Jadi wajar saja Humairah dan suaminya terniat memberikan jalan agar Ariq menemukan jodohnya lewat Rena yang memiliki putri cantik dan berprestasi, seorang gadis berjilbab yang berkepribadian baik dan berbudi pekerti merupakan syarat lengkap untuk dicintai sebagai istri idaman bagi pria yang sulit jatuh cinta seperti Ariq.
Rahayu meneteskan airmatanya saat mengingat hal semalam, mengingat jelas apa yang Ariq ucapkan ketika mereka berjalan keluar dari hotel, namun hanya sebentar. Sekejap saja rasa itu seolah sirna oleh kenyataan yang Ariq utarakan.
Rahayu memutar memori tentang percakapan semalam.
"Maafkan aku Rahayu, aku datang untuk menghormati orangtua kita yang telah berencana lama untuk pertemuan ini. Kesan ku terhadapmu juga sangat baik, aku tahu kau gadis yang baik dan layak sekali dijadikan istri."
Ariq menarik napas dalam, ia menatap wajah Rahayu yang berharap akan hal manis yang terucap selanjutnya dari bibir pria itu.
Rahayu tersenyum mendengarnya.
"Maaf pula jika aku tidak bisa menerima perjodohan ini, maaf sekali bukan menolak karena tidak suka melainkan untuk saat ini dan seterusnya hatiku telah pula diisi gadis lain, gadis yang kucintai dan ingin ku nikahi."
Deg, senyum yang semula ia kembangkan luntur sudah, demi apa baru saja bertemu dengan sejuta bunga terasa penuh dalam dada kini berubah menjadi sebuah belati seolah menusuk-nusuk ulu hati.
Apa ia tidak salah dengar, tapi jelas sekali bahwa Ariq mengatakan telah memiliki wanita lain, kenapa rasanya sakit sekali sekarang disaat harap berubah tanpa balas begitu saja. Tidak sedikitpun Rahayu akan mengira Ariq bicara seperti ini padanya.
Alangkah pandai pria ini membaca suasana, ia tidak ingin bicara langsung di depan para orangtua hingga mengajaknya keluar untuk bicara hal yang menyakitkan seperti ini.
"Mas Ariq?" Rahayu seolah ingin memastikan lagi pendengarannya.
"Iya Rahayu, aku mencintai gadis lain...... Aku tidak bisa mengkhianati nya dengan perjodohan ini, aku benar-benar minta maaf padamu. Aku mengajakmu bicara di luar agar para orangtua tidak kecewa malam ini, aku ingin mengajakmu untuk bicara pada orangtua kita masing-masing ketika di rumah dan dalam suasana yang baik agar mereka dapat mengerti tentang hal ini."
Rahayu masih diam, ia bahkan tidak tahu ingin mengatakan apa saat ini. Matanya berkaca-kaca.
"Jika boleh tahu, siapa gadis beruntung itu mas Ariq?"
"Gadis itu sangat dekat denganmu."
__ADS_1
"Siapa?"
"Nayla, Nayla Purnama."