
"Apa?" Ken kembali ternganga dibuat pernyataan Aldi.
"Iya maksud ku bisa saja suaminya sudah mati dipangkuan ibu pertiwi mungkin!" ucap Aldi ragu-ragu.
Ken terdiam sejenak, ia mulai berpikir keras. Jika suami Aish gugur dalam tugas, itu artinya perempuan itu sudah menjadi janda, setidaknya itu yang Ken pikirkan saat ini.
"Yang benar saja!" tukas Ken tersenyum tipis.
"Tapi tidak mungkin, jika suaminya gugur tentu ada kabar dukanya bukan? Sejauh ini, Aishwa bersikap biasa saja, jadi kita tidak bisa menebak apa yang sebenarnya terjadi," ucap Aldi setelah berpikir lagi.
Ken mengangkat bahunya seraya bernapas lepas. Senyumnya menjadi kecut lagi.
Hari berganti hingga menjadi minggu, lebih tepatnya sudah dua minggu Ken menjadi tamu di kampung Aish.
Pertemuan-pertemuan singkat namun bermakna bagi pria itu kian membuatnya jatuh hati pada sosok Aish yang ia anggap sebagai bidadari yang sempurna.
Terlebih Ken menyaksikan sendiri kebaikan Aish dalam memberi pengobatan bagi warga yang kurang mampu, melayani masyarakat dengan tulus sebagai pahlawan kesehatan di sana.
Perempuan langka pikir Ken, jika bukan istri orang mungkin Ken sudah menggunakan jurus playboy nya untuk merayu Aish.
Sampai pada suatu pagi.
Ken menghampiri Aish yang kebetulan sedang mengobati luka Ali ketika anak itu terjatuh dari sepeda.
Ali dibawa pulang dan diberi penanganan luka oleh Aish saat ini, Ken melihat itu segera mendekat.
"Aldi sedang bekerja, apa lukanya tidak apa-apa?" tanya Ken pada Aish.
Perempuan itu menoleh.
"Hanya luka ringan, dua jahitan cukup." Aish menjawab seraya mengeluarkan alat yang ia butuhkan untuk menjahit luka Ali.
Ken mengangguk mengerti, ia memperhatikan setiap gerak gerik Aish menjahit luka Ali, sabar dan telaten saat anak itu mengaduh kesakitan.
"Aish."
"Iya Tuan Ken," sahut Aish setelah membereskan alat medisnya.
"Aku akan pulang besok," ucap Ken pelan.
Aish menoleh, "Aku senang mendengarnya, sudah seharusnya kau pulang. Kau bisa pemulihan lebih cepat jika dibawa berobat ke rumah sakit," jawab Aish menunduk, entah kenapa ia merasa lain saat Ken mengatakan ingin pulang hari ini.
Segera mungkin Aish menepis pikirannya itu. Pun Ken, ia menjadi lemah ketika mengatakan kata pulang pada Aish seolah ia berharap Aish menahannya di sana.
__ADS_1
"Aku akan berkunjung ke kampung ini sesekali nanti," kata Ken lagi sambil mengusap rambut Ali yang sedang fokus melihat luka di betisnya itu.
"Aku senang mendengarnya Tuan Ken, kau tamu terlama yang tinggal di kampung ini. Itu artinya kampung ini membuat mu betah selama dua minggu ini bukan?"
Ken tersenyum.
"Iya, aku bahkan lupa jalan pulang."
Aish tersenyum mendengarnya.
"Dan kaulah penyebab nya," sambung Ken pelan, sangat pelan.
"Apa? Kau mengatakan apa?" Aish menoleh pada pria itu.
"Tidak, aku hanya bergumam dalam hati saja," jawab Ken yang mampu membuat Aish terkekeh.
Aish mencuci tangan setelah membereskan semuanya. Ia menghampiri Ali dan Ken berniat pamit namun Ken menahan tangan Aish saat hendak membawa tas yang berisi peralatan medisnya.
Aish melihat tangan Ken menjadi deg-degan.
"Aku ingin bicara sesuatu denganmu boleh? Sebentar saja," ucap Ken memberanikan diri.
Aish menarik napas lalu mengangguk.
"Bisa kita bicara di luar?" tawar Ken lagi.
Perempuan itu mengikuti langkah Ken yang masih memakai kruk untuk menopang berat badannya saat berjalan meski masih terlihat pincang.
Sampai mereka berada di sebuah bangku di bawah pohon jambu air tepat di halaman rumah Ali.
Aish ikut duduk seperti yang Ken hendaki, ia masih bersikap biasa sambil matanya berpendar melihat buah jambu yang mulai merah.
"Kau ingin bicara apa?" tanya Aishwa penasaran dalam gugupnya, entah kenapa tatapan Ken membuatnya gugup sejak tadi.
Ken tampak menarik napas dalam.
"Aku mohon jangan tersinggung, aku hanya penasaran satu hal sebelum aku pulang ke kota."
Aishwa memperhatikan raut wajah pria tampan itu dengan seksama.
"Kau boleh bertanya apapun selagi itu sesuatu yang bisa ku jawab," balas Aish.
Ken menatap Aish menjadi serius.
__ADS_1
"Kau sudah menikah?" tanya Ken hati-hati.
Mendengar itu Aish mengangguk sebagai jawaban tanpa mengeluarkan kata-kata.
"Apa kau marah jika aku bertanya lagi?" tanya Ken tidak bergeming.
Aish tersenyum tipis lalu menggeleng.
"Kata Aldi, suami mu tidak pulang-pulang sudah hampir satu tahun, maaf aku lancang Aish, aku hanya ingin tahu status mu," ucap Ken sangat berhati-hati.
Aish terdiam. Semburat luka itu muncul lagi. Pertanyaan yang sudah sangat lama ia hindari.
Melihat Aishwa murung seperti itu membuat Ken kesal pada dirinya sendiri, kesal telah berani bertanya hal yang sudah terlanjur jauh pada Aish.
"Aku rasa bukan tanpa alasan Aish, aku pikir ini tidak pantas ditanyakan oleh orang asing seperti ku, tapi setidaknya kau perlu menjelaskan statusmu jika tidak ingin membuat orang lain salah paham, dan kau tahu Aish. Aku telah salah paham padamu, aku mengira kau masih gadis, rupanya sudah bersuami kata Ratih. Tapi Aldi bilang suami mu meninggalkan mu dihari ketiga perkawinan kalian sampai saat ini tidak ada tanda-tanda suami mu pulang kemari," ucap Ken memberanikan diri mengeluarkan rasa penasarannya selama ini.
Mendengar itu membuat Aishwa terdiam lama, entah apa yang membuatnya berubah menjadi sedih.
"Maafkan aku Aish, aku telah lancang menyinggung mu soal ini, aku bertanya langsung karena pertanyaan itu tidak ada yang bisa menjawabnya selama aku di sini, tapi melihat kau sedih, aku menjadi tidak tega."
Aish masih saja berdiam diri.
"Baiklah Aish, aku pria asing yang tidak tahu diri ingin bertanya hal yang tidak wajar pada istri orang. Maafkan aku, aku mohon jangan menangis," ucap Ken cemas melihat perempuan itu mulai menjatuhkan air matanya.
"Oke lupakan, anggap saja aku orang lancang yang tidak perlu kau ladeni, maafkan aku!" sesal Ken.
Aish masih diam. Ken mulai frustasi.
"Aish aku mohon jangan menangis, baiklah maafkan aku, lupakan apa yang baru saja ku tanyakan."
"Sebenarnya aku, aku sudah janda Tuan Ken!" jawab Aish pelan, lagi butiran bening itu jatuh di sudut mata Aish yang teduh.
Ken terdiam, antara terkejut dan bla bla bla. Perasaan pria itu seolah naik ke atas, seperti roket yang meluncur tiba-tiba saat mendengar kata janda.
"Aku tidak berniat menutupinya, namun aku enggan mengingat sebuah luka di sana. Aku hanya fokus mendedikasikan diri untuk masyarakat kampung ini dalam melayani kebutuhan kesehatan dengan ilmu yang aku punya, hingga tidak ada waktu untuk mengungkit ini semua!" jawab Aish masih menunduk.
Mendengar itu Ken menjadi berdiri.
"Aish, benarkah kau sudah menjadi janda?" tanya Ken bersemangat.
Sambil menghapus air matanya Aish mengangguk saja.
Ken ingin melompat kegirangan, namun suara Ali menjerit kesakitan membuat keduanya terkejut.
__ADS_1
"Ali," seru Aish berbarengan dengan Ken.
Keduanya pun kembali masuk ke rumah menghampiri Ali.