
Nayla berganti pakaian, ia segera menggendong Zaza keluar dari pintu akses belakang rumah besar milik oma Rika. Pekerjaannya telah selesai, ia terburu agar Denia tidak lama menunggu setelah waktunya banyak tersita untuk drama pagi ini.
Tanpa gadis itu sadari Ariq mengikutinya dari belakang, ia mencari Nayla beruntung perempuan itu belum jauh.
"Hai." Ariq tampak mensejajarkan jalannya dengan jalan Nayla yang tergesa-gesa.
Nayla terkejut, langkahnya terhenti seraya meraba dada yang berdegup saat mendengar suara Ariq menyapanya tiba-tiba.
"Mas Ariq, kau membuatku terkejut. Apa kau mengikutiku?"
"Iya, kenapa kau terburu sekali? Aku mencarimu, ternyata kau sudah pulang."
"Maaf aku harus cepat, Denia pasti lama menunggu, jam pulang sekolah sudah lewat sejak tadi, aku benar-benar tidak ingat waktu. Kasihan dia," jawab Nayla seraya melanjutkan perjalananya menuju sekolah Denia tanpa menghiraukan lelaki yang terus mengejarnya.
Ariq tentu terus mengerjarnya. Sampai pada Ariq menahan tangan Nayla hingga kembali terhenti.
"Mas Ariq, aku mohon...."
"Kenapa jalan kaki? Aku bisa mengantarmu."
"Sekolah Denia sudah dekat, tidak perlu diantar. Aku biasa berjalan kaki," jawab Nayla menghindar.
"Kemarikan anak itu!" Ariq mengambil alih Zaza yang tertidur dalam gendong Nayla.
Nayla terdiam, ia tidak menolak saat Zaza tampak masih tertidur setelah digendong oleh Ariq.
"Terimakasih."
"Iya, jangan lupa ada aku mulai sekarang." Kata. Ariq seraya menggoda Nayla dengan kedipan mata sebelah.
Pria itu tampak menggendong Zaza dengan satu tangan yang enteng, sedang tangan yang lain ia gunakan untuk meraih jemari cantik Nayla lalu menggenggamnya dengan erat.
"Ayo!" ajak Ariq sambil tersenyum melihat raut Nayla yang tampak hanya bisa mengangguk tanpa membantah.
Nayla tersenyum simpul, matanya melirik tangan mereka yang bertaut.
__ADS_1
Mereka mulai berjalan.
"Kemana arah kita pergi?"
"Ke sana," tunjuk Nayla.
Untuk beberapa saat hening.
"Boleh aku tahu kenapa mereka bersamamu saat ini?"
"Karena aku ingin mengasuh mereka."
"Apa karena mereka juga kau pindah?"
"Tentu saja, tidak mungkin mereka tumbuh di kost sempit. Ponselmu ku---"
"Aku mengerti, jangan bicarakan lagi tentang ponsel. Itu bisa dibeli lagi, aku kagum padamu," ucap Ariq melirik Nayla dengan tatapan dalam.
"Untuk apa?"
"Untuk semuanya, aku kagum pada gadis labil yang dulu hampir bunuh diri namun sekarang mampu menghidupi empat anak sekaligus."
"Aku hanya berusaha menata kembali kehidupan yang pernah tenggelam, dengan mereka aku bisa lebih bersemangat, karena mereka aku jadi lebih bersyukur, bahwa ada hal-hal yang tidak bisa ku abaikan, mereka membutuhkan ku," jawab Nayla sambil menatap kosong arah di depannya.
"Lebih-lebih ada aku sekarang," balas Ariq terkekeh.
Nayla menarik sudut bibirnya.
"Mas Ariq."
"Iya, sayang."
Nayla menatap Ariq dengan senyum geli saat mendengar kata sayang dari pria itu.
"Ckkk.... Jangan memanggilku begitu."
__ADS_1
"Kenapa tidak boleh?"
"Entahlah, itu terdengar janggal."
"Kau kekasihku, apa salahnya?"
"Pemaksa."
"Nayla, aku serius."
"Tapi aku tidak bilang menerima bukan?"
"Sudah ku katakan, aku tidak menerima penolakan."
"Aku hanya takut kau kecewa."
"Apa kau gadis yang suka memberi harapan palsu pada lelaki?
Nayla segera menggeleng.
"Kenapa kau merasa seperti itu?"
"Entahlah, aku merasa aku bukanlah perempuan yang cocok menjalin hubungan denganmu. Mas Ariq terlalu sempurna jadi lelaki."
"Benarkah? Wah seharusnya kau senang mendapatkan lelaki sempurna ini," kilah Ariq seraya bercanda.
"Mas Ariq," lirih Nayla.
"Sayang."
Nayla hanya terdengar mendengus kesal, namun sungguh hatinya suka akan sikap Ariq saat ini, entahla Nayla belum bisa mengartikan perasaannya pada pria tampan yang memujanya.
"Mana sekolahnya?" tanya Ariq bingung, mereka sudah berjalan cukup jauh.
Nayla baru teringat niat awalnya yang ingin menjemput Denia dari sekolah.
__ADS_1
"Oh, aku lupa lagi."
#Selamat hari raya idul fitri ya para readers ku tersayang maaf lahir dan batin ya semuanya, maaf jika ada.