
Ariq menopang kepalanya dengan satu tangan, ia berbaring miring sambil terus memperhatikan wajah istrinya yang masih terlelap.
Sesekali tangannya yang lain membelai rambut Nayla dengan sayang. Tidak ada pergerakan dari perempuan itu, Ariq paham istrinya sungguh lelah meladeninya beberapa jam lalu.
Tidur dengan lingerie seksi membuat Ariq tidak bisa jauh dari Nayla, hingga rasanya ketika hendak ke kamar mandi pun istrinya itu ikut juga, seperti perangko yang menempel di amplop surat, sungguh lengket.
Barulah pasangan itu benar-benar merasakan apa itu rasanya pengantin baru. Pikiran yang tidak jauh dari ranjang.
"Sayang......!!!" Ariq menggoyangkan tubuh Nayla membangunkan.
Nayla hanya bergerak namun belum membuka mata.
"Nayla."
"Hemmmm," sahut Nayla pelan sekali, matanya enggan terbuka.
"Sayang ayo bangun!"
Nayla bertambah meringkuk berpaling membelakangi Ariq seolah tidak ingin diganggu tidurnya.
P mm1 dria itu terbesit sebuah ide.
Tanpa berpikir panjang, satu tangannya sudah melesat menyelinap di balik selimut yang menutupi tubuh bagian bawah istrinya. Meraba dan mulai memainkan **** ********** Nayla.
Ariq tersenyum puas saat Nayla kembali menghadap padanya.
"Mas Ariq, aku lelah. Biarkan aku tidur."
Suara parau keluar lembut dari bibir Nayla. Suaminya hanya terkekeh, tangan itu tidak bisa berhenti bermain di bawah selimut.
"Mas Ariq," rengek Nayla yang hanya membuka mata beratnya sebentar.
"Aku akan memberimu kenikmatan."
"Berilah aku kenikmatan tidur lebih lama lagi."
"Ayo bangunlah..... Sebentar lagi juga subuh," kilah Ariq sambil memainkan dada istrinya dengan lidah.
Nayla hanya bisa bernapas frustasi.
"Mas Ariq, aku mengantuk."
Ariq tidak peduli, ia terus saja memberi rangsangan yang mulai membuat tubuh Nayla menggelinjang meski matanya enggan terbuka.
"Kita bermain sebentar."
"Ah......" desah Nayla yang segera menggigit bibir bawahnya menahan gelanyar gairah yang kembali diciptakan suaminya di bawah sana.
Ariq terkekeh, ia telah pula menindih dan mencari jalan senjatanya yang ingin segera masuk setelah membuka dalaman istrinya meski sedikit memaksa.
Pria itu sibuk menciumi leher hingga bermain dada Nayla yang terus saja membuatnya menggila padahal ia sudah terpuaskan sejak tadi tapi malah Ariq merasa kecanduan bercinta meski telah berulang melakukannya.
Nayla hanya bisa pasrah, tangannya mulai melingkari punggung suaminya seakan mengeratkan pelukan.
"Ck.... Kau bilang mengantuk, tapi tetap saja memberi jalan," cetus Ariq saat Nayla melingkarkan kedua kakinya di pinggang pria itu hingga Ariq lebih mudah bergerak seperti olahraga push up.
"Jika sudah begini, selain menikmati aku bisa apalagi?" lirih Nayla dibalik leher suaminya.
Ariq terkekeh, ia meneruskan aksinya yang kian membuat ranjang menjadi panas kembali meski udara kian dingin di dini hari.
"Aku janji ini tidak akan lama."
"Jangan berjanji, jika kau tidak bisa menepatinya!" kilah Nayla yang menahan suara lenguhan yang ingin sekali ia teriakkan oleh rasa yang diciptakan suaminya yang kian bergoyang.
Ariq terkekeh.
"Kau membuatku gila sayang."
__ADS_1
"Aku juga gila, sekaligus lelah.... Lelah bukan main," jawab Nayla sedikit kesal.
Ariq terkekeh lagi, ia bertambah gemas untuk memakan seluruh tubuh istrinya yang benar-benar mengantarkan sebuah hasrat yang tinggi, gairah yang terus memuncak.
Derit ranjang dan suara desah kenikmatan terus berlangsung sebelum subuh menjelang.
Mereka menikmati setiap detik malam pertama yang indah ini, malam yang cerah dengan sinar purnama menerangi seluruh isi bumi hingga ke dini hari yang tidak terasa dingin sama sekali bagi dua insan yang mulai berkeringat lagi.
***
Ariq mencari istrinya yang menghilang setelah subuh, pria itu tertidur lagi karena kelelahan dan mengantuk. Namun saat terbangun Nayla tidak ada di kamar.
Ariq mencari ke segala ruangan, tidak ada Nayla di sana.
Sampai senyumnya mengembang saat mendapati sang istri telah berada di dapur.
"Sayang, kau sudah bangun? Maaf aku tidak bisa tidur lagi. Aku membuat sarapan saja."
Nayla menghampiri suaminya. Ariq menyambut perempuan itu dengan penuh kasih, ia dekap lalu cium sepuasnya hingga Nayla menghindar sendiri.
"Mas Ariq lepaskan aku!"
"Kau wangi dan seksi."
Nayla terkekeh, penampilannya yang seksi hanya memakai dress pendek di atas lutut, paha mulus terpampang nyata, dress tanpa lengan menampilkan leher jenjang yang banyak terdapat cap merah tanda kepemilikan di sana. Rambut ia ikat sembarang, cantik membuat mata suaminya terpesona pagi-pagi buta.
"Ingin sarapan?"
"Iya, kau masak apa?"
"Ada sisa daging semalam, aku buat omelette daging untuk isian roti. Hanya roti yang ku temukan di sini."
"Apapun itu asal buatan istriku tentu akan ku makan."
Mereka saling melempar senyum sebelum ke meja makan.
"Hmmmm?" pria itu menoleh setelah meminum air putih satu gelas setelah menghabiskan sarapannya.
"Terimakasih."
"Untuk apa?"
"Untuk semuanya, rumah ini benar-benar membuatku kehilangan kata-kata. Dapur ini, aku suka sekali, aku tidak bisa membalas semua ini. Tapi percayalah aku akan mengurusnya dengan baik, aku akan jadi istri yang baik untukmu. Aku ingin kau bahagia karena telah memilih ku, aku mencintaimu mas Ariq, tetaplah seperti ini."
Nayla mencium bibir suaminya dengan lembut.
"Apapun untukmu sayang.... Aku melakukannya untuk kita, kita akan tinggal dan hidup di sini, bahagia bersama keturunan-keturunan kita kelak."
Ariq memeluk Nayla sejenak lalu mengajaknya berdiri dari meja makan.
Menarik lembut tangan cantik istrinya mendekati dinding kaca.
Dapur yang didesain modern, terdapat satu dinding yang sengaja dibuat dari kaca mengarah pada pemandangan laut yang menampilkan ombak-ombak kecil yang menyapu pantai, terdapat jendela di sana, Ariq membukanya hingga mereka dapat melihat pantai tanpa penghalang.
"Aku ingin kau memasak, dan pemandangan ini akan membuat mood mu bagus meski sedang berada di dapur," ucap Ariq memeluk Nayla dari belakang.
Nayla mengangguk.
"Dan kau adalah mood ku yang terbaik, terimakasih mas Ariq."
Nayla menyandarkan kepalanya di dada Ariq, memandang ke arah yang sama. Pantai yang meniupkan angin dari arah laut, Nayla menarik napas dalam-dalam, ia bisa merasakan betapa kebahagiaan mulai menyapanya, rumah yang indah, suami yang mencintainya.
"Aku mencintaimu mas Ariq."
Nayla berbalik badan, hingga mereka saling berhadapan. Suaminya yang tampan yang hanya memakai boxer tanpa atasan, dada telanjang yang terus menodai mata dipagi buta.
"Aku juga mencintaimu sayang, lebih dari apapun."
__ADS_1
Lelaki itu meraih bibir Nayla membawa dalam buaian panjang.
"Ingin bercinta?"
"Mas Ariq, jangan gila."
Pria itu terkekeh.
"Kata orang-orang, pria akan lebih subur ketika pagi."
"Siapa yang bilang begitu?"
"Orang."
"Jangan percaya," Nayla mulai menjauh, dan menghindari tatapan mesum suaminya.
"Ayolah," ajak Ariq menangkap tubuh sintal istrinya lagi.
"Oh, aku bisa pingsan."
"Jangan drama, aku rasa kita bisa menyicil yang 13 itu mulai sekarang!"
"Apa?"
"Mau kemana kau?"
Nayla berlari menjauh.
"Aku tidak mau," jawab Nayla yang sudah berlari ke ruang tengah.
Ia membuka pintu yang berada di kiri ruangan itu, tanpa ia sadari tubuhnya sudah berhasil ditangkap oleh suaminya.
"Dapat kau!"
"Ah, mas Ariq....." rengek Nayla manja.
Pintu terbuka, Nayla tidak tahu jika mereka sudah di tepi kolam renang, ia membuka pintu yang terdapat kolam renang di sisinya.
Dan mereka jatuh begitu saja
"Mas Ariq, kau tidak bilang ada kolam renang di rumah ini." Nayla terkejut saat mereka jatuh.
Nayla mengalungkan tangannya di leher sang suami.
"Kenapa memangnya? Kau tidak bisa berenang?"
"Bisa," jawab Nayla cepat.
"Jika bisa kenapa tidak lepaskan aku, kau seperti takut air saja."
"Bukan takut air, tapi takut kehilanganmu," balas Nayla manja seraya mengeratkan pelukannya, ia pun melingkari pinggang Ariq dengan kedua kakinya dengan mesra.
Ariq terkekeh, "Kau pandai merayu sekarang."
Nayla tersenyum, ia menatap suaminya dengan raut manja.
"Aku mencintaimu sayang, tetaplah bersamaku mas Ariq."
Nayla memberi kecupan-kecupan manja.
"Sepertinya kau yang lebih sering menyatakan cinta sekarang."
Nayla tersenyum lagi tanpa menjawab melainkan kembali membawa suaminya dalam ciuman bibir yang kian panas.
"Aku rasa bercinta di kolam renang tidak buruk juga."
"Mas Ariq jangan bercanda!"
__ADS_1