Purnama Merindu

Purnama Merindu
Darah yang tak kasat mata


__ADS_3

Ariq mundur beberapa langkah, kakinya lemas seketika menatap Nayla seakan mencari pembenaran, namun dengan diamnya gadis itu membuat Ariq tahu Vano sedang tidak bercanda apalagi berbohong.


Runtuh rasanya hati, pecah berserakan dalam keheningan yang tercipta untuk beberapa saat. Gadisnya, Nayla nya telah diakui oleh pria lain dalam sebuah kenyataan yang pahit. Pahit sekali. Kalimat demi kalimat dari Vano seakan berubah menjadi samurai yang menggores dan mempermainkan hatinya yang tulus mencintai gadis itu.


Berdarah, Ariq berdarah tanpa luka kasat mata.


Baru beberapa saat lalu Ariq cemas memikirkan gadis itu, ternyata ini yang tengah dilakukan oleh Nayla disaat jauh darinya. Bertemu pria lain, pria yang telah beristri. Suami adik sepupunya sendiri.


Nayla diam seribu bahasa, entah apa yang dipikirkannya saat ini.


"Kau mendengar ku mas Ariq? Nayla adalah milikku, keutuhan hatiku ada dalam genggamannya, sekarang suka atau tidak mas Ariqlah yang harus pergi dari kehidupan Nayla, jangan temui gadisku lagi, aku tidak suka."


"Diam kau bangsat," seloroh Ariq dengan emosi yang membuncah.


Pria ini kembali menghajar Vano tanpa henti, tanpa perlawanan membuat Vano dipastikan babak belur oleh buku tinju seorang pria yang merasa dipermainkan. Vano tersungkur, terjatuh ke tanah dengan kondisi menyedihkan. Berdarah, Vano berdarah oleh luka yang tercipta oleh keadaan.


"Lepakan aku bang Jhon!" Ariq meronta saat bang Jhon melerainya dengan menghentikan tindakan kekerasan itu.


"Mas Ariq tenangkan dirimu, semua bisa dibicarakan. Jangan seperti ini." kata suami Dewi tersebut.


Melihat dua lelaki itu berkelahi bang Jhon dan Dewi segera menghubungi Annisa, setelah itu Dewi berlari menempuh hujan demi memastikan anak-anak Nayla dalam keadaan baik dan tidak terbangun oleh suara gaduh yang bersaing dengan bunyi hujan.


Dan suaminya melerai pertengkaran, tidak lama berselang Annisa datang dengan tangisan pilu saat melihat suaminya terkapar di tanah.


"Mas Ariq hentikan!" teriak Annisa dari jauh.


Ia berlutut memegangi kepala suaminya yang tidak berkutik lemah di tanah. Lalu dengan perasaan marah ia menoleh pada Nayla yang hanya berdiri mematung seolah hanya menjadi seorang penonton setia pertunjukan tindakan kekerasan itu.


Plak, Nayla memalingkan wajahnya ke samping saat mendapatkan sebuah tamparan keras dari istri Vano.


"Kurang ajar, puas kau melihat suamiku seperti ini? Tidakkah kau merasa mempermainkan banyak hati?" ucap Annisa marah pada Nayla.


Tidak ada jawaban, Nayla diam, diam seribu bahasa. Namun satu hal, matanya menampilkan kekecewaan yang besar atas kejadian ini, tatapan dingin yang menusuk jantung.

__ADS_1


Ariq pun diam, diam menyaksikan wajah cantik yang ia puja itu ditampar hingga memerah oleh adiknya sendiri.


Hujan merintik reda, hening tercipta lagi hanya terdengar deruan napas yang kasar, dada yang kembang kempis dari Ariq, ia menatap Nayla dengan raut kecewa.


"Ayo kita pulang," ucapnya pada Annisa, seraya meraih tangan adik sepupunya itu untuk berlalu dari sana.


"Suamiku mas Ariq," cegah Annisa saat ingin menolong Vano.


"Tinggalkan pria sialan itu. Ayo pulang, jangan buat aku marah padamu!"


Annisa takut pada kakak sepupu yang terasa seperti kakak kandung baginya itu. Tanpa membantah lagi perempuan itu mengikuti langkah Ariq yang kian menjauh.


Nayla hanya bisa menatap mobil Ariq yang perlahan menghilang di tikungan jalan.


"Ayo bantu aku membawa Vano ke rumah sakit bang Jhon!" ajak Nayla seraya berlutut ingin membantu Vano berlalu dari sana.


Bang Jhon yang terpaku sejak tadi pun menjadi terhenyak, ia segera mengangguk lalu ia gotong tubuh tidak berdaya Vano masuk ke mobil milik pria itu. Bang Jhon akan mengemudi membawa Vano ke rumah sakit didampingi Nayla setelah memberitahu Dewi agar menjaga anak-anak.


"Maaf, kami hanya membantu sampai disini saja. Aku bukan istrinya, tolong hubungi nomor istrinya yang sudah ku tulis tadi, hubungi juga keluarganya bahwa dia sudah mendapatkan penanganan. Agar mereka kemari menjaga pria ini, kami permisi."


Perawat itu mengangguk mengerti dan mengucapkan terimakasih. Dan Naylapun berlalu dari saja bersama bang Jhon. Mereka memesan taksi hendak pulang.


Bang Jhon melihat jelas wajah murung Nayla selama perjalanan pulang mereka.


"Aku kasihan padamu Nayla." gumam bang Jhon dalam hatinya, ia tidak berani bersuara disaat kebisuan menjelaskan segalanya.


Nayla melihat keluar mobil, hujan sudah berhenti. Udara basah terasa menusuk hidung, dinginnya tengah malam ini, sedingin hati Nayla yang kian patah.


Sesampainya di rumah, Nayla pun masih sama. Menatap kosong pada sebuah pot bunga berisi bunga mawar yang mulai tampak layu, mawar pemberian Ariq beberapa hari lalu.


"Seharusnya aku sudah dapat mengira bahwa mas Ariq pasti akan pergi setelah tahu semua tentang diriku," gumam Nayla seorang diri, menyendiri dalam cahaya temaram lampu tidur kamarnya yang terdapat empat bocah yang menjadi alasan kenapa Nayla bisa setabah ini.


Karena lelah berpikir, lelah pula hatinya dalam menyelami takdir akhirnya Nayla ikut meringkuk memeluk Zaza yang baru saja ia beri susu. Nayla ikut memejamkan mata, mengistirahatkan jiwanya yang kembali sepi.

__ADS_1


Keesokan harinya Nayla kembali datang ke rumah majikannya, ia tetap datang memenuhi kewajibannya bekerja meski ia sudah bisa menebak akan terjadi sesuatu lagi di sana nanti. Apapun itu Nayla tidak akan goyah lagi, bukankah ia sudah mati berkali-kali, lantas hal buruk yang menimpanya semalam bahkan hari-hari berikutnya tidak akan mempengaruhi proses kedewasaannya.


Benar saja, baru saja masuk ia sudah pula ditunggu sang empunya rumah. Nyonya Arina.


"Bagus kau datang, kau memang bernyali besar Nayla.... Kemarilah, aku ingin bicara denganmu."


Nyonya Arina tampak berjalan lebih dulu, tatapan dingin yang seolah mengintimidasi perasaan Nayla saat ini. Nayla hanya mengangguk tanpa banyak bicara.


Sampai pada mereka duduk berhadapan di sebuah ruangan kecil yang penuh dengan buku-buku dari seluruh penjuru dunia. Perpustakaan mini milik Oma Rika.


"Aku salut padamu." Nyonya Arina mengeluarkan suara juga setelah hening beberapa saat.


Ia menuangkan teh buatannya sendiri dari poci ke gelasnya, lalu ke gelas milik Nayla.


"Untuk apa?" tanya Nayla setelah diam lama.


"Santai saja, minumlah teh mu dulu."


"Aku suka berbasa basi," jawab Nayla meminum teh yang dituangkan dalam gelasnya.


Nyonya Arina tersenyum lalu bertanya, "Bagaimana rasanya?"


Jika teh pada umumnya akan manis, namun yang ini berbeda.


"Pahit," jawab Nayla pelan.


"Itu pula yang terjadi pada kehidupan rumah tangga putriku."


"Aku tidak mengerti."


"Kau tahu semuanya, jangan berlagak bodoh seolah kau tidak mengerti apa-apa dalam hal ini. Bukankah kau penyebabnya?"


Nayla tersenyum getir. Mau tidak mau takut atau berani ia harus bisa mengontrol dirinya di depan bibi dari Ariq itu.

__ADS_1


__ADS_2