
Aish mencium tangan calon ibu mertuanya, Nayla yang sejak tadi menunggu Aish segera membawa perempuan itu menjauh dari Ken.
Mereka berdiskusi banyak hal tentang pernikahan, membuat Aish bersyukur akan mendapatkan mertua seperti Bunda Nayla, perempuan lembut yang penyayang, ia bahkan tidak keberatan sama sekali atas status janda dari Aishwa.
"Sayang kenapa kau diam saja?" tanya Nayla pada calon menantu keduanya itu.
Aish tersenyum.
"Aku akan ikut saja mana yang terbaik menurut Bibi, aku suka semua warna yang Bibi tunjukkan, semuanya cantik," jawab Aish saat mereka membahas warna baju seragam keluarga di pernikahan Aish dan Ken nanti.
"Jangan sungkan Aish, kau akan menjadi menantu ku, tidak boleh malu apalagi tidak berani mengeluarkan pendapat. Aku bukan mertua yang otoriter, aku bahagia akan dapat menantu tiga sekaligus," ucap Nayla pada Aish.
Aish tersenyum, hatinya selalu hangat jika sedang bersama calon mertuanya itu.
Mereka tampak akrab sejak Ken lebih sering mengajak Aishwa berkunjung ke rumah orangtuanya, tidak heran Aish pandai mengambil hati Nayla yang tidak dikaruniai anak perempuan.
Ken melihat itu dari jauh, pemandangan yang indah. Terkadang Ken merutuki mengapa baru bertemu Aish sekarang, jika itu terjadi jauh sebelum ini mungkin ia tidak akan menyia-nyiakan waktu hingga setua ini baru terpikirkan ingin menikah.
Perempuan yang sungguh punya daya pikat, suara dan wajah Aish begitu candu dan memabukkan bagi Ken, ia merasakan menggilai seorang perempuan sekarang.
Biasanya Ken yang digilai beberapa wanita sekaligus, ia tidak pula menganggap mereka serius apalagi berpikir ingin menikah, namun semua itu terpatahkan oleh sosok Aish yang kian membuatnya penasaran sejak pertama kali bertemu beberapa bulan lalu.
Ia bahagia ternyata jurus rayuannya mampu meluluhkan janda yang sedang trauma pada sebuah hubungan itu. Aish nya, Aishwa Zulaikha kini hanya menghitung minggu mereka akan saling memiliki dalam arti sebenarnya, terikat pernikahan.
Lalu Ken menatap Bundanya yang tidak kehilangan senyum sejak duduk bersama Aish hari ini, entah apa yang mereka bicarakan Ken tidak tahu namun dari wajah perempuan yang menjadi cinta pertamanya itu sungguh lah membuat hati semua pria dalam rumah itu menghangat.
"Apa aku mengganggu?" tanya Ken tiba-tiba mendekat.
"Tidak, ada apa Ken? Kau tidak bisa melepaskan Aish lebih lama lagi bersama Bunda?"
Aish tersenyum dibuat ibu dan anak itu.
"Tidak seperti itu, aku kemari ingin pamit keluar sebentar. Ada urusan dengan Doni, aku akan menjemput Aish nanti jika sudah selesai, hanya sebentar."
Ken menoleh Aish, perempuan itu mengangguk tanda mengerti.
"Aku juga masih ingin bicara dengan Bibi Nayla, kami sedang dalam percakapan yang serius," kekeh Aish sambil melirik calon mertuanya itu.
"Itu benar, percakapan antara sesama perempuan. Jadi pergilah, jangan terlalu lama oke?" sahut Nayla seraya mengusap lengan putranya.
"Oh aku iri sebagai lelaki yang tidak boleh tahu urusan perempuan," lirih Ken pelan.
Aish dan Nayla tertawa pelan, mereka melambai tangan pada Ken yang menjauh.
Nayla dan Aish kembali berbincang, hingga mereka dikejutkan oleh seseorang yang baru saja datang.
"Aldric, kau sudah pulang Nak?"
Aish menoleh seraya ikut berdiri. Bunda Nayla tampak menghampiri putra ketiganya itu lalu mereka berpelukan.
"Aku merindukan Bunda, maaf aku sibuk sekali hingga baru pulang kemari."
__ADS_1
Lalu matanya tertuju pada seorang Aishwa yang berdiri juga menatapnya sekarang.
"Hai," sapa Aishwa tersenyum ramah.
Aldric terkejut. Nayla tersenyum lalu menarik tangan Aldric menuju Aish berada.
"Aish, ini Aldric saudara kembar ketiga calon suami mu, kalian belum pernah bertemu kan!"
Aish tersenyum, ia sudah mengira bahwa Aldric yang pernah menolongnya itu adalah saudara calon suaminya, kini ia menjadi yakin akan hal itu.
"Hallo, Mas Aldric. Aku Aishwa," sapa Aish sambil mengulurkan tangan.
Aldric tercengang, ia benar-benar tidak mengira jika Ken membawa perempuan itu sebagai calon istrinya.
Nayla melihat putranya menjadi tersenyum lagi.
"Dia milik Ken, jangan memandangnya seperti itu. Ayo!" tunjuk Nayla pada tangan Aish yang belum mendapat respon dari Aldric yang menatap Aish tidak percaya.
Pria itu seolah tersadar dari lamunannya, baru lah ia sambut tangan Aish yang menunggunya.
"Hallo juga Aish, aku Aldric."
Nayla melihat ponselnya berdering di atas meja. Perempuan berumur empat puluh delapan tahun itu segera mengambilnya, ia pamit pada dua orang yang tampak canggung itu.
Kini Aish dan Aldric saling berhadapan.
"Aku tidak mengira ada banyak nama Aishwa di daerah ini," ucap Aldric tersenyum tipis.
Aish tersenyum juga.
"Tapi aku sudah mengira jika Mas Aldric yang pernah bertemu dengan ku tempo hari adalah saudara kembarnya Mas Ken, soalnya kalian sama-sama tampan, dan hari ini terbukti," sambung Aish dengan nada bercanda.
Bercanda menurut Aish namun tidak pula menurut Aldric, hanya sebuah pujian tampan dari Aish namun cukup mempunyai efek lain di dada pria itu saat ini, jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya.
Ia gugup seketika.
"Kau kenapa? Apa aku salah bicara?" tanya Aish yang tidak enak hati melihat raut pias dari wajah tampan Aldric saat ini.
"Tidak, maaf silahkan duduk kembali. Aku hanya sebentar, aku kemari ada yang ingin ku ambil. Aku permisi!" ucap Aldric tiba-tiba pergi begitu saja setelah mengatakan hal itu.
Aish bahkan belum sempat menyahut, ia terkejut bahwa Aldric sudah pergi dari hadapannya.
"Kenapa dia? Apa dia tidak suka bertemu dengan ku?" gumam Aish heran, ia bernapas kasar seraya melihat punggung Aldric yang menaiki anak tangga.
Ken kembali, ia menghampiri Aish yang sedang bicara dengan Ratih.
"Sayang!" panggil Ken.
Aish menoleh.
"Kau sudah pulang? Cepat sekali!" tanya Aish sambil melirik jam di pergelangan tangannya.
__ADS_1
"Aku sudah rindu padamu, itu masalah nya hingga tidak bisa pergi lama-lama," kekeh Ken seraya meraih tangan Aishwa dengan tatapan penuh cinta.
"Ah, gombal saja terus!" elak Aish.
"Aku iri," lirih Ratih memajukan bibirnya kesal melihat pemandangan bucin dua orang itu.
"Kita pamit dengan Bunda, aku tahu kau lelah dan butuh istirahat, aku akan mengantarmu pulang. Calon pengantin ku ini tidak boleh terlalu lelah, nanti bisa mempengaruhi stamina kita di atas pelaminan."
Ken menarik tangan Aishwa menjauh dari Ratih.
"Kita menikah di bulan berikutnya jangan lupa itu," balas Aish tidak berhenti tersenyum jika Ken sudah mengeluarkan jurus rayuannya yang tidak bisa Aish tolak lagi.
Pria itu benar-benar mengembalikan gairah hidup Aish yang terpuruk lama oleh Romi dimasa lalu. Aish tidak akan menyangkal lagi soal Ken, Ken yang ia cintai sekarang.
"Apapun itu, aku mencintaimu sayang!" ucap Ken seraya menautkan jarinya dengan jari cantik milik dokter Aishwa.
"Kau dengar itu Ratih?"
"Tidak, aku tidak mendengarnya. Ah kalian menyebalkan!" sahut Ratih sambil berlalu.
Ken menatap Aish, mereka saling melempar senyum setelah melihat Ratih merajuk.
Bertepatan dengan Aldric turun dengan sebuah paper bag di tangannya.
"Oh boy, kau pulang?" sapa Ken setelah menepuk lengan saudara kandungnya itu.
Aldric hanya mengangguk tanpa menjawab.
"Ini calon istriku! Aishwa yang ku ceritakan," tunjuk Ken pada genggaman tangannya pada Aishwa.
Aldric melirik Aish sekilas.
"Sudah kenal," sahut Aldric dingin.
Aish murung akan sikap Aldric, Aish berpikir pria itu tidak suka dengan dengannya.
"Hei, kenapa kau ketus sekali? Kau tidak suka aku juga punya calon istri?" cegah Ken saat menahan lengan Aldric yang ingin pergi begitu saja.
"Aku sedang terburu Ken, bukan soal suka atau tidak suka pada calon istri mu. Aku senang kau insyaf sekarang."
Ken mendengus kesal. Aldric tidak pernah berubah, tidak suka berbasa basi.
"Baiklah, kau mau pulang ke apartemen?"
Aldric mengangguk.
"Hati-hati," ucap Ken lagi.
Lagi, pria itu hanya mengangguk tanpa menjawab. Aish kian bingung dibuatnya.
"Kau lihat, dia memang payah!" ucap Ken pada Aish seraya melihat Aldric yang sudah berlalu dari hadapan mereka.
__ADS_1
"Sepertinya dia tidak suka padaku," cicit Aish kecewa dengan sikap Aldric seolah menolak kehadirannya.
"Tidak seperti itu, jangan tersinggung oke.... Dia memang begitu, dia pria yang payah. Entahlah, tapi dia saudara ku, aku rasa dia iri padaku bisa dapat calon istri secantik ini," ucap Ken menenangkan Aish dengan nada bercanda.