Purnama Merindu

Purnama Merindu
Nayla berdarah


__ADS_3

"Nayla....." Vano meraih tangan Nayla, gadis itu memejamkan matanya karena merasa ada beban berat yang menimpa dadanya hingga sulit bernapas.


Jika saja Vano seperti ini sebelum semuanya berakhir, tentu Nayla mau menerima pria itu lagi. Jika boleh memilih ia akan tetap memilih pria pertama yang pernah menyentuhnya.


Tapi ini bukan hanya terlambat namun juga akan mempersulit keadaan jika tetap egois. Cinta untuk Vano telah ia kubur dalam-dalam, meski meragu akan keseriusan Ariq namun sungguh pria itu mengisi tempat istimewa di hati Nayla saat ini.


"Bagaimana dengan istrimu?"


"Aku akan melepaskan Annisa, aku tidak akan menyakitinya lebih lama lagi. Aku tidak bisa menerimanya Nayla, aku tidak bisa. Kaulah perempuan yang kuinginkan, tidakkah kau mengingat mimpi kita untuk berumah tangga?"


"Iya, aku mengingatnya. Tapi sayang sekali, sepertinya kita memang tidak berjodoh Vano. Aku sudah jauh lebih baik tanpa mu hingga hari ini, jangan memaksa. Aku harap kau mau membuka hati untuk istrimu. Pulanglah jangan lakukan hal yang sia-sia."


"Terkadang kita tidak menyadari cinta bisa tumbuh seiring berjalannya waktu, mungkin saja kau sudah jatuh cinta padanya, hanya saja obsesi terhadap ku membutakan mu lagi, sebaiknya hindari bertemu denganku."


"Mari kita belajar menerima takdir yang memang kita tidak tercipta untuk bersama. Maafkan aku Vano, meski aku kecewa padamu, percayalah kau akan tetap jadi seseorang yang indah yang pernah ada dalam hidupku. Aku menghargai kebersamaan kita dulu, aku pun telah menerima dan memaafkan apa yang sudah terjadi padaku. Mari kita saling mengikhlaskan."


"Nayla, kenapa kau bicara seperti ini?"


Vano berlutut memohon, ia menggelengkan kepala saat mendengar ucapan demi ucapan dari mulut manis yang pernah ia rasakan madunya. Sungguh Vano tidak suka pembicaraan ini.


"Maafkan aku Vano, pulanglah..... Kau bisa sakit, akan ada hati lain yang terlibat diantara kita. Jangan seperti ini Vano, kita akan terluka untuk sekian kalinya nanti. Aku lelah Vano. Aku akan masuk."


"Apa karena mas Ariq?" pertanyaan itu mampu menghentikan langkah Nayla yang perlahan ingin masuk lagi ke rumah.

__ADS_1


Dewi memanggil Nayla dari kejauhan, namun karena derasnya hujan membuat ia tidak bisa mendengar teriakan Dewi dari rumahnya.


"Karena aku tahu apa yang terbaik untukku. Pulanglah!"


"Tidak."


"Jika begitu terserah padamu, kau akan sakit."


"Aku bahkan telah sakit sejak kita berpisah, aku sakit Nayla, aku sakit dari apa yang kau lihat sekarang," balas Vano lagi.


Nayla kembali berbalik badan menghadap Vano. Tangis yang semula ia tahan sekuat tenaga kini tumpah pula di wajah cantik yang mulai pucat karena dingin itu.


"Kau pikir aku tidak sakit?"


"Apa kau pikir aku tidak melewati hal berat sejak kita berpisah? Bahkan aku lebih sakit dari siapapun Vano, karena terlalu sakit hingga aku seolah mati rasa."


Nayla mulai berkata dengan nada tinggi, ia terpancing emosi juga akhirnya.


"Dan kau tahu kenapa mas Ariq? Karena dia menyelamatkan nyawaku dari mati untuk kesekian kalinya. Dan kenapa takdir begitu tidak memihakku Vano, kau bersaudara ipar dengannya. Mas Ariq adalah kakak sepupu dari wanita yang telah merebutmu dariku, wanita yang menyenggol tubuhku hingga aku terjatuh dan keguguran, disusul ibuku yang ikut meninggal karena tahu aku hamil. Aku kau tinggalkan dalam keadaan hamil tanpa solusi Vano, tanpa solusi darimu, kau pengecut bukan?"


Nayla mulai marah.


"Tidak sayang, maafkan aku. Ayo pukul aku, pukul dan marahi saja pria pengecut ini tapi terima aku lagi Nayla, aku mohon sayang. Aku ingin kita bersama lagi, aku akan menikahimu."

__ADS_1


Vano meraih wajah Nayla, ia berkata serius dengan menatap mata indah nan lelah itu dengan tatapan terdalam, Vano mencintai Nayla, sungguh ia mencintai Nayla.


Belum juga Nayla menjawab, lebih dulu tubuh Vano tersentak oleh Ariq yang menghajarnya tanpa permisi.


"Mas Ariq?" Nayla hampir terjatuh oleh rasa kaget.


Ariq mencengkeram baju Vano dengan tatapan marah, matanya merah dengan tubuh yang juga diguyuri oleh hujan. Basah mereka bertiga basah, perang batin antar satu sama lain, antar prasangka yang saling menuduh saat ini membuat suasana lebih dingin dari kenyataan yang ada.


Air hujan bahkan tidak mampu mendinginkan hati dan darah yang mendidih saat melihat jelas sang kekasih ditatap dengan jarak dekat oleh lelaki lain, Ariq melihat Vano memegangi wajah Nayla saat bicara tadi, Vano yang merupakan suami dari adik sepupunya sendiri.


"Dasar pria gila, beraninya kau bermain hati dengan perempuan lain sementara istrimu menunggu di rumah! Dan beraninya kau mendekati Nayla, kau tidak tahu siapa gadis ini? Gadis ini adalah kekasihku, beraninya kau mendekati Nayla di belakang ku."


Vano tidak berusaha melawan, tubuhnya sempoyongan karena efek alkohol, jika ia mau bisa saja ia membalas pukulan Ariq saat ini, tapi Vano malah terlihat terkekeh.


"Ck, baru saja dibicarakan ternyata kau memang datang. Lepaskan aku!" Vano melepaskan tangan Ariq dari bajunya dengan kasar lalu ia tertawa sumbang dengan lirikan tak kalah tajam.


"Kau yang tidak tahu siapa Nayla bagiku mas Ariq, gadis ini milikku. Nayla adalah kekasihku bahkan jauh sebelum kau hadir dalam hidupnya, kau mengenalnya berapa bulan? Satu bulan, dua bulan tiga bulan? Sedang aku hampir tiga tahun mas Ariq, kami bersama hampir tiga tahun, dia tentu adalah milikku."


Vano menantang Ariq dengan dada yang membusung, namun diluar dugaan Ariq menjadi terdiam. Matanya melirik Nayla yang tampak tidak bergeming dari tempatnya berdiri.


"Nay...." lirih Ariq menatap Nayla penuh tanya.


"Nayla milikku mas Ariq, aku menikahi adik sepupu mu hanya karena sebuah alasan, jika kau tanya cinta oh maaf saja, cintaku hanya untuk Nayla seorang, dan Annisa tahu hal ini."

__ADS_1


"Bukan hanya bersama dalam waktu yang lama, tapi kami juga terlibat hubungan yang sangat dekat, kami saling mencintai, saling memiliki satu sama lain. Aku milik Nayla, begitupun sebaliknya. Nayla bahkan pernah mengandung buah hatiku, jika bukan karena Annisa mungkin kami sudah menjadi orangtua sekarang."


Nayla memejamkan matanya untuk kesekian kali, kali ini benar-benar terasa ada ribuan belati yang menusuk punggung hingga dadanya. Perih, pedih sekali. Berdarah, Nayla berdarah dalam kebisuan.


__ADS_2