
Di meja makan.
Semua makan dengan tenang, masa berkabung telah berlalu, semua hati kian hari kian lapang saat memasuki fase menerima dari musibah kehilangan.
Sudah mau tiga bulan, Aish dan Aldric tinggal di rumah Ariq dan Nayla, apa yang tidak disyukuri oleh perempuan yang sudah yatim piatu itu.
Kedua mertuanya amatlah baik, ipar yang selalu mendukung, tidak meninggalkan Aish terpuruk kehilangan seorang diri, hingga ia tidak merasa sendirian menghadapi luka yang amat dalam.
Perpisahan dengan orang hidup amat berbeda dengan berpisah karena maut bagi Aish, ia sungguh tidak bisa melupakan Ken begitu saja meski Aldric telah berstatus suaminya.
Perempuan itu bahkan belum melirik Aldric sedikit pun, pria introvert seperti Aldric hanya bisa terus berdiam diri tanpa berani mendekati Aish meski ia punya kesempatan.
Berstatus sebagai suami perempuan itu saja sudah membuatnya bahagia lalu bagaimana ia bisa membayangkan dan mengharap lebih ketika tahu bahkan sampai saat ini Aish tidak menunjukkan sikap simpati padanya padahal mereka suami istri yang sah.
Aldric terkadang merasa Ken mengutuknya sebagai pria payah, pria yang tidak pandai dalam hal wanita, pria polos yang tidak banyak tingkah.
Namun seperti itulah dirinya, padahal ia ingin sekali merayu Aish, tapi jangankan merayu saat berdekatan saja sudah membuatnya salah tingkah.
Aldric hanya bicara jika mengenai hal penting saja pada Aish, hanya menjawab jika perempuan itu bertanya. Sungguh pria yang datar.
"Bunda, aku ingin menyampaikan sesuatu," cetus Aldric hati-hati.
Bundanya menoleh, "Iya sayang, bicaralah..." jawab Nayla mencoba tegar saat menatap wajah putra ketiganya itu.
Tidak ada yang tahu perasaan seorang ibu seperti Nayla pada setiap melihat wajah-wajah putranya yang sedang makan bersama di meja makan, ia tidak bisa melupakan wajah Ken yang selalu jahil dan tidak bisa diam jika di meja makan.
Kenangan Ken selalu hidup di setiap sudut ruangan rumah besar itu, bagaimana rumah mereka menjadi saksi Nayla bersusah payah membesarkan ke empat putranya hingga dewasa, bahkan rumah itu pula tempat Ken pulang untuk bersemayam sebelum dimakamkan dalam duka yang dirasakan seluruh isi rumah itu.
Bagaimana Nayla bisa setegar ini jika bukan karena ia merasa semua yang ada padanya hanyalah sebuah titipan dari yang maha kuasa. Nayla bahkan sudah merasakan kehilangan berkali-kali sejak ia muda.
Kehilangan putranya tercinta membuat hati Nayla hancur berkeping-keping, namun ada putra lain yang harus ia perhatikan juga termasuk Aldric yang menjadi pengganti Ken menikahi Aishwa waktu itu.
"Bunda jangan marah, aku sudah pikirkan ini baik-baik, aku rasa aku dan Aish lebih baik tinggal di apartemen saja. Kantorku lebih dekat, juga rumah sakit Aish bekerja juga tidak jauh, bagaimana menurut Ayah dan Bunda?" tanya Aldric dengan penuh pertimbangan.
Semua mata tertuju pada Aish dan Aldric yang duduk berdampingan. Al dan Naina menoleh, pun Faiz.
"Tidak apa jika Bunda keberatan, jangan jadi beban usulan ku ini," ucap Aldric lagi setelah tidak enak hati dengan tatapan anggota keluarganya itu.
Aish pun terkejut, Aldric belum memberitahu nya jika berniat pindah.
Setelah bicara dan saling mengeluarkan pendapat tentang niat Aldric pindah dari rumah itu, barulah Nayla dan Ariq mengizinkan putra mereka mengambil keputusan yang tepat terlebih Aldric butuh ruang untuk berdua dengan Aish.
Nayla mengerti sekali perasaan putranya yang pemalu itu, ia paham betul jika Aldric tidak seperti saudaranya yang lain dalam mengambil hati wanita, terlebih mereka menikah mendadak bukan atas dasar cinta.
__ADS_1
Tentu butuh waktu yang lama serta ruang yang membuat mereka sering berdua agar semakin dekat dan beradaptasi satu sama lain.
"Baiklah, meski Bunda sangat berat melepaskan kalian keluar dari rumah ini, tapi Bunda tahu pula kalian butuh privasi berdua," ucap Nayla menanggapi.
"Aish, berjanjilah jika kau akan sering mampir kemari," sambung Nayla sambil menatap Aishwa yang juga terkejut.
"Bunda ini bicara apa, tentu aku akan sering kemari," jawab Aish menggenggam tangan mertuanya itu.
Benar saja, Aldric mengajak Aish pindah ke apartemennya yang memang dekat dengan kantor, mereka pamit pindah setelah pulang bekerja.
Aish menurut saja, ia melangkah mengikuti Aldric yang berjalan duluan, pria itu menggeret koper milik Aish di tangannya menuju unit apartemen yang ia tinggali selama bujangan.
Aish menatap sekeliling, apartemen kelas atas, cukup mewah hanya untuk tempat tinggal Aldric seorang diri selama ini.
"Ayo masuklah," ajak Aldric saat membuka pintu.
Aish mengangguk. Perempuan itu mengikuti lagi langkah Aldric sambil melihat seisi ruangan yang bernuansa minimalis dengan perabot yang unik dan estetik.
Sejenak Aish kagum, tempat tinggal yang nyaman dan tenang, membuatnya bernapas dengan panjang dan lega.
"Dimana kamarku?" tanya Aishwa saat bertatapan dengan Aldric.
Pria itu tercengang sejenak, ia tersenyum kecut menyadari Aish memang tidak ingin sekamar dengannya.
Aldric hanya mengangguk saja tanpa menjawab.
Pria itu menunjukkan satu kamar yang akan Aish tempati, kamar utama yang biasa ia tinggali selama ini.
"Kau bisa tidur di sini, akan ku pindahkan semua barang ku nanti ke kamar tamu, aku akan tidur di sana saja. Ayo masuklah!" seru Aldric meski ia sangat kecewa.
Aish masuk tanpa banyak basa basi.
"Terimakasih, maaf aku akan istirahat. Aku sangat lelah, ada banyak pasien tadi."
Aldric sudah tidak heran akan penolakan itu dari Aish.
"Baiklah, selamat istirahat!" balas Aldric sebelum menutup pintu kamar membiarkan Aish beristirahat.
Aish menjatuhkan dirinya ke ranjang. Matanya basah lagi, matanya menangis lagi untuk ke sekian kalinya atas nasibnya yang malang.
Menangis seperti malam-malam sebelumnya.
Aish terkadang ada pula merasa iba pada suaminya. Iba pada Aldric yang selalu ia tolak karena belum siap menerima kenyataan bahwa ia telah menikah dengan Aldric bukan Ken.
__ADS_1
Tapi hati Aish benar-benar kosong, ia bahkan belum siap untuk diisi siapapun termasuk suaminya sendiri. Ia hanya merasa terjebak pada pernikahan yang salah.
Namun niat ingin berpisah tidak semudah membalikkan telapak tangan, ada hati orangtua yang akan Aish patahkan jika ia egois, cukuplah orangtua itu sedih karena kehilangan putra mereka untuk selamanya.
Tidak pula Aish tega untuk mematahkan lagi hati Nayla dan Ariq karena perceraian yang ia inginkan.
Sungguh ia merasa dilema. Namun hidup dengan Aldric sebagai suami istri tidaklah terbayang sama sekali dibenaknya selama ini.
Pria itu membosankan.
Keesokan harinya.
Aish akan masuk jaga siang, hingga ia baru bangun dari rasa malasnya.
Ia keluar kamar, berniat ke dapur namun terhenti saat melihat Aldric sudah rapi sedang membuat sarapan. Sejenak Aish kagum ternyata Aldric pandai memasak.
"Mas Aldric."
Pria itu menoleh.
"Aish kau sudah bangun?"
Aish mendekat, ia duduk di meja makan minimalis yang terdapat empat kursi di sana.
Aldric menyiapkan makanan untuk istrinya itu.
"Terimakasih," ucap Aish seraya menerima piring dari Aldric.
Pria itu lalu menyusul duduk dengan posisi berhadapan.
"Makanlah," tawar Aldric.
"Maaf aku bangun kesiangan, besok aku akan bangun lebih pagi dan membuat sarapan," jelas Aish lagi merasa sungkan disiapkan Aldric sarapannya.
"Aku sedang tidak sholat, aku sedang datang bulan, makanya aku tidur sampai puas," kekeh Aish.
"Aku tahu," sahut pria itu masih dengan raut datar.
"Kau tahu darimana?" tanya Aish mulai mengunyah.
"Karena kau menaruh pembalut sembarangan."
Seketika Aish berhenti mengunyah, wajahnya langsung memerah.
__ADS_1
"Aish, kau kenapa?"