Purnama Merindu

Purnama Merindu
Nano Nano


__ADS_3

Nayla merasa kekurangan oksigen saat Clarissa istri Ammar masuk menghampiri mereka.


"Kau sudah siap?"


"Tentu saja siap," jawab Lia tertawa lagi.


"Yang menikah itu Nayla kenapa kau yang kegirangan?" cetus Aqilla mencubit pipi adiknya yang menggemaskan.


Lia hanya menyengir dibuat kakaknya.


Menarik napas dalam-dalam Nayla mengangguk, ia menerima uluran tangan adik iparnya Clarissa dan disusul Aqilla yang memegangi tangannya yang lain.


"Ayo bersemangatlah bertemu suamimu!" teriak Lia girang.


"Liaaaaa," cegah kakaknya.


"Iya maaf..... Silahkan silahkan bawa kakak ipar kalian ini keluar, jangan biarkan suaminya menunggu lama."


Clarissa terkekeh, ia sudah paham jika berdekatan dengan kakak beradik itu pastilah akan heboh sendiri. Lalu ia tersenyum lagi pada Nayla, sorot mata seolah mengajak mempelai wanita itu untuk segera ikut dengannya.


Nayla menatap Lia sejenak, lalu ia mulai ikut melangkah didampingi dua adik iparnya yang tidak kalah cantik pagi ini.


Saat keluar, semua mata memandang ke arahnya. Mendadak Nayla menjadi lebih sulit bernapas menatap satu persatu insan yang ia lewati, ibu Rena yang tersenyum padanya dengan sorot mata haru, mama Humairah dan Papa Alif yang berdiri bersebelahan dengan istrinya yang masih cantik meski di usia kepala lima, mama Humairah bak Shopia Latjuba jika di dunia artis cantik dan langsing dibalut busana muslimah yang panjang.


Dirga, pria ini menjadi sosok kakak baru bagi Nayla meski belum lama mengenal namun Dirga cukup berkesan di mata gadis ini. Sayang sekali Rahayu tidak ada di sana.


Lalu melewati bibi Arina, meski ia tidak suka Nayla namun tidak juga perempuan hampir paruh baya itu mencegah apalagi mengacaukan rencana pernikahan itu.


Annisa yang berdiri tanpa Vano juga tampak tersenyum tipis padanya, meski belum sepenuhnya membaik namun Nayla yakin mereka akan akur nanti.


Aziz dan Ammar duduk berdekatan tidak jauh dari orangtuanya, tampak dua adik perempuan Ariq yang baru tiba tadi malam, Fatimah dan Maryam. Dua perempuan cantik secantik mamanya, belum sempat saling mengenal, hanya bertegur sapa saja. Memandang mereka saja membuat Nayla tidak percaya diri, semua saudara suaminya berpendidikan tinggi dan punya pekerjaan yang cemerlang, tidak ada diantara mereka yang biasa-biasa saja.


Siapalah Nayla diantara keluarga itu, ia hanyalah seorang perempuan yang putus kuliah, anak dari mantan narapidana yang pernah kaya lalu jatuh miskin hingga tidak berarti apa-apa bagi siapapun bahkan keluarga sendiri mengucilkan mereka, apalah arti Nayla bagi keluarga besar Ariq yang rata-rata orang kelas atas.


Melihat mereka berdiri berjejer dengan pakaian mahal dan elegan, entah kenapa Nayla menjadi ciut sendiri, sangat tidak pantas rasanya, Nayla bisa mengukur dirinya dibanding mereka yang tengah tersenyum padanya selama berjalan menuju Ariq berada.


Entah mereka tersenyum tulus atau tersenyum mengejek, entahlah Nayla mendadak tidak percaya diri sekarang. Di sekelilingnya bukanlah orang-orang biasa, semua kaya dan terpandang, punya jabatan dan kekuasaan.


Di samping kirinya Aqilla, seorang dosen lulusan S2 terbaik dalam negeri, dari keluarga kaya dan pejabat negara yang terpandang, di samping kanannya Clarissa, seorang mualaf yang menikah dengan Ammar putra ketiga dari Alif dan Humairah itu merupakan seorang desainer busana muslimah sukses sekelas artis ternama.


Busana rancangan Clarissa bahkan juga terkenal hingga di negeri jiran, ia berasal dari keluarga non muslim yang tinggal di luar negeri. Clarissa campuran Indonesia Inggris, orangtuanya punya perkebunan anggur yang luas, lulusan S2 universitas ternama di Italia jurusan fashion design.


Cantik, tentu mereka sangat pantas bersanding dengan Aziz maupun Ammar yang juga sukses dalam pekerjaannya, lalu Nayla? Sungguh manusiawi sekali jika Nayla merasa minder oleh pemandangan ini.


Jika saja yang menjadi mempelai ini adalah Rahayu, sungguh pantas rasanya jika harus disandingkan dengan perempuan-perempuan cantik ini, sepadan dari segala arah. Kenapa hati Nayla menjadi kecil sekarang. Garis sosial itu yang mulai terlihat.


Lalu matanya menatap pula ke arah empat anak kecil yang memakai gaun dengan warna serupa dengan yang ia pakai sekarang. Wajah-wajah mungil itu kembali membuatnya bersemangat menatap Ariq yang sudah tidak jauh lagi, pria itu menyambutnya dengan uluran tangan.


Nayla mengembangkan senyumnya saat bertatapan dengan lelaki yang telah resmi menjadi suaminya saat ini, sungguh seperti mimpi Ariq menerimanya semakin mendekat.


"Hai."


Ariq menatap Nayla tidak berkedip, mimpi atau nyata sekarang perempuan ini telah resmi menjadi miliknya, seutuhnya.


"Hai," balas Nayla dengan senyum terbaik.


Mata mereka saling memandang sejenak dalam kebisuan lalu Ariq mengecup kening istrinya dengan perasaan terdalam cukup lama, hingga dibuyarkan oleh ayah Faisal yang berdehem disusul oleh godaan-godaan adik-adik iparnya yang mulai mendekat.


Potret bahagia Nayla dan Ariq belum usai, mereka beristirahat sejenak sebelum melanjutkan acara resepsi nanti malam. Resepsi besar dan mewah meski terkesan mendadak.


Benar-benar seperti pernikahan impian di negeri dongeng, Nayla bahkan belum percaya ini semua terjadi padanya.


Rahayu mengelap sisa airmata Nayla dengan tisu, entah apa yang mereka bicarakan hingga Nayla kembali menangis dibuatnya.


"Ayolah, nanti dandanan mu rusak. Berhenti cengeng, seharusnya kau bahagia dan menikmati setiap momen malam ini."


Gadis itu bicara sambil memperbaiki dandanan Nayla.


"Aku menyayangimu Rahayu, maaf kau harus menyaksikan ini."


"Kau ini bicara apa, tentu saja aku ikut bahagia sayang..... Sudah jangan dipikirkan, aku sudah jauh lebih baik, memang seharusnya kita ini menikah dengan orang yang kita cintai, jangan ada drama cinta bertepuk sebelah tangan setelah menikah, itu akan jauh lebih menyakitkan, percayalah aku baik-baik saja."


Mereka berpelukan untuk kesekian kalinya. Lalu ibu Rena dan Ayah Faisal datang menjemput Nayla.


"Kau sudah siap sayang?"


Nayla mengangguk setelah menoleh pada Rahayu sejenak.


Ayah Faisal dan Ibu Rena mendampingi Nayla menuju pelaminan, gaun putih dengan hiasan kepala yang sederhana melekat indah pada kerudung yang Nayla pakai senada dengan gaun yang menjuntai.


Bunga lily di tangannya. Meski terus melangkah dengan jantung yang terus berdegup kencang, napas yang kian tercekat saat menyadari betapa ramainya tamu yang hadir, pesta besar dan mewah menantinya untuk dinikmati, alangkah malu rasanya Nayla saat ini. Selain tersenyum tidak ada yang bisa ia lakukan sekarang, ada pula rasa ingin tenggelam dalam suasana, Nayla terus maju dengan indahnya. Cantik seperti boneka barbie yang bernyawa.


Rahayu mengelap airmatanya dari kejauhan, menatap saudarinya yang mulai bergandengan tangan dengan suaminya di atas pelaminan, lalu turun menyapa tamu. Pesta berkonsep internasional ini cukup santai dan dinikmati semua tamu yang hadir.


Nayla tidak melihat Ariq yang biasanya, pria itu hanya diam seribu bahasa jika sedang berdua seperti ini, namun hangat ketika menyapa tamu.


"Mas Ariq."


"Hmmm," sahut Ariq lalu menatap Nayla dengan mata elangnya.


"Kau terkesan diam saja sejak tadi," bisik Nayla di sela-sela pesta yang berisik oleh musik.


"Aku hanya lelah."


Nayla terdiam, betul mungkin saja suaminya lelah karena tamu yang banyak harus mereka sapa, belum lagi sesi foto-foto.


"Kau tidak menikmati pestanya?"


"Tentu aku menikmatinya, santai saja," jawab Ariq sambil mengecup pipi Nayla.


Lalu tangan pria itu melingkari pinggang ramping milik istrinya, saling melempar senyum kemudian lanjut menyapa tamu yang lain.

__ADS_1


Rahayu memegang minumannya, matanya masih menatap Nayla dan Ariq yang tampak bahagia, ikhlas memang membuatnya kuat berdiri sekarang. Rahayu bangga pada dirinya, untuk kali ini ia mampu mengontrol emosi dan perasaannya dengan baik.


"Hai."


Rahayu menoleh, lalu menunduk memberi hormat.


"Pak Angga."


"Bagaimana rasanya?"


Rahayu mengernyit heran mendengar sindiran itu.


"Itu pertanyaan atau sindiran?"


Angga terkekeh.


"Pak Angga juga diundang?"


"Tentu saja, aku datang bersama orangtua ku mereka di sana."


Rahayu mengangguk mengerti.


"Sekarang bagaimana perasaan pak Angga sendiri melihat kedua mempelai itu?" tanya Rahayu dengan nada bercanda.


"Sudah lebih baik sekarang, namanya juga hidup. Tidak berjodoh mau diapakan lagi."


"Wah, pak Angga bisa pasrah juga."


"Lalu kau?"


"Hmmm sepertinya kita senasib, mau diapakan lagi bukan? Orang mereka berdua saling mencintai jadi wajar saling memilih."


"Pemikiran yang cukup dewasa dalam menghadapi musibah patah hati," kekeh Angga lagi.


"Wah, terlalu berlebihan jika dibilang musibah," balas Rahayu ikut tertawa.


"Bukankah hati perlu dipatahkan agar bisa menyatu dengan hati yang lain?" Angga menatap Rahayu lagi.


Sejenak Rahayu terdiam, lalu ia mengangguk.


"Iya pak Angga benar juga, untuk itulah aku memutuskan menunggu hati lain itu sekarang agar menyatu dengan hatiku yang patah ini agar kembali utuh."


"Iya, semua akan indah pada waktunya," balas Angga seraya menatap wajah Nayla yang kian bersinar sebagai bintangnya pesta malam ini.


Di sudut lain, masih dalam hingar bingar pesta yang kian menenggelamkan setiap orang dalam kebahagiaan. Ada dua insan yang sedang bertengkar.


"Kurang ajar! Kau mencuri ciuman pertama ku, awas kau harus bertanggung jawab," teriak Lia marah-marah pada seorang pria.


"Aku tidak sengaja, sudah berapa kali ku bilang tidak sengaja kenapa masih memukulku!"


Pria itu mengusap lengannya yang kesakitan.


"Bagaimana bisa tidak sengaja, kau tidak lihat orang seramai ini?"


"Pokoknya kau harus bertanggung jawab!"


"Hei apa kau gila, bertanggung jawab apa? Aku hanya tidak sengaja mencium bibirmu bukan menghamili mu hingga harus bertanggung jawab!"


Lia menutup mulutnya lagi teringat pria itu mencium bibirnya dalam insiden tadi. Sungguh ia merasa kesal pada sosok tampan itu.


"Awas kau, akan ku adukan pada Nayla jika saudaranya ini berani melecehkan sahabatnya malam ini."


"Melecehkan apa ya Tuhan, Liaaaaaaaa..... Kau benar-benar seperti anak kecil!"


"Itu ciuman pertama ku kak Dirgaaaaaaaaa!" teriak Lia memukul Dirga lagi.


"Aku sudah minta maaf, itu tidak sengaja!"


"Tidak mau!"


"Jadi aku harus apa gadis menyebalkan!"


"Bertanggung jawab!"


"Ck..... Baiklah, ayo kau bawa aku ke orangtuamu, biar kita menikah hanya karena ciuman konyol itu." Dirga menarik tangan Lia dengan kesal.


Lia tersenyum, siapa yang tidak menyukai pengacara tampan ini.


"Itu bagus."


Dirga berhenti lalu menoleh pada sahabat Nayla ini.


"Oh aku tahu sekarang, ini modus!"


"Kau yang modus, ku menciumku!"


"Itu tidak sengaja!"


"Sengaja atau tidak tetap saja ciuman pertama ku kau curi!"


"Huh, baiklah..... Kemari kau kemari biar ku cium lagi sekalian!"


"Apa?" Lia terkejut belum sempat menghindar namun lebih dulu Dirga menarik pinggang gadis itu dan benar saja ciuman kedua melesat di bibir Lia yang tipis.


Lia terhenyak. Terdiam sambil menelan ludah.


"Kau menciumku dengan sengaja?"


"Tadi ku katakan tidak sengaja kau tidak percaya, lebih baik sengaja bukan? Bagaimana masih ingin aku bertanggung jawab?"


Lia menatap mata Dirga dalam jarak yang sangat dekat.

__ADS_1


"Aku...... Aku....."


Lia melepaskan diri, gadis itu berlari dari sana sambil mengelap pipinya yang telah basah.


Dirga mematung, dadanya bergetar. Apa ia sudah keterlaluan?


Di satu sudut lain pula, hanya cahaya remang sebab lampu terang sedang menyorot mempelai yang berdansa di depan sana.


Vano menatap istrinya yang meminum minuman di tangannya. Lalu pria itu meraih gelas di tangan Annisa dan menaruhnya di atas meja.


Annisa tertegun.


"Ingin berdansa?" tawar Vano dengan senyum.


Demi apa, tatapan itu, senyum itu tampak tulus untuk pertama kalinya bagi Annisa yang mendamba sejak lama.


"Vano?"


"Berdansa?" ulang Vano lagi.


Annisa mengangguk.


Vano meletakkan tangan istrinya di bahu, lalu kedua tangannya melingkari tubuh Annisa dengan mesra.


Annisa tidak percaya ini.


Mereka bertatapan cukup lama dalam diam.


"Maaf, kau menunggu lama untuk ini." Vano membuka percakapan.


"Sepertinya Nayla benar, aku harus lebih bersabar lagi."


Airmatanya menggenang.


"Aku akan membuka hati untukmu, maaf telah menyia-nyiakan waktu yang lama mengabaikan mu. Aku benar-benar ikhlas Nayla berbahagia, sekarang harus pula kita memperbaiki diri."


"Vano."


Vano tidak menjawab lagi, ia meraih bibir Annisa lalu mengecupnya dengan lembut, penuh perasaan. Demi Allah Annisa seperti tersengat listrik dibuat sikap yang mendadak ini.


Lalu Vano menatap mata Annisa lagi.


"Kita bisa memulainya dari awal, selalu ada yang pertama dalam setiap hubungan, ini ciuman pertama kita, dan seterusnya. Mari kita saling menerima sebagai suami istri yang sesungguhnya, aku sungguh minta maaf Annisa. Banyak salahku padamu."


Annisa menggeleng, airmata telah tumpah pada wajah mulusnya.


"Aku selalu menunggu hari ini Vano, sungguh."


Vano mencium lagi dan lagi bibir serta wajah istrinya.


Sungguh Annisa terlarut dalam kemesraan pertama kalinya selama pernikahan mereka yang berjalan menuju satu tahun.


"Kita pulang sekarang?" tawar Vano.


Annisa melebarkan senyumnya.


"Apa ini akan jadi malam pertama kita?" tanya Annisa dengan wajah memerah.


"Pertama dan seterusnya, anggap malam ini bukan mereka saja mempelainya, tapi kita juga pengantin baru di sini. Ayo pulang!" Vano meraih tangan istrinya.


"Vano, aku malu."


"Kita ini pengantin lama kenapa mesti malu, ayo kita pamit pada orangtuamu dulu."


Annisa mengangguk lagi, ia melirik tangannya yang bertaut dengan tangan Vano, entahlah perasaannya seperti jungkir balik sekarang.


"Sayang ayo!" Vano membuat lamunan Annisa buyar.


Annisa menajamkan pendengarannya.


"Apa? Kau memanggilku sayang?"


Vano terkekeh lagi melihat wajah merah istrinya.


"Akan seperti itu seterusnya, sudah seharusnya bukan? Ayo, daripada kita berlama disini, enak kita buat anak di rumah!"


Vano berkata santai sambil mencium punggung tangan istrinya yang masih merasa semua ini seperti mimpi. Mereka berjalan ke arah bibi Arina dan paman Hendra berada.


"Vano."


"Aku serius Annisa, aku tahu perjuangan mu menanti cintaku selama ini. Hatiku ini daging bukan batu, tentu akan luluh juga apalagi saat melihat Nayla berbahagia dengan mas Ariq di depan sana."


"Aku tidak bisa berkata-kata lagi."


"Kau hanya perlu diam dan siapkan tenaga, karena ini akan menjadi malam terpanjang selama perkawinan kita."


"Apa? Vano kau membuatku malu!"


Annisa menyembunyikan wajahnya di dada Vano. Lelaki itu terkekeh.


"Pastikan kau tidak sedang haid sekarang."


Annisa menggeleng.


"Aku tidak sedang mens, aku sedang subur."


"Bagus, kita akan berusaha membuat anak malam ini."


"Vano," rengek Annisa malu.


"Aku hanya bercanda, kita akan mulai hubungan yang baru mulai malam ini. Malam pertama dan akan menjadi malam-malam berikutnya kita sebagai pasangan suami istri dalam arti sesungguhnya. Aku menerima kau Annisa, aku tulus ingin berdamai pada keadaan, tidak ada cinta sebaik dan seindah cinta istriku sendiri, maaf lama menyadarinya."

__ADS_1


"Vano....."


"Kita lanjutkan di rumah? Oh atau kita check in di hotel ini saja?"


__ADS_2