Purnama Merindu

Purnama Merindu
Pingkan Lagi


__ADS_3

Lama Nayla bermenung sebelum memejamkan matanya, tubuhnya yang cukup lelah melayani pelanggan di restoran seakan hilang begitu saja ketika ia menatap wajah-wajah mungil yatim piatu yang tidur berdekatan dengannya.


Ia mengusap pipi hingga rambut Zaza yang tertidur pulas sambil memegang botol susu. Nayla bersyukur dari hari ke hari kehidupannya semakin membaik, berulang pula ibu Rena ingin anak-anak itu untuk tinggal bersamanya.


Namun Nayla selalu menolak agar tidak menjadi beban bagi ayahnya dan ibu Rena, biarlah Nayla mengurus mereka, karena ia telah terbiasa, tidak menjadi beban sama sekali.


Nayla teringat pula pertemuan yang menyejukkan hatinya dengan orangtua Angga tadi, diterima dengan senang hati. Ia tidak menyangka Angga akan benar-benar serius ingin mendekatinya dan ingin mengenal lebih jauh antara keduanya.


Angga pria baik, namun Nayla belum memiliki perasaan pada pria itu melebihi perasaan pada teman, tapi Nayla tidak menutup hatinya untuk pria yang banyak membawa kebaikan padanya saat di pesantren dulu.


Hingga kini, hati perempuan itu masih pada Ariq seorang, pria yang membuatnya geleng kepala. Jika Vano pria kalem dengan pribadi yang seperti pria kebanyakan, namun Ariq pria ini sungguhlah membuatnya sukar bernapas lega, berjauhan Nayla merindukan sosok agresif itu, jika berdekatan ia akan terus gugup oleh sikap agresif dan posesif Ariq padanya, pria yang selalu membuatnya kesal namun setiap detik terasa berarti.


Entahlah, Nayla hanya pasrah pada ketentuan takdir yang akan membawanya berlabuh kepada pria mana, apakah Vano, Ariq atau Angga atau malah lelaki lain. Nayla tidak bisa menebak siapa jodohnya nanti, yang pasti Nayla ingin pria yang menerima segala kekurangan dirinya maupun keluarganya.


Jika Angga telah mengenalkan keluarganya, Ariq belum menemukan titik terang hubungan mereka, Angga serius Ariq pun ia percaya telah serius juga namun begitu banyak masalah yang sedang menghadang, pertama soal restu keluarga dan kedua masalah Rahayu.


Lagi, Nayla seorang perempuan yang hanya bisa menunggu siapa yang lebih dulu menginginkannya dalam sebuah hubungan yang sakral, bukan hanya berpacaran seperti pemuda pemudi zaman sekarang. Nayla tidak ingin mengulang kisah kelam bersama Vano di hubungannya yang sekarang.


Jika Angga serius meminang, ayahnya setuju maka Nayla akan menerima karena keseriusan lelaki dilihat saat dia menentukan arah hubungan itu. Mau menikah atau tidak.


***


Karena restoran libur, Nayla hanya menjalani rutinitasnya sebagai ibu pengganti untuk empat keponakannya hari ini seperti hari sebelumnya. Mengantar Denia sekolah serta dua kakaknya yang juga bersekolah.


Setelah itu Nayla kembali pulang, ia manfaatkan dengan istirahat saja menjelang anak-anak pulang sekolah. Ponselnya berdering, Ariq yang menghubungi namun ia sedang malas bicara pada pria yang terus membuatnya merindu itu.


Malam menjelang, Nayla telah siap dengan dress sederhananya yang berwarna broken white dipadu dengan jilbab senada bermotif bunga.


Ia dan anak-anak sedang menunggu ayahnya menjemput, tidak lama datang sebuah mobil yang ternyata Dirga lah orangnya.


"Kak Dirga?"


"Hai, iya aku yang menjemput kalian. Ayah sedang sibuk.... Tidak masalah bukan?" kata pria yang menatap Nayla tidak berkedip.


Perempuan itu tampak anggun sekali di matanya malam ini, wajah yang dibiarkan hanya dipoles tipis dengan pewarna bibir yang pink cantik, cantik sekali, Nayla tampak berseri di mata Dirga saat ini. Beberapa hari ia tidak bertemu Nayla, seakan rindu itu melebur saat melihat wanita yang telah siap bersama anak-anak hebat pendampingnya.


"Sudah siapkah nona Cinderella?" ujar Dirga berlagak seorang pelayan yang menunduk hormat mempersilahkan Nayla masuk mobil yang ia bukakan pintunya.


"Ck.... Apa kak Dirga sedang mengejek ku?" Kekeh Nayla yang masuk di susul oleh anak-anaknya yang ikut bersemangat.


"Aku benar Nay...... Kau seperti Cinderella yang membawa kurcaci-kurcaci ini," canda Dirga seraya memasangkan sabuk pengamannya lalu ia menoleh pada anak-anak yang sudah duduk manis di bangku belakang.


"Yang ada kurcacinya itu putri salju paman," sanggah Denia yang berani.


"Benarkah? Oh paman salah, oke paman ralat jika begitu yang di samping paman ini adalah putri salju sesuai dengan warna bajunya malam ini."


Dirga melirik Nayla yang ikut tertawa, pria itu menjalankan mobil membelah jalanan menuju pesta adiknya yang kini resmi menggantikan ibunya di perusahaan.


Di pesta.


Nayla ragu ingin mendekati Rahayu yang tampak mendapatkan ucapan selamat dari para tamu yang hadir didampingi ibunya, pesta yang cukup besar menurut Nayla, mewah dan berkelas yang dihadiri petinggi-petinggi perusahaan ibu Rena, Nayla tidak menyangka bahwa ibu tirinya itu sangat kaya namun dermawan.


Rahayu, menjadi sosok putri yang sesungguhnya malam ini. Menjadi pusat perhatian karena bisa berada di posisi ini di usianya yang masih sangat muda.


Nayla melirik ayahnya yang sibuk menuruti kemauan empat cucunya yang ingin makan ini dan itu. Nayla tertawa ayahnya kewalahan namun semburat bahagia tercipta disana. Ayah Faisal cukup tahu diri untuk tidak unjuk gigi pada pesta putri bungsu istrinya itu.

__ADS_1


Hingga pria paruh baya itu lebih suka meladeni cucu-cucunya yang menggemaskan dengan gaun-gaun lucu.


Nayla melangkah memberanikan diri mendekati Rahayu yang tampak sedang berdiri sendiri seperti sedang mencari seseorang.


"Rahayu," sapa Nayla perlahan mendekati gadis cantik dengan gaunnya berwarna toska.


"Oh Nayla, kau rupanya. Kemarilah!"


Nayla tersenyum, ia mendekat.


"Selamat untukmu Rahayu, aku salut padamu yang sukses diusia yang sekarang. Apa yang tidak bisa dibanggakan pada dirimu, semua melekat padamu, aku turut bahagia dan hanya bisa berdoa agar kau senantiasa diberikan kebaikan atas apa yang kau capai."


"Terimakasih Nayla, aku bahagia malam ini."


Mereka saling melempar senyum, namun tetap saja Nayla merasa Rahayu masih dingin padanya, gadis itu tidak banyak bicara hanya sebuah kata terimakasih saja.


"Nay, maafkan aku apa aku boleh ke sana. Ada teman kuliahku yang datang, aku harus menyapa mereka," cetus Rahayu seraya menunjuk arah pada beberapa teman kuliahnya.


Nayla mengangguk, "Tentu saja Rahayu, temuilah para temanmu dan sapalah mereka," sahut Nayla canggung, ia masih merasa Rahayu menghindarinya.


"Nikmati pesta dan makanannya Nay, ajak anak-anak makan yang banyak malam ini oke, maaf aku ke sana dulu," pamit Rahayu dengan nada halus. Kembali Nayla hanya bisa mengiyakan perkataan saudari tirinya itu.


Nayla terpaku berdiri seorang diri, ia tidak sengaja melihat ada Pingkan di sana. Iya, matanya memanglah sedang melihat Pingkan sepupunya datang bersama seorang gadis sebayanya yang Nayla juga mengenalnya karena mereka satu kelas dulu.


Lalu Nayla dikejutkan oleh Dirga.


"Hai, kenapa kau melamun?"


"Kak Dirga."


"Wah, kakak benar-benar tukang ramal. Iya aku kesepian," balas Nayla bercanda.


"Ada aku disini, aku tidak akan membuatmu kesepian, kau mau minum?"


"Aku baru sudah minum, apa kakak tidak menyapa para tamu?"


"Ah aku malas, aku lebih suka menikmati pesta dengan makan banyak dan mencari perempuan yang harus ku gombali."


"Lalu apa dapat wanita yang akan digombali?" Nayla tertawa dibuat ekspresi wajah tampan Dirga yang sangat santai namun tetap berwibawa.


"Tidak, sebenarnya aku ingin menggombali mu tapi itu tidak mungkin karena kita saudara."


Nayla tertawa lagi.


"Kak Dirga pandai bercanda, kenapa aku? Lihatlah ada banyak wanita muda di sini, teman Rahayu misalnya."


"Ck..... Aku bosan melihat mereka yang sok cantik, aku sedang ingin mencari wanita rumahan seperti mu."


"Ada banyak, di dekat kontrakan ku banyak yang punya anak gadis yang kerjanya hanya di rumah saja membantu orangtuanya, mau ku kenali?" balas Nayla bercanda.


"Aku mau kau saja!"


Nayla terdiam.


"Apa?"

__ADS_1


"Aku hanya bercanda, santai saja saudariku...." kekeh Dirga mencoleh hidung Nayla dengan berani. Nayla hanya bisa menyengir malu.


"Mas Dirga!" sebuah suara menghentikan percakapan Nayla dan Dirga.


Mereka serentak menoleh.


"Hai Pingkan? Kau juga datang?" sapa Dirga seolah tidak menyangka.


"Iya, aku diundang Rahayu......" ucapan Pingkan menggantung saat melihat Nayla yang berdiri di samping pria yang ia kagumi itu.


"Nayla?"


"Hai Pingkan."


"Kenapa kau ada disini?"


"Kalian saling kenal?" tanya Dirga.


"Oh mas Dirga, Nayla ini adalah teman sekelasku dulu."


Nayla diam saja, ia seolah sudah tahu Pingkan tidak akan mengaku saudara dengannya lagi jika di hadapan orang lain.


"Mas Dirga kenal Nayla?" tanya Pingkan penasaran.


"Nayla ini adalah adikku sekarang."


"Apa?" Pingkan hampir menjatuhkan rahang saat mendengar kenyataan itu.


"Iya, ibuku dan ayahnya belum lama menikah. Kami bersaudara sekarang. Kenapa kau terkejut sekali?"


"Apa?" kali ini Pingkan ternganga.


Nayla tersenyum penuh arti.


"Mas Dirga kau tidak bercanda bukan?"


"Apa aku terlihat bercanda?"


"Paman Faisal, apa maksudmu yang menikahi ibumu itu adalah paman Faisal?"


Dirga mengangguk saja.


"Iya ayah Faisal, dia ayahku sekarang."


"Apa mas Dirga tidak tahu dia siapa? Dia seharusnya masih mendekam di penjara, dia seorang koruptor, kenapa kalian bisa percaya begitu saja pada mereka lni."


Pingkan mulai gusar hatinya.


"Iya, dan akulah pengacara yang membantunya bebas. Alhamdulillah ayah Faisal terbukti tidak bersalah dan dinyatakan bebas sebulan lalu."


"Sepertinya kau kenal sekali dengan keluarga mereka?"


Pingkan seperti ingin Pingsan saat ini. Bagaimana ia akan pulang dan menceritakan pada orangtua nya atas apa yang ia temui malam ini, paman dan sepupunya yang mereka kucilkan satu tahun terakhir kini telah berubah nasib dalam sekejap, pamannya menikah dengan janda kaya raya ibunya Rahayu dan Dirga.


Nayla yang ia ejek kemarin siang di butik adalah saudara tiri dari pria yang sangat ingin ia dapatkan hatinya selama ini, namun hingga sekarang Dirga masih saja dingin terhadap wanita manapun.

__ADS_1


Merah padam wajah Pingkan, rautnya pias seketika mendengar kenyataan ini langsung dari mulut Dirga.


__ADS_2