
Aishwa melirik Ratih yang mulai tertidur di bangku sampingnya. Mereka tengah di perjalanan ke kota dalam sebuah minibus milik Pak Rahmat yang sengaja Aishwa sewa untuk mengantar mereka pindah dari kampung untuk meneruskan nasib dengan mencoba peruntungan di kota besar itu.
Perempuan itu berpaling ke arah jendela mobil setelah memperbaiki posisi kepala Ratih yang menyender di bahunya. Aishwa menatap jauh pepohonan yang seolah bergerak, melewati jalan tanah yang licin karena hujan membuat perjalanan terasa amat panjang.
Butuh dua jam keluar kampung menuju jalan raya, dari persimpangan butuh dua jam untuk ke kota.
Melewati hutan, perkebunan karet hingga perkebunan sawit membuat pemandangan Aishwa tidak lepas dari pepohonan di sepanjang jalan.
Aish membuka kaca mobil, aroma basah menghiasi penghidu, tiupan angin menerpa wajahnya yang kian murung, perlahan butiran bening jatuh kala ia mengingat masa-masa yang sudah berlalu.
Bayangan seseorang melintas, dinginnya cuaca sore hari itu seolah menusuk hingga ke tulang bahkan jantungnya. Nyeri, seperti sedang sakit gigi.
Flash back.
"Mas Romi?"
Suara lembut seorang gadis yang tersenyum manis lalu menutup mulutnya seolah tidak menyangka menghadap seorang lelaki yang sedang berlutut di hadapannya.
"Ayo jawab!" desak pria itu.
Aishwa terkekeh lalu menganggukkan kepalanya dengan cepat. Perempuan yang mengenakan pashmina berwarna hitam itu tampak tersenyum lebar menampilkan giginya yang putih dan rapi.
"Yes!!!" kata lelaki yang memakai seragam loreng itu. Ia segera berdiri tegap lebih tinggi dari gadis yang kerap disapa Aish itu.
Ia menyematkan cincin lamaran tepat di jari manis Aish disaksikan deburan ombak disore hari, mereka saling melempar pandangan dengan sebuah asa merajut kebahagiaan di bayangan masa depan.
Saling bergandengan tangan Aishwa dan Romi berjalan menyusuri pantai dengan berjalan tanpa alas kaki di atas pasir putih yang hangat oleh sinar matahari sore.
Bicara tentang pernikahan dan banyak hal membuat gadis yang baru memutuskan berhijab itu tersenyum tiada henti karena bahagia dilamar pacarnya yang merupakan seorang tentara yang bertugas di desa sebelah dimana perempuan itu tinggal.
Aishwa Zulaikha, gadis 24 tahun yang baru saja menjadi seorang dokter cantik yang memilih mengabdikan diri di desa kelahirannya.
Desa yang cukup jauh dari pusat kota. Aishwa dan Romi sudah menjalin hubungan lebih dari lima tahun sejak gadis itu tamat SMA. Romi berasal dari kabupaten kota namun bertugas di desa dimana Aishwa tinggal.
__ADS_1
Romi bahagia kini penantiannya berakhir sejak Aishwa pulang ke desa setelah menyelesaikan gelar dokternya dengan berkuliah di pusat perkotaan.
Di tengah persiapan pernikahan, Aishwa tertimpa kemalangan, neneknya Khadijah terjatuh di kamar mandi hingga dokter mendiagnosa penyakit stroke karena terjadi pecah pembuluh darah otak sebab tekanan darah tinggi.
Nenek Dijah sudah lama menderita hipertensi, Aishwa seorang anak tunggal dari orangtua yang telah meninggal belasan tahun lalu, ia hanya hidup berdua dengan Nenek Dijah ibu dari Ayahnya.
Nenek Dijah lah yang mengantarkan Aishwa menjemput cita-citanya menjadi seorang dokter yang berniat mengabdikan diri di desa mereka agar meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat yang masih minim fasilitas kesehatan.
Aishwa merasa terpukul, belum juga ia bisa membahagiakan neneknya dengan menikah dengan pria pujaan hati, belum juga membuat neneknya bangga dengan membuka praktik mandiri di rumah mereka agar bisa melayani dan membantu orang desa yang membutuhkan jasa dokter seperti cita-cita Nenek Dijah selama ini.
Kini Nenek Dijah harus terbaring di rumah sakit yang jauh sekali dari desa mereka, Aishwa menjaganya dengan sepenuh hati meski ia hanya seorang diri.
"Mas pulang dulu ya!" pamit Romi pada calon istrinya.
"Iya Mas, hati-hati."
Tidak banyak pembicaraan diantara mereka saat Romi datang menjenguk Nenek Dijah di rumah sakit, ia tidak ingin membuat Aishwa bertambah sedih jika ia membahas pernikahan mereka yang kian mendekati hari dalam perencanaan.
Romi pun tidak bisa terus berada di kota sebab tanggung jawab pekerjaan tidak bisa ia lepaskan begitu saja, ia hanya datang jika akhir pekan saja untuk sekedar membantu Aishwa mengurus neneknya di rumah sakit.
Mengurus Nenek Dijah dengan telaten, sampai pada keadaan Nenek Dijah stabil dan diperbolehkan pulang meski harus berobat jalan untuk terapi dan segala macamnya.
Tubuh Nenek Dijah lumpuh sebelah kiri, semua aktivitas dilakukan di atas kasur, bicaranya pelo sebab saraf sebelah wajahnya terkena stroke. Ia beruntung punya cucu yang sayang padanya dan seorang dokter pula.
Hingga di bulan kedua, Nenek Dijah meneteskan airmata saat cucu kesayangannya telah resmi menikah dengan Romi, pria yang telah ia kenal baik kedua orangtuanya.
Meski masih berbaring, Nenek Dijah tidak kehilangan senyum melihat Aish begitu cantik dan anggun sebagai pengantin.
Telah melewati hal yang sulit kini Aish patut tersenyum lebar di hari pernikahannya bersama sang pujaan hati yang telah gagah perkasa dengan seragam militernya.
Semua sederhana, semua berjalan dengan lancar dan baik. Sampai pada malam pertama Aish dan Romi dimulai sebagai pasangan suami istri.
Romi memagut bibir istrinya dengan garang, pria itu begitu perkasa pikir Aish, ia tidak melepaskan Aish barang sebentar, mereka mereguk manisnya dunia pengantin baru yang malam ini adalah malam pertama yang dinanti keduanya.
__ADS_1
Berusaha mengimbangi, ternyata Romi lebih ganas dari apa yang terlintas di pikiran Aish selama ini. Ia menjadi geli sendiri membayangkan wajah manis Romi yang sopan ternyata gencar dalam aksi cium mencium pikirnya.
Sampai pada Aish mengehentikan tugas Romi yang hampir mencapai pahanya. Aish mendorong pelan dada suaminya dengan raut heran.
"Kenapa?" tanya Romi heran.
Aish membuka dan melihat apa yang terjadi di bawah sana.
"Aku datang bulan Mas!" ucap Aish menggigit bibir bawahnya.
Romi terkejut. "Apa? Sayang jangan bercanda!" sahut pria itu mulai berdiri dari ranjang.
Aish menyusul dan mengangguk setelah memastikan bahwa memang ia sedang kedatangan tamu merah malam ini.
"Maafkan aku Mas Romi, aku tidak tahu aku akan mens malam ini. Padahal belum tanggalnya," ucap Aish tertunduk lesu.
Romi menghela napas panjang setelah melihat Aish nya menunduk. Pria itu mengangkat wajah Aish lalu tersenyum.
"Tidak apa-apa, kan masih ada hari-hari besok. Sudah jangan dipikirkan, meski aku sedikit kecewa seharusnya kita sudah menyatu sekarang," kata Romi diiringi tawa renyah diakhir kalimat.
Aish bersyukur suaminya tidak marah, akhirnya mereka hanya bisa saling memeluk satu sama lain sebelum menjemput mimpi.
"Mas," panggil Aish.
"Iya."
"Jangan marah ya!"
"Tidak kenapa harus marah, itu memang hal yang wajar terjadi bukan?"
"Iya, sejak nenek sakit aku cukup stress dan persiapan pernikahan membuatku penat sendiri. Mungkin karena itulah perubahan hormon membuat jadwal mens ku tidak teratur seperti ini."
Romi mengangguk.
__ADS_1
"Aku mengerti. Sekarang kau tidak sendiri lagi, ada Mas yang akan bertanggung jawab atas kau dan Nenek setelah ini."
Kalimat yang mampu membuat Aish meneteskan airmata bahagia telah mendapatkan sosok suami seperti Romi meski ia belum sempurna menjadi seorang istri karena menstruasi menggagalkan malam pertama mereka.