Purnama Merindu

Purnama Merindu
Muncul tiba-tiba


__ADS_3

Hari-hari berikutnya menjadi lebih cepat terasa bagi Nayla yang menyibukkan diri dengan banyak peran yang ia mainkan. Menjadi ibu dari tiga anak yang masih sekolah, ditambah satu yang masih balita, sekaligus menolong ayahnya di restoran.


Ia tidak lagi memusingkan tentang percintaan yang tidak pernah ada ujung baginya itu. Meski hingga kini Vano masih menemuinya biarpun hanya sekedar menanyakan kabar.


Pun dengan Angga, pria itu selalu mampir ke restoran jika hendak makan siang ketika jadwal ia ke kampus. Namun hanya Ariq yang tidak muncul lagi di hadapan Nayla.


Ariq tidak menampakkan batang hidungnya sejak satu minggu terakhir. Entah kemana dia, Nayla tidak peduli lagi. Rahayu, saudari tirinya itu masih dingin dan belum bicara banyak dengannya, ia sibuk di kantor sebagai pengganti ibunya yang memutuskan untuk menikmati hidup tenang dengan membantu ayah Faisal di restoran.


Hitam dan kelabu hidup Nayla berlalu begitu saja. Akhir tahun ini cukup membawa nikmat bagi gadis itu yang seakan menemukan lagi kehidupannya yang pernah hilang, bahagia Nayla sekarang adalah saat melihat keempat keponakannya bisa tertawa dan makan enak, bahagia saat menatap senyum lepas ayahnya bersama ibu Rena, selebihnya hidup Nayla serahkan pada yang maha kuasa kepada siapa cintanya kelak akan berlabuh.


"Terimakasih mas Angga atas tumpangannya."


Nayla menundukkan badannya pada Angga yang seakan menjadi orang baru yang menjadi temannya saat ini.


"Jangan sungkan Nay, aku senang mengantarmu."


"Mau mampir atau tidak?"


"Sebaiknya aku langsung ke kampus saja Nay, ada bimbingan skripsi. Kasihan mahasiswa ku sudah menunggu."


Nayla mengangguk lagi, ia mengajak Zaza dan Denia melambaikan tangan pada Angga yang sudah menjalankan lagi mobilnya.


Ia baru pulang dari menjemput Denia sekolah, ia membawa anak itu pulang ke rumah kontrakannya untuk beristirahat menjelang menjemput dua beradik Arinda dan Zandi pulang sekolah nanti.


Hampir satu minggu pula Angga selalu mengantarnya pulang dengan alasan pria itu juga menjemput Gita pulang sekolah. Pria itu sudah resmi menjadi duda hingga Nayla memberanikan diri untuk menerima tawaran Angga yang tidak membiarkannya berjalan kaki meski jarak sekolah Denia dan kontrakannya cukup dekat.


Baru juga ingin masuk, sebuah suara yang diyakini oleh Nayla adalah Vano menghentikan langkahnya.


"Nayla."


Menghembus napas kasar Nayla berbalik badan.


"Vano? Kau kemari lagi? Apa kau tidak lelah kemari tiga kali sehari seperti minum obat saja. Ada apa?"


"Jangan marah, aku hanya ingin memberikan ini. Kebetulan aku lewat, aku ingat ini saatnya anak-anak pulang sekolah, mereka pasti lapar," ucap Vano seraya memberikan kantong berisi makan siang.


"Sampai kapan kau akan seperti ini Vano?"


Nayla tidak langsung menerima.


"Nay, ayolah ini hanya makan siang untuk anak-anak. Terimalah," ucap Vano dengan raut memohon.


"Kau setiap hati memberi mereka makan siang, kami bukan pengemis Vano."


"Aku tidak pernah menganggap seperti itu, ayolah Nay.... Hanya makanan kenapa kau payah sekali."


Nayla diam.


"Baiklah, jika kau tidak mau akan ku buang saja!"


"Tidak, jangan Vano..... Makanan itu tidak salah apa-apa, kemarikan, janganlah membuang-buang makanan. Kau tidak tahu betapa banyak orang yang tidak bisa makan seenak ini di luar sana."


Nayla mengambil kantong makanan itu dari Vano yang berpura berjalan ke tong sampah.


Pria itu tersenyum. "Aku mencintaimu," bisik Vano saat Nayla mendekatinya.


"Aku geli mendengarnya Vano."


"Geli atau suka, bukankah kau suka aku mengatakannya dulu?"


"Itu dulu, lain sekarang."


"Cepat sekali kau berubah."


"Setiap orang harus berubah ke arah yang lebih baik, tidak seperti kau yang hingga kini mengabaikan istrimu hanya karena terjebak cinta mantan."


"Iya, menyedihkan sekali...... Mantan yang ikut mengabaikan ku," balas Vano lagi.


"Wajar, karena mantan hanya ada di masa lalu. Dan kau sudah ada wanita yang siap mendampingi mu menuju masa depan, dan sayangnya kau belum menyadari hal itu. Lihatlah betapa nona Annisa mencintaimu, dia tidak melepaskanmu meski kau tidak menganggapnya ada. Hargai itu sebelum kau menyesal untuk kedua kalinya Vano."


Tampak Vano menghela napas berat.


"Entahlah....." jawabnya singkat.


"Pergilah, aku akan masuk dan istrihat sebelum Arinda dan Zandi pulang."


"Tidak mengajakku masuk?"


"Vano!"


"Baiklah, jangan marah. Aku akan kemari lagi besok."


Nayla menatapnya dengan kesal, pria itu malah terkekeh. Vano pamit lalu sebelum masuk mobil ia melambai tangan pada Nayla yang masih menatapnya, senyum terbaik Vano kembangkan untuk perempuan yang memakai jilbab berwarna mocca dengan motif monogram itu.


Mau tidak mau, Nayla juga membalasnya dengan senyuman, andai hatinya seperti dulu.


****


Nayla menerima catatan belanjaan yang harus ia pegang, ia ditugaskan ibu Rena untuk berbelanja kebutuhan restoran hari ini.


"Apa kau keberatan nak? Ibu harus membantu ayahmu, lihatlah pelanggan kita sedang ramai, tidak masalah kau sendiri saja bukan?" kata ibu Rena.


"Tentu tidak bu, aku senang bisa membantu. Aku akan berbelanja semua yang ada dalam catatan ini, tenang saja...."


"Oh terimakasih sayang, kau selalu bisa diandalkan. Ini uang untukmu, belilah pakaian yang bagus untuk pesta kita esok malam, kau juga putri ibu, jadi kau juga pemilik pesta itu."


Ibu Rena bicara sambil memberikan uang lebih ke tangan Nayla, esok malam adalah pesta penyambutan Rahayu sebagai pemimpin perusahaan yang baru. Nayla diminta ibu Rena untuk mendampingi Rahayu di pesta nanti.

__ADS_1


Nayla terdiam, ia tahu akan ada pesta namun hingga kini Rahayu sama sekali tidak menghubunginya perihal pesta tersebut.


Melihat wajah teduh ibu Rena tentu Nayla tidak tega menolak.


"Baiklah, terimakasih banyak bu...... Aku akan berbelanja semua ini dengan baik."


"Ibu sayang padamu Nayla, ayo pergilah sementara anak-anak sedang tidur siang."


Nayla mengangguk.


"Ini kunci mobil ibu. Jangan sungkan sayang, anggap mobilmu juga oke..."


Nayla terdiam lagi.


"Ada apa? Apa kau lupa cara menyetir?" kekeh ibu Rena.


"Entahlah," balas Nayla terkekeh.


"Oh sayang jangan bercanda."


"Insyaallah aku masih bisa bu," balas Nayla tersenyum.


"Oke, berhati-hati di jalan Nayla."


Nayla pun segera pamit untuk berbelanja. Lama ia terdiam saat duduk di bangku kemudi, sudah lama sekali ia tidak menyetir mobil hingga sekarang. Ibu Rena memanglah orang yang baik, Nayla merasa benar-benar mendapat sosok pengganti ibunya dalam wanita paruh baya itu.


"Oke baiklah Nayla, mulai jalankan dengan pelan," gumam Nayla seraya menjalankan mobil ibu tirinya itu.


Ia sedikit geli sendiri, entah kenapa karena terlalu lama absen mengemudi, ia menjadi kikuk sendiri. Alhamdulillah Nayla sampai swalayan dengan selamat.


Di Swalayan.


Ia mulai membaca catatan sambil mencari barang-barang keperluan restoran itu, ia menuju dari rak ke rak mengambilkan bahan-bahan makanan yang tertera pada catatan ibunya.


Tidak terasa penuh dua troly besar, Nayla cukup kewalahan mendorongnya, keringatnya mulai bercucuran, ia benar-benar bertanggung jawab atas belanjaan itu hingga mencapai kasir.


Lalu pada saat ia ingin mendorong troly yang kedua sebuah tangan lebih dulu memegang troly tersebut.


Nayla menjadi heran, "Maaf, sepertinya anda salah, ini troly saya......." ucapannya menggantung saat menatap dengan siapa ia bicara sekarang.


Pria itu tersenyum.


"Mas Ariq?"


Nayla terkejut hingga mundur satu langkah.


"Hai."


"Kenapa mas Ariq bisa ada disini?"


Nayla masih keheranan.


"Kau sengaja mengikutiku?"


"Iya, bahkan sejak tadi pagi."


"Ck, yang benar saja.... Untuk apa kau melakukannya?" Nayla mulai kesal, itu artinya ia sedang dibuntuti sejak pagi tadi.


"Untuk apalagi, ya untuk mengawasimu."


"Mengawasiku?" ulang Nayla.


"Maksudku lebih kepada merindukanmu," jawab Ariq terkekeh.


"Apa?"


"Iya, karena jika mendekatimu kau akan marah, jadi ku pantau saja dari jauh. Tapi tetap saja aku merindukanmu secara dekat seperti ini."


"Mas Ariq, apa yang kau lakukan?"


"Kenapa? Aku hanya merindukanmu apa salahnya?"


"Sadarkah kau kata-kata itu menyakitiku juga Rahayu," balas Nayla memandang ke arah yang lain.


"Kenapa bawa Rahayu?" kesal Ariq saat tiba-tiba mendengar nama Rahayu.


"Karena dia calon istrimu, bukan aku."


"Aku tidak bilang begitu."


"Maaf mas Ariq, menyingkirlah.... Aku tidak mau bicara pada calon suami orang," ucap Nayla seraya mengambil alih troly, namun Ariq mencegahnya.


"Iya calon suami orang, dan orangnya itu adalah kau sendiri."


Nayla menatap Ariq yang tersenyum menggodanya.


"Aku tidak menyangka kau sejahat ini pada Rahayu."


"Rahayu lagi, Rahayu lagi. Kasihan dia bisa tersedak."


Nayla hanya memutar matanya dengan malas.


"Nayla."


"Mas Ariq aku mohon kemarikan troly ku!"


"Tidak."

__ADS_1


"Oh ya Allah, ada apa denganmu? Kau tiba-tiba muncul dengan sikap yang menyebalkan. Padahal kau menghilang sejak satu minggu terakhir."


"Apa kau kehilangan satu minggu ini?"


"Tidak."


"Ayolah mengaku saja."


"Aku bahkan sudah kehilangan sejak lama," balas Nayla pelan.


"Sekarang tidak lagi, aku akan ada untukmu sepanjang waktu," sahut Ariq enteng, enteng sekali.


"Apa?"


Ariq mengangguk.


"Oh Tuhanku, kenapa semua pria yang mendekatiku ini semuanya punya orang, Vano suami nona Annisa, Angga suami yang baru diceraikan istrinya, dan sekarang calon suami saudariku sendiri."


Gumam Nayla pelan, pelan sekali namun Ariq bisa mendengar kata-kata terakhir gadis itu.


"Aku tidak bilang akan menikahi Rahayu bukan?"


Nayla menatap Ariq lagi.


"Oh apa kau lupa, kau yang mengatakannya sendiri saat di toilet malam itu, kau marah dan kasar padaku, kau bilang akan menerima Rahayu dalam perjodohan itu."


"Oh aku lupa, yang aku ingat hanyalah ciuman panas kita," kekeh Ariq dengan wajah sumringah.


Merah, pipi Nayla memerah.


"Astaqhfirullah......." Nayla menutup wajahnya dengan tangan, ia kesal bukan main.


Nayla berlalu begitu saja menuju kasir, menjauhi Ariq yang menatapnya dengan perasaan merindu yang membuncah.


Ariq mendorong troly mengikuti Nayla ke kasir.


Nayla mulai mengeluarkan isi troly dan menaruhnya ke meja kasir, Ariq membantunya meski Nayla tidak suka.


"Biar aku saja," cegah Nayla saat tangan Ariq ikut mengeluarkan barang.


"Aku hanya membantu apa salahnya?"


"Tidak boleh, ini urusan ku."


"Tentu akan menjadi urusanku juga."


"Mas Ariq!"


"Sayang!"


Nayla ternganga, "Apa? Sayang? Aku malu mendengarnya, calon iparku sendiri mengatakan hal yang tidak pantas seperti itu."


"Aku tidak bilang akan menikahi Rahayu, kenapa kau tidak percaya."


Nayla terdiam.


"Apa Rahayu tidak bicara bahwa kami tidak meneruskan rencana perjodohan itu. Aku menolaknya, sampai kapanpun. Aku punya pilihan sendiri, dan itu adalah perempuan yang selalu membuatku gila ini," bisik Ariq seraya menggamit pinggang Nayla dengan mesra.


Nayla bergidik mendapat sentuhan tangan lelaki itu di tengah umum seperti ini, ia menatap Ariq tajam.


"Lepaskan aku!"


Ariq menggeleng.


"Mas Ariq, ini tempat umum. Kita bukan suami istri."


"Maaf tuan dan nyonya, apa masih ada barang lain?" tegur kasir yang mengurus belanjaan Nayla, ia bahkan kehilangan fokus saat melihat dua sejoli di hadapannya itu saling berdebat sejak tadi.


"Iya maaf, ini juga belanjaanku," jawab Nayla yang segera mengeluarkan isi troly yang kedua.


"Maaf, istriku jika merajuk memang seperti ini. Berbelanja banyak sekali," cetus Ariq pada sang kasir yang tersenyum ramah itu. Ia melirik Nayla seraya mengerlingkan mata menggoda.


"Sembarangan, dia bukan suamiku!" sahut Nayla pada kasir yang mulai bingung itu.


"Kau lihat? Dia merajuk selalu seperti ini, bahkan tidak mengakui suaminya sendiri."


Nayla menoleh, ia sungguh kesal dibuat pria menyebalkan itu.


"Mas Ariq jangan bercanda."


Lalu Ariq mendekat lagi, ia raih lagi pinggang Nayla bahkan lebih mesra.


"Aku tidak bercanda, kita akan menjadi suami istri juga nantinya."


"Ck, kau gila!"


Mata mereka saling pandang memandang dalam jarak dekat.


"Iya, bahkan lebih gila dari sebelumnya. Matamu, hidungmu, tahi lalat itu, terlebih bibirmu aku menggilai semuanya, semua yang ada padamu, semua kehidupanmu Nayla, aku mencintaimu, aku yakin sekali ingin kau saja yang menjadi pendamping hidupku."


Ariq menatap Nayla dengan tatapan terdalam yang seolah merasuk hingga ke relung hati. Namun Nayla segera berpaling seraya bergumam.


"Kenapa aku bisa mencintai lelaki semesum ini?" Nayla menggigit bibir bawahnya lalu memejamkan matanya akan sebuah rayuan wajah tampan yang menatapnya dengan penuh cinta yang tentu menggoda imannya sekarang.


###


Oke, part ini panjang sangat yaaaa, huh lelah hayati mengetik sambil baper sendiri. Hayukkk dilanjutkan. -

__ADS_1


__ADS_2