Purnama Merindu

Purnama Merindu
Gadis bekas terhina


__ADS_3

"Aku hanya seorang pelayan yang tidak ada harganya, lalu kenapa bisa diri ini menjadi alasan utama dalam pahitnya sebuah rumah tangga? Bukankah itu terlalu berlebihan? Sedang aku saja tidak melakukan apapun."


Jawab Nayla dengan suara dibuat setenang mungkin, tatapannya fokus pada wajah perempuan yang menjadi mertua dari Vano itu.


"Kau juga berani mendekati putra kakakku, Ariq adalah anak lelaki utama dalam keluarga ini. Aku salut padamu Nayla, kau menggaet banyak hati dan parahnya mereka saling berhubungan."


Nayla diam dan menelan ludah, sebisa mungkin ia menyembunyikan rasa gugupnya.


"Aku mengerti arah pembicaraan ini, nyonya mau aku apa? Soal mas Ariq, aku tidak pernah bermaksud mendekatinya."


"Semua orang punya masa lalu Nayla, meski Ariq menyukaimu, namun kenyataan bahwa kau adalah gadis bekas pakai suami adiknya sendiri adalah hal paling menyakitkan kami semua, bukan hanya Annisa, namun juga Ariq. Aku tidak tahu apa yang terjadi diantara kalian."


Menarik napas dalam sejenak lalu nyonya Arina kembali melanjutkan. Nayla menahan airmata saat mendengar kata gadis bekas pakai yang begitu ditekankan dari bibir nyonya Arina.


"Soal Ariq, aku tidak suka kau dekat dengannya. Dia lelaki sempurna dan baik, dia tidak pantas dipermainkan, juga tidak lama lagi orangtuanya kemari untuk menikahkan Ariq dengan wanita yang cantik akhlak dan budi pekertinya, kau tidak akan bisa mendapatkan Ariq. Aku harap kau tahu maksudku."


Nayla menahan sesak di dadanya.


"Juga, lepaskan Vano biarkan dia dan istrinya merajut cinta baru. Cinta tanpa bayang-bayang masa lalu bersamamu, mengertilah Nayla..... Aku tidak akan membiarkan siapapun menyakiti anggota keluargaku."


"Nyonya tenang saja, aku mengerti dengan baik arah pembicaraan ini, ketahuilah aku tidak pernah berniat mempermainkan mas Ariq ataupun nona Annisa. Soal mas Ariq nyonya jangan khawatir, aku akan tahu diri dalam mencintai seseorang, aku bahagia mendengar bahwa ada calon jodoh yang akan mas Ariq dapatkan dalam waktu dekat, gadis yang jauh lebih baik dari gadis bekas terhina ini. Aku mengerti nyonya, sangat mengerti."


"Aku berterimakasih atas kebaikan anda selama aku bekerja, terimakasih atas gaji bulan kedua yang nyonya bayar penuh padahal aku baru bekerja satu minggu di bulan kedua ini. Aku menghargai niat baik nyonya yang ingin mengakhiri semua yang terjadi."


"Aku tidak akan merebut siapapun, aku tidak pernah merebut Vano dari nona Annisa, aku tidak pula memaksa mas Ariq untuk bersama ku, semua terjadi diluar dugaan, aku tidak seburuk yang nyonya kira. Jika dipecatnya aku akan membawa kebaikan, kenapa tidak? Aku akan pergi sekarang, terima kasih banyak nyonya. Aku terima uang ini."

__ADS_1


Nayla meraih amplop isi uang gajinya di bulan kedua ini, lalu ia berdiri dan menunduk hormat sebelum pergi.


"Kau pandai berkata-kata Nayla....." desis nyonya Arina dengan tatapan sinisnya.


*****


Lagi dan lagi, Nayla patah lagi. Patah untuk kesekian kali. Ariq tidak mencoba menghubunginya lagi sejak malam itu, tidak pula menemuinya hanya sekedar basa basi untuk akhir dari suatu perasaan.


Nayla mencoba menghubungi lewat pesan, hanya dibaca namun tidak dibalas, Nayla hubungi lewat panggilan telepon namun lagi lelaki itu diam, lelaki itu berubah menjadi dingin.


Nayla tabah atas apa yang terjadi, berbekal uang gaji ia ingin berusaha mendapatkan pekerjaan baru. Memulai semua dari awal lagi.


Menarik napas dalam-dalam Nayla bergumam, "Selalu ada akhir dari sebuah cerita, selalu ada awal yang baru untuk sebuah kisah.... Aku merasa lebih baik sekarang, ada mereka yang lebih berharga dari apapun, lebih penting dari urusan pribadi yang memusingkan," lirih Nayla seraya menatap Zaza yang tidur siang.


"Nayla," sapa Dewi yang datang menemui Nayla siang itu.


Dewi menggeleng, "Tidak terlalu penting, hanya ingin melihat keadaan mu saja. Aku senang kau baik-baik saja."


Nayla terkekeh, "Apa kau berpikir aku akan bunuh diri lagi? Itu hal biasa, aku tidak akan memusingkan hal yang tidak perlu aku terpuruk karenanya, aku bahkan bertambah semangat dalam menuju masa depan yang lebih baik. Aku akan mencari pekerjaan baru."


Dewi memeluknya tanpa berkata lagi.


"Kau sudah seperti adikku sendiri Nayla, aku kagum dan bangga padamu. Usiamu masih muda, sudah banyak hal terjadi atas hidupmu tapi kau berdiri tegar di sini, membuatku ciut. Aku belum tentu bisa seperti mu Nay, kau tenang saja soal Zaza, aku akan menjaga Zaza jika kau dapat pekerjaan baru nanti."


"Jadi kau tidak perlu bekerja sebagai pembantu lagi, cari pekerjaan yang umum tidak membawa anak saat bekerja, aku punya kenalan karyawan swalayan, gajinya lumayan untuk memenuhi kebutuhan mu dan anak-anak. Bagaimana?"

__ADS_1


Nayla mengangguk setuju, ia bersemangat sekali saat ini.


"Aku mau kak Dewi, tentu saja aku mau. Sebelum uangku habis setidaknya aku harus mendapatkan pekerjaan baru."


Mereka saling melempar senyuman.


"Bagaimana mas Ariq, apa kau bertemu dengannya hari ini?"


Dewi menggeleng, "Mas Ariq tidak pulang Nay, entah kemana dia, aku tidak berani bertanya. Kata bang Jhon jika tidak pulang ke rumah Oma, mungkin mas Ariq pulang ke rumah kakek Imran, kakek dari ibunya."


Nayla hanya manggut-manggut saja.


"Baiklah, aku tidak akan bertanya lagi soal mas Ariq, sepertinya dia benar-benar marah dan kecewa padaku. Aku tidak berharap lebih padanya, bahkan sejak dia mendekati ku. Aku tahu batas kak Dewi, aku tahu diri untuk itu."


"Nay, aku tahu mas Ariq mencintaimu. Mungkin dia hanya marah saja saat ini, percayalah marahnya lelaki akan kalah dengan rayuan seorang perempuan. Aku masih berharap kau bisa bersamanya, kalian serasi. Aku suka."


"Ckk... Berhenti bicara yang tidak ada gunanya. Aku bukan gadis perawan yang patut diperjuangkan, aku sudah ternoda. Aku ternoda oleh lelaki yang menjadi iparnya. Rumit sekali bukan? Tidak ada alasan mas Ariq masih bertahan denganku, dia juga akan dijodohkan."


Nayla menatap ke sembarang arah dengan tatapan hampa.


"Tentu pria sempurna seperti dia harus pula mendapatkan wanita yang sempurna pula, berakhlak baik dan berbudi pekerti dan tentunya masih gadis, tidak sepertiku yang pernah terlibat pergaulan bebas hingga hamil diluar nikah, aku benar-benar buruk sebagai perempuan."


"Nayla, gadis atau tidak bukanlah jadi ukuran sebuah kebahagiaan. Kadang mendapatkan pasangan sempurna belum tentu juga bahagia, lihat saja mas Vano. Sesempurna apapun nona Nisa masih gadis pula, tapi tetap saja dia mencintaimu juga. Aku rasa itu pun yang akan terjadi pada mas Ariq nanti. Aku yakin itu, sebab hanya nona Andira yang berhasil menjatuhkan sekaligus mematahkan hati mas Ariq, dan kau wanita kedua yang melakukan hal yang sama. Mas Ariq bukan pria yang mudah jatuh cinta."


"Kita lihat saja nanti," sahut Nayla tersenyum.

__ADS_1


"Iya, sekarang fokus pada anak-anak saja dulu. Soal nyonya Arina, jangan kau ambil hati."


"Iya, aku ambil jantungnya saja," balas Nayla terkekeh.


__ADS_2