
Nayla keluar mobil tanpa menunggu Ariq, ia berlari pada Denia yang tampak duduk seorang diri di bawah pohon palm yang berhasil meneduhkan keponakannya itu dari terik matahari.
"Sayang maafkan bunda lama menjemput mu," ucap Nayla memeluk Denia.
"Tidak masalah, aku menunggu bersama teman."
"Mana temanmu? Kenapa kau sendirian?"
Ariq tampak mendekat, namun urung saat ponselnya berdering.
"Dia baru juga dijemput, itu dia!" tunjuk Denia pada seorang anak sebayanya yang merupakan anak perempuan juga.
Nayla mengikuti arah jari telunjuk Denia, Nayla menajamkan penglihatannya pada sosok pria yang memegangi tangan gadis kecil itu berjalan menuju mobil namun harus melewati Nayla dan Denia.
"Gita, aku juga sudah dijemput," seloroh Denia pada teman sekelasnya itu.
Gadis kecil bernama Gita itu menghampiri Denia lagi, mereka bicara sebelum berpisah pulang masing-masing.
Nayla tertegun sejenak, rasanya ia masih mengenal pria itu. Pun dengan si lelaki, ia juga sejenak terhenti saat bertemu Nayla.
"Nayla."
"Mas Angga?"
Keduanya berbarengan saling menyapa dalam keheranan.
"Hai," sapa si Angga lagi, pria itu tampak canggung sendiri, ia tidak berkedip menatap gadis idamannya waktu di pesantren dulu. Adik kelas yang menjadi idola para santri laki-laki.
Jika dulu Angga membayangkan Nayla masih kecil dan imut dalam jilbabnya yang panjang, kini menjelma sebagai wanita dewasa dengan penampilan yang sama, jilbab yang menutupi dada dipadu outfit modern anak muda kekinian.
"Hai juga, aku tidak menyangka bisa bertemu mas Angga di sini," sahut Nayla tersenyum tak kalah canggung.
Dalam kenangan Nayla membayangkan jika dulu Angga adalah salah satu santri kakak kelasnya yang menyukainya bahkan ketika ia baru saja masuk pesantren, pria sholeh yang selalu memakai sarung, pandai melantunkan ayat Alquran, melanjutkan pendidikan di Kairo.
Bahkan karena Angga pula Nayla jadi pandai hafal banyak surah di luar kepala. Hingga berdenyut pula jantungnya ketika mengingat maksiat menghilangkan hafalannya begitu saja. Nayla menyesal sekali.
"Iya, ternyata penglihatan ku belum buram, kau benar-benar Nayla."
Nayla tersenyum.
"Apa ini anaknya mas Angga?"
Pria itu menoleh pada Gita, ia menggeleng pelan.
"Dia keponakan ku, anak dari kakak perempuan ku."
"Oh begitukah? Maaf aku kira dia anakmu."
"Aku belum mendapatkan anugerah seorang anak," jawab Angga sedikit murung.
"Mas Angga sudah menikah?"
"Iya Nay, aku sudah menikah. Bahkan sudah dua tahun tapi belum dapat anak."
"Lalu bagaimana dengan mu Nay, kau sudah menikah?"
Nayla tertegun sejenak, ia tidak menyangka Angga sudah menikah padahal masih sangat muda hanya berjarak lima tahun darinya. Satu tahun lebih ia menjalin kedekatan dengan pria itu ketika dulu. Tapi Nayla tidak punya perasaan apa-apa pada Angga karena ia merasa masih sangat kecil.
"Ah ini juga keponakanku mas Angga, aku belum menikah. Denia juga anak kakakku."
Lama mereka mengobrol saling bertukar kabar, memberi tahu tempat tinggal hingga Nayla memberi tahu bahwa ia dan ayahnya membuka kedai dekat kampus yang mana Angga menjadi dosen baru di sana.
"Aku akan mampir kesana dilain kesempatan, aku pasti akan mampir Nay.... Aku tidak tahu kau juga pernah berkuliah di sana, jika saja aku mengajar lebih cepat di sana mungkin kau tidak akan kubiarkan putus kuliah."
Hal itu membuat Ariq yang sedang menelepon jauh dari Nayla pun menjadi terkejut saat melihat gadis itu tengah bicara pada seorang lelaki dalam tawa manis yang ia cemburu dibuatnya.
"Bukan hal yang besar mas Angga, aku bersyukur atas kehidupanku yang sekarang. Baiklah ini terlalu lama kita bicara kasihan anak-anak pasti sudah lapar."
Nayla menyudahi saat melirik tatapan tajam Ariq padanya.
Ariq bahkan mematikan ponselnya tanpa menunggu tanggapan lawan bicaranya saat ini, ia segera menyebrangi jalan menuju Nayla berada.
"Aku senang bertemu denganmu Nay.... Aku harap ini bukan yang terakhir kalinya."
"Terimakasih mas Angga, aku kira kau tidak mengenalku lagi."
__ADS_1
"Bagaimana tidak kenal Nay..... Kau gadis pertama bagiku. Andai pertemuan ini jauh sebelum aku menikah," gumam Angga dalam hati.
Ariq mendekat.
"Sayang, kau terlalu lama. Ada apa? Siapa pria ini?" tanya Ariq dengan nada tajam.
Nayla melirik raut cemburu lelaki yang berdiri di sampingnya saat ini. Bagaimana dengan entengnya Ariq memanggil sayang disaat hubungan mereka tidak membaik. Nayla kesal jadinya terlebih di depan Angga pula.
"Ini mas Angga, dia senior ku saat di pesantren dulu," cetus Nayla dengan nada canggung.
"Oh aku kira siapa, hai.... Aku Ariq, calon suaminya Nayla."
Ariq mengulurkan tangan ingin bersalaman. Angga tersenyum kecut saat mendengar kenyataan itu, meski begitu ia menyambut baik perkenalannya dengan Ariq.
"Aku Angga, dulu kami sempat......" ucapannya menggantung karena Ariq segera memotongnya.
"Maaf kami buru-buru, senang bertemu denganmu. Ayo sayang," tukas Ariq yang langsung meraih tangan Nayla dan Denia bergerak menjauh dari sana.
Nayla hanya bisa menghembus napas kasar.
Sesampainya di mobil, Nayla hanya diam tidak banyak bicara. Jika pun bicara ia hanya bicara pada Denia seputar urusan sekolah anak itu.
"Nay...."
"Iya mas Ariq."
"Kau alumni pesantren?"
Nayla mengangguk polos.
"Kenapa? Apa aku tidak pantas?"
"Bukan seperti itu."
"Aku hanya tidak menyangka, kau gadis santri tidak heran jika kau sangat pantas memakai jilbab."
"Semua wanita pantas mengenakan ini."
"Baiklah lupakan, siapa pria tadi?"
"Apa?" Ariq menghentikan mobilnya mendadak.
"Nayla aku serius!"
"Aku hanya bercanda, kenapa kau marah?"
"Aku cemburu, kau tahu itu!"
Ariq kesal bukan main.
"Hanya seorang senior, lagipula dia sudah menikah."
"Ck.... lantas jika dia belum menikah?"
"Mungkin aku akan...."
"Akan apa?"
"Tebak saja sendiri."
Nayla mengulum senyum ke arah luar jendela.
"Kau membuatku kesal," Ariq meraih tangan Nayla lalu menggigitnya dengan geram.
"Aaaaaaaaaaahhhh, mas Ariq apa yang kau lakukan?" Nayla mengibaskan tangannya kesakitan.
Ia melihat ada bekas gigitan di sana.
"Itu karena aku tidak bisa mencium mu, jadi aku gigit saja."
"Ck ck ck....." Nayla hanya bisa mengerling kesal.
"Aduh," Nayla mengaduh lagi.
"Maaf maaf...." Ariq meraih tangan cantik gadis itu lagi bukan menggigitnya melainkan mengecup bekas gigitannya tadi.
__ADS_1
"Akan sembuh sebentar lagi," kekeh pria itu.
Nayla hanya memajukan bibirnya ke depan.
"Kenapa paman menyakiti BundNay?"
"Tidak, paman tidak menyakitinya, paman hanya mencintainya."
"Apa maksudnya?"
"Cinta? Kau tidak tahu cinta?" tanya Ariq seraya melihat Denia dari kaca spion.
"Mas Ariq, Denia masih kecil mana paham soal itu."
"Jika Denia tidak paham, lalu kau paham?" sindir Ariq.
"Paham apa lagi?" Nayla mulai jengah.
"Paham jika aku mencintaimu."
"Ckk...... Gombal."
"Aku serius!"
"Terserah."
"Hei," Ariq meraih tangan Nayla lagi namun gadis itu mengelak.
"Kenapa?"
"Nanti kau gigit lagi."
"Jika begitu aku cium saja. Kemarilah."
Ariq mengambil lagi tangan Nayla yang gadis itu sembunyikan.
"Mas Ariiiiiiq."
"Ayolah, hanya mencium tangan apa salahnya?"
"Aurat."
"Telapak tangan juga tidak masalah."
"Mas Ariq."
"Iya sayang."
"Ih, menggelikan."
"Geli tapi suka."
Nayla memalingkan wajahnya ke samping.
"Nayla."
"Hmmm."
"Aku mencintaimu."
"Bohong."
"Sayang ayolah!"
"Mas Ariq, hentikan. Fokuslah mengemudi!"
"Paman, Bundnay..... Bisa tidak kalian tidak bertengkar? Kapan kita sampai aku lapar," rengek Denia mulai bosan.
"Kau dengar itu? Denia lapar, kita terlalu lama di jalan. Mengemudi seperti keong," kesal Nayla.
"Baiklah, jangan marah. Kita akan mampir ke restoran. Kita makan siang bersama."
"Yeeayyyyy..... Makan siang di restoran!" teriak Denia kegirangan.
"Kau lihat, Denia saja bahagia pergi bersamaku kenapa kau tidak?"
__ADS_1
Nayla hanya mengerling kesal pada Ariq yang tampak cerah wajahnya. Sejenak Nayla tersenyum dalam mencuri pandang pria itu, Ariq melirik Nayla lalu membalas tatapan gadisnya dengan senyum yang penuh makna.