
"Bidadari yang tersembunyi"
Sebuah suara mengejutkan Aish. Perempuan itu segera menuju sumber suara yang ia yakini berasal dari semak-semak.
Aishwa suka menyusuri hutan yang tidak terlalu lebat itu demi mencapai sebuah air terjun yang mampu menenangkan pikirannya jika sedang bosan di rumah.
Hari ini gadis yang berprofesi sebagai dokter di desanya itu membawa serta tas berisi pakaian karena berniat hendak mandi di sana.
Aishwa terheran, suasana air terjun tampak sepi dari biasanya, hanya ada beberapa anak kecil yang sedang bermain air. Senyum perempuan itu terbit saat melihat betapa menyenangkan melihat mereka bermain bersama.
Air terjun itu terselip bak surga yang tersembunyi tidak jauh dari desa tempat Aish tinggal, seolah menjadi objek wisata bagi warga jika diakhir pekan.
Mungkin karena hari ini senin makanya di sana sepi pikir Aish. Baru saja menaruh barangnya di atas bebatuan, sayup terdengar suara minta tolong.
Aish segera berlari ke semak-semak yang berada di pinggir tebing.
"Astaghfirullah......" ucap Aish terkejut saat melihat seseorang yang tengah kesakitan di sana.
Aish segera menghampiri lelaki yang tengah mengaduh sakit sambil memegangi kakinya.
"Maaf Tuan, sedang apa kau di sini hingga bisa terjatuh?" tanya Aish sambil memeriksa kaki dan tangan lelaki itu.
Bukannya menjawab malah lelaki itu menatap Aish dengan heran, mengapa ada wanita cantik di sana pikirnya.
"Apa dia bidadari yang sedang mandi?" lirih lelaki itu bergumam sendiri.
"Tuan?"
"Ah, maaf Nona. Aku sedang memanjat tebing air terjun ini namun sayang sekali aku terpeleset hingga terjatuh," jawab lelaki itu kembali mengaduh.
Aish mengangguk mengerti setelah matanya melihat penampilan dari pria tersebut.
"Apa Tuan memanjat tebing seorang sendiri?" kata Aish sambil melihat sekeliling.
Lelaki itu mengangguk dan mengatakan jika ia memang suka berpetualang sendiri.
"Baiklah, mohon Tuan tenang. Aku adalah seorang dokter di kampung tidak jauh dari sini, jika Tuan berkenan aku bisa menolong dan membawa mu ke sana jika mau."
"Kau butuh pertolongan karena sendi lutut mu bergeser, sepertinya tidak ada yang patah hanya luka lecet saja. Hanya lutut sebelah kiri ini saja yang harus dibidai."
__ADS_1
"Aku tidak mengerti yang kau katakan, tapi benar ini sungguh sakit sekarang," sahut lelaki itu meraba lututnya.
Aish tersenyum.
"Tentu saja sakit, kau bahkan tidak akan bisa berjalan sekarang."
"Benarkah?" lelaki itu mencoba berdiri, namun saat bergerak saja ia meraung kesakitan.
"Oh, ini benar-benar sakit!!!" ucapnya lagi.
Aishwa terkekeh, ia berdiri lalu memanggil beberapa anak lelaki yang sedang bermain air agar mendekati mereka.
"Bibi dokter? Ada apa?" tanya anak yang juga berasal dari desa Aishwa itu, mereka sudah saling mengenal.
"Ali, tolong kau panggilkan kakak mu! Ajak dua temannya kemari, Paman ini terjatuh dari tebing, dia butuh pertolongan dan tentu kita tidak bisa memapahnya sendiri, kau lihat badannya besar bukan?" kata Aish pada anak itu.
Ali menoleh pada pria asing yang masih kesakitan. Ali tersenyum, ini bukan pertama kalinya mereka menemukan orang yang jatuh dari tebing, bahkan sudah sering.
"Baik Bibi, tunggu lah sebentar!"
Aish kemudian berbalik pada lelaki di belakang nya.
Mendengar ucapan Aish membuat lelaki itu mengangguk mengerti.
Pada kenyataannya di samping air terjun terdapat tebing yang bagus untuk para pecinta olahraga panjat tebing, hingga tidak heran ada saja para lelaki kota yang menjejal kemampuan mereka di sana, tidak jarang juga ada yang jatuh seperti lelaki itu.
"Seharusnya Tuan memakai pengaman diri yang lengkap dan tentu tidak memanjat sendiri."
"Aku suka melakukan apapun sendiri, ada satu teman tapi dia berhalangan ikut," jawab pria yang hanya memakai kaos dan celana gunung pendek hingga tampak beberapa luka lecet yang menghiasi kaki dan lengannya.
Aish kembali mengangguk.
Mereka berkenalan sembari menunggu bantuan datang. Lelaki itu tidak bisa menyembunyikan kekaguman atas kecantikan perempuan berhijab itu, belum lagi ia kagum atas kebaikan dokter cantik itu mau menolongnya.
Tidak semua orang bisa berbuat baik pikir lelaki tersebut apalagi ini adalah daerah asing baginya. Dan kebaikan seperti ini jarang ia temui di kota.
Tidak lama kemudian dua orang lelaki dewasa datang bersama anak yang bernama Ali tadi. Mereka datang membantu dengan arahan dokter Aishwa.
Sesampainya di perkampungan dimana dokter cantik bernama Aishwa tinggal. Lelaki yang mengenalkan diri dengan nama Kenzo itu di bawa ke rumah Aish yang membuka praktek mandiri di sana.
__ADS_1
Aish mencuci tangan setelah selesai membidai sendi lutut dan membersihkan luka lecet yang dialami Kenzo tadi, terlebih ada satu luka yang perlu dijahit hingga Aish cukup kewalahan mengerjakan semuanya sendiri belum lagi pria itu selalu mengeluh sakit dan terkesan berlebihan padahal dia seorang lelaki.
"Sudah selesai, kau boleh istirahat. Untuk penyembuhan lutut mu akan pulih dalam beberapa Minggu, mohon bersabar dan tidak banyak melakukan pergerakan di bagian yang ini," ucap Aish memberitahu Ken sambil memegang kaki Ken yang sakit.
Ken mengangguk mengerti, ia tidak banyak membantah padahal ia bukan tipe lelaki yang penurut selama ini. Namun semua kalimat yang keluar dari mulut dokter cantik itu seolah menghipnotis nya saat ini.
Ia bernapas lega telah mendapat bantuan dari orang baik seperti Aish dan warga kampung itu. Jika tidak Ken tidak tahu bagaimana nasibnya sekarang.
Ia merogoh tasnya, namun tidak menemukan apa yang ia cari, Ken menghembus napas kasar saat mengingat ia menaruh ponselnya di atas batu tidak jauh dari tas dan barangnya di dekat air terjun tadi, mungkin saja ponselnya terjatuh di semak hingga tidak ikut dibawa kemari.
"Ah sial....." umpatnya kesal, padahal ia berniat memberi kabar orangtuanya tentang keberadaan dan kondisinya yang tidak mungkin pulang hari ini.
Ken hendak turun dari ranjang pasien di ruangan praktek Aish, namun ia lupa hingga ia terjatuh.
"Aaahhh...." pekik Ken kesakitan.
Mendengar suara itu Aish bergegas kembali ke ruangan prakteknya.
"Tuan Ken!" seru Aish segera membantu Ken dan memapahnya ke ranjang kembali.
"Kau butuh sesuatu? Panggil saja aku, kenapa turun? Sudah ku katakan kau bahkan tidak bisa berdiri jika sudah seperti ini," ucap Aish mengingatkan.
"Maaf, aku lupa. Aku hanya haus!"
Aish menepuk keningnya, ia terkekeh sambil menjawab, "Maafkan aku, aku lupa menawari mu minum, tunggu lah sebentar!" perintah Aish langsung mengambilkan Ken minum dari galon yang tidak jauh dari ranjang.
Ken minum segelas sampai habis, ia terlihat kehausan.
"Terimakasih dokter Aishwa." Ken menarik napas panjang nan lega telah melepas dahaga sejak tadi.
"Jangan sungkan, juga jangan terlalu kaku panggil saja namaku seperti orang-orang di sini memanggilku Aish saja, tidak perlu pakai gelar," kekeh Aish tersenyum manis menampilkan giginya yang berderet rapi.
Ken tersenyum menatap perempuan itu. Entah kenapa ia begitu ngotot ingin menjejal tebing yang sangat jauh dari perkotaan itu kemarin meski Doni sahabat petualangnya kali ini tidak bisa ikut, Ken tetap melakukan perjalanan sendiri demi mencapai surga yang tersembunyi kata teman-teman komunitas panjat tebingnya sejak kuliah itu.
Dan ternyata inilah surga yang tersembunyi di balik air terjun itu pikir Ken, ada bidadari di sana. Dokter Aishwa yang berbaik hati menolongnya dari kemalangan terjatuh akibat tidak fokus saat memanjat.
Bidadari itu bernama Aishwa. Lebih tepatnya dr. Aishwa Zulaikha yang tertulis di papan nama praktek di depan rumah sederhana namun membuat nyaman.
Lelaki playboy itu terpesona.
__ADS_1