
"Aish kau kenapa?" tanya Aldric heran.
"Aku malu," rengek Aish seraya berlalu meninggalkan Aldric yang menatapnya bingung.
Aldric tercengang. Beberapa saat barulah ia mengerti, ia tersenyum melihat reaksi Aish yang malu hanya karena pembalut.
"Apa seperti itu semua wanita? Apa masalah pembalut masih tabu dibicarakan oleh lelaki?" gumam Aldric terheran sendiri.
Aldric berdiri, ia menghampiri Aish ke kamar.
"Aish!" panggil Aldric.
Ia menatap seluruh kamar, tidak ada Aish di sana.
"Kemana dia?"
Beberapa saat kemudian Aish tampak keluar dari kamar mandi.
"Maaf, aku tidak tahu kau masih menggunakan kamar mandi ini," ucap Aish setelah ia membereskan sisa pembalutnya yang tertinggal di kamar mandi.
"Seharusnya aku yang minta maaf, masuk dan menggunakan kamar mandi tanpa izinmu, masalahnya kamar mandi di kamar tamu sedang rusak dan tidak bisa dipakai."
"Jadi kau mandi disini subuh tadi?"
Aldric mengangguk polos.
"Apa aku tidur selelap itu hingga aku tidak menyadari kau masuk kemari," tukas Aish geleng kepala sendiri.
"Iya, sepertinya kau lelah."
"Aku bahkan terlalu lelah Mas Aldric, lelah oleh takdirku sendiri," ucap Aish sedih.
"Aku tahu kau membenciku, tapi melihat mu mau bicara banyak padaku hari ini, sungguh membuatku senang," balas Aldric tersenyum.
Aish menatap Aldric dengan seksama.
__ADS_1
"Aku juga sebenarnya sudah lelah menyangkal, tapi lagi-lagi kenyataan berkata bahwa aku sudah terikat pernikahan dengan mu."
Aish tampak menangis lagi.
"Maafkan aku Mas Aldric, aku tidak tahu kapan aku bisa menerimamu sebagai suamiku dalam arti yang sesungguhnya, aku bahkan tidak bisa melupakan wajah Ken sedetik pun, bagaimana aku bisa menerima orang lain disaat hatiku masih terikat padanya."
"Namun lagi-lagi aku harus berusaha berdamai dengan kenyataan, kenyataan bahwa aku benar-benar hancur sekarang, betapa pun aku meratap, Ken tidak akan hidup lagi," ucap Aish kian lirih.
"Aku harap kau mau mengerti, aku bukan orang yang mudah jatuh cinta. Soal kita, aku tidak akan menjanjikan hal apapun padamu, aku mau kita berteman saja, kita hidup satu atap sampai semuanya membaik seiring waktu, sampai hari itu tiba aku mohon kau mengerti!"
Aldric mendengar jelas semua kata-kata Aish. Pria itu hanya bisa mengangguk tanpa membantah. Kecewa untuk hal yang jauh dari angannya, membuat Aldric sudah terbiasa sejak menikahi Aish. Wanita itu memang tidak menerimanya sampai sekarang.
"Aku mengerti perasaan mu Aish, tentang aku jangan terlalu kau pikirkan, baiklah jika sudah selesai aku pamit ke kantor sekarang," balas Aldric tersenyum paksa, lalu ia pergi saat mendapat anggukan kepala dari istrinya itu.
Aish menangis lagi, ia menatap punggung Aldric dengan perasaan kian terluka, bagaimana ia bisa menerima pria itu jika ia selalu saja dihadapkan dengan bayangan Ken yang menatapnya penuh cinta, merayunya dengan kata yang memabukkan.
Aish sungguh merindukan sosok Ken yang pemaksa, mencintainya dengan tulus tanpa memandang statusnya yang sudah janda. Ah Aish kembali larut dalam bayang masa lalu.
Sedang Aldric, sungguh jauh berbeda dengan Ken. Pria itu kebalikan dari sosok Ken bagi Aish, ia sama seperti perempuan lain, yang suka dirayu, suka diberikan perhatian, suka pada hal-hal manis dan romantis.
Ken bisa meluluhkan hatinya dengan berbagai rayuan, kata-kata romantis yang membuat Aish menerima Ken padahal ia tahu pria itu seorang playboy sebelum dengannya.
Aish kembali ke ranjangnya, ia berguling guling melampiaskan rasa malas yang luar biasa. Ia tidak ingin dibebani pikiran soal Aldric, salah sendiri kenapa Aldric mau menikahinya.
Di kantor.
Aldric berdiri menghadap jendela, menatap jauh ke gedung-gedung tinggi yang mengisi pusat kota.
Ia bukan pria yang diharapkan Aish, ia bahkan tidak berani bilang suka pada istrinya itu, berulang kali ia memantapkan hati ingin mengungkapkan perasaan pada Aishwa namun berulang kali pula Aish lebih dulu menolaknya tanpa memberi kesempatan Aldric bicara soal arah pernikahan mereka.
Aldric lebih memilih diam, mencintai istrinya dalam kelam malam disaat mata wanita itu tertidur, Aldric cinta sendirian.
"Mas Aldric."
Sebuah suara perempuan yang sudah tidak asing baginya. Anara.
__ADS_1
Gadis itu mendekat dengan mata berkaca-kaca.
Aldric hanya diam tanpa ekspresi.
"Maafkan aku," ucap Aldric lebih dulu.
Anara yang baru saja masuk bekerja hari ini sebab sudah hampir tiga bulan ia cuti karena mendampingi ibunya berobat keluar negeri.
Karena punya hubungan dengan Aldric hingga ia bisa mendapatkan cuti selama itu.
Kini perempuan yang menjadi sekretarisnya itu sudah kembali masuk bekerja. Aldric tahu pasti Anara kecewa setelah mengetahui kebenaran hari pernikahan Ken dan Aishwa.
Anara tersenyum kecut. Ia menggeleng seolah ingin menyangkal berita pernikahan Aldric dan Aish.
"Kenapa kau tidak memberitahu di telepon jika sudah seperti ini?" tanya Anara, ia tidak mengira jika lelaki yang ia cintai itu sudah menikah, padahal Aldric masih menerima telepon darinya seperti biasa.
Namun tidak pula pria itu jujur. Hingga ia kembali menemukan kenyataan yang berbeda saat pulang.
"Aku ingin bicara jika kau sudah kembali seperti ini."
"Dan kau tidak menyangkal kabar itu?" kata Anara dengan tatapan kecewa.
"Kabar itu benar," jawab Aldric pelan.
"Lalu bagaimana denganku?" tanya Anara yang sudah jatuh air matanya saat Aldric membenarkan kabar pernikahan itu.
"Maafkan aku," dan lagi hanya kata maaf yang keluar dari mulut Aldric.
Anara tidak kuasa menahan tangisnya yang ingin pecah, baru saja ia ditimpa kemalangan ibunya sakit keras hingga berobat lama keluar negeri, namun harus pula ia dapatkan kabar Aldric menikahi Aishwa setelah kembali ke tanah air.
Maka darinya ia berlari keluar ruangan Aldric tanpa basa basi, ia keluar dari ruangan besar bos tampan itu yang seolah tidak ada oksigen disana.
Aldric hanya diam tanpa berusaha mengejar. Ia tahu ia jelaskan sedemikian rupa pun Anara akan tetap terluka, dan keadaan pun tidak akan berubah. Jadi semua terasa percuma, ia memang bukan lelaki baik.
Aldric telah mematahkan hati seorang gadis yang ia kenal baik itu. Kembali pada manusia hanya bisa merencanakan namun Tuhan lah yang menentukan.
__ADS_1
Tuhan yang menggerakkan hatinya untuk menikahi Aish, Tuhan pula yang akan ikut campur soal hubungannya dengan Aish nanti, kemana arah pernikahan mereka, bertahan atau tidak Aldric menyerahkan semuanya pada sang pemilik cinta.
Ia percaya pula Tuhan yang akan menyembuhkan luka Anara dari semua yang terjadi.